The Faraway Paladin Vol 2 Bab 5 (bagian IV)

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

The Faraway Paladin Vol 2 Bab 5 (bagian IV)

Di luar sedang gerimis.

Menel berbaring di tempat tidur, di rumah pertanian yang sepertinya dimiliki orang kaya. Luka-lukanya belum sembuh sepenuhnya, cairan-cairan yang merembes dari luka-luka bakar sekujur tubuhnya membasahi perban. Dia sepertinya kesulitan bernapas. Pipinya terlihat cekung, dan rambut peraknya nampak kusam.

Ini salahku.

Aku sedikit menyadari bahwa aku sangat kuat, namun pada saat yang sama, aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Aku takut menjadi yang terbaik. Aku takut sendirian. Aku melarikan diri dari tanggungjawabku atas kekuatanku.

Aku yang menyebabkan ini, kukatakan pada diriku sendiri. Aku akan melakukannya sendiri.

Melakukannya sendiri.

Aku tidak bisa memaksakan orang lain untuk memikul beban dengan berdiri di sampingku, terutama dalam pertarungan. Lagipula, memang apa salahnya jika aku tidak bisa seperti orangtuaku?

Aku berdoa kepada dewaku. Gracefeel, tolong sembuhkan Menel yang malang, yang berbaring di depanku. Dewa menyembuhkan Menel saat itu juga, sama seperti biasa. Luka-luka bakarnya yang mengerikan, luka-luka goresan yang sebagian sembuh–semuanya mulai menghilang.

Pandanganku tiba-tiba melengkung berputar-putar, itu mengejutkanku. Aku sedang mangalami pencerahan.

Aku melihat seorang dewi berambut hitam, yang selalu mengenakan tudung di kepalanya dan jarang bicara maupun mengungkapkan ekspresi. Namun sekarang tudungnya diturunkan, dan merapatkan bibirnya dengan sedih menjadi garis tipis.

🙁

Oh, Gracefeel… Terimakasih sudah mengkhawatirkanku, pikirku. Namun ini tak apa. Aku sudah bodoh selama ini. Lihat saja. Aku akan menghentikan kesedihanmu. Jadi aku mohon padamu, santailah. Aku akan menyelamatkan semua orang, semua orang yang berada dalam jangkauanku, sebagai pedangmu, dan tanganmu.

“Tak apa,” bisikku. “Aku akan menyelesaikan semuanya, semuanya, sendirian…”

Aku berjalan tertatih-tatih keluar dari ruangan, dan kembali ke rumah dimana aku tidur.

Ada peralatanku. Aku memeriksanya sekilas. Aku tidak butuh hal lain. Yang benar-benar kubutuhkan adalah diriku, pedangku, dan tombakku. Aku bisa menyembuhkan baik itu luka maupun penyakit. Aku bisa menerima berkat makanan dari dewaku. Dan jika aku berpikir demikian, selama tidak ada seorang pun disisiku yang mesti kulindungi maupun hal lain yang mesti kupedulikan… aku bisa membunuh apapun.

Ya–sudah waktunya untuk mengakuinya. Kekuatanku tidak normal untuk orang di dunia ini. Aku membunuh splinter sesosok evil god; aku bisa membunuh seekor wyvern dengan tangan kosong. Aku seperti karakter video game yang sudah mencapai level max–atau bahkan cheat karakter, yang tercipta dari kode-kode cheat untuk mengacaukan data. Aku jauh lebih kuat dari apapun di dunia ini.

Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan membunuh chimera itu. Aku akan membunuh iblis-iblis itu. Dan aku akan bermandikan darah dari musuh-musuh yang menghalangi jalanku. Itu cara tercepat, terpendek, dan paling efisien untuk melakukan kebaikan, untuk menegakan keadilan. Itu adalah jalan terbaik agar mewujudkan harapan dewiku menjadi kenyataan.

Aku meninggalkan rumah melalui gerbang dan berjalan memasuki rintiknya hujan, menuju bagian luar desa dan hutan–

“Hey!” Seseorang mencegatku. Dia memiliki rambut perak, fitur wajah yang tajam, bibir yang rapat, dan sepasang mata zamrud yang terbakar amarah.

Aku tidak tahu kapan dia bangun, atau kapan dia mengikutiku, namun tidak salah lagi–Meneldor ada disana.

Di sebuah ladang di pinggir desa, Menel dan aku berhadapan satu sama lain sambil bermandikan hujan.

“Pikirmu apa yang kau lakukan?” tanyanya padaku, suaranya begitu tajam.

“Apa?” Aku memiringkan kepala. “Untuk membunuh iblis-iblis itu. Meneldor.”

Meneldor memicingkan matanya dan merapatkan bibirnya. “Sendirian?”

“Ya…?” Tentu saja sendirian. “Kau tidak bisa ikut denganku. Bukan?” Jadi aku harus melindunginya. Bukannya sudah jelas?

Ekspresi Menel berubah.

Merasakan dingin dan kosong, aku perlahan menyunggingkan senyum. “Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan mengurus semuanya sendirian. Aku akan membunuh chimera dan hewan-hewan buas itu. Jika ada iblis disana, aku akan membunuh mereka juga.”

Dan semuanya akan selesai. Kenapa aku terlalu banyak berpikir? Inilah yang seharusnya sejak dulu kulakukan–

“Sialan kau Will!” Dengan gerakan cepat, Menel menutup jarak diantara kami.

Dia belum pernah melancarkan tinju sebelumnya. Pukulan itu mengenai wajahku begitu saja dari jarak dekat. Gerakannya sangat indah.

Tinjunya berbenturan dengan pipiku. “Bangun, kau tolol.”

Namun yang kurasakan hanyalah… kekecewaan. Aku benar. Cuma ini kemampuannya. Aku tidak bergerak satu inci pun. Rasanya sedikit gatal. Cuma itu.

“Ada apa, Meneldor?” kataku pelan, tinjunya masih menekan di pipiku. Bahkan kupikir kedua mataku terlihat sangat dingin.

Saat aku mulai berpaling, berencana benar-benar mengabaikannya dan pergi, dia melancarkan lebih banyak tinju dan tendangan. Aku sedikit membuat gerakan untuk mengubah arah pukulan, dan rasanya nyaris tidak sakit sama sekali.

“Sialan! Kenapa kau bertingkah seperti ini?!” Dia masih belum menyerah.

Pada titik ini, aku mulai sedikit terganggu. Aku tidak bisa mengizinkannya mengikutiku. Apa yang harus kulakukan?

Mungkin hanya satu lengan tidak terlalu buruk.

Saat dia memukul dengan tinjunya, aku menarik lengannya.

“Apa–”

Kemudian, aku meremasnya dengan berat seluruh tubuhku sampai terkilir. Perasaan bahunya yang keluar dari rongga persendian begitu mengerikan. Meneldor tampak kaget, kemudian mengeluarkan eraman panjang dan keras sampai terjatuh ke tanah, meringis kesakitan.

Maaf, pikirku. Ini demi kebaikanmu….

“Cari seseorang untuk merawat lukamu.”

Setelah memastikan bahwa dia tidak bisa lagi bertarung denganku, aku mulai berjalan.

“Aku… belum selesai denganmu..” Dari belakang, ada suara mencakar di atas rumput. Aku berbalik dan melihat Meneldor yang basah oleh air mata, memegangi bahunya, meski begitu, dia berusaha untuk berdiri.

Aku menghela nafas. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku adalah orang yang menganggap dia sebagai teman; sebenarnya, kami hanya berpasangan karena itu cara paling mudah, jadi kupikir ini akan lebih dari cukup untuk membuatnya menyerah. Tapi entah kenapa, dia masih keras kepala.

Apa yang harus kulakukan?

Mungkin aku bisa mengunci gerakannya dengan sihir. Tapi sihir sedikit tidak bisa diandalkan… Aha. Aku bisa mencekiknya dengan meremas arteri carotik-nya. Aku melangkah ke arahnya.

“‘Gnomes, gnomes, form a fist! Clench your hands and strike the foe!’”

Tanah di belakangku pecah, dan banyak batu-batu kecil terbang ke arahku. Itu adalah mantra Stone Fist (Tinju Batu).

Sepertinya rasa sakit itu menyebabkan Meneldor membuat keputusan buruk. Serangan kejutan dari belakang adalah sesuatu yang sudah kulihat semenjak pertama kali aku bertarung dengannya, dan meskipun ini adalah mantra yang kuat, itu memberiku peringatan semenjak dini. Itu adalah jenis mantra yang sebaiknya digunakan dalam pertarungan kelompok. Aku dengan mudah bisa menghindarinya.

Namun saat kakiku mulai bergerak, aku sadar. Mantra itu mengarah kepada Meneldor.

Dalama waktu singkat, aku membuat keputusan. Jika aku menghindarinya, Meneldor akan menerima luka seriyt. Jadi bahkan tanpa berpikir, aku berhenti dan mengeraskan pertahananku–dan serangan kerikil tanpa batas menghujani tubuhku.

Aku mengeram. Seluruh tubuhku gemetar. Aku kehilangan kontrol atas kakiku, dan kemudian aku ambruk.

“Hah! ‘aku akan menghadapinya sendiri’. Tolol kau!” Mendekatiku selagi aku meringis kesakitan akibat Stone Fist. “Kau menjadi sangat pengecut!” Dia menendangku di perut sekeras yang dia bisa.

Aku mengenakan mail (armor dalam), tapi meski begitu, dia menendangku tepat dimana mantranya mengenaiku beberapa saat lalu. Aku meringis di tanah, mencoba untuk tidak berteriak kesakitan.

Meski begitu, Menel sendiri tidak sepenuhnya baik-baik saja. Bahunya terkilir, dan saat aku menengadah ke arahnya, aku melihat Stone Fist menghantamnya juga. Itu tidak mengherankan; dia berniat melakukan itu disaat dia merapalkan mantra. Dia ditutupi lumpur, cara berdirinya tidak stabil, ada busa di sudut bibirnya, dan matanya merah dengan darah. Fitur wajahnya yang rupawan tidak terlihat lagi. Itu adalah pemandangan mengerikan.

Dengan gemetar aku berdiri. “Apa maksudmu melakukan semua ini?” Aku tiba-tiba bertanya. “Jika kau terus seperti ini, kau akan membuat hidupmu sendiri dalam bahaya. Kita bersama hanya karena keadaan yang memungkinkan. Tidak ada alasan bagimu untuk bertindak sampai sejauh ini.”

“Hah. Mungkin, yah.” Dia menyeringai. “Kau benar. Aku tidak punya alasan untuk mengikutimu lagi, dan aku tidak punya alasan untuk menghentikan seorang pengecut yang emosinya sedang tidak stabil yang bertindak sampai segila ini hanya karena pernah dikalahkan sekali.”

“Lalu kenapa–”

Senyum Menel melunak, dan dia menyelaku. “Lihat… kita teman,” katanya, dengan senyum yang ditutupi lumpur.

Aku hampir meragukan pendengaranku.

“Teman selalu bersama. Saat temanku dilanda kegelisahan, aku merasa sudah melakukan sesuatu yang tidak termaafkan.”

“Oh… ” Beberapa kata itu menusukku lebih keras daripada mantra sebelumnya.

“Tempat asalmu masih menjadi misteri, kau tidak mengetahui hal-hal umum, dan kupikir kau sedikit mencurigakan. Tapi kau adalah orang baik, dan kau selalu melakukan yang terbaik agar semuanya baik-baik saja. Aku tahu betul itu.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Kau menyelamatkan hidupku, kau selamatkan nyawa-nyawa penduduk desa…. Dan waktu-waktu yang kita habiskan selama perjalanan dan bertarung bersama-sama sangat menyenangkan. Aku sangat bersyukur kau membuat orang-orang kembali ke desa.”

Seperti berdiang di depan api unggun dalam dinginnya malam, kata-kata itu perlahan menghangatkan sisi gelap dan dingin dari diriku.

“Will, kau adalah temanku,” kata Menel, berdiri sempoyongan di depanku. “Teman tidak saling mengabaikan.”

Tidak ada kata yang keluar. Malahan air mata yang mengalir di pipiku.

“Jadi… Kita masih berkelahi?” Dia berdiri memasang kuda-kuda.

Aku perlahan menggelengkan kepalaku. “Kau yang menang.” Keputusasaanku, perasaanku karena sendirian, semuanya lenyap tanpa jejak. Aku tidak berpikir aku se-temperamental ini. “Maaf. Aku… aku tidak tahu. Aku kehilangan kendali.”

Menel tertawa parau. “Benar-benar.” Dia menyeringai, memegangi bahunya, dan melotot ke arahku. “Kau memang menyebalkan.” Kemudian, suaranya benar-benar berubah, dan dia tersenyum cerah, “Satu sama kupikir. Kita seri!”

Aku menggerutu. “Aku mengatakan itu cuma agar kau berhenti menggangguku!”

“Hah! Yeah, terus bicara sama batu sana.”

Aku tiba-tiba menyadari bahwa hujan telah berhenti. Kami bercanda satu sama lain dan tertawa bersama-sama. Sepertinya ini adalah pertama kalinya kami berdebat seperti ini, dan aku kalah.

Ada sedikit keributan di desa saat kami kembali. Biar bagaimanapun, aku, peralatanku, dan Menel telah menghilang. Reystov dan petualang lain baru saja akan pergi mencari kami.

“Apa yang terjadi?” Reystov bertanya.

Aku mungkin sudah menyembuhkan luka Menel, namun baik aku dan dia ditutupi oleh lumpur. Tak heran jika Reystov mengkerutkan dahi.

“Maaf membuat kalian khawatir. Aku kehilangan kontrol berpikir tidak ingin membuat orang lain terluka, dan mencoba menyelesaikan semuanya sendiri. Dan kemudian Menel datang dan menghajarku.”

“Tidak tidak. Kau melewatkan bagian apa yang kau perbuat padaku juga. Dasar kejam….” (Menel)

“Aku benar-benar, minta maaf.” Aku menunduk.

Yeah, jika disimpulkan, inilah yang terjadi. Aku mencoba menyelesaikan semuanya sendiri dan berakhir babak belur. Begitulah kenyataannya. Terdengar menggelikan, bahkan untukku.

“Penyakit pria tangguh,” kata Reystov, menggelengkan kepalanya.

Dia benar. Ide semacam ini hanya rentan terjadi pada orang-orang kuat.

“Dan terkadang itu membunuh mereka.”

Sangat mungkin berakhir seperti itu. Aku sangat bersyukur Menel datang untuk menghentikanku.

“Kami tidak akan mengacau lain kali.”

“Kalian berencana menghadapi mahluk itu sekali lagi?”

“Ya.”

Bahkan sekarang, aku bisa ingat betul bagaimana tampang chimera itu. Aku ingat tubuh besarnya itu, yang lebih besar dari seekor wyvern; gerombolan hewan buas yang mengikutinya; caranya menyerang dengan pandangan merendahkan, meremehkan dan kebencian terhadap mahluk-mahkuk kecil. Aku bisa dengan samar ingat kekejaman yang mengisi kedua mata hitamnya. Mahluk itu harus segera diburu dan dibunuh. Dan selain itu…

“Chimera tidak tercipta secara alami. Dia pastinya hasil dari ritual iblis.”

Pastinya ada para iblis di belakang semua itu, dan kemungkinan besar, mereka masih mengarahkan mata pada kota kematian dan berniat membangkitkan High King.

“Mari basmi mereka semua sebelum lari ke tempat lain.”

Oara petualang tertawa saat aku mengatakan itu.

“Jadi kita akan kembali melawan musuh yang pernah mengalahkan kita?”

“Ini petualangan yang bodoh dan menyenangkan, baiklah.”

“Yeah! Mari kita tunjukkan siapa bos-nya!”

Musuh kuat malah membuat mereka tertawa lebih ganas. Mereka terlihat senang, seperti menikmati ini.

“Yah, menyebalkan melihat mahluk itu tertawa. Aku akan mematahkan ketiga kepalanya sekaligus.” Menel tertawa juga.

“Ya…. Ayo dapatkan kehormatan kita kembali.” Aku juga menyeringai, seolah senyum semua orang menular. Dan kemudian, untuk lebih meningkatkan semangat juang semua orang. Aku menggunakan salah satu trik spesial Gus.

“Satu koin perak untuk masing-masing kepala hewan buas! Dan untuk kepala bosnya, aku akan membayar 10 koin emas!”

Para petualang langsung berteriak kegirangan.

Setelah itu, kami menghabiskan hari-hari membuat persiapan, mengirim tim pengintai (beberapa kali), dan menyiapkan pasukan kami–dan kemudahan, aku, Menel, Reystov, dan sekelompok petualang dalam jumlah besar menuju lembah itu sekali lagi.

Kami tidak terlalu mengandalkan trik. Rencananya sederhana: mengumpulkan cukup orang, melakukan persiapan dengan benar sebelumnya, dan menghadapi musuh secara langsung. Aku mempunyai Pale Moon, Overeater, perisai bulatku, mail muthrill-ku. Menel memiliki panahnya, sebuah pisau, dan armor kulit. Itu adalah perlengkapan penuh kami.

Pepohonan semakin jarang. Sungai yang membentuk lembah sudah lama kering, dimana tadinya adalah dasar sungai, menyisakan batu-batu yang bertebaran dimana-mana.

Kami berjalan lebih dalam dan lebih dalam ke tempat tandus itu, dan tak lama kemudian, lolongan panjang hewan-hewan buas bergema. Aku bisa merasakan kehadiran mereka di kedalaman lembah. Kelihatannya basis para iblis benar-benar disini.

“Berapa jumlah mereka?” Menel berkata pelan. “Kurasa akan lebih damai disini jika kita memusnahkan mereka semua.”

“Ya. Ayo kita bunuh mereka semua.”

“Terkadang perkataanmu bisa sadis juga, ya.”

Para petualang di belakang dan di depan kami sedikit terkekeh.

Kami menyediakan semua dukungan yang kami bisa dengan sihir, doa, dan menggunakan peri-peri bahkan sebelum melangkah ke lembah. Yang tersisa hanyalah bertarung.

“Mereka datang,” kata Resystov.

Semua jenis hewan buas muncul di depan kami. Masing-masing dari mereka mengeluarkan miasma dan mata mereka dikuasai oleh kegilaan. Jumlah mereka tidak sebanyak sebelumnya. Mungkin aku sudah membunuh sebagian besar dari mereka beberapa hari lalu.

“Hey. Will. Aku akan menjaga bagian belakangmu.”

“Terimakasih. Aku mengandalkanmu, Menel.”

Menel dan aku saling mengangguk. Kemudian, aku mengangkat Pale Moon, dan berteriak.

“Kita akan menyerbu mereka dari depan!”

Teriakan perang bergema, saru persatu.

“Bersiappp!!!”

Pedang dinaikan.

“Demi kejayaan Beast Killer!!!”

Tombak-tombak dinaikan.

“Dengan pedang petir Volt!”

“Terbakar panas dalam api keberanian Blaze!”

“Berputarlah! Berkatilah kami dengan angin yang berhembus demi kami!”

Kami memukulkan senjata-senjata kami terhadap perisai jami, sebuah gerakan seorang warrior untuk mengumpulkan perhatian para dewa dan mengintimidasi musuh kami. Semua orang berteriak memanggil nama dewa pelindung mereka dan meminta perlindungan.

“Semoga dewa-dewa baik memberkati kita semua!!!”

“Bunuh! Bunuh! Bunuh!”

Mulut semua orang tersungging menjadi senyum liar yang tergerak akibat ketegangan dan sukacita perang. Mereka berkeringat; kedua tangan dan kaki mereka bergetar. Dan kemudian, bersama-sama, kami menarik nafas dan mengaum. Teriakan perang bergema di sekitar kami, dan semua orang mulai berlari, berlomba untuk menjadi yang pertama dalam pertempuran.

“Tembak!” Anak panah dari Menel dan yang lainnya terbang dari belakangku ke arah barisan hewan-hewan buas itu.

“Sagitta Flammeum!”

Beberapa pengguna sihir merapalkan mantra panah terbakar.

Para petualang pencari kemenangan dan kejayaan dengan lapar melompat ke arah hewan-hewan buas itu, yang mana seruan itu mengantarkan mereka menuju kekalutan. Pedang-pedang berkilauan. Perisai diserang bertubi-tubi mengeluarkan suara dentuman. Darah mendidih. Detak jantung semakin cepat dan keras, dan otot-otot menjadi panas.

Ini adalah perang. Blood seringkali membicarakan ini dengan penuh semangat. Ini adalah perang!

Ini adalah pemandangan mengerikan untuk dilihat, namun entah kenapa, aku tertawa. Aku merasa seolah tiba di dunia kisah epik Blood, yang hanya bisa kubayangkan selama tinggal di kota kematian

Aku terkekeh. Sekarang aku berada di medan perang, aku mengejek seberapa kecil diriku. Apa yang sudah kupikirkan, berkata bahwa aku akan menyelesaikan semuanya sendirian? Pada akhirnya, aku hanya satu elemen dari pertempuran ini. Elemen terbesar, mungkin, atau bagian paling kuat, namun tidak cukup untuk menentukan seluruh alur pertempuran.

Entah kenapa, aku sangat senang bahwa medan perang tidak lagi terlihat seperti tempat sepele sampai-sampai satu orang dengan kekuatan luar biasa bisa mengatasi semuanya sendirian.

Aku menggenggam Pale Moon. Aku bisa tahu bahwa dewiku tidak terlihat bersedih lagi.

“Atas nama api Gracefeel!”

Aku menguatkan tekad, meneriakkan nama dewaku keras-keras dan berlari lurus ke arah gerombolan itu.

3 Responses

  1. Highest emperor says:

    Terimakasih min atas usahanya dan tetap semangat

  2. Reyno says:

    Atas nama api gracefeel!
    Makasih update-an kali ini min >,<

Leave a Reply

Your email address will not be published.