Tokyo Ravens V10 Ch 1 Part 3 (02)

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Tokyo Ravens V10 Ch 1 Part 3 (02)


Chapter 1

Kelinci dari Kuil Kegelapan

-Bagian ketiga-

(02)

“Akino, kamu tahu apa yang mereka lakukan di biara? ….. Tidak?”

“Tahu. Um…… Semua orang di biara mempelajari sihir.”

Karena Hokuto juga akan menuju ke Kuil Seishuku, seharusnya dia sudah tahu hal ini. Meski begitu, Akino tetap menjelaskan padanya.

Berkat pemerintah, sihir digunakan secara luas. Sekitar setengah abad yang lalu, di penghujung Perang Pasifik, berbagai sihir yang diwariskan sejak dahulu dianalisis satu demi satudan diimplementasikan menjadi sebuah sistem umum dan terus dikembangkan.

Sihir Kontemporer diatur oleh organisasi nasional — Agensi Onmyouji. Dan sihir yang dapat berefek pada dunia oleh Agensi Onmyouji dinamakan ‘First-Class Magic‘, serta untuk menggunakannya harus dengan izin khusus dari mereka.

“Sihir yang biasa digunakan oleh orang-orang disebut “Onmyoudou Umum”. Sebenarnya, berbagai sihir dari sistem yang lain juga dikategorikan di dalamnya. Contohnya, Vajrayana, ajaran Shinto, dan tipe lain… Hmmm?

Kalau begitu, kenapa harus dipanggil ‘Onmyoudou Umum’?”

“Karena pria hebat yang menambahkan sihir-sihir tipe lain itu dan kemudian menemukan dasar untuk sihir modern bukan seorang biarawan atau penganut ajaran Shinto, akan tetapi seorang Onmyouji. ”

“Ah, benar! Dia seorang pengguna sihir di bidang militer dan beraksi saat perang. Siapa namanya? Sepertinya aku pernah dengar…”

Akino merasa “orang itu” memiliki nama yang berhubungan dengan cahaya. Ia pun menggali ke dalam pusat memori di otak kecilnya dengan gumaman, “hmm”.

Lalu,

“……Yakou.”

“Eh?”

“……Dia dipanggil dengan nama Tsuchimikado Yakou.”

(TL Note : Huruf kanji nama “Yakou” mirip dengan huruf kanji untuk kata “Hikari” atau cahaya)

“Ah, benar! Itu namanya.”

Hokuto terlihat pandai akan hal ini. Saat ia mengatakan sesuatu, Akino merasa kebanggaannya sebagai seorang senior semakin berkurang. Akino merasa kecewa.

…Ah, akan tetapi……

“Ya. Tsuchimikado Yakou menyebut dirinya sendiri seorang teroris.”

Saat Akino mengujarkan kalimat itu, Hokuto sedikit bergidik. Seakan menyadari hal ini, Akino pun menghadap ke arah Hokuto.

“Hmm? Hokuto-san – Bukan, Hokuto – kamu tak tahu? Tahun lalu… Kurasa saat musim panas? Reinkarnasi Tsuchimikado Yakou melakukan kejahatan dimana-mana. ”

Akino mengetahui berita ini. Ia juga bertanya pada Hokuto, dan terkejut.

Hokuto memberi jeda sebelum menjawab.

“……Aku tahu.”

“Oh. Jadi kamu tahu. Yah, dia sangat terkenal di komunitas pengguna sihir. Kudengar, ada sebuah hadiah jika kamu berhasil menangkapnya dari pemerintah.”

“……”

Hokuto tidak menjawab perkataan Akino dan ekspresinnya seperti membeku. Walau begitu, Akino tak menyadari hal itu. Sifat Akino yang naif itu membuatnya pintar dalam medengarkan sebuah topik pembicaraan umum orang lain.

“Hal-hal semacam reinkarnasi dan sebagainya itu sering diperbincangkan di biara, lho. Apalagi, yah, karena biara itu adalah salah satu tempat yang secara khusus mempelajari sihir mungkin? Topik semacam itu sangat mudah merambat kemana-mana…”

Akino melirik ke penampilan Hokuto yang terasa kaku. Meskipun begitu, ia tak merasa khawatir. Muka Hokuto seakan-akan sudah menunjukkan bahwa ia sudah paham tentang ‘Keadaan Kuil Seishuku’.

“Kalau soal para pengguna yang tersembunyi ini, apakah mereka datang karena di sini terdapat dua orang ahli?”

(TL Note : Saya juga ndak paham sama kalimat ini di rawnya..)

Akino tersenyum tipis pada ucapan Hokuto, kemudian dibalas dengan sebuah kekehan, “haha”.

“Sepertinya memang begitu. Aku sendiri tidak tahu soal dua orang profesional yang disembunyikan disini sih.. ”

Saat ini, sihir diatur oleh para Onmyouji, dan banyak penyihir yang tergabung dalam Agensi Onmyouji.

Tapi tidak semua.

Sihir pertama dan Sejarah Onmyouji lebih tua dibandingkan sejarah Aturan Onmyouji dan Agensi Onmyouji itu sendiri. Oleh sebab itu, Agensi Onmyouji juga tidak bisa mengatur para pengguna sihir itu setelah perang dunia kedua. Selain itu, juga ada kegelapan di antara sihir-sihir yang ada di dunia. Akan tetapi, pemerintah mengatakan bahwa kegelapan itu tidak bisa dengan mudah merasuki orang-orang.

Jadi, Agensi Onmyouji bidang manajemen tidak dapat mencapai “akar” komunitas para pengguna sihir yang sudah menjamur dengan berbagai jaringan, mereka hanya bisa mencapai “daun”nya saja. Kuil Seishuku dikenal sebagai salah satu penghubung jaringan komunitas sihir ini.

Informasi, teknik, dan berbagai orang berbakat yang tak pernah menampakkan diri berkumpul di sini.

Sebagai contoh, Hokuto, yang ingin mengunjungi biara merupakan salah satu orang yang berbakat.

“Hokuto-san, apakah kamu disuruh kemari oleh salah satu cabang biara ini?”

“……Uh. Yah.”

“Akhir-akhir ini banyak hal mencurigakan, namun banyak juga orang yang seperti itu dahulu kan? Cabang Kuil Seishuku terletak di seluruh penjuru negara. Kudengar, untuk menyebarkan suatu teknik sihir atau semacamnya… Banyak orang dengan berbagai bakat datang ke biara….”

Akino menjelaskan ke Hokuto dengan tanpa sengaja menggunakan kata-kata yang ambigu.

Banyak orang yang ingin menjadi praktisi sihir, namun mereka semua memiliki kesamaan. Kesamaan itu ialah “Kemampuan Mendeteksi Roh”. Bagi para pengguna sihir modern, kemampuan itu bisa disebut juga sebagai bakat dan keahlian untuk “melihat” aura.

Semua orang memiliki aura dan kemampuan spiritual. Akan tetapi, orang yang dapat merasakan dan aura itu jarang ditemukan. Kemudian, sihir dibuat berdasarkan teknik mengendalikan kemampuan spiritual, jadi bila seseorang ingin menjadi pengguna sihir – Apalagi pengguna sihir kelas atas—tak mungkin terwujud tanpa kemampuan itu.

Walaupun begitu orang yang memiliki bakat tersebut sedikit, jadi ada orang yang dihormati akibat hal ini dan di sisi lain ada juga yang dihina serta dicaci maki karena bakat ini.

Manusia memang memiliki kebiasaan untuk waspada pada orang yang berbeda dan memperlakukannya dengan cara yang berbeda. Dewasa ini, informasi tentang sihir yang sudah menyebar di khalayak ramai dapat diketahui oleh orang biasa. Meskipun begitu, orang-orang yang memiliki kemampuan tak biasa –yang mempunyai kekuatan super—mendapat kritik dari masyarakat sekitar.

Apalagi di sebuah daerah yang minim pengetahuan akan sihir. Sangat susah bagi orang yang memiliki bakat khusus untuk hidup tenang. Jadi, bila ada pengguna sihir kuno yang tidak terkait dengan insiden sihir di Tokyo, ia tak akan dihargai oleh masyarakat. Walau seseorang itu mencoba untuk berdamai, tetap saja akan ada banyak korban yang berakhir sial.

Tempat seperti Kuil Seishuku atau Cabangnya mengurus hal-hal seperti ini.

Orang berbakat yang tidak diterima oleh sekitar, akan dibawa ke biara dan dilatih menjadi pengguna sihir yang matang.

Mereka yang dikenal dengan ‘murid’ di tempat itu ialah para penyihir pemula yang kebetulan berkumpul di biara.

“……Orang berbakat seperti itu sangat langka. Karena, mau kemana lagi selain ke sana.”

Banyak orang yang berhati buruk di antara para ‘murid’ di biara. Orang aneh, orang yang mudah marah, orang yang menghina orang lain…..

Akan tetapi, mereka jugalah pemuda-pemudi yang tumbuh di lingkungan yang keras, mereka tidak punya tempat untuk dituju selain biara. Akino juga salah satu dari mereka. Dia dibuang dan hidup di biara sejak bayi. Orang tuanya mungkin merasa kecewa melahirkan bayi bertelinga kelinci. Bagi orang tuanya tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain memberikan anak mereka pada kuil kegelapan yang memang sudah ahli mengurus kasus-kasus seperti ini.

Malah, Akino lebih beruntung dapat tumbuh dan berkembang di biara tepat setelah lahir –Karena ia tak mengetahui orang tuanya, ia juga tidak merasa marah dan dendam pada mereka. Akino merasa lebih baik seperti ini saja.

“Ah, tapi, Aku punya keluarga di Tokyo, lho. Aku tidak bisa ketemu dengan mereka, sih. Tapi, mereka anggota keluarga dengan pengaruh di bidang sihir yang besar dari generasi ke generasi…. Jika aku berjuang keras, mungkin suatu hari aku bisa menyusul mereka di Tokyo. ”

Memang, Akino paham jika hal itu tidak mungkin terjadi. Seorang tetua di biara –Sen—memberitahunya hal itu. Akino mempercayainya dengan mudah ketika mendengar hal itu saat kecil. Meskipun ia tak bisa berbuat apa-apa setelah mendengarnya, Akino merasa harus berterima kasih pada Sen.

Hokuto juga memiliki situasi yang sama.


Leave a Reply

Your email address will not be published.