Tsuujou Kougeki ga Zentai Kougeki de Ni-kai Kougeki no Okaasan wa Suki Desu ka? V1ch1

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Tsuujou Kougeki ga Zentai Kougeki de Ni-kai Kougeki no Okaasan wa Suki Desu ka? V1ch1


Chapter 1
Si anak laki-laki yang berpikir dia menjalani sebuah petualangan luar biasa… Tapi, Uh, Apa yang terjadi disini?


“Semuanya sudah selesai?” guru bertanya.

“Baiklah, barisan paling belakang, kumpulkan kertasnya untuk saya.”

Murid paling belakang berdiri dan maju kedepan, mengumpulkan kertas daftar pertanyaan tersebut.

Mereka sedang menjalani survey hubungan orang tua dan anak. tidak di kertas xeroxed, tapi di buku kecil dengan kertas yang sangat bagus. seperti buku kecil itu untuk tes berstandar internasional. Survey ini sepertinya penting.

Karena memang ini penting. Daftar pertanyaan ini disponsori oleh Kantor Pemerintahan – Departemen Kebijakan Kemasyarakatan dan di inginkan untuk memberi mereka data asli remaja dunia pada saat ini. dengan kata lain, ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang pemerintah.

“Tetap saja, aku tidak terkejut mendengar sekolah kita terpilih untuk berpartisipasi,” kata sang guru. Dia jelas sangat bangga. “Kalian telah terpilih untuk mempresentasikan generasi kalian! Ini merupakan suatu pencapaian. kalian semua harus bangga!”

Untuk para murid dipaksa menghabiskan waktu mengisi survei sebelum hari sekolah usai, ini sedikitpun tidak seperti “merupakan sebuah kebanggan” tapi “serius, biarkan kami pulang. siapa yang perduli?”

Masato Oosuki merupakan kelompok terakhir.

Aku hanya ingin pulang dan memainkan gameku… Berhenti menghabiskan waktuku dengan hal tidak berguna ini, astaga.

Masato menggaruk kepalanya dengan tidak sabar dan menghela nafas jengkel.

Benar, tenang. kau sudah mengisinya. kau telah selesai. Setelah murid yang  mengumpulkan menyerahkan kertasnya, kau bisa pergi. sudahi saja hal ini.

Dia berusaha untuk melupakan semuanya dan berpikir akan game miliknya. Haruskah dia mencari demi item langka dan membuat perlengkapan dengan kemungkinan 100 persen atau 75 persen menggunakan material biasa? Dia berusaha kembali mengkosentrasikan pikirannya demi dilema ini.

Tapi satu hal mengganggunya.

“…Ada apa dengan pertanyaan terakhir?”

 

jika kau pergi berpetualang dengan ibumu, apakah kau akan menjadi pecundang?

 

Masato telah menyelesaikan bagiannya dalam survei. Sebuah kebijakan lembaga kepemerintahan resmi menanyakan hal seaneh itu? Benarkah?.

“Apa ini ditulis oleh orang yang benar-benar bodoh? Kujamin akan hal itu.”

Apa benar ada harapan bagi masa depan jepang? Dia tidak yakin harus menggelengkan kepala atau meratapi akhir sebuah negara.

tapi siapa perduli. ini telah usah. langsung saja pulang, dan aku bisa memainkan gameku sepuas hati. sepertinya terlihat baik untuk kita pergi. .Ayo kita pulang!”

“oh, aku takut akan hal ini,” ucap guru tersebut, sembari melihat bagian atas dari tumpukan buku survey. “Bagian itu di halaman terakhir bukan untuk nama kalian, tetapi salah satu dari kalian melakukan hal tersebut dan mengisi dengan nama kalian. Tidak akan kukatakan siapa!”

Dia memperingati hal tersebut sebelumnya, benar kan?

“Tunggu, apakah aku…? Tidak mungkin… Yasudahlah, waktunya main game!”

Dia merasa seperti guru melihatnya dengan wajah kesal, tapi Masato sudah diluar pintu.

Beberapa hari kemudian, itu merupakan akhir pekan.

Sekolahnya masuk setengah hari, dan Masato pulang lewat tengah hari hanya untuk menemukan sepasang sepatu tambahan di pintu depan. Terlihat seperti sepasang sepatu rendah wanita.

Dia merasa ibunya memiliki beberapa pasang yang sama, tapi terlihat dari tempat peletakannya di tengah bagian pintu masuk, ini jelas milik seorang tamu. Dia dapat mendengar suara obrolan yang bahagia di ruang tamu.

kenalan ibuku ? haruskah aku menyapanya?

Haruskah dia terlihat seperti anak yang baik? atau dia lebih baik melewati hal mengerikan yang mengarah ke arah pembicaraan itu?

Dia berargumen dengan bagian di dalam dirinya, tetapi tubuhnya tersambung secara langsung ke pikiran dan niat dirinya dan terbakar penuh dengan hasrat untuk masuk ke kamarnya dan menyalakan gamenya. Dia mulai mengendap-endap melewati lorong, berharap untuk lewat tanpa diketahui

…Tapi itu tidak berguna.

“Langkah kaki itu adalah Ma-kun! aku akan mengetahuinya dimanapun!”

“urgh….”

Pintu ruang tamu terbuka dengan cepat dan Mamako Oosuki bersandar keluar.

helaan nfasnya selalu membuat Masato kebingungan. Walaupun dia adalah putranya, wajah ibunya selalu memaksakan sebuah pertanyaan didalam pikirannya.

…Apakah dia benar seorang ibu? Ibuku?

Dia hanya terlalu muda. Penampilannya tidak salah dan, tidak bukan terlalu muda.

Seraya ibunya melihat dirinya, tidak ada sedikitpun keriput di sekitar matanya, dan kulitnya selalu bercahaya. Bagian dari rambut panjang dan bergelombang rambutnya selalu sempurna, Memiliki senyuman seperti malaikat.

Tapi dia bukan istri kedua ayahnya, Mamako adalah seorang ibu dengan anaknya pada tahun pertamanya di sekolah menengah atas. Dia adalah ibu rumah tangga yang dengan mudahnya melewati gadis remaja, seorang mahluk yang melebihi orang normal.

Dan dia bersikap muda, juga! oh tuhan, ada apa dengan ibuku?

awet mudanya hanya bisa digambarkan sebagai fenomena supranatural. Dalam penglihatannya, tidak ada yang dikatakan kepada ibunya “ibu:…dan Masato tidak dapat mengatasi hal tersebut.

Ya, itulah hal terbaik bagaimana menggambarkannya, tidak ada penolakan yang nyata; dia tidak membenci ibunya. Dia hanya tidak yakin bagaimana untuk mengatasi ibunya dan bagaimana menemukan jarak yang baik dan lebih memilih untuk mencoba menghindar. Mengerti?

Tapi bagian terburuknya merupakan ibunya benar-benar lupa.

“Ma-kun, selamata datang!”

Senyuman seperti sirup yang manis terkembang di wajah ibunya, dan dia melayangkan tubuhnya ke arahnya seperti pelukan yang besar tidak dapat di hindari. Terlalu dekat untuk kenyamanan.

“Argh, sudah cukup! lepaskan aku!”

“Oh, terlalu berlebihan? bagaimana sekolah?”

“Seperti biasa.”

“Seperti ‘biasa’ maksudmu… Tidak terjadi hal buruk, benarkan?”

“Tidak.”

“La-lalu kau memiliki waktu yang luar biasa? Seperti biasa?… Oh! Apa kau sudah makan siang? Aku bisa membuatkanmu sesuatu!”

“Aku baik”

“Maksudmu… kau tidak membutuhkan apapun? Kau makan bersama temanmu di tempat lain? Apa itu yang kau maksud?”

“Iya. Lagi pula apa ini benar-benar waktunya untuk ini? Kau punya tamu, kan?”

“Oh! Benar, Ya kau benar! Ibu memiliki tamu yang sangat penting. Maukah kau menemuinya dan menyapanya? Ibu benar-benar ingin menunjukkan dirimu!”

“Aku baik”

“Apa… itu artinya kau akan menyapanya?”

“Tidak, itu berarti aku tidak ingin. tentu saja. Haah…”

siapa yang mau berurusan dengan hal seperti itu? Masato membalikkan badannya dari Mamako, mengambil langkah cepat melewati pintu ruang tamu, namun dia juga, dia tidak sengaja berjumpa mata dengan wanita di dalam.

“Oh? sepertinya anakmu sudah pulang rupanya!”

Perempuan ini tidak seperti teman ibu biasanya. Penampilan pintar, seperti perempuan pebisnis dengan rambut hitam panjang, dengan rok yang rapi. Seperti orang yang menjual asuransi…. Tidak, ada sesuatu dari dirinya yang membuatku berpikir perempuan ini melakukan hal yang biasa. Firasat ini terbukti benar.

Wanita itu berdiri, bergerak mulus ke arah masato, dan menunjukkan ID yang tergantung di lehernya.

Kantor Pemerintahan – Departemen Kebijakan Kemasyarakatan, Inspektur bagian luar

Jabatan yang cukup panjang dan mengesankan.

“Senang bertemu dengan anda. Nama saya Masumi Shirase. Seperti jabatan saya yang tertera, saya datang untuk menginformasikan anda beberapa pertanyaan lanjutan yang berhubungan dengan survey pemerintah sebelumnya.”

“Karena… shirase memiliki arti ‘memberitahukan’? kita memulai… dengan candaan yang tidak lucu, lalu?”

“Murid di sekolah saya mengolok nama ini tanpa ampun dan saya memberi tahu anda saya sudah cukup dengan hal seperti ini untuk terbiasa dengan hal semacam ini.”

Mamako bergeser mendekati Masato lagi. Perempuan ini selalu berdiri terlalu dekat dengan putranya, meyakinkan anaknya untuk menerima hal ini.

“Hei, Ma-kun! Survei yang dibicarakan nona Shirase itu…”

“Oh, maksudmu yang tentang hubungan orang tua dan anak?”

“Wow! Kau tahu! Bagaimana kau tahu?”

“Kami baru saja menjalaninya”

“hunh…? Kau melakukannya? Ma-kun, kau tidak mengatakan apapun tentang hal ini!”

“Aku tidak memberi tahu segalanya kepadamu, apa benar? Dan menjauh dariku!”

Ibunya merapat kebadannya seperti peliharaan yang manja.

“Jadi… Nona.Shirase, apa kita sudah selesai dengan surveinya?”

“Tidak, hanya istirahat sejenak karena karena anda langsung berdiri dari kursi anda sejenak setelah anak anda pulang. Anda sepertinya sangat menyayangi dia.”

“Perasaannya hanya sebelah tangan”

“Aaaapaa!? Ma-kun, kau mencintai ibu juga, kan? Ibu tahu itu!”

“Ohtuhan, Tolong berhenti! dan belajarlah konsep batas personal! Juga, Tolong berhenti memanggilkan dengan nama panggilan memalukan itu! Aku sudah memberi tahu kalau itu memalukan! Tolong coba ingatlah!”

“Ta-tapi.. Kau selalu jadi Ma-kun untuk ibu. Ibu selalu memanggilmu Ma-kun, jadi aku selalu memanggilmu Ma-kun! Tapi kalau Ma-kun tidak menyukainya, ibu harus memikirkan sesuatu untuk memanggilmu selain dari Ma-kun…”

“Cukup… Berhenti berbicara”

Tak perduli berapa kali pun dia mencoba menjauhkan ibunya, ibunya tetap mendekat.

“um, lagipula, nona shirase… saya yakin ibu saya sudah bersikap tidak sopan terhadap anda, tapi tetap lanjutkan survey anda.”

“Sudah tentu… Oh, satu hal lagi, jika saya mungkin, Tujuan survei lanjutan ini untuk mendapatkan hasil opini orang tua dan anak masing-masing tanpa pengaruh lainnya, jadi…”

“Jadi anda tidak ingin kami tahu apa yang dikatakan apa yang dikatakan oleh pihak lainnya? Anda tidak ingin saya menguping apa yang anda tanyakan disini?”

“Tepat sekali. Sepertinya saya tidak perlu memberi tahu hal itu kepada anda! Selain dari nama saya yang menunjukkan hal itu sebagai fungsi dari hidup saya!”

“Maaf untuk mendengar hal itu… Tapi, seperti, Jawaban ibuku”

Ketika dia diberitahu untuk tidak mendengar, kebiasaan manusia membuatnya melakukan hal itu.

Dan jika jawabannya adalah apa yang sebenarnya dipikirkan oleh ibunya?

Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Kurasa aku sedikit penasaran…

“…Baiklah. Aku akan berada dikamarku, kalau begitu”

“Tunggu, Ma-kun! Kita masih membicarakan aku harus memanggilmu apa!”

“aku tidak perduli.”

Dia menghindari pendekatan lain dari ibunya dan naik ke lantai atas.

 

 

Diruang tamu, setelah Masato pergi, Mamako menghapus air matanya dengan tisu, menghembuskan hidungnya, menghembuskan hidungnya lagi, dan menghabiskan satu kotak tisu sambil menjelaskan serapuh apa hati seorang ibu dengan anak laki-lakinya yang sudah remaja.

“…Maksudku, Aku coba untuk mengerti. Ma-kun sudah SMA sekarang- Tentu saja itu memalukan untuk dekat dengan ibunya.”

“Sepertinya itu adalah bagian dari hal tersebut. Kami sudah melihat sejumlah hasil yang sama dari survei pemerintah. Saya bisa memberitahu anda ini hal yang wajar. Seperti nama saya memberitahu, anda tahu informasi yang anda dapat itu benar.”

“Tapi aku masih ingin dekat dengan anakku, dia hanyalah satu-satunya yang kupunya!”

“Setiap ibu menginginkan hal yang sama. Saya memiliki seorang putri, jadi saya mengerti.”

“Kau mengerti? berapa umurnya?”

“dia masih lima tahun, masih sedikit merepotkan!”

“Lima…. ya, benar juga… Mereka selalu kemana-mana dan mengatakan banyak hal tapi masih memeluk kakimu, dan menangis sambil berkata ‘ibu'”

Mengingat anaknya dalam umur segitu, Mamako semakin sedih.

“Bagian dari diriku berharap kami masih bisa seperti itu. Tapi Ma-kun tidak menginginkan hal seperti itu. Aku membelikannya komputer ketika dia masuk SMA, tapi hal yang dilakukannya setelah itu hanya bermain game. Dia jarang berbicara kepadaku lagi.”

“Ya, dia sepertinya berusaha untuk menyelesaikan pembicaraan secara cepat. Respon singkat seperti ‘sperti biasanya’, ‘tidak juga’, ‘aku baik’, dan ‘iya’. Tapi ya, itu hanya seperti remaja pada umumnya. aku percaya apa yang kau bisa hanya menjaga jarak yang pas”

“Cukup benar. Hmm… Remaja pada biasanya… Hubungan pada tigkat ini sepertinya pas. Hmm…”

Shirase berpikri sejenak, lalu dengan santai menetapkan pikirannya dan mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.

MMMMMORPG (JUDUL PEKERJAAN) KERTAS PENDAFTARAN

Dia meletakkan dokumen itu didepan Mamako.

“Lalu… Apa anda menerima pendaftaran saya?!”

“Ya. Saya percaya keluarga Oosuki memiliki kondisi yang cocok untuk bergabung dalam program ini, sebelum itu, saya mengijinkan anda untuk ikut. Anda juga harus siap”

“Be-benar! Apa yang harus kubutuhkan…? Aku harus menyiapkan sepatu Ma-kun dulu! Oh, dan juga! Kita harus memberi tahu Ma-kun tentang hal ini!”

“Saya akan memberi tahukan anak anda, seperti nama saya dan kewajiban saya.”

“… Tapi seperti yang saya pikirkan, Tapi meskipun nama saya, saya tidak selalu memberitahukan semuanya. Sedikit sisi licik dari saya, agar anda tahu.”

“Anda tahu saya tidak memiliki hak apapun terhadap apa yang anda katakan”

Masato hanya bermain game di kamarnya lalu tiba-tiba sebua suara memberi tahu dirinya sendiri dibalik dirinya, dia membalikkan pandangannya dan menemukan shirase berdiri disitu.

“Setidaknya mengetuklah…”

“Saya tidak ingin memecah konsentrasi anda, jadi saya mengetuk sangat pelan sepelan mungkin bagi manusia”

Lalu mengetuk tidak berarti apapun

Shirase melihat layar dari atas bahu pria itu.

“Hmm, Sebuah MMORPG?”

“Hey! Jangan lihat…!”

“Frame itu sangat lancar. Kamputer anda memiliki kartu graphis yang bagus, Masato. Putaran kipasnya juga sangat halus. dan layar pencahayaan rendah, juga. Selera yang bagus.”

“Te-terima kasih…. Tapi ini hanya apa yang dipilihkan oleh ibuku. Dia mengatakan seseorang yang baik membantunya, Anda tahu banyak tentang komputer?”

“pada masa kuliah, saya menghabiskan waktu di dalam kamar saya, takut akan orang mengejek nama saya. Hanya OS komputer yang mengerti diri saya. Saya juga melakukan hal apa yang perlu untuk mengerti dirinya, juga.”

“Kupikir itu cerita masa lalu yang tragis anda lebih baik tidak memberitahukan hal seperti itu kepada orang lain.”

“Walau anda ingin tahu atau tidak, itu adalah kewajiban saya untuk memberitahukan. Itu segel kualitas dari shirase. Jadi, kembali ke point utama…”

“Anda kemari untuk memberitahukan kalau anda sudah selesai mewawancarai ibu saya?”

“Benar sekali! Dan.. Saya disini untuk memberi tahu anda untuk memulai hidup yang berbeda.”

“…Apa?”

Yakin perempuan itu mengatakan hal yang tidak masuk akal lagi, Masato memutar bola matanya, dan dalam waktu singkat itu, Shirase berteriak, “kau membiarkan penjagaanmu terbuka!” mencapai untuk menekan tombol ESC. Layar game langsung menghilang.

Dan Shirase menarik bahu Masato dari belakang, Dadanya menempel di bagian belakang kepalanya, Dia berteriak, dan perempuan itu menguasai keseluruhan keyboard dari dirinya, membuka browser dan mengetik sebuah URL:

www8.cao.go.jp/ksn/mmmmmorpg……

“Hei! Apa yang kau lakukan?! Web apa itu?!”

“Satu pertanyaan, untuk kebutuhan referensi. Survei yang dilakukan Kepemerintahan menemukan banyak pemain game online memiliki keinginan untuk masuk kedalam dunia game , jika mereka bisa. Apa anda memiliki keinginan yang sama, Masato?”

“Y-ya, tentu saja. Kalau aku bisa. Tapi Aku tidak bisa!”

“Bagaimana jika saya mengabulkan permintaan itu?”

“Huh? T-tapi itu..”

tidak mungkin. Kata yang terhenti di leher Masato.

Setelah Shirase menekan tombol ENTER, cahaya bersinar terang dari layarnya yang lambat. Cahaya itu menyinari Masato seperti ombak pantai, meliputi dirnya. Lalu itu kembali kedalam monitor, menarik Masato bersamanya.

“I-ini tidak… Tidak mungkin!”

“Ya! inilah putaran itu! Kau tidak menduganya datang”

“Aku dikirim kedalam dunia gameeeeeeeeeeeee!”

Masato berhenti melawan. Dia melepaskan pegangannya dari ujung mejanya, membiarkan dirinya terbawa.

Badannya melewati layar yang sebelumnya tidak bisa ditembus. Lalu..

…Ma-kun!…Tunggu aku!

Dia pikir mendengar teriakan Mamako. Sepertinya kebisingan itu mendapat perhatiannya dan membuatnya lari ke lantai atas?

Cahaya itu terang membutakan mata. Masato tidak bisa melihat ibunya tapi dia membalikkan pandangannya dan berbisik:

“Maaf bu,.. Aku harus pergi.”

Kenapa dia meminta maaf? Karena dia dengan jujur merasa kasihan.

Karena ayahnya harus pindah karena kerja, dan hanya dia dan ibunya. jika anak laki-lakinya menghilang, ibunya akan tinggal sendirian. Masato tau akan seberat apa itu untuknya. Bagian dari dirinya tidak ingin melakukan hal ini kepada dirinya.

Tidak seperti dia membenci ibunya.

Tentu saja, dia tidak akan pernah mengakui kalau dia mencintai ibunya.

Tapi hanyalah dia ibu yang dimilikinya, dan itulah hal yang penting bagi dirinya, kadang dia memikikirkan kebahagiaan ibunya juga dan hidup sesuai keinginan ibunya.

Tapi hal itu cukup sulit untuk diekspresikan di dunia nyata. Dia menggantung di suatu tempat. Apa itu fakta dia terlihat terlalu muda untuk menjadi ibunya atau hal lain, dia hanya tidak bisa menangani ibunya lagi. Itu keadaan Masato sekarang.

Tapi…

aku akan memiliki petualangan yang luarbiasa, menjadi sangat kuat… lalu mungkin aku bisa lebih jujur kepadanya. itu akan bagus…

Dia akan kembali suatu hari nanti. Dan pada hari itu, dia berharap bisa memberitahunya, “aku pulang,” dengan lembut dan tanpa rasa malu, juga disambut dengan sebuah pelukan.

Dengan pikiran menyenangkan itu dipikirannya, Masato melintasi batas antar dunia.

 

Pada akhirnya, Masato sampai.

Dia menemukan dirinya di suatu tempat tidak seperti kamarnya. Dia berdiri di sebuah altar baru di ujung sebuah pulau mengapung, salah satu dari pulau dibawah  langit yang terbentang luas.

Ada sebuah lingkaran sihir dibawah kakinya, masih bercahaya dengan samar-samar.

“ASTAGA…?!”

Sesuatu yang kecil berlari melewati kaki Masato seekor kadal dengan delapan kaki.

Kadal kecil dengan delapan kaki menghadapinya dan mengancam dengan semburan api kecil- seperti siap untuk bertarung, kadal itu langsung berbalik dan lari.

Tidak ada mahluk seperti itu di jepang. Atau di manapun di bumi, untuk hal itu, berarti… “tidak mungkin…Benarkah?” Ini pasti benar.

Ini adalah dunia game? Dunia fantasi? Benarkah? Beneran?

Masato berteriak, “AKU DISINIIIIIIIIIIIIIIIIIII!”

aku sampai! aku benar-benar disini! selamat tinggal kenyataan! halo dunia fantasi!

cerita yang sudah kutunggu seumur hidup akhirnya, akhirnya, akhirnya akan mulai…!

Atau itu yang dia pikir.

“Astaga, Ma-kun. Ibu katakan tunggu sebentar agar aku bisa ikut juga, tapi kau bahkan tidak ragu! kau membuat ibu sedih kadang.”

“….Huh?”

Mendengar suara yang familiar, dia berbalik dan melihat seorang gadis.

Perempuan itu memakai baju yang bagus dan memegang sebuah tas menginap yang sangat penuh dengan hal-hal yang membuat kancingnya tidak menutup, seperti ingin berpergian… Tidak, tunggu sebentar.

Dia terlihat seperti seorang gadis, tapi faktanya, dia terlalu muda untuk menjadi seorang gadis.

Itu tidak lain dan tidak bukan ibu Masato, Mamako.

“….Uh…Tunggu sebentar…Ini tidak…Ini tidak mungkin terjadi…”

“Ma-kun, kau dan ibu akan pergi ke banyak petualangan bersama, Hee-hee!”

“KENAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Masato telah dikirim ke dalam game… Dengan ibunya!

serius?! demhan ibuku sendiri? tidak, tidak, ini tidak mungkin 

Tapi itu benar.

“Baiklah, Ma-kun. Kesini! Aku akan membuatmu sampai kesana.”

“I-iya, tentu saja…”

Masato menyerah dan mulai berjalan, dia menarik tangannya, dan dia tidak memiliki banyak pilihan.

Disana ada jembatan gantung di antara pulau mengapung, dan mereka menyeberangi yang paling mengangumkan, menuju pulau besar tertentu.

Jalannya dihiasi dengan jajaran patung dewam dan diujung jalan terdapat sebuah istana yang megah dengan kubah dibangun ditengahnya. Mamako sepertinya memandunya kesana.

benar, tenang. Jangan menyerah. Berpikir. Kau pasti bisa. 

Apa maksudnya ini? Apa yang terjadi? Dilihat dari segala hal yang terjadi sejauh ini, sepertinya aman untuk berasumsi mereka benar-benar dikirim kedalam game fantasi tapi…

Tapi ibu disini. Harus lakukan sesuatu dulu sebelumnya. Sebelum hal lainnya. Iya.

“Uh, ibu? Kenapa kau…?”

“Kita sampai! Sepertinya akan terjadi suatu kejadian pertama-tama. Ini akan menjadi sangat menyenangkan”

“Hah?”

Pikirannya masih mengambang, dia dibawa ke sebuah lorong panjang ke dalam checkpoint event.

Mereka di tengah istana , dibawah bangunan beratap kubah. Seorang pria tua duduk di atas tahta menunggu mereka.

Dia sangat gagah, memakai pakaian yang indah dan jalinan jahitan dari emas dan perak. Dia memiliki janggut yang panjang dan memakai mahkota yang dihiasi berlian seperti… seperti seorang raja…

“Selamat datang! Akulah sang raja, Penguasa Transport Palace” Ding!

Dia memanglah sang raja. Apa dia memiliki nama lain selain Raja? Sepertinya tidak ada prajurit atau mentri disekitar sini, hanya dia.

“Aku telah menunggu kedatanganmu! Aku senang kau sampai disini!”

“Terima kasih! Merupakan sebuah kebanggan yang besar untuk diundang kesisni. Ayo, Ma-kun dimana sopan santunmu?”

“Oh, um… Terimakasih…?”

Mengikuti Mamako, Masato menundukkan dirinya didepan altar, melakukan apa yang diberi tahu kepada dirinya.

Sang raja tersenyum lebar kearah mereka dan berkata, “Mari kita mulai dengan nama kalian. Katakan nama kalian, tolong.”

“Nama saya Mamako. Dan ini putra saya, Ma-kun.”

“Nyonya Mamako dan Tuan Putraku Ma-kun? Lalu mari kita daftarkan nama itu.”

“Tidak- Tunggu sebentar, yang mulia! Namaku Masato! Masato!”

“Hmm. Kalau begitu nama ibumu Mamako, dan si putra adalah Masato, benar? kalau begitu mari kita daftarkan nama tersebut.”

Sang raja menaikkan tangannya. Dan dua jendela muncul di udara, Meminta untuk di isi dengan nama. Nama Mamako dan Masato muncul di kedua jendela tersebut, dan pendaftaran selesai.

“Uh… Tunggu, apa itu pengaturan awal akun?”

“Iya benar. ngomong-ngomong, sekali didaftarkan, nama tidak bisa diganti.”

“Beritahu kami hal itu sebelumnya!”

Tidak sengaja mendaftarkan nama aslimu merupakan kesalahan yang biasa, tapi kalau kau tidak bisa menggantinya nanti? lebih buruk. Masato memukulkan tinjunya ke lantai karena kekesalan. Setidaknya ada lantai untuk dipukul.

“Siaaaaaaaaaal! Kenapaaaaaa?!” Bam,bam,bam.

“M-Ma-kun! Jangan pukul lantainya! apa yang akan dipikir orang dibawah?”

“Hoh-hoh-hoh! Tidak ada yang tinggal dibawah sana . Jangan khawatir. Pukul saja! Tapi sekarang akunmu sudah diatur, biarkan aku menunjukkan status dasarmu. Terima ini.”

Sang raja menggoyangkan jarinyam dan layar menghadap ke arah mereka, Ketika mereka kelihatam, mereka menunjukkan layar status Masato dan Mamako.

Nama akun Masato adalah Masato, Ya, seperti nama aslinya. Dan job yang tertera adalah “Normal Hero.” Terdapat angka untuk menyerang dan bertahan, dan perizinan seperti ” izin pertarungan” dan “Kerajinan terlarang.”

Dia melihat ke arah layar status Mamako, dan itu juga memperlihatkan nama aslinya, Mamako. Job nya adalah “Normal Hero Mother.” dia juga mendapat “izin pertarungan” dan “kerajinan terlarang” juga

Dia punya banyak pertanyaan, tapi dari segala pertanyaannya…

“Um, yang mulia….. Kenapa aku ‘Normal Hero’?”

“Normal ya artinya normal,” sang raja membalas dengan senyuman yang ramah. “Tidak ada yang dramatis seperti menyelamatkan dunia. sebagai Normal hero dan seorang ibu normal hero, kau harus bertujuan untuk akrab secara normal, untuk kebahagiaan yang normal.”

“Sekarang berangkatlah, hero!”

dia mengatakan hal itu secara dramatis hingga kau bisa mendengarnya bergema.

“”Baiklah, ayo pergi!… Tidak, Kita tidak bisa pergi dulu!”

Pergi kemana? melakukan apa? ini tidak masuk akal.

“Hmm? Kau tidak bisa?”

“Tentu saja tidak! Kau tidak menjelaskan apapun! Memangnya apa yang sedang terjadi !? Aku bahkan tidak bisa mengerti sedikitpun!”

“Hmm. Kalau begitu biarkan aku menjelaskannya. Dengarlah dengan baik!” sang raja membersihkan tenggorokannya dan mengumumkan, “Dalam arti yang simple, ini adalah online closed beta, dan menggunakan tehnik tertentu yang aku tidak mungkin bisa menjelaskannya, kami telah mengirimmu ke dalam dunia game! kami ingin kau menjadi beta tester kami.”

“haaah, itu sedikit… simple…”

“semua player percobaan kami dipilih secara hati-hari berdasarkan survei tertentu… Walaupun kami kadang memilih orang bodoh yang menuliskan namanya didalam survey yang tidak dikenal. Karena itu lebih mudah untuk mengetahui siapa mereka. walau aku tidak ingin memberi tahu namanya.”

“pffft, siapa yang melakukan hal seperti itu?… Tunggu, tidak, tidak mungkin kan….”

Dia merasa seperti suara teriakan terngiang di kepalanya “Itu benar!” kepada dirinya sendiri, tapi itu pasti hanyalah imajinasinya saja. Dia berharap dia benar berimajinasi.

“Selama game ini berjalan, ini masih percobaan, ini belum memiliki nama official. Untuk sekarang kami hanya memanggilnya MMMMMORPG (title yang bekerja).”

“Kau sadar menambahkan tambahan huruf M hanya untuk membuat ini seperti judul parodi kan?”

“Genrenya nya seperti genre fantasy MMORPG seperti biasanya. Banyak pilihan job, dan kau bisa memilih untuk bermain dalam kelas petarung atau kelas yang cinta damai. Kau bisa pergi untuk bertarung jika kau ingin, atau kau bisa fokus untuk membuat item untuk mendekorasi rumahmu. Bermainlah seperti yang kau suka! Kau bebas memilih play style yg cocok untukmu.”

“Kecuali dalam permasalahan kami…”

“Ya, untuk mengumpulkan data permainan, kami memilihkanmu job yang belum dipilih oleh siapapun sebelumnya. Dan aku takut, kau tidak bisa menggantinya.”

Benar-benar tidak adil, dan tidak masuk akal. Seperti dunia yang kita ketahui.

Tapi dipilih sebagai beta tester merupakan sebuah kesempatan yang besar. dan bermain dengan game yang sebenarnya? Masato sebenarnya sedikit puas dengan hal itu. Merasa sedikit lebih baik , dia bangun dari lantai.

“Haaaah… Baiklah, sepertinya aku dapat mendapat sedikit kejelasan setidaknya. Standarmu game online benarkan?”

“Mm. Aku Bersyukur kau mengerti. Nyonya Mamako, Ada pertanyaan lain? Kau mengerti bagaimana game ini bekerja? ”

“umm.. y-ya…”

“Hmm? jika ada sesuatu yang mengganggumu, beritahu aku. Aku dengan senang hati menjawabnya.”

Sang raja memberikan dirinya senyuman ramah.

Terlihat benar-benar kebingungan, Mamako bertanya,”baiklah, kalau begitu… apa itu sebenarnya… sebuah akun?”

“Kau bahkan tidak mengetahui hal itu?!”

“Hmm,” kata sang raja. “Hanya… sedikit ingin tahu, apa yang kau pikirkan tentang sebuah akun,. Nyonya Mamako?”

“Baiklah… Sebuah akun itu….” Mamako berhenti berbicara, berpikir”A… a… a…,” dia mengulanginya, menghitung jarinya. Lalu melihat seperti sudah memecahkan permasalahannya.

Yap, itu merupakan semua hal yang diketahui oleh Mamako tentang game online.

Senyum ramah raja mulai berubah sedikit kecut, dan dia melihat ke arah Masato.

“Tuan Masato, Nyonya Mamako di tangganmu. Semoga berhasil!”

“Apa?! Kau langsung menyerah?! Lakukan sesuatu!”

“Tidak ada lagi yang bisa kubantu!” Ding, ding!

“Bagaimana kau menyebutnya seperti sebuah pernyataan?!”

“Aku hanya sebuah NPC! Aku hanya bisa melakukan apa yang sudah ditulis oleh programmer! Jika kau berharap aku menjelaskan fundamental utamanya, siapkan sebuah teks deskripsi setidaknya sepuluh kilobite! Lakukan tugasmu dengan baik, manajemen!”

“Kau berjalan sesuai program tapi menjelek-jelekkan staff atasan?!, Wah, Itu sebuah Npc script yang luar biasa…”

“Aku harus memberitahu game ini berisi player percobaan juga Npc, tapi sedikit susah untuk membedakannya. Jika kau ingin benar-benar membedakannya, berilah mereka sesuatu hal yang mesum, NPC hanya akan membacanya secara kata demi kata, seperti itu.”

“Itu sepertinya benar-benar tidak perlu.”

Lagipula, aku  bisa membuat mereka mengatakannya… atau… Tidak, aku tidak melakukan hal itu. Tidak. 

Baiklah

“Aku pikir cukup bicara sampai disini. Kau akan mengetahui sisanya ketika bermain!”

“Ya, kupikir…. Lebih cepat kalau aku langsung melompat maju daripada memintamu untuk menjelaskan semuanya kepadaku… Tunggu?!”

Masato hampir menerima kalau ini cukup sebagai penjelasan, ketika dia menyadari dia melupakan pertanyaan terbesarnya.”

Sebentar, sebentar, tunggu dulu sebentar. Masih ada masalah yang lebih besar, dan dia berdiri tepat disebelahku!

Mamako tiba-tiba saja menyelinap kesebelahnya.

“Tu-tunggu sebentar! Kita masih belum menyelesaikan masalah terbesar disini!”

“Ya, aku bisa membayangkan apa yang ingin anda tanyakan, Tuan Masato. Kau ingin tahu mengapa ibumu bersamamu, benar?”

“Y-ya! Jelaskan itu!”

“Tapi aku takut aku tidak bisa melakukannya.”

“Hah? Kenapa tidak?! Mereka tidak menyiapkan teks itu untukmu?”

“Bukan karena hal itu… Hanya saja keberadaan ibumu bersamamu memiliki keterkaitan dengan tujuan game ini. Karena alasan itu, aku tidak boleh ikut campur lebih jauh. Penjelasan lebih lanjut akan membuat kami untuk memaksakan kehendak pihak pendukung kami kepadamu, dan itu seharusnya tidak terjadi. Lebih baik kau mengetahuinya sendiri dalam pertualanganmu dan membuat keputusanmu sendiri untuk meresponnya.”

“Hah? Um… Apa maksud dari hal itu seharusnya?”

“Ibumu sudah diberi penjelasan yang lebih lengkap. Anak-anak harusnya hanya menikmati waktunya sendiri! Pergilah kemanapun kau suka, Berpetualan bersama, dan biarkan hal itu membawa dirimu kemanapun. Dengan hal itu….”

Sang raja berdiri dan mengetuk singgasananya. Dan itu menghilang ke ke udara, dan batu dibawahnya tenggelam kedalam tanah dengan getaran kecil, menunjukkan sebuah tangga spiral”

“Ke bagian selanjutnya! Lewat sini.”

“Sebentar! Aku tidak siap untuk melanjutkannya! Aku ingin penjelasan!”

“Baik, baik, untuk sekarang bertahanlah sebentar. Lagipula ketidak senangan dan tidak percayamu untuk sekarang, hero, aku berjanji kali ini akan membuat mulutmu menganga. Kami punya beberapa hadiah untukmu!”

“Kau tidak bisa membohongiku dengan hal basi seperti itu!”

“Apa ini, kalau begitu? Kau tidak membutuhkan bonus eksklusif login akun pertama?”

“E-eksklusif…?”

Jeduack! pukulan langsung.

Setiap game memiliki item khusus luarbiasa untuk pemain pemula…. Siapa yang bisa menolak hal itu? Tidak mungkin Masato akan melewatkan kesempatan ini. Itu miliknya! Miliknya sendiri!

Mungkin dia hero, tapi apa dia dapat menolak godaan seperti ini…?

 

 

Didasar tangga spiral ada ruangan lainnya. Disitu terdapat beberapa pintu, setiap pintunya diberi tanda dengan nama job: PALADIN, PENYIHIR, TUKANG KEBUN, PETANI. dan hal lainnya.

Salah satu dari pintu ini adalah ruangan HERO. Mengikuti arahan raja, Masato masuk kedalam, dan apa yang dilihatnya membuatnya lupa akan segala keraguan dan frustasinya. dia menelan ludah.

Pedang. Pedang-pedang yang indah.

“Wow… benarkah?”

Ruangannya terbuat dari bebatuan yang bersinar lembut, dan ditengahnya terdapat tumpukan tiga pedang.

Pedang yang berwarna seperti lava yang membara; Pedang yang berwarna sangat biru, lebih biru daripada lautan itu sendiri; dan sebuah pedang transparan yang bersinar melewati keduanya.

Masato tidak pernah melihat pedang asli sebelumnya, tapi dia tahu ini bukan pedang biasa. Daripada merasa terintimidasi oleh senjata, ini membuatnya merasa… sangat kagum, seperti di depan sesuatu yang sangat hebat.

“Kau bisa merasakannya, kan? Kau benar-benar cocok menjadi seorang Hero.”

“Y-ya.. seperti itulah…”

“Sekarang, Tuan Masato, pilih pedang manapun yang kau suka. Kami mempercayakannya kepadamu.”

“…Aku benar-benar boleh mengambil satu?”

“Tentu saja, Kuberi tahu hal yang sebenarnya, pedang ini diciptakan untuk quest High-Level, Tapi pemain game sekarang ini tidak tertarik jika item login pertama mereka bukan hal yang bernilai, Jadi sebenarnya, ini merupakan umpan.

“Bukan… bukan itu hal yang ingin kudengar.”

“Anak-anak masa ini sangat ingin sesuatu yang berharga! Pahlawan di jaman ku biasa hanya pergi dengan sebuah batang kayu.”

“tentu saja, karena NES jauuuhh lebih baik…”

“Baiklah, Tuan Masato. Pedangmu”

“B-benar…”

Masato melangkah kedepan tanpa keraguan menggapai pedang transparan yang bercahaya.

Kenapa yang itu? bahkan Masato tidak yakin dengan dirinya, hanya saja ini terasa benar.

Aku tak tahu mengapa… Hanya saja aku merasa ini yang pas untukku… Ya tidak salah lagi.

Matahari, bulan, dan bintang. gagangnya terukir dengan ukiran besi yang detail menggambarkan angkasa raya. Masato menggenggam gagang pedang itu dan menarik pedang tersebut.

“Menarik, Tuan Masato, kau adalah pahlawan yang dipilih oleh langit.”

“Dipilih oleh langit”

“Pedang yang kau pilih adalah Pedang suci surgawi, Firmamento. Dulu kala, ketika dunia ini diselimuti kegelapan, hanya sekali ayunan pedang legendaris ini menghancurkan kegelapan itu menjadi serpihan. Sesuai dengan deskripsi item tersebut lagipula.”

“Lagi, tidak butuh hal itu sedikit pun, lagipula ini jelas pedang yang luar biasa. Walaupun berdasarkan cerita itu, aku tidak benar-benar paham bagaimana luar biasa. Jelasnya.”

“Kalau begitu biarkan aku menjelaskannya padamu”

Sang raja langsung memakai sepasang kacamata untuk membaca dan mengeluarkan buku dari kantongnya. judulnya mengatakan Petunjuk Official di sampulnya. Dia membalik halaman buku itu.

“mm, Firmamento.. 2x damage melawan monster yang terbang, 3x critical rate. Event item dari sebuah event. serangan kelas atas. Tidak dapat dijual.”

“Itu lebih mudah untuk dimengerti tapi sedikit merusak cerita dibaliknya. Setidaknya hargai sedikit pembangunan ceritanya…”

“Jangan khawatir- kami akan membuat editan yang seharusnya ketika perilisan resminya.”

Masato tidak berpikir kalau versi beta menjadi sebuah alasan dibalik semua ini. Mereka setidaknya bisa berusaha lebih baik… Tapi sepertinya sang raja tidak terbuka untuk saran, jadi dia membiarkan hal ini lepas.

Lagipula

“Bagaimana, Tuan Masato? Mulai bersemangat dengan hal ini sekarang?”

“Um…. Y-yaa…”

Sang raja benar. Dia memang tertarik. Setelah dia memegang Firmamento, Pedang Suci Surgawi, Masato merasakan ada yang berubah di dalam dirinya.

Ada sebuah pedang, ditanganku. 

Sensasi itu memanggilnya. Keinginan membara yang ada di setiap hati seorang pria- Keinginan untuk bertarung, sekuat keinginan untuk seorang manusia itu sendiri untuk hidup.

Dan pedang yang dipegang oleh Masato itu sendiri adalah pedang legendaris. Senjata kelas atas. Sebuah janji ketika petualangannya berakhir, dia akan menjadi yang terbaik disana.

Alasan apa yang membuatnya harus membuang sebuah kebanggaan? Lagipula sudah lama dian mencarinya, tapi tidak dapat menemukjannya

“Haaah… aku tidak suka ketika kau menghasutku, tapi kau berhasil.”

“Aku tau perasaanmu, tapi terima sajalah. Ini adalah kewajibanmu sebagai seorang pahlawan, Tuan masato.”

“Apa iya? Kurasa semua hal tentang pahlawan ini masih tidak masuk akal untukku.”

“Apa yang kau katakan? Kau memegang pedang dalam legenda di tanganmu! Hanya seorang pahlawan yang dapat memegang senjata semacam itu! Ini juga sebagai bukti bahwa kau, benar, seorang pahlawan sejati. Tanpa keraguan”

“H-hei, jika kau mengatakannya seperti itu malah membuat hal ini sedikit…. canggung…”

Masato adalah seorang pahlawan, tanpa keraguan lagi, seorang pahlawan yang sebenarnya. Seorang pahlawan!

“Tidak perlu malu, Tuan Masato. Ini adalah takdirmu! Dunia ini membutuhkan seorang penyelamat. Kau adalah yang terpilih!”

“T-tolooonglah, jangan  bercanda! kau terlalu baik!”

Seorang pahlawan. Sang penyelamat. Jika itu bukan kombo telak tiga pukulan, apa lagi?

“Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Hanya itu, apakah game ini dirilis ke publik bergantung pada hasil test ini. Ini bergantung pada apa yang kau lakukan disini. Kumohon, bantu dunia ini mencapai langkah selanjutnya! Hanya kau yang bisa!”

“Apa yang kau katakaaan? Yaa, jika kau mengatakan hal seperti itu, kurasa aku akan mencobanyaaa-”

“Hee-hee-hee, aku tau kau akan mengatakan hal seperti itu Maa-kun! Ibu sangat bangga kepadamu!”

“Um…. Benarkah? Kalau begitu… Tunggu dulu…”

“Mungkin aku harus mengambil beberapa pedang, juga! Baiklah!” Pop, pop. 

Mamako menarik pedang lava dan laut dalam juga.

Pedang legendaris yang hanya dapat ditarik dan digunakan oleh yang sang terpilih, dan dia menarik keduanya.

Kata-kata manis sementara sang raja yang ada di kepala Masato, Tapi ini membuat semua dorongan itu menghilang. Uh tunggu sebentar? Apa yang terjadi? bisakah seseorang menjelaskan apa yg terjadi?

“Er… Um.. Yang mulia? Bagaimana…?”

“Maafkan hamba. Aku tidak dapat berkata apapun. Maafkan NPC yang bodoh ini… Oh, benar, berikan buku petunjuk ini ke Nyonya Mamako, tolong? Semoga harimu menyenangkan!”

Memaksa sebuah hadiah untuk Mamako ke tangan Masato, sang raja membalikkan badan dan melarikan diri.

Dia meninggalkan ruangan PAHLAWAN melewati pintu belakang dan mereka mendapati diri mereka di sebuah arena melingkar. Tidak ada penjaga ataupun penonton, hanya sebuah arena ditengah ruangan yang luas. Ini sudah jelas akan menjadi petunjuk pertarungan.

Masato berdiri di ujung arena, dan membolak-balik manual. Dia akhirnya menemukan informasi yang di inginkannya.

“Terra di Madre dan Altura…”

Nama pedang yang diambil oleh Mamako.

Yang merah adalah Terra di Madre, Pedang Suci Bumi. Lahir dari bumi itu sendiri sejak awal pembuatannya, pedang itu merupakan kehidupan itu sendiri- Awal mula segala penciptaan, sepertinya

Yang Biru gelap adalah Altura, Pedang Suci Lautan Dalam. Satu tebasan ajaib pedang ini dapat membendung banjir besar yang menyerang dunia. Buku manual mengatakan itu adalah simbol persetujuan yang dibuat oleh bumi dan laut, membagi dunia diantara mereka.

Tapi sebagus apa dua pedang, sebenarnya? Menurut data keduanya:

Terra di Madre: 2x damage terhadap monster daratan, 3x kemungkinan kritikal. Menyerang semuanya. Merupakan item event, serangan kelas atas. Tidak dapat dijual. 

Altura: 2x damage terhadap monster air, 3x kemungkinan kritikal. Menyerang semuanya. Merupakan item event, serangan kelas atas. Tidak dapat dijual. 

Menurut daftarnya, bagian “menyerang semuanya” adalah sebuah fungsi dimana membagi semua serangan ke tiap musuh. Dengan kata lain, ada sebuah total serangan dalam sekali serangan yang dilakukan, dan jumlah tersebut dibagikan secara rata menurut jumlah musuh yang diserang.

Dalam kata lain, senjata ini… yaa…

“Lihat ibu, Ma-kun! Lihat apa yang bisa ibu lakukan!… Hyah!” 

Mamako memegang Terra di Madre diatas kepala dan mengayunkannya kebawah.

Pedang batu yang tidak terhitung banyaknya menusuk dari tanah, menusukkan diri mereka sendiri ke arah kelompok monster.

“Graaaah?!” “Kreeeee?!” “Uuuunhf?!” “Raaaaaarrgh?!”

Semut, ulat bulu, laba-laba, serigala, beruang dan semua monster yang dihadapi Mamako secara instan terbelah menjadi setengah, Hancur dengan mudahnya. Terlalu mudah, malah.

Tapi beberapa saat kemudian, Segerombolan monster lain muncul!

“Aku tidak akan menyerah! Aku harus menunjukkan kepada Maa-kun apa yang bisa kulakukan!… Hyaaah!”

Mamako menggunakan tangannya yang satu lagi, mengayunkan Altura secara horizontal.

Air muncul setelah ayunan pedang tersebut, membagi dirinya menjadi butiran air yang tidak dapat terhitung, yang dimana menembakkan dirinya sendiri ke arah para monster seperti peluru.

“Raaargh?!” “Krkrkrkrkr?!” “Guuuuuh?!” “Uuuuuurgh…Gruuuuhhh….!”

Ditembus dengan semua serangan ultra sonic air ini, Monster-monster itu dipenuhi dengan lubang, tubuh mereka tersungkur dengan sekejap mata. Gelombang musuh kedua tersapu bersih lagi, cukup mudah.

Tetapi pertarungan belum selesai! Diatas langit, terlihat bayangan monster!

“Ma-kun, sekarang kesempatanmu untuk menunjukkan kekuatanmu! Lakukanlah!”

“…Uhhh, baiklah..”

Masato menuntup buku petunjuk dan mengaunkan Firmamento kearah jenderal musuh.

Setelah apa yg dilakukannya, sebuah sinar cahaya berbentuk bulan sabit ditembakkan dari pedang transparan, mengejar musuh diatas. Jalurnya melengkung, mengikuti pergerakan monster tersebut dan mengenainya secara telak.

“SQUAWK?!”

Monster yang setengah ukuran burung gereja yang melewati arah langit ditembak jatuh, dan menjadi debu.

Dia mengalahkan sebuah monster!

Masato terjatuh ke tanah, dan menangisi dirinya yang tergarami.

 

 


Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published.