Tokyo Ravens V10 Ch 1 Part 2 (04)

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Tokyo Ravens V10 Ch 1 Part 2 (04)

Chapter 1

Kelinci dari Kuil Kegelapan

-Bagian Kedua-

(4)

TL Note : Dihimbau sekali lagi untuk membuka [1],[2],[3], dst. Agar paham apa maksudnya. Terima kasih.


Saat Akino menuruni gunung, langit sudah menghitam dan di sekitarnya kegelapan sudah mengelilingi tubuhnya. Hal ini terjadi karena Akino sudah menghabiskan waktu terlalu lama untuk berjalan.

Akino berjalan melalui jalur yang telah dibuat saat menuruni gunung. Berbagai lampu rumah-rumah para petani yang berjauhan terlihat menghiasi lereng lereng gunung dalam gelap.

Kemudian suasana lembah yang mengelilingi kawasan ini berubah menjadi malam. Awan-awan di langit kali ini entah kenapa menarik perhatian, serta Akino dapat merasakan atmosfir yang berat. Atmosfir kali ini tidak dipengaruhi oleh sinar rembulan yang mencercah dari balik awan, namun perasaan yang dirubah oleh sinar rembulan itu yang membuat warna langit dari warna biru gelap berubah. Awan yang mengambang dari sisi bulan merubah bentuknya sedikit demi sedikit sembari mengapung di langit.

Akino terbiasa hidup dikelilingi oleh hutan pohon cedar yang tinggi. Di dalam dunia itu, Akino beberapa kali akan mengunjungi tempat terbuka, sepi, dan penuh akan aura luas saat menatap langit di atas. Bagaikan seekor kelinci yang baru saja keluar dari dalam tanah. Akino biasa membayangkan eksistensinya berukuran sangat kecil bahkan mengganggu bak kerikil atau rerumputan.

Akan tetapi, berkebalikan dengan itu, ia tiba-tiba memikirkan dirinya berlari menuju ke ujung langit yang lebar itu dan merasakan perasaan tak terkalahkan.

Meski tak tahu akan kemana – Walau ia hanya dapat menuju ke tempat yang fana, hatinya tidak berhenti berdetak dan pikirannya melaju ke depan dengan fokus. Orang lain yang berada di biara juga mungkin demikian.

Akino belum meninggalkan gunung.

Akino mengetahui dunia luar. Walaupun hanya dari pendidikan dasar yang diberikan oleh orang dewasa di biara. Lewat majalah, televisi, internet – Memang, informasi-informasi yang diberikan tidak lengkap – ia sudah paham akan kehidupan sosial di bawah gunung.

Tapi semua itu hanyalah teori belaka. Apalagi hanya sebuah teori tentang dunia yang sungguh berbeda dari tempatnya biasa bernaung. Meski ia ingin pergi ke berbagai tempat, tetap saja, tempat-tempat itu berada di dunia yang berbeda dari dunianya.

Akino sendiri memiliki sesuatu yang berbeda dari orang biasanya, seperti yang selalu ia alami tiap hari, roh kelinci. Meskipun roh yang mendiami tubuh sangat berharga, roh yang ia miliki hanyalah roh kelinci. Berapa banyak orang yang pernah hidup di tempat yang bergitu terisolasi seperti itu sejak dulu dan bisa hidup sampai saat ini? Walau biara tempat Akino tinggal tak begitu terkenal di dunia luar baginya, biara itu ialah segalanya.

Akan tetapi, mengapa ia sangat ingin keluar dan melihat pemandangan di luar biara?

Memang, otaknya yang lambat itu tak bisa memberi jawaban akan pertanyaan ini, tak peduli berapa lamapun ia memikirkannya.

“……Ah, perutku lapar. ”

Sekarang sudah memasuki jam makan malam di biara. Akino terus memeluk kunci yang ia bawa dan berjalan ke arah Aula Depan.

Aula Depan terletak di persimpangan antara Kuil Seishuku dan jalan pedesaan, bertempat di tengah petak tanah yang sempit nan datar.

(TL Note : Kuil apa Biara sih… Komentar ya enaknya yang mana!)

Meskipun disebut aula, tempat itu terlihat seperti gudang tua ketika dilihat dari luar. Biasanya, akan ada penghalang otomatis mengelilinginya, namun hari ini lampu kecil berwarna oranye dinyalakan di luar untuk menunjukkan barang-barang impor dari luar.

Terdapat dua tubuh yang terlihat akibat lampu yang dihidupkan itu.

Disana terdapat orang yang familiar dengan Akino, yang satunya lagi tidak. Jantung Akino mulai berderu.

“Ah, Ternyata kau ya, kelinci? Kaulah yang diutus sebagai pengantar pesan? ”

“P-Pendeta Kengyou!? Saya mohon jangan sebut saya kelinci! Kan sudah saya peringatkan! ”

(TL Note : Enak pendeta, petapa, atau priest gitu aja? Komentar ya)

“Yah, dengan pinggul dan dadamu itu, kau terlihat seperti kelinci. Kau sudah tumbuh besar ya? Hmm? ”

“Ka-kalau itu…”

Apa-apaan yang diutarakan olehnya di hadapan seorang pemula seperti ini?! Wajah Akino memerah dan matanya membelalak ke arah pria bersetelan lengkap di hadapannya – Pendeta Kengyou.

Meskipun Kengyou adalah seorang ajari [1], ia tidak memakai seragam ajarinya atau mencukur botak kepalanya. Kengyou selalu bekerja di luar biara dan ahli dalam berbagai bidang.

Manusia pecinta wanita ini sering dinilai buruk dalam beberapa hal saat menjadi murid. Sepertinya, Akino masih di luar “sasaran” Kengyou, jadi ia sudah terbiasa akan kelakar dari Kengyou yang baru saja ia dengar.

“Omong-omong, apakah kau mengerti murid baru di sampingku ini? Orang ini ingin masuk dalam perguruan kita, dan sudah lama kita tidak kedatangan orang seperti ini. ”

Kengyou menggaruk pelan dagunya dan berbicara dengan nada sombong. Sebelum Akino mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Kengyou sekali lagi, seseorang yang berada di samping Kengyou melangkahkan kakinya ke depan.

Seorang gadis.

Ditambah, ia terlihat sangat muda. Akan tetapi, lebih tua dibanding Akino. Mungkin saja ia sudah menduduki bangku SMA. Rambut panjang menghiasi kulit putih tubuhnya. Ia bertubuh langsing dan memiliki postur yang indah. Sebagai seseorang yang berjenis kelamin sama, Akino pun tersentak. Orang yang di hadapannya begitu cantik nan indah.

Kendati demikian, ekspresinya sedingin es.

Apakah ia memerhatikan rembulan di atas kepalanya? Akino tak bisa merasakan rasa “nyaman” atau “benci” yang diarahkan padanya dari gadis ini. Ekspresi wajahnya juga terlihat karar dan tentram seperti permukaan danau. Gadis ini memberikan kesan tenang, dibanding acuh tak acuh. Ia terlihat tangguh dan teguh dibanding kaku.

Gadis itu mengenakan mantel pendek, celana pendek, dan kaos kaki panjang. Tangannya juga dilapisi sarung tangan dengan ujung yang memperlihatkan kukunya serta sepatu boots di kakinya. Sebuah tas gantung dengan motif seperti milik tantara militer juga tergantung dari bahunya. Bukannya terlihat mirip laki-laki, gadis itu terlihat memakai baju bukan untuk berdandan, melainkan efisiensi pergerakannya sendiri. Jadi, perbedaan gaya bajunya itu merupakan bukti sifat kefeminimannya yang tidak begitu menonjol.

Tapi, terdapat sebuah pengecualian.

Di rambutnya terdapat pita pink yang mengikat sebagian rambutnya.

“……Um……”

Saat Akino ingin menyapa gadis itu, ia langsung mengurungkan niatnya karena tak tahu apa yang akan ia katakan.

Akino mengira bahwa gadis itu susah diajak berbicara dan ia merasa ketakutan.

Akan tetapi, entah kenapa Akino merasa ada sesuatu yang salah. Orang lain mungkin tak menyadarinya. Namun, ada sesuatu yang jelas,suram, dan salah – sesuatu yang terasa buruk.

Tetap saja, Akino tak bisa memalingkan pandangannya pada gadis itu.

“……”

Gadis itu juga sedang menatap ke arah Akino dalam diam. Akino juga tak bisa berkata apa-apa dan membalas tatapan gadis itu. Kemudian, aroma tanah pegunungan, tumbuhan di sekitarnya, serta sedikit bau harum tercium oleh Akino.

Akino belum pernah mencium bau harum itu seumur hidupnya.

Lalu,

“…Salam kenal, namaku Hokuto. ”

(TL Note : MAKAN TUH GANTUNGAN HAHAHA)

 

 

 

 

One Response

  1. tonski46_ says:

    kuil atau biara ??lebih enak kuil sih dibacanya ..

    pendeta atau petapa atau imam ?lebih baik pendeta sih ,,walau menuntut hal diatas yg kuil lebih cocok sama biksu tapi berasa kurang pas kalo buat dibaca ..kalo petapa jadi berasa kek baca novel cina ..kalo imam malah suka teringat sama imam besar nganu eh ✌✌

    last ..lah si hokuto muncul lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published.