Tokyo Ravens V10 Ch1 Part 2 (2)

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Tokyo Ravens V10 Ch1 Part 2 (2)

Chapter 1

Kelinci dari Kuil Kegelapan

-Bagian Kedua-

(2)


Akino menoleh ke belakang dengan ekspresi masam. Sementara itu, seorang kakek-kakek muncul dari persembunyiannya di antara pohon aras dengan tersenyum. Rambut putih kakek itu tergerai dan ketika dilihat bersama dengan kumis putihnya ia tampak begitu tua.

Anehnya, ia menggunakan jubah putih lusuh, hakama [1] yang ditambal dengan kain, serta sebuah toga yang menarik perhatian. Namun entah kenapa, kakek itu terasa tak dapat diandalkan karena penampilannya. Sebuah senyum tergambar di mukanya yang penuh kerut saat ia bertingkah bak anak kecil.

“Jangan terkejut, Akino. Latihanmu masih kurang. ”

“Kakek Sen mengejutkanku~ Apalagi suara kakek yang sengaja kakek ubah…. ”

“Apa-apaan aku ini hingga membuatmu takut? Buat apa sepasang telinga panjangmu itu?

“A-aku tidak memilikinya karena aku ingin…”

“Haha, kau terlihat bahagia saat melihat ubi-ubi jalar itu. Tadanori-san akan mengetahui tingkahmu cepat atau lambat bila kau terus seperti itu. Akhir-akhir ini, ia sedang dalam temperamen yang buruk. Jadi, kau pasti akan dimarahi bila ketahuan. ”

Kakek Sen terpingkal-pingkal. Sementara itu, Akino cemberut dengan suara Sen “Uu–“, bahkan telinga di atas kepalanya membentuk ‘く’. Sebenarnya, ketika Kakek Sen menangkap basah Akino, mungkin Tadanori juga sudah mengetahui tingkah Akino.

“Bukankah telingamu itu berharga? Kamu selalu menyembunyikannya, jadi kalau memang ada kesempatan, pakai saja bila efektif. ”

“Ka-kakek Sen tidak usah sok tahu! ”

Akino menggembungkan pipinya serta memeluk lututnya dengan erat dan meringkuk. Namun, sekarang ia tak bisa menyembunyikan telinga kelincinya.

Akino adalah salah satu orang yang biasa disebut ‘kerasukan’.

Akhir-akhir ini, mereka juga disebut sebagai ‘Roh Hidup”. Pada zaman dahulu, yang digadang-gadang sebagai “Roh Hidup” ialah orang yang dirasuki oleh sebuah ‘oni’ dan lambat laun akan menjadi sebuah ‘oni’

(TL Note : Ingat ato touji? Sahabatnya harutora? Nah.)

Namun, dewasa ini “oni” juga dianggap sebagai roh. Selain itu, orang yang dirasuki oleh roh selain “oni” akan dipanggil “Roh Hidup”

Dengan begitu, para roh hidup itu tidak terlalu langka di Kuil Seishuku ini. Setidaknya bila kita mengesampingkan keberadaan mereka di dunia luar. Walaupun begitu, jumlah mereka juga tidak banyak.

Tapi sayangnya, Akino bukan roh hidup biasa.

Akino merupakan salah satu roh hidup kategori “kelinci” yang jarang ditemui di dunia ini.

“Mau berapa kalipun kau sembunyikan telinga itu, benda itu akan selalu muncul ketika kau terkejut. Apa yang kau lakukan itu bak sebuah kitsune [2] yang ingin menyembunyikan kemampuan perubahan bentuknya yang buruk.”

“Kau tidak perlu khawatir. Meskipun aku masih tidak mahir, suatu hari aku pasti dapat menyembunyikannya asalkan aku banyak berlatih.”

“Mau seberapa hebatpun kau sembunyikan, cepat atau lambat semua orang akan mengetahuinya. ”

“Tak masalah. Aku hanya ingin menyembunyikannya saja. ”

Ketika Akino marah, ia jadi sedikit cerewet.

Telinga kelinci itulah akar dari keminderan Akino.

Akino tidak tahu dan tidak mau tahu tentang pendapat orang lain. Akan tetapi, bagi Akino “benda ini” yang berayun kesana kemari hanya membuatnya merasa jengkel dan sengsara.

Terdapat beberapa orang yang memanggil Akino “Cewek Kelinci” ada juga yang menghindarinya dan membencinya.

Ditambah, Akino juga tidak memiliki bakat yang hebat. Malah, karena ia begitu bodoh dan akibat dari telinganya yang menarik perhatian orang, ia dianggap sebagai orang idiot dan sering disuruh-suruh.

Ada juga yang menganggapnya sebagai hewan yang eksotis.

Bagi Akino, telinga ini merupakan sebuah simbol dirinya sebagai objek yang tak berguna.

“Bagiku, telinga itu imut. ”

“Itu…… tak benar. ”

Akino meringkuk seraya menolak pujian itu.

Akan tetapi, saat Akino menjawab perkataan Kakek Sen, ujung telinganya terlihat mencuat ke atas tanda senang. Alasan lain Akino menyembunyikan telinganya ialah karena telinga-telinga itu membeberkan perasaan sesungguhnya di lubuk hati yang terdalam miliknya. Namun, fakta bahwa Akino tidak menyembunyikan telinganya di hadapan Kakek Sen membuktikan seberapa dekat mereka.

Gaya Kakek Sen saat bercanda tentang telinga kelinci milik Akino tanpa rasa sungkan itu juga tak mengandung niat jahat seperti orang kebanyakan.

Malahan, Kakek Sen menganggap Akino seperti cucunya. Kakek Sen adalah satu-satunya orang yang dapat membuat Akino tenang di tempat ini.

Telinga kelinci milik Akino bergetar seraya bertanya, “Kakek Sen sedang menyiram tanaman lagi?”

“Ya, kau benar.” Jawab Kakek Sen seraya memalingkan wajahnya ke kuil yang ada di sebelah mereka.

Kuil itu juga terlihat reyot. Dinding dan atapnya penuh dengan lubang, selain itu rerumputan juga menjulang tinggi. Kuil itu dinamakan Aula Tachibana dan masih terlihat luas meskipun reyot. Karena tidak ada yang memakainya, Kakek Sen sering membawa pot yang berisi tanaman muda dan menaruhnya disana serta membesarkannya.

Akino juga sering menghabiskan waktu di dekat kuil itu. Pokoknya, dimana ada Kakek Sen, disanalah Akino merasa tenang.

“Apakah kakek sudah selesai bekerja? ”

“Sudah sejak tadi. ”

“Aahhh…… Kakek, tak kusangka…… Kudengar Kakek Sen selalu seperti itu. Bagaimana bisa kakek menyelesaikan pekerjaan begitu cepat? ”

“Karena aku ya aku. Umurku berkali kali lipat lebih banyak dibanding umurmu. Menyelesaikan pekerjaan dengan tingkatan seperti itu dengan cepat itu wajar. ”

Kakek Sen merupakan salah satu budak lelaki di kuil Seishuku yang bertugas melakukan pekerjaan sehari-hari seperti menyapu, mencuci piring, dan lain-lain, seperti Akino di wiharanya. Meskipun Kakek Sen melakukan tugas yang tergolong susah untuk tubuhnya yang sudah berumur, entah kenapa kakek ini selalu mengerjakan tugas dengan santai dan cepat. Akino hanya bisa berpikiran bahwa Kakek Sen sudah terbiasa. Namun, bagi Akino, Ia tidak dapat membayangkan hal itu.

“Rasaya aku bisa melakukan banyak hal apabila aku dapat menyelesaikan berbagai tugas dengan segera…. ”

Akino menggumamkan kata-kata yang tidak terdengar realistis sama sekali.

Akino tampak berumur 12 atau 13, akan tetapi dia sendiri tidak tahu umurnya berapa.

Selama ini, ia hidup di Kuil Seishuku. Selain pergi ke kaki gunung sebagai perwakilan kuil, ia tak pernah pergi kemana-mana. Akino hidup dalam kehidupan yang tak menarik ini setiap hari, entah musim apapun. Akino sendiri pun tidak tahu sudah berkembang sejauh mana dirinya. Ia tak bisa membayangkan kemajuan sedikitpun dalam hidupnya meski ia berjuang lebih keras.

Akan tetapi–

“Yah…… Apakah tempat ini masih ada ketika saat itu tiba? ”

Kakek Sen menyeringai diikuti dengan suaranya yang jelas. Ujung telinga Akino sedikit berkedut. Akino menoleh ke arah Kakek Sen yang berada di atasnya dan berkata “Eh–“.

“Kakek Sen? Apa maksud kakek….. ”

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.