Tokyo Raven V10 ch1 Part 2 (1)

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Tokyo Raven V10 ch1 Part 2 (1)

Chapter 1

Kelinci dari Kuil Kegelapan

-Bagian Kedua-

(1)

Sebelum membaca, saran saya adalah

selalu buka bagian yang saya kutip [1]…[3] agar paham.


Angin berhembus di pegunungan yang penuh akan pepohonan. Angin tersebut menyiratkan dinginnya musim salju. Tubuh wanita itu hanya bisa gemetar, oleh karena itu ia memeluk sapu yang terbuat dari bambu di dadanya dan mengatupkan tangannya. Daerah di puncak gunung memang lebih cepat terasa dingin dari pada di kaki gunung. Napas yang keluar dari mulut gadis itu langsung membuat kabut tipis.

Gadis itu mendongakkan kepalanya ke arah langit yang tertutup oleh ranting-ranting pohon. Daun merah menyala sudah mulai pudar. Buah-buahan yang sudah matang mulai berjatuhan dengan bebasnya. Oleh karena itu, gadis tersebut tidak dapat menyapu dengan bersih entah bagaimanapun caranya. “Hah–” dengan helaan napas seperti itu, gadis tersebut mengamati daun-daun maple yang berjatuhan.blank4

Tak lama setelah itu.

“Akino! Masih belum selesai?! ”

Sebuah auman terdengar dari tempat nun jauh disana. Gadis yang bernama Akino itu berteriak “Ya—” Setelah gadis tersebut mendengarnya, sesaat kemudian rambutnya tertiup ke atas.

Gadis itu langsung menutupi kepalanya dengan tangannya. Sapu yang ia genggam tadi pun tergeletak di tanah. “Ah– Ah–” Liriknya kepada sapu yang tergeletak di tanah tersebut. Tak lupa, kacamatanya yang tak terpasang dengan benar juga merosot. Pada akhirnya, Akino dengan tenang meraung “Uuu–” Sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan kacamatanya yang miring. Ia menoleh ke arah teriakan itu berasal.

Selain daun maple yang memerah, beberapa pohon aras juga mengungguli Akino. Sebuah aula kuno dapat terlihat di antara pohon-pohon aras itu. Seorang petapa beragama buddha yang selalu mengernyitkan dahi berjalan menuju aula tersebut. Petapa itu menggunakan sebuah jubah berwarna hitam yang melengkapi  antarvasa kasaya[1] yang ia gunakan di pinggang hingga kakinya. Petapa itu adalah seorang ajari[2] di biara ini.

“Ah, Petapa Tadanori……”

“Orang lain sudah selesai, kau belum. Kau memang satu-satunya orang yang selalu bermalas-malasan.”

“A-Ah…… Maaf…..”

Akino berpikir untuk kabur sambil meminta maaf dengan terbata-bata. Meskipun ia meminta maaf, suaranya sama sekali tidak terdengar.

Entah kenapa, petapa itu bermuka masam dan memelototi Akeno dengan muka yang mengerikan. Petapa itu mengeluh pada Akino dengan ekspresi kecewa. Akan tetapi, sorot mata Akino terlihat lembut dan petapa itu hanya bisa menahan amarahnya.

“……Pokoknya, cepat selesaikan. Kita ingin makan siang, jadi siapkan makanannya! ”

“Ba-baik……”

Akino dengan segera menimpali pendeta itu dan memungut sapunya yang terjatuh sembari membenarkan posisi kacamatanya. Setelah memelototi Akino bak mengancamnya, Tadanori berjalan kembali ke aula.

Tadanori merupakan orang yang bertanggung jawab atas wihara ini dan suka mencerca orang lain, namun saat ini ia sedang berhati-hati. Tidak hanya dia, tetapi semua orang dewasa di biara ini juga seperti itu. Jarang perbedaan pendapat diselesaikan dengan amarah yang berkobar disini.

Meskipun begitu, perbedaan pendapat itu tak pernah tejadi. Akino dengan cekatan menyapu semua daun yang bergururan ke sebuah keranjang. Setelah melemparkan daun-daun itu ke pembakaran di belakang biara, ia berjalan menuju ke gudang untuk mempersiapkan makan siang. Di biara ini juga terdapat sebuah dapur di dalam gudang tersebut, selain itu juga ada beberapa ruangan yang digunakan oleh para petapa. Selain disana, sebuah dapur juga terdapat di ruangan petapa yang terbuat dari kayu.

Sewkatu ia memasuki dapur tersebut, Akino dibentak.

“Kau lamat! Akino! Kenapa bisa lama?! Apa yang kau lakukan sejak tadi?!”

“Ma-Maaf……”

“Akino, kayu bakarnya tidak cukup! ”

“Ba-Baik…… Aku akan mengambilkannya….”

Akino menjawab sambil berlari ke arah kanan. Ia menggendong kayu bakar yang disimpan di eaves[3] . gedung ini. Penggunaan minyak untuk membakar sangat dibatasi, mungkin karena sangat langka. Oleh karena itu, mereka biasa menggunakan tungku untuk memasak tiap hari.

Tapi cara mereka dalam menyalakan api benar-benar unik –Malah bisa disebut aneh– . Para senior di wihara ini akan berdiri di hadapan tungku memasak, lalu melakukan gestur-gestur simbol dengan telapak tangan mereka sembari merapalkan mantra dengan mata yang setengah tertutup. Tak lama kemudian, kayu bakar di dalam tungku tersebut terbakar.

Inilah sihir.

Terlebih lagi, sihir inilah yang dikenal sebagai “Sihir kelas I” dalam aturan Onmyou[4] modern.

“Akino, keluarkan piring-piringnya sekarang!”

“Baik……”

“Cepat sedikit……!? Kau, selalu seperti ini! ”

“Ma……Maaf……”

Amarah dan rasa tak sabaran meluap-luap pada orang idiot nan lamban itu. Akino mengumpulkan piring-piring yang tersebar dengan air mata di ujung matanya. Meskipun begitu, ia tetap dimarahi oleh seniornya. Akino menangis sembari melakukan tugasnya. Sebenarnya, biara ini mewajibkan orang-orang yang tinggal di dalamnya seorang vegetarian, namun aturan itu tidak diikuti dengan benar. Salah satu faktornya ialah kemiskinan, akan tetapi memakan daging sesuka hati adalah hal yang tak ada sangkut pautnya bagi mereka. Mereka sedang memanggang daging rusa yang sudah diburu beberapa hari lalu.

Perut Akino bergemuruh tanda lapar. Tutup tungku itu berdetak dan mulai berguncang bak menjawab perut Akino. Setelah selesai makan siang dan bersih-bersih, Akino memiliki waktu senggang hingga kegiatan yang mereka panggil ‘slop’. Akino memperhatikan seniornya yang sedang mengambil pemantik api dari gudang bersamaan dengan ubi jalar kecil dan berjalan ke arah kuil yang berada di sisi biara yang sudah bobrok dengan diam-diam.

Akino menggali lubang dangkal di permukaan tanah. Setelah memasukkan ubi jalar itu, ia menambahkan daun-daun di atasnya lalu membakar daun-daun tersebut dan menutupinya dengan abu. Setelah mengecek bahwa daunnya sudah terbakar, ia dengan tenang duduk di bawah pohon aras yang ada di sekitarnya.

Karena akhir-akhir ini jarang terjadi hujan, daun-daun itu terbakar menjadi abu dengan mudah. Akino menyaksikan peristiwa abu yang tersapu oleh angin sambil menunggu dalam diam agar ubi-ubi itu selesai dibakar. Jika ia ketahuan, ia akan dimarahi oleh Tadanori. Meskipun ia ketahuan oleh senior-senior lainnya,

Biara yang menjadi tempat tinggal Akino dijuluki Kuil Seishuku. Biara ini terletak di dekat puncak gunung, jauh dari peradaban manusia. Untuk menuju tempat ini sungguh sulit dan tempat ini bak terisolasi dari dunia luar

Bukan, bukan “seperti”. Tempat ini memang terisolasi. Bahkan wilayah di sekitar biara itu pun ikut menyembunyikan keberadaannya dari dunia ini. Tempat ini ialah tempat yang jauh tertinggal dari peradaban manusia. Tempat ini bagaikan dunia yang berbeda dari kaki gunung, sebuah dunia lain.

Akinolah yang termuda dan terlemah di dunia lain ini. Ia selalu menduduki posisi terbawah hierarki disini. Bila kita mengabaikan penampilannya, ia ada di posisi dimana ia membuang segalanya. Bahkan saat makan siang tadi, ia tak mendapat bagian daging rusa yang dibakar. Walaupun ia tak berharap, hatinay tetap kecewa. Jadi, ia memanfaatkan kesempatan hari ini untuk memenuhi nafsu makan di masa perkembangan tubuhnya.

Panas yang merembet dari lubang itu sudah menghilang. Suhu udara yang dingin mulai merasuk dalam tubuhnya sedikit demi sedikit. Akino patut bersyukur karena tidak ada angina yang berhembus. Akino memeluk lututnya dan meringkuk bak bola kecil dan menatap abu di dekatnya dalam diam. Akino merasa bahwa dengan cara ini, ubi jalar itu akan menjadi sedikit lebih hangat dan lebih enak. Ia tak keberatan menunggu dan menahan dingin. Hatinya juga sedikit bahagia, namun juga tegang karena mencuri makanan. Sebenarnya, membakar ubi jalarlah satu-satunya hal yang dirasa menyenangkan oleh Akino selama beberapa hari ini.

“……Ubi jalar ~ Ubi jalar~ Sudahkah engkau matang? Enak dan hangat~……”

Entah apakah perkiraannya tepat atau tidak, namun intuisi Akinolah yang memutuskan ubi jalar itu sudah matang atau belum,

“Sebentar lagi matang”, “Ah, akan kutunggu lebih lama”

Tepat saat Akino sedang bergumam seorang diri.

“Hei, Akino!”

Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Akino terdiam karena ketakutan. Ia memeluk lututnya dan tubuhnya memberat. Bersamaan dengan itu, di atas kepalanya –Di bagian ubun-ubunnya yang seharusnya tak ada apa-apa—sebuah ‘keanehan’ terjadi. Sebuah fenomena yang disebut dengan “melambatnya waktu”. Setelah itu, “sesuatu” yang sedari tadi bersembunyi di tempat itu mewujudkan dan menunjukkan dirinya.

Dua telinga terjulur dari kepalanya. Dua telingar kelinci dengan bulu berwarna gradasi dari warna silver-putih. Tak hanya telinga, sebuah ekor bulat juga muncul dari pantatnya yang terduduk di permukaan tanah. Ekornya mirip seperti ekor kelinci, begitu pula telinganya.

Akino yang terbelalak tak dapat bergerak, dan hanya telinganya saja yang bisa memutar ke segala arah karena panik. “Haha.” Sebuah tawa yang datar dapat terdengar setelah Akino dilihat dalam wujud seperti itu. Setelah mendengar tawa itu, rasa tegang Akino tiba-tiba menghilang dan Ia merasa rileks. Telinga di kepalanya tumbang bak kehabisan energi.

“Kakek Sen……”

Leave a Reply

Your email address will not be published.