The Man Picked Up By The Gods : Prolog

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

The Man Picked Up By The Gods : Prolog


Jadi, ini project sampingan saya. Chapternya dibagi jadi 2 kecuali yang ini. Update setiap 2 chapter McM.


The Man Picked Up By The Gods –  Prolog 1

Seorang lelaki bengong di ruangan kosong. Tanda kelelahan dapat terlihat di mukanya garis abu-abu juga dapat terlihat di rambutnya; dia kemungkinan berumur 40 akhir, walaupun postur tubuhnya terlihat menolak umurnya. The

Lelaki itu berbaju tidur, hanya memakai baju simpel dan sepasang kolor, membuat tubuhnya mudah dilihat. Berkebalikan dengan muka tuanya, tubuhnya terlihat tangguh, penuh dengan otot dan tenaga.

“Huh…? Dimana ini?” [???]

Saat lelaki itu mengutarakan perkataan itu, tiga orang muncul di depannya

“Apakah kamu sudah datang?” [Old Man]
“Apakah pikiranmu sudah jernih?” [Boy]
“Kamu tahi itu akan bagus jika kamu berkata sesuatu.” [Woman]
“Umm… Ya. Saya tidak kenapa-napa sekarang. Anda tiba-tiba muncul entah dari mana, jadi saya sedikit terkejut.”
“Tidak perlu begitu formal. Mari berbincang sembari minum teh.” [Old Man]

Orang tua itu melambaikan tangannya, dan tiba-tiba, meja teh muncul, di atasnya ada cangkir yang berisi tes dan bantal untuk duduk di sepanjang meja.

“Mari, silahkan duduk.” [Woman]
“Terima kasih.” [Ryouma]

Wanita muda itu tersenyum dan meminta Ryouma untuk duduk, yang mana Ryouma segera duduk. Yang lainnya juga duduk; wanita itu duduk di pojok kanan, sementara pemuda itu duduk di sebelah kiri, dan orang tua itu duduk bersebrangan dengan Ryouma.

Saat mereka semua telah duduk, semuanya, termasuk Ryouma, menyeruput teh mereka.

“Saya harap Anda tidak mengapa jika Saya bertanya beberapa hal.” [Ryouma]
“Tentu saja tidak. Itu mengapa kita disini. Tapi aku sudah mengerti apa yang akan kamu tanyakan, jadi bagaimana jika mendengar cerita kami dulu?” [Old Man]
“Yah, baiklah.” [Ryouma]

Setelah Ryouma mengangguk untuk menunjukan persetujuannya, orang tua itu mulai.

“Kami adalah apa yang kamu panggil ‘dewa’. Aku Gayn, Dewa Penciptaan. Wanita di kananmu adalah Rurutia, Dewa Cinta, dan pemuda di kirimu adalah Dewa Kehidupan, Kufo. Kami adalah dewa dari dunia lain.

Kamu mungkin tidak mengetahui ini, tapi tadi malam, kamu meninggal. Saat jiwa mu keluar dari tubuh, kami mengambilnya dan membawanya ke sini di alam dewa.” [Gayn]
“Saya mengerti. Jadi itu yang terjadi.” [Ryouma]

Ryouma langsung menerima penjelasan Gayn saat dia menyeruput tehnya. Ketiga tuhan itu tercengang atas reaksinya, terutama yang termuda dari ketiganya, Kufo.

“Umm, tunggu, itu saja!? Bukankah kamu seharusnya sedikit lebih panik dan berkata ‘Tidak mungkin!’ ‘Bagaimana mungkin’ ‘Kenapa Aku mati?’ atau semacam itu?” [Kufo]
“Kamu tahu… yang lainnya sebelumnya semua terguncang saat kami mengatakan itu kepada mereka.” [Gayn]
“Oh, jangan salah paham, Saya memang terkejut, namun Saya mengakui bahwa tidak ada satupun yang terasa nyata bagi Saya sekarang. Selain itu, jika semua ini tidak lebih dari sebuah mimpi, lalu pada akhirnya Saya akan bangun, tapi bahkan jika itu bukan mimpi, yah… semuanya akan meninggal pada akhirnya.

Dan Saya sudah menduga ini sampai batasan tertentu. Pekerjaan saya, kalian tahu, sungguh berat. Saking beratnya sehingga banyak rekan kerja Saya yang harus pensiun awal karena tubuh mereka tidak kuat lagi. Karena itu Saya selalu percaya bahwa Saya akan meninggal dini. Mampu hidup sampai 39 atau 40, tergantung bagaimana Anda menghitungnya, sudah lebih dari banyak, semua hal telah dipertimbangkan.

Apalagi, sememalukanpun untuk mengakui ini mengingat usia Saya, Saya otaku besar terhadap game dan manga, jadi Saya cukup suka cerita seperti ini. Saya tidak memiliki keluarga atau kerabar, jadi perubahan kejadian seperti ini jauh lebih baik daripada hanya terbakar sia-sia.” [Ryouma]

Ryouma benar-benar puas dari lubuk hatinya, tapi itu hanya membuat para dewa lebih bingung.

“B-Benarkah? Apakah manusia memang berpikir seperti itu? Belumkah seseorang berkata pada mu jika cara berpikirmu itu aneh?” [Kufo]
“Aku rasa itu juga tidak ada hubungannya dengan hobimu. Ada banyak orang dengan hobi yang mirip dengan mu, dan mereka semua benar-benar tercengang. Saking tercengangnya, faktanya, hanya bertemu seseorang yang suram adalah pencapaian tersendiri.” [Rurutia]
“Yah, bagaimanapun, semua ini memudahkan kami. Walaupun ini juga memberikan kita terlalu banyak waktu. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu tahu? ” [Gayn]

Ryouma berpikir sejenak sebelum berkata.

“Bagaimana Saya meninggal.” [Ryouma]
“Hmm? Kamu memulai dari sana?” [Gayn]
“Ya, tapi Saya pikir tidak ada yang aneh dengan pertanyaan saya. Bagaimanapun juga, Saya tidak memiliki ingatan meninggal.” [Ryouma]
“Yah, kamu meninggal seperti itu, jadi tentu saja kamu tidak ingat.” [Rurutia]
“Kamu meninggal karena pendarahan otak setelah kepalamu terbentur.” [Kufo]
“Huh!? Bukankah Saya hanya tidur di ruangan Saya?” [Ryouma]
“Yap, kamu memang betul. Tapi kemudian kamu bersin saat tertidur… berulang-ulang, faktanya.” [Rurutia]
“Kamu bersin empat alu. Setiap kali bantalmu tergelincir dan kepalamu terbanting ke lantai. Sayangnya, futonmu jenis yang murah, jadi itu terlalu tipis untuk melindungi kepalamu.” [Gayn]
“Tapi benturannya belum cukup untung membangunkanmu, jadi pendarahan dalamnya tetap mengalir, dan saat pagi datang, kamu meninggal.” [Kufo]

Saat dia mendengar itu, mata Ryouma jatuh ke tanah dan dia bergumam sendiri, lalu tiba-tiba, dia berteriak dengan pahit.

“Saya tidak bisa menerimanya… Kenapa? Kenapa dari semuanya Saya meninggal karena bersin!?” [Ryouma]
“Huh?” [Kufo, Gayn, Rurutia]
“Saya selamat dari botol bir bos Saya, pipa besi dari lelaki paruh baya, dan bahkan siksaan yang tak terhitung dari ayah Saya, namun setelah semua itu, yang mengambil nyawa Saya adalah bersin!?” [Ryouma]

Penuh dengan pilu, Ryouma kehilangan pandangannya sembari bergumam sendiri.

“Ah, dia depresi.” [Kufo]
“Bahkan dia baik-baik saja setelah diberitahu bahwa dia telah mati, anak yang aneh.” [Rurutia]
“Nampaknya dia cukup bangga terhadap tubuhnya. Yah, dia dipaksa berlatih oleh ayahnya dari kecil dan dibuat hampir mati hari demi hari. Hmm… Kufo, Rurutia.” [Gayn]
“Apa?” [Rurutia]
“Apa ada masalah?” [Kufo]
“Ada sesuatu tentang anak ini yang menggangguku. Ayo bantu aku sementara kita menunggunya menenangkan diri.” [Gayn]

Ekspresi Gayn langsung menjadi serius seraya dia berbicara, sementara kedua tuhan lainnya, merasakan bahwa ada sesuatu yang aneh, menjawab kembali dengan perkataan yang tidak dapat didengar oleh manusia. Mungkin usaha mereka sia-sia, walau demikian, Ryouma terlalu depresi sehingga dia tidak dapat mendengar satu kata pun.

 

“Ah, maaf… aku hilang kendali untuk sesaat tadi.” [Ryouma]

Saat Ryouma pulih dan mengangkat mukanya, para dewa masih di sana minum teh setenang biasanya.

“Itu tidak mengapa. Kami biasanya longgar, dan kami sudah menjadwalkan waktu kami denganmu, jadi tidak ada desakan. Apalagi, kami sudah terbiasa dengan orang yang hilang kendali setelah meninggal.

Lagipula, jiwa manusia terhubung dengan tubuhnya, jadi jika kamu memutus hubungan itu, sedikit ketidakstabilan dapat terjadi. Ketidakstabilan itu biasanya menyebabkan emosi seseorang menjadi lepas.

Bagaimanapun, intinya adalah kami tidak mengapa, jadi jangan dipedulikan.” [Gayn]
Waktu berjalan berbeda di alam dewa ini dan jiwa tidak akan kelaparan. Menunggu empat tahun sebelum seseorang kembali waras itu sudah biasa.” [Kufo]
“4 tahun!?” [Ryouma]

Ryouma tercengang.

“Kami tidak dapat mengganggu seenaknya ketika manusia sedang panik, atau mereka mungkin menjadi sangat waspada. Beberapa orang juga menjadi gila saat kami berbicara, tapi bagaimanapun juga, kami biasanya menunggu sampai mereka tenang. Menunggu sampai empat tahun itu sudah biasa, jadi tidak apa-apa, Ryouma-kun

Lagipula, karena kamu sudah kembali, Kuharap kamu tidak keberatan jika kita lanjutkan.” [Gayn]
“Tentu saja.” [Ryouma]

Gayn mengangguk.

“Nah, biar kujelaskan pada mu kenapa kami memanggil jiwamu. Jika Kusebutkan alasannya dalam satu kata, itu adalah: Klise. Apakah kamu paham?” [Gayn]
“Klise? Ah… Saya pikir saya paham. Anda menginginkan Saya untuk hidup di dunia lain, ya? Jika demikian, apakah Saya akan direinkarnasi atau hanya ditransmigrasi?”
“Kamu memang cepat paham.” [Rurutia]

Rurutia terkejut karena Ryouma dengan mudahnya memahaminya, tapi Gayn mengacuhkannya dan melanjutkan.

“Kamu akan ditransmigrasi, dalam kata lain. Aku akan menciptakan tubuh baru untuk kamu tinggali di dunia kami. Jadi kamu tidak akan memiliki orangtua.” [Gayn]
“Tubuh barumu itu lebih muda, jadi kamu bisa mengatakan itu seperti direinkarnasi. Jika kamu punya keinginan, Aku dapat mengubah tubuhmu seinginmu.” [Kufo]
“Tepatnya berapa umur tubuh baruku?” [Ryouma]
“Umurnya kurang dari 10 tahun. Di usia itu, kamu seharusnya baik-baik saja jika kamu tersesat di hutan. Kamu akan terlihat seperti akan ke yang lain, jadi mereka tidak akan curiga dan kamu akan dapat pergi ke kota dengan aman. Tentu saja, kami juga punya beberapa jaminan juga untuk memastikan semua berjalan dengan lancar.

Karena kamu akan menjadi yatim piatu di dunia lain, kami akan mengirimu ke negara yang lumayan toleran terhadap status sosial. Dengan itu tidak akan ada masalah untuk kamu mengalami hidup normal.” [Gayn]
“Terimakasih. Untuk penampilan saya, hanya jangan dijadikan aneh. Apakah ada sesuatu yang saya harus lakukan di dunia anda? Tugas atau semacamnya?” [Ryouma]
“Tidak. Jika ada, yah, sudah kamu lakukan pada saat kamu bertransmigrasi. Jadi secara teknis tidak ada. Tugasmu hanyalah pergi ke dunia lain.” [Rurutia]
“Tujuan kami untuk memindahkan mana dari duniamu ke dunia kami, yang sangat rendah kadar mananya.” [Kufo]

Ryouma mengangguk paham, tapi itu terjadi padanya.

“Tidak bisakah anda memindahkan mana dengan sendirinya?” [Ryouma]
“Tidak. Mudahnya, ada dinding diantara dunia. Biasanya, mana tidak dapat melewati ‘tembok’ ini, jadi kami harus membuat lubang terlebih dahulu. Masalahnya adalah membuka lubang dan menjaganya membutuhkan tenaga, jadi jika dilakukan, kami akan kehabisan tenaga.

Untungnya, kami memiliki mu! Kamu tidak akan sadar dalam prosesnya, tapi dengan memasuki jiwamu – diperkuat dengan kekuatan kamu – di antara lubangnya, kami dapat mencegahnya menutup sembari kami memindahkan mana dari bumi ke dunia kami.” [Kufo]
“Dunia kami bergantung pada sihir. Jika mana mengering, kehidupan orang-orang akan terpengaruh, monster yang memakan mana akan mati, dan ekosistemnya akan hancur.

Bumi, pada sisi lain, tidak menggunakan sihir. Disitu juga tidak ada monster. Karena mereka tidak menggunakannya, kami pikir kami dapat mengambil beberapa.” [Rurutia]

“Jika tidak terdapat alasan tertentu untuk mana yang mengering, apakah produksi mana tidak dapat mengimbangi penggunaannya?” [Ryouma]

“Ya, tepat sekali. Ada banyak alasan, tapi manusia, terutama, mendapati bahwa sangat nyaman untuk bergantung pada sihir. Karena itu sihir telah mendapati banyak pengemabngan, dan bertahap, konsumsi mana semakin besar dan membesar.” [Kufo]

“Itu bukan hal yang mudah untuk mengurangi konsumsi mana. Apalagi, jika menggunakan terlalu banyak mana dalam, tubuhmu akan hancur. Jadi pada akhirnya itu jauh lebih mudah untuk menggunakan mana dari sekitar. Itu benar-benar hal menyedihkan.” [Gayn]

Seraya para tuhan bergumam tentang manusia, Ryouma sendiri merasa antusias.

“Umm. Bisakah saya menggunakan sihir?” [Ryouma]
“Tentu saja.” [Gayn]
“Pastinya!” [Kufo]
“Kamu bisa.” [Rurutia]
“Benarkah! Ah, maaf.” [Ryouma]
“Tidak apa, saat kamu ditransmigrasi, kamu akan memiliki tubuh yang sama seperti manusia lokal, jadi kamu juga dapat menggunakan sihir. Tentu saja, semuanya tergantung dari latihanmu.” [Gayn]
“Dan juga, seperti yang kubilang beberapa saat yang lalu, kami akan memperkuat jiwa mu untuk menjaga lubangnya agar tetap terbuka, sebagai hasilnya, beberapa kekuatan itu juga akan menjadi bagian dirimu. Bahkan tanpa bakat apapun, kamu dapat menggunakan sihir. Tapi Aku tidak yakin tentang menjadi penyihir terbaik di dunia.” [Kufo]

Ryouma merasakan mukanya memanas saat para dewa melihatnya dengan ekspresi terhibur, tapi bagaimanapun juga, dia senang bahwa dia dapat menggunakan sihir.

“Untuk sihir apa yang bisa kamu gunakan… Mari kita beri akses untuk semua sihir elemental.” [Gayn]
“Umm… Bukankah itu sedikit terlalu mencolok?” [Ryouma]

Ketiga dewa tertawa saat dia mengatakannya.

“Heh, para manusia yang datang ke sini sering mengatakan itu. Terutama, yang membaca banyak light novel.” [Kufo]
“Tapi sebenarnya, walaupun tidak biasa, itu juga tidak terlalu menakjubkan.” [Rurutia]
“Benarkah?” [Ryouma]
“Ya. Yang terlahir dengan bakat ini tidak sedikit, dan dengan usaha yang cukup, semua orang dapat mahir menggunakan semua elemen. Faktanya, ada sekitar 10 sampai 20 orang di orde kesatria negara manapun yang lahir dengan kemampuan ini.

Ada juga fakta bahwa kamu mungkin punya banyak elemen yang bisa digunakan, kecuali dilatih semua, tidak akan menjadi bagus di manapun. Jika dilatih semua, perkembangannya cukup lambat. Antara seseorang yang bisa menggunakan sihir dasar dari semua elemen dan seseorang yang bisa menggunakan sihir lanjutan dari satu elemen, mana yang kamu pikir lebih dihargai? Yang kedua.” [Gayn]
Dalam kata lain, bisa semua tapi tidak menguasai satupun” [Ryouma]
“Tepat sekali.” [Gayn]
“Karena tidak ada kekurangannya, bukankah kamu pikir itu sempurna untuk kamu yang ingin bermain dengan sihir?” [Rurutia]
“Kalau begitu, akan saya ambil.” [Ryouma]

Setelah itu Ryouma dan para dewa melanjutkan diskusi tentang kemampuannya yang akan datang.

“—Bagus, dengan ini kita selesai. Tapi apakah kamu yakin dengan semua bonusmu berhubungan dengan sihir? Kami juga bisa memberikan beberapa kemampuan jarak dekat jika kamu inginkan. Dapat menggunakan banyak sihir itu bagus, tapi alhasil, kamu tidak dapat langsung menggunakan sihir yang kuat. [Gayn]
“Selama saya tidak memiliki masalah hidup, saya sangat bahagia dengan yang sudah kita diskusikan.” [Ryouma]
“Baiklah. Hal terpenting adalah kamu puas. Mari kita lanjut ke tahap terakhir.” [Gayn]

Merasakan tekad Ryouma, Gayn mengambil papan kayu yang di atasnya terdapat selembar kertas dan pena bulu dan memberikannya kepada Ryouma. Di selembar kertas itu ada semua yang telah didiskusikan, dan di pojok kanan bawah terdapat tempat kosong untuk nama Ryouma.

“Menandatangani sebuah kontrak setelah meninggal itu sedikit…” [Ryouma]
“Oh, kamu tidak suka?” [Rurutia]
“Bukannya saya tidak suka. Itu hanya terasa sedikit.. aneh.” [Ryouma]
“Yah, kita bisa melewati kontraknya jika kamu mau.” [Kufo]
“Huh?” [Ryouma]

Tangan Ryouma berhenti ketika dia mendengar perkataan Rurutia dan Kufo.

“Sebenarnya, kami hanya memastikan bahwa kamu tidak keberatan dengan semua yang telah kita diskusikan dan kamu paham semuanya. Tanda tangan hanya satu metode. Jika tidak mau tanda tangan, kita bisa melakukannya secara lisan.” [Gayn]
“Benarkah?” [Ryouma]
“Kami menyesuaikan metode kami tergantung orangnya. Lisan biasanya untuk anak kecil karena lebih mudah.” [Rurutia]

Setelah diberitahu itu, Ryouma membaca kontraknya dengan seksama, dan ketika dia yakin semuanya sudah baik, dia menandatanganinya.

—Saat dia melakukannya, cahaya pudar tiba-tiba membalutinya.

“!?” [Ryouma]
“Tenang. Itu tandanya bahwa sudah dimulai. Kamu tidak akan disakiti.” [Rurutia]
“Sayangnya, ini aturannya. Setelah semuanya ditentukan, kamu tidak akan dapat berlama-lama di sini.” [Kufo]
“Aku heran kenapa yang menyebalkan lama di sini, tapi yang baik selalu pergi dengan cepat.” [Gayn]

Mendengar itu, Ryouma paham bahwa waktu perpisahan telah tiba.

“Begitu… Itu disayangkan. Tapi bagaimanapun, Saya tidak akan melupakan kebaikan kalian untuk seumur hidup Saya.” [Ryouma]
“Jangan dipikirkan. Itu hidupmu, jadi hiduplah sesukamu. Kami akan lakukan yang terbaik untuk mengirimmu ke hutan yang aman, jadi tenanglah.” [Gayn]
“Kami akan selalu mengawasimu. Dan kamu tahu… Ini terakhir kalinya, jadi kamu bisa sedikit lebih egois. Kami tidak keberatan.” [Rurutia]
“Ucapanmu tidak harus begitu formal.” [Kufo]
“Maukah kamu menunjukan dirimu yang sesungguhnya?” [Gayn]
“…Benar. Terimakasih atas semuanya. Kurasa terlihat jelas bahwa aku tidak pandai bicara sopan.” [Ryouma]
“Kami adalah tuhan. Tentu saja, kami menyadarinya. Dan ada saat di mana kamu terbata-bata saat berkata.” [Gayn]
“Kamu seharusnya tidak usah berbicara formal dari awal.” [Rurutia]
“Kupikir itu tidak sopan untuk berbicara secara santai dengan dewa.” [Ryouma]
“Tentu saja, terlalu banyak itu buruk, tapi kamu tidak mengapa. Lagipula, hatiku luas. Lagipula, Aku seorang dewi.” [Rurutia]
“Benar.” [Ryouma]
“Ada rencana ketika sampai di dunia kami?” [Gayn]
“Jika ada yang mengganjal, katakan saja.” [Rurutia]
“Akan kami dengarkan.” [Kufo]

Ryouma terlihat berpikir sejenak, tapi tidak lama waktu berselang sebelum dia berkata.

“Sebenarnya… Aku tidak terlalu bagus dengan orang. Aku sudah hidup selama 39 tahun, tapi aku tidak pernah akur dengan yang lain. Bahkan jika aku pergi ke dunia lain, aku akan tetap menjadi aku. Kupikir bagian dariku itu tidak akan berubah setelah ke dunia lain. Jujur saja, kupikir hubungan antar manusia memang merepotkan. Mungkin aku akan hidup sendiri. ” [Ryouma]
“Kamu juga bisa melalukan itu jika kau mau. Itulah hidup.” [Gayn]
“Aku juga berpikir kalau itu akan sia-sia. Maksudku itu adalah dunia lain. Itu akan disayangkan jika tidak berkelana.” [Ryouma]
“Kalau begitu bagaimana jika kamu hidup sendiri untuk beberapa saat, dan kalau sudah merasa ingin, berkelana?” [Kufo]

Ryouma berkata apakah itu tidak apa-apa

“Tak peduli apapun, kamu akan tiba di hutan pertamanya. Jika kami mengirimmu ke tengah kota, itu akan menimbulkan kehebohan besar. Jadi yang bisa kamu lakukan adalah pertama hidup di hutan, dan setelah itu pergi ke kota. Lagian, aku yakin kamu ingin memainkan sihirmu dulu, kan? ” [Kufo]
“Ah, jika dipikir lagi.” [Ryouma]
“Jangan terburu-buru. Kamu sepertinya tipe yang dengan sigap pergi melewati semua jalan yang dibentangkan di depanmu, tapi kali ini, coba melewatinya satu per satu. Dan jika pada akhirnya, kamu tidak melewati semua jalan itu, tidak apa-apa.” [Rurutia]

Kamu sudah meninggal sekali, jadi dengan kata lain, kamu bisa terlahir kembali. Kamu bisa hidup dengan cara yang berbeda dibanding hidupmu di Bumi. Terutama karena kamu akan menjadi akan kecil di dunia ini. Selain hal yang perlu dilakukan untuk melindungi diri, kamu bisa saja bermain dan bersenang-senang.” [Rurutia]
“Oh, dan jangan lupakan bahwa kemungkinan besar kamu akan baik-baik saja bahkan jika kamu bertemu bandit dengan kemampuanmu itu.” [Gayn]
“Hanya hidup seperti yang kuinginkan dan pergi sesukaku, huh. Kalau begitu, kurasa aku akan menetap di hutan untuk beberapa saat, dan saat kuingin, pergi. Terima kasih.” [Ryouma]
“Jika kamu ke kota, pastikan kamu mengunjungi gereja. Kita tidak dapat bertemu, tapi jika kamu mendapat skill Oracle, kita minimal dapat berbincang sejenak. Semakin tinggi levelnya, semakin lama dan sering.” [kufo]
“Siap. Pasti akan kukunjungi waktu aku ke kota. Aku tidak tahu kapan, tapi aku berjanji.” [Ryouma]
“Bagus, kami akan menunggu. Saat kamu mampir, kita akan berbicara panjang lebar.” [Rurutia]
“Waktu kami banyak luangnya lagian. Ho Ho ho!” [Gayn]

Saat Gayn tertawa cahaya pada Ryouma mulai membesar.

“…Sudah waktunya.” [Kufo]

Cahaya bertahap menjadi lebih terang sampai itu menutupi mata Ryouma

“…Semua sudah siap, nampaknya.” [Gayn]
“Selamat tinggal dan hidup bahagia, oke?” [Rurutia]
“Pasti… Terima kasih… Terima kasih banyak!!” [Ryouma]
“Sekarang pergilah! Kami tidak dapat menahan pintunya selamanya!” [Gayn]
“Berkah kami membersamaimu.” [Rurutia]
“Semoga cahaya menerangi jalanmu!” [Kufo]
“Nikmatilah hidup barumu!” [Gayn, Kufo, Rurutia]

Setelah itu cahayanya menelan Ryouma.

Setelah cahayanya padam, Ryouma sudah pergi, dan juga para dewa.

 

Daftar Isi | Chapter Selanjutnya ———->

 


3 Responses

  1. Maulanarobbi says:

    Lanjuuut

Leave a Reply

Your email address will not be published.