Tokyo Ravens V10 Ch 1 Part 3 (04)

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Tokyo Ravens V10 Ch 1 Part 3 (04)

Chapter 1

Kelinci dari Kuil Kegelapan

-Bagian ketiga-

(04)

Akino langsung melewati gerbang dengan diikuti oleh Hokuto.

Interior Kuil Seishuku mulai menunjukkan diri setelah mereka melewati gerbang. Meskipun begitu, pemandangan sekitar tidak berubah secepat itu. Pohon aras yang disekitar juga masih tetap pada tempatnya di samping jalan batu setapak. Kuil Seishuku dibangun di gunung, jadi sanghamara ini dibuat di lereng gunung. Gerbang di hadapannya merupakan jalan masuk secara formal.

(Tl Note : Sanghamara merupakan nama formal untuk Kuil Agama Buddha, termasuk taman-taman dan wilayah lainnya)

Kemudian, setelah mereka berjalan-jalan melewati gerbang itu, mereka mendapati adanya pohon beech, bunga wisteria, dan daun pohon maple yang kemerahan di bawah pohon aras.

Lalu, mereka juga melihat beberapa struktur yang terbuat dari kayu di sisi lain pohon –Sebuah Aula.

Jalan batu itu mengarah ke sebuah Shikyakumon yang lebih kecil dibanding gerbang awal dan bisa dilewati. Akino mengarahkan Hokuto memasuki gerbang itu.

(TL note : Shikyakumon itu ini https://takaphotoslog.com/wp/wp-content/uploads/2016/03/yakuoin-shikyakumon.jpg)

Mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan mereka.

Mereka menuju ke tempat sejenis lapangan yang dikelilingi oleh hutan dan aula kecil. Lantainya juga sangat lembut, ditambah adanya hiasan lenteran kuno dimana-mana.

“Baik, kita sudah sampai. ”

Akino berbalik dan memandang Hokuto. Hokuto pun berhenti berjalan dan menatap Akino dengan tajam.

“Aula utamanya ada di depan, dan kamu bisa melihat aula berkumpul di seberangnya. Kuilnya juga ada di sana, walau kamu tidak akan bisa melihatnya dari sini, ada sebuah gudang di dalamnya. Kemudian, ada juga tempat tinggal para murid, dan… Kamu bisa lihat atap pagoda di seberang pohon itu. Terdapat beberapa tempat lain di dala kuil ini, seperti ruangan berdoa, kamar petapa, dan aula kecil… bangunan-bangunan seperti itu. ”

Akino menunjuk semua bangunan itu sembari menjelaskan, akan tetapi dia tak tahu sebanyak apa informasi yang diserap oleh Hokuto. Gadis yang memanggil dirinya sendiri roh hidup naga air pun menyipitkan matanya, menatap ke arah kuil –Dan mungkin menggunakan kekuatan spiritualnya untuk ‘melihat’.

Penjelasan Akino berhenti di tengah jalan saat mengetahui bahwa Hokuto dikelilingi oleh aura dingin itu lagi. Akino kebingungan ingin mengajaknya bicara, oleh karena itu dia tetap berdiri tegak sampai akhir.

Akan tetapi.

“……Akino. Sepertinya ad keributan disana. ”

“Eh? Hmm? Benar. Ada apa? ”

Hokuto membicarakan aula perkumpulan. Suara berisik pun terdengar dari sana.

“Ayo kita pastikan”, ucap Hokuto. Dia pun melangkah maju tanpa menunggu balasan dan Akino pun mengejarnya dengan tergesa-gesa.

Mungkin ada sebuah perdebatan di Aula Perkumpulan. Setelah Akino dan Hokuto mendekat, terlihatlah seorang petapa berjalan keluar dari tengah. Ia berjalan menuju kuil dan berhenti saat menyadari keberadaan mereka.

Petapa itu ialah Tadanori.

“Akino, kamu terlambat. Apa yang kamu lakukan selama ini? ”

“M-maaf saya terlambat! Um, Petapa Kengyou merekrut seorang pemula dan saya ditugasi untuk menjemputnya, um… ”

Peringatan yang keras saat mereka baru bertemu. Akino langsung ketakutan. Tadanori pun mengalihkan tatapan tajamnya dari Akino pada Hokuto. Hokuto masih berwajah dingin saat menerima tatapan Tadanori.

“……Hmm, jadi kau? Tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Kau belum bisa bergabung dalam kuil ini sebagai seorang pemula sekarang. ”

“Eh? Um, Petapa Tadanori?”

“Akino. Aku masih memiliki beberapa urusan yang harus kuselesaikan. Nona, seperti yang kamu lihat, kami masih memiliki masalah untuk diatasi. ”

Tadanori mengakui hal itu secara blak-blakan dan langsung berlari menuju kuil.

Hokuto, yang terasa dibuang, tidak mengatakan apa-apa. Hanya, pandangannya terus terpaku ke arah punggung Tadanori. Di lain pihak, Akino, kebingungan tak tahu apa-apa.

Sudah jelas bahwa dia tak pernah diberi tugas mengurus seorang pemula sampai saat ini. Begitu pula dengan Akino, ia tidak biasa mengatasi seorang pemula.

Eh? Ehh?

Apa yang baru saja terjadi. Lalu, Hokuto menoleh ke belakang.

Akino juga berbalik.

“Oh, Akino, kamu sudah pulang. ”

“Ah, Kakek Sen”

Sen menghampiri mereka berdua sedari tadi. Ia berbicara bagaikan sedang berdiri di depan aula perkumpulan sejak tadi.

Dia masih bersikap acuh, seperti urusan di kuil yang tiada penting baginya.

Akino berhasil menenangkan diri di hadapan Pak Tua Sen yang selalu seperti ini.

“Seorang pemula datang ke kuil, jadi kurasa aku harus turun ke bawah untuk menyambutnya… Apakah ini pemulanya? ”

“Yap, namanya Hokuto-san…… Mengesampingkan hal itu, apa yang terjadi? Ada kejadian apa di Aula Perkumpulan? ”

Akino bertanya dengan dahi yang mengernyit, namun Sen sama sekali tidak tegang.

“Sebenarnya, mereka baru saja diberitahu oleh Kengyou-sama.”

Sen menjawab seperti itu.

“Eh? Beliau memberitahu mereka? Memberi tahu apa kali ini? ”

“Nnn. Tidak banyak. Hanya seorang wakil dari Agensi Onmyouji di Tokyo datang. Karena itulah semua orang heboh. Sekacau sebuah sarang lebah.”

Akino bersuara, “Eh” saat ia mendengar jawaban tak terduga ini.

Dia baru saja membicarakan soal Agensi Onmyouji dengan Hokuto. Akino pun langsung menoleh ke arah Hokuto, namun dia tetap bergeming dengan ekspresi dinginnya, mendengarkan ucapan Sen.

Melihat mereka berdua terdiam, Sen tertawa lebar sembari memberi tahu situasi lebih detil.

“Ditambah, kudengar perwakilannya adalah salah satu dari Dua Belas Jendral Surgawi, lho. Kemampuan apa yang mereka miliki? Astaga, sangat menarik. “

3 Responses

  1. Xeann says:

    Bakatora masih lama keluarnya ya?

  2. Highest emperor says:

    Lanjutkan min updatenya

Leave a Reply

Your email address will not be published.