Magi Craft Meister : Volume 5 Chapter 2

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Magi Craft Meister : Volume 5 Chapter 2

Magi Craft Meister – Volume 5 Chapter 2 – Desa Flat Head

Kereta kudanya sampai di desa yang akan kita singgahi hari ini, walaupun kita sampai saat matahari masih menjulang tinggi. Desanya dipanggil Desa Flat Head.
“Kupikir bahwa kita akan bermalam disini, tapi nampaknya kita dapat pergi sedikit lebih jauh.”
Ada banyak kota dan desa di sekeliling Potlock. Dan Aku melihat banyak pemukiman. Jadi nampaknya masih banyak desa di depan.
Desa Kaina mungkin sangat jauh. Aku mengingat bahwa butuh lebih dari dua hari hanya untuk mengantar gandum ke Desa Toka. Sepertinya itu cukup besar untuk dapat dikatakan bahwa itu kota bukannya desa.
“Dampak perang sihir pada Kerajaan Elias tak sebesar kerajaan lain, jadi seperti ini sudah biasa.”
“Memang, bukankah ada penurunan populasi yang pesat? ”
“Ya, dan jumlah penduduk di kerajaan ini juga berkurang setengahnya, mereka di kirim ke pertempuran di tengah benua, dan karena pelarian iblis.”
“Lalu, kenapa … … Oh, apakah kerusakan pada bangunan dan fasilitas hanya sedikit? ”
“Itu benar”
Kereta kudanya berhenti di alun-alun.
Pelayannya membuka pintu kabin. Jin dan Reiko melompat turun. Elsa juga melompat turun sembari memegangi roknya.
Jin bicara pada Elsa saat semua mereka sudah turun,
“Adakah alasan kenapa desa ini di sebut Flat Head?”  *TLN: Flat Head artinya kepala datar
Untuk pertanyaan itu Elsa menunjuk gunung yang menjulang di barat desa itu.
“Lihat lah itu.”
“Yah, itu memang kepala datar.”
Puncak gunung itu datar seperti telah dipotong.
“Yah, gunung itu adalah Gunung Flat Head, jadi desa ini juga disebut Desa Flat Head.”
“Nampaknya begitu.”
Empat pengikut dan dua sopir mengikuti mereka. Nampaknya kereta itu diserahkan pada orang lain.
Aku dengar bawa satu orang adalah pengawal, satunya adalah pelayan, dan yang terakhir adalah seorang anak laki-laki. Satu-satunya wanita adalah pengasuh Elsa.
Nama mereka tidak disebutkan.

“Ah Nyonya Randall, Anda datang lebih cepat dari perkiraan.”
Melihat ke asal suara, seorang lelaki tua berdiri di sana, dengan dua pemuda di sisinya.
“Ini kepala desa dari desa ini, Aku berhutang padanya karena telah mengurusiku.”
Kata Elsa pada Jin. Berbicara logis karena itu adalah perjalan pulang pergi.
“Saya lah yang telah berhutang.”
Kata kepada desa ke Elsa sambil membungkuk dan menyuruh pemuda di kedua sisinya untuk melakukannya juga. Aku pergi ke Elsa yang sedang diiringi oleh salah satu pemuda itu.
“Nyonya Elsa akan bermalam di sini.”
Elsa dengan pengasuhnya pergi menuju ke tempat mereka bermalam hari ini saat diberitahu.
“Kepada yang mendampingi Nyonya Elsa, tolong kemari.”
pemuda di kedua sisi kades bersiap untuk memandu Jin dan Reiko. Jin akan pergi bersama pelayan Elsa,
“Ah tunggu, Jin dan Reiko harus bersamaku.”
Elsa mengisyaratkan itu kepada mereka.
“Nyonya Elsa, bolehkah saya bertanya siapakah mereka itu?”
Kepala desa itu bertanya.
“Jin dan Reiko adalah tamu dari Earl Randall.”
Sang kepala desa yang mendengar itu terbelalak,
“Ho ho! Begitukah! Jin dan Reiko kan? Silahkan ikut saja.”
Jadi, Jin, Reiko, Elsa, pengasuh dan kepala desa pergi menuju ke rumah besar di tengah desa. Nampaknya ini rumah kepala desa itu.
“Selamat Datang.”
Beberapa pelayan menyambut mereka. Elsa sepertinya sudah terbiasa pelayanan seperti ini dan dia pergi lebih dulu sembari tersenyum dan mengangguk.
Jin bingung karena sambutan asing seperti itu.
“Mari sekarang, tolong, beristirahatlah di ruangan ini.”
Jin dan Reiko diantar ke ruangan yang menjadi suite dua ruang, berukuran sekitar 8 tatami dalam seruang. Ada dua tempat tidur di ruang belakang. Lalu ada serangkaian meja mewah di ruang depan.
“Apakah ini desa yang lumayan kaya?”
Jin mulai membandingkannya dengan rumah kepala desa di Desa Kaina. Mungkin karena penduduknya lebih banyak, itu lebih kaya.
“Lalu itu lebih dekat dengan kota pelabuhan.”
Jin lalu menyadari kondisi Reiko yang aneh.
“Reiko, ada apa? Kamu belum bicara semenjak beberapa waktu yang lalu, apakah ada yang salah.”
“… … Ayah”
Reiko memanggil Jin dengan mata besar.
“Hmm?”
“… Tolong jangan buang saya.”
“Ha?”
“Saya akan lakukan yang terbaik, jadi tolong!”
“Tunggu, tunggu, apa?”
“Saya, Saya tidak mampu menolong ayah!”
“Tunggu sebentar, kamu bicara apa sebenarnya?”
Jin yang biasanya dapat mengerti Reiko tidak dapat memahami serangan kata dari Reiko yang beruntun.
“Saya tidak menyadari bahwa ayah saya sedang menderita, dan Saya membiarkan orang itu mendahului Saya!”
“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, itu pertama kali aku mabuk darat, kutebak Elsa sepertinya lebih sering melihat orang lain mabuk darat.” Katanya,
“Tapi, tapi …!”
Jin tiba-tiba memeluk Reiko yang masih terpuruk.
“Reiko, bukankah kamu putriku? Aku tidak akan melakukan sesuatu seperti membuang putriku, karena kamu seorang perempuan, kamu tidak perlu terburu-buru hanya untuk menjadi berguna untukku.”
“Tapi…”
“Aku lega hanya karena kamu berada di dekatku.”
Sembari berkata itu, Jin mengelus kepala Reiko.
“Saya itu… diciptakan untuk membatu ayah… Jika Saya tak mampu… … maka tidak ada maknaku untuk hidup…”
“Jadi, aku sudah terselamatkan karena aku ada di sisimu.”
Reiko yang menyesal tanpa suara memeluk Jin dengan erat.
“Benarkah… …. Aku … … bisa menolong ayah…”
“Kamu adalah putri kebanggaanku, iya kan?”
“Terima kasih……”
Jin mengatakan itu lalu Jin dipeluk lembut oleh Reiko.
(Reiko sudah punya banyak emosi sekarang.)
Seraya berpikir demikian, Jin membelai punggung Reiko.

“Apakah kamu di sana Jin?”
Sambil mengatakan itu, Elsa membuka pintu. Dan melihat sosok Jin dan Reiko yang sedang berpelukan,
“……Maafkan Saya.”
Elsa menutup pintu langsung setelah Jin mulai berkata. Langkah kakinya dengan cepat menghilang.
“Oh itu Elsa?? Aku tidak tahu apa, tapi apa yang dapat aku lakukan untuk mu?”
Hanya Jin saya yang tidak paham.

* * *

Beberapa saat kemudian, Jin pergi keluar menuju halaman dari kediaman kepala desa.
“Ah, itu pemandangan bagus.”
Senja di negara selatan ini hangat, pohon berbunga ditanam di halaman, Jin tidak mengetahui namanya, tapi bunganya putih.
Langit senja, yang mana matahari akan terbenam di atas gunung Flathead. Pada waktu itu, Jin mendengar sesuatu dari belakang.
“?”
Jin melihat asal suara. Elsa sedang berada di sana. Dia memakai gaun santai.
“… …. Maafkan aku tentang mengganggu mu dan Reiko beberapa saat yang lalu.”
Dia lalu menundukkan kepalanya.
“Hmm, beberapa saat yang lalu?”
Jin tidak ingat diberi permintaan maaf. Tapi.
“Aku dengar ada yang melakukan hal semacam itu, dengan boneka cantik,”
Perasaan Jin mulai tidak enak.
“……Tunggu sebentar”
“Hobi yang mana orang menyukai bukan lawan jenis tapi boneka.”
“……Tunggu sebentar”
“Reiko itu imut, Aku paham jika kamu merasa seperi itu… … Aku merasa seperti itu.”
Seperti dugaan, bahkan orang tidak peka dapat memahami perkataan Elsa.
Setelah semua kesalahpahaman ini. Itu menuju arah yang terburuk.
“Aku tidak mengapa, karena Aku tidak keberatan bahkan jika Jin memiliki hobi seperti itu.”
Jin menangis di dalam hati dengan sekuat tenaga.

 

<———- Chapter Sebelumnya | Daftar Isi | Chapter Selanjutnya ———->

 

2 Responses

  1. […] <———- Chapter Sebelumnya | Daftar Isi | Chapter Selanjutnya ———-> […]

  2. Maulanarobbi says:

    Hadoooh masalahhh besar nih. Lanjut

Leave a Reply

Your email address will not be published.