Tokyo Ravens V10 Ch 1 Part 3 (03)

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Tokyo Ravens V10 Ch 1 Part 3 (03)

Chapter 1

Kelinci dari Kuil Kegelapan

-Bagian ketiga-

(03)

……Ah.

Kemudian, ketika ia baru memikirkan itu, Akino terhenti. Akino teringat tentang apa yang dikatakan oleh Kengyou ketika mereka berpapasan kemarin.

“Um, Hokuto-s–bukan, Hokuto?”

“Hmm?”

“Bolehkah aku bertanya? Um, kemarin, Petapa Kengyou berkata….”

Hokuto terlihat langsung mengerti saat ia langsung angkat bicara.

“Tentang Roh Hidup yang berharga? ”

Hokuto menjawab secara blak-blakan pada Akino, akan tetapi ekspresinya begitu rumit. Ternyata Akino memang tidak sopan.

“U-Um!?” Akino mengecil karena malu.

Akan tetapi Hokuto tidak mempermasalahkan hal itu.

“Mumpung sedang membahas ini, Akino juga seorang Roh Hidup kan. Aku Roh Hidup jenis naga air. ”

“Naga air?”

“Yup.”

Roh Hidup jenis itu memang berharga. Namun, Akino belum pernah mendengarnya sebelum saat ini.

Naga air yang terkenal itu merupakan tipe roh air. Meskipun hanya tipe naga sampingan, jenis ini tetap tergabung dalam famili naga. Naga air tampak mirip seperti ular, akan tetapi Akino mengingat bahwa mereka memiliki tanduk, tangan, dan kaki. Selain itu, hanya terdapat beberapa orang yang pernah melihat naga air.

…Ah, benar juga……

Perasaan aneh yang dirasakan Akino dari tubuh Hokuto mungkin saja karena roh naga air itu. Intinya, Akino tidak tau apa-apa tentang naga air itu. Jika ia memikirkannya dengan serius, mungkin bau ganjil dari Hokuto disebabkan oleh efek naga air.

…Akan tetapi, apabila ia roh hidup naga air, mungkin….

Mungkin Hokuto memiliki sesuatu seperti ekor ular yang mirip dengan telinga Akino? Atau Hokuto memiliki taring yang bekerja seperti lidah bercabang dua? Walau Akino ingin tahu, menanyai Hokuto lebih jauh tidak bisa ia lakukan.

“Akino, roh hidup macam apa kau? Kalau tidak sungkan, maukah kau memberitahuku?”

Raut wajah Akino berkedut saat mendengar pertanyaan Hokuto. Akan tetapi, dia akan dianggap licik kalau hanya bertanya namun tidak menjawab. Akino memalingkan wajah seakan-akan kesusahan menjawab.

“Aku punya roh k-kelinci.”

Meski malu, Akino penasaran bagaimana respon Hokuto setelah mendengarnya. Akino pun kembali menatap ke arah Hokuto.

“Kelinci, huh? Tidak biasa. Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah tahu ada roh hidup jenis kelinci. ”

“……Apa lebih langka dibanding naga air? ”

“Benar. Naga air seharusnya juga sangat langka, walaupun begitu, banyak orang yang dirasuki oleh naga air atau yang terlalu dekat dengan roh ular di masa lalu. Seperti orang yang dirasuki oleh Yato-no-Kami. Apalagi roh ular, jumlahnya sangat banyak. Tapi kalau roh kelinci….”

(TL Note : https://en.wikipedia.org/wiki/Yato-no-kami)

Hokuto menatap ke arah Akino dengan sorot mata yang berbeda. Akino merasa malu dan menoleh untuk menyembunyikannya.

…Sudah kuduga, aku aneh.

Akino tidak perlu menanyakan hal itu. Jika menilik dari masalahnya, Hokuto tidak mengejek atau terkejut. Akan tetapi jika Akino dikhianati dan dianggap bodoh, dia akan merasa putus asa dan jatuh ke dalam keseidhan.

“P-Pokoknya. Akrabkan dirimu dengan roh-roh hidup di biara, oke? Ada berbagai macam orang di sana. Tidak hanya ‘murid’ sepertiku, banyak juga pendeta sungguhan. Dan juga, meski ada kabar bahwa banyak orang ersembunyi di sini serta dua orang penting itu, semua orang menjalani hidup di biara seperti orang biasanya. ”

Akino mengubah topik pembicaraan, terus menjelaskan pada Hokuto.

Sebenarnya, orang-orang di biara tidak dilegakan untuk menggunakan sihir kelas satu, dan mereka tidak peduli jika mereka melanggar hukum. Kebetulan, Akino belum menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya setara dengan para kriminal.

Tentu saja, mereka tidak merasa panik atas tindakan mereka sendiri saat latihan karena mereka tidak tahu apa yang terjadi di dunia luar. Akan tetapi, karena itulah mereka dianggap tidak kompeten.

Banyak orang di biara bekerja hanya untuk hidup.

“Meskipun banyak hal-hal yang tertinggal dibanding kota diluar, kamu akan terbiasa saat sudah lama merasakan hidup di sini. Kurasa, kamu akan cepat terbiasa…… ah, ya, walau…… saat ini, mungkin…… sedikit mengerikan……”

“Apa ada sesuatu yang terjadi di biara? ”

“Hah… Yah, sebenarnya para pendeta bertengkar di awal tahun ini… Sepertinya karena perbedaan pendapat… ”

Pada akhirnya, tempat itu hanyalah biara kecil. Jadi, konfrontasi secara langsung tidak akan terjadi.

Tapi memang benar bahwa para pendeta Kuil Seishuku terpisah menjadi dua kelompok. Hal itu juga menjadi alasan kekesalan Tadanori.

“Ah, tapi tak usah kau pikirkan. Karena pertengkarannya hanya pada ruang lingkup pendeta saja, jadi kita tidak ada hubungannya dengan mereka… Tapi, perkara ini melibatkan organisasi Agensi Onmyou nasional, kurasa? Aku juga tidak tahu detailnya. ”

“Kalau begitu, aku takut kalau masalah ini ada hubungannya dengan kelegalan kuil ini bagi mereka.”

“Eh?”

“Sejujurnya, bagi Agensi Onmyouji, kuil kegelapan ini menjadi tempat berkumpulnya komunitas sihir gelap.”

Jika yurisdiksi Agensi Onmyou berkembang, mereka akan menarik perhatian orang di sekitarnya. Mereka akan menggunakan kesempatan ini untuk membuat persetujuan. Persetujuan tentang apakah Kuil Seishuku akan menerima perubahan itu serta ketentuan kuil Seishuku ke depannya.

“……”

Akino menatap dengan ekspresi kebingungan ke arah Hokuto seakan-akan berkata ‘Eh? Apa-apaan itu?’

Mengapa Hokuto tahu kabar-kabar ini ketika ia baru saja akan memasuki Kuil Seishuku? Bahkan para senior di kalangan ‘murid’ saja tidak tahu apa yang dibicarakan para pendeta.

…Orang ini…

Siapa dia? Saat hal ini terlintas di pikiran Akino.

“…Ah.” Hokuto terhenti.

Akino tak sengaja melihat ke depan mengikuti Hokuto. “Aha.” Kemudian, ia tertawa kecil.

“Itu gerbang pegunungan kami. ”

Gerbang itu berjajaran dengan hutan pohon cemara dan punya tangga dari batu yang menjulang ke puncak gunung.

Saat pertama kali melihatnya, akan terlihat sebuah gerbang kuno, luntur yang ada di sana.

Sebuah gerbang dengan atap berjenis hip and gable yang disokong oleh dua pilar kayu dengan ubin yang sudah luntur. Tidak begitu besar, namun memiliki kesan megah ketika tiba-tiba terlihat di area pegunungan. Gerbang itu membuat siapapun yang melihatnya melebur dalam pemandangan sekitar.

(TL Note : Atap hip and gable itu mirip kaya atap rumah padang gitu)

Gerbang itu bagaikan peradilan yang diakui oleh gunung. Walau tak berbicara, ia seakan-akan mengumumkan bahwa area seterusnya adalah wilayah sakral.

“…”

Ekspresi Hokuto menjadi kaku.

“…Ada sebuah penghalang yang dipasang di ujung atap gerbang itu.”

“Ah, kamu sudah tahu? Tapi tak apa. Soalnya, kamu bisa masuk melewati gerbang ini.”

“…Sebuah sihir yang belum pernah kulihat… Apakah penghalang ini menutupi permukaan gunung mulai dari sini hingga ke atas sana?”

“Benar. Itulah kenapa kamu hanya bisa memasuki kuil Seishuku lewat gerbang ini.”

Kuil Seishuku terletak mendekati puncak gunung. Jadi, penghalang kuil ini menutupi seluruh puncak gunung. Penghalangnya cukup besar, dan orang luar –Jelas, praktisi sihir dari luar—juga sangat terkejut pada awalnya. Akan tetapi, penghalang itu sudah dipasang sejak Akino belum lahir, dan Akino tidak menganggapnya hebat. Bagi Akino, penghalang itu sudah cukup ada di situ saja, tak usah diapa-apakan.

“Yang penting, ayo naik. Kita mungkin sudah terlambat… “

2 Responses

  1. Your Name says:

    baru tau kalau ternyata ada yg nerjemahin novel nya
    ty yah

Leave a Reply

Your email address will not be published.