The Faraway Paladin – Vol 2 Bab 5 (bagian III)

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

The Faraway Paladin – Vol 2 Bab 5 (bagian III)

Hewan buas itu sangat besar.

Mencuat ke atas dari bekas telapak kakinya yang sebesar perisai, adalah kaki tebal yang terlihat seperti kawat berduri yang diputar-putar dan dilingkarkan bersama-sama. Tipikal rumah-rumah petani yang kulihat di desa miskin sekitar sini jauh lebih kecil dari monster tersebut, sekalipun mahluk itu membuat dirinya meringkuk sekecil mungkin. Bahkan wyvern pun terlihat kurus jika dibandingkan dengannya. Berdiri di depan tubuhnya yang menyerupai singa terasa luar biasa, serasa berdiri langsung di hadapan tebing yang menjulang.

“Oh–”

Sepertinya Menel sudah memanggil elemental bumi untuk melindungi dirinya dan mereka yang berada di belakang kami. Dinding batu dan tanah menjorok keluar dari bawah tanah, sebuah bongkahan besar yang diambil oleh kaki depan chimera yang mirip gajah itu adalah bukti.

Tubuh Menel menabrak dinding batu yang bergeser itu.

Chimera itu menatapnya–

“Berhenti–”

–dan, dengan seringai sombong–

“Berhenti!”

–dari kepalanya yang mirip naga–

“Tidaaaak!”

–dia menyemburkan nafas api.

Tubuh Menel tenggelam dalam kobaran api, terbakar. Dia akan mati–dia mati di depan mata kepalaku sendiri–

Aku mendengar bunyi nyaring di dalam kepalaku.

“AHHHHHHHHHHHHH!”

Darahku yang mendidih mewarnai pandanganku dengan merah. Aku tidak pernah merasakan kemarahan sampai seperti ini, bahkan sewaktu wyvern menyerang kota. Dipenuhi oleh emosi yang mendidih, aku merapalkan Word of Lightning.

“Tonit—”

Seketika itu, ada hentakan berat dari perisaiku.

Oh benar, hewan-hewan buas itu…. mereka menerjang…

Mantra itu…. terhenti di tenggorokanku

Misfire. Backfire.

Fragmen-fragmen pemikiran itu terlintas di kepalaku, dan bahkan tidak sampai sedetik, petir yang gagal kuaktifkan mengalir di seluruh tubuhku. Aku terguncang. Tubuhku mengejang. Aku ambruk.

Ap-apa yang kulakukan? Kenapa aku begitu menyedihkan? Aku harus bertarung. Aku harus melindungi semuanya. Kenapa aku membiarkan diriku hancur seperti ini–

Aku ambruk ke tanah dan pandanganku mengabur, aku melihat petualang lain mati-matian bertahan. Reystov bertarung demi hidupnya, mengayunkan pedangnya dengan ganas, namun aku ragu dia akan bertahan lama.

Sebuah keputusasaan yang lebih dingin daripada es antartika membasuhku dan memadamkan api kemarahanku. Kenapa? Kenapa aku membuat kesalahan? Aku melakukan yang terbaik sampai sejauh ini bukan? Dimana–di mana aku melakukan kesa–

Sesosok kepala ular mendekatiku selagi aku berbaring di tanah. Dia membuka mulutnya untuk menelanku bulat-bulat. Dia menerjang ke arahku, dan aku–tidak, tubuhku, tubuh yang dilatih oleh Blood… Mengambil Overeater seolah dikendalikan oleh insting.

Slash. Kepala ular itu terlempar. Duri-duri berwarna merah darah menembak ke udara. Luka-lukaku banyak yang menghilang. Energi kehidupan mengisi tubuhku. Aku mengeram, bahkan lebih keras dari sebelumnya.

Semuanya mulai terasa kabur, dan semakin dingin. Semua pemikiran menghilang dari kepalaku. Semuanya kosong menjadi putih, hanya hubungan permusuhan yang kupunya dengan hewan-hewan buas itu mengisi kepalaku.

Pembantaian dimulai.

Taring-taring datang daru sebelah kanan. Aku menebas.

Cakar-cakar menyobek kaki kiriku. Aku membiarkannya mengenaiku, kemudian menebas lagi. Rasa sakitnya mengerikan sekali.

Aku menebas. Luka-lukaku sembuh. Rasa sakitnya menghilang.

Aku menebas lawan selanjutnya. Duri-duri berwarna merah darah mengisi udara.

Aku membanting menggunakan perisaiku dan menebas. Membiarkan mereka menusukku kemudian menebas lagi. Membiarkan mereka menggigitku dan menebas lagi. Membiarkan mereka mendekatiku lalu menebas lagi.

Menebas. Menebas. Menebas.

Duri-duri. Duri-duri. Pandanganku diwarnai darah.

Aku mengeram.

Sangat memalukan, keputusasaan yang buta. Otot-ototku yang terlatih, jurusku yang sudah kuasah, tekadku yang diperkuat–tak satupun ada disana. Aku hanya menyerahkan semuanya pada kemampuan demonblade-ku, menebas dan memotong musuhku tanpa strategi dan kehormatan. Ini sangatlah, memilukan, memalukan, dan pertempuran yang menyedihkan. Aku merasa gagal dalam semuanya. Aku merasa menyedihkan.

Aku menebas dan memotong hewan-hewan buas seperti orang gila, air mata mengalir di pipiku. Basah kuyup oleh darah dan jeroan perut, aku sudah tidak tahu lagi berapa yang kubunuh sejauh ini. Namun aku harus membunuh lagi. Lebih banyak. Lebih banyak–

“Berhenti! Itu cukup!” Sebuah suara mengguncang gendang telingaku. Seseorang telah menahan lenganku dari belakang.

Itu adalah Reystov.

“Huh–Ah–”

Aku menyadari bahwa tidak ada apapun yang bergerak. Chimera itu sudah kabur ke suatu tempat. Area sekitarku benar-benar berubah menjadi lautan darah dan jeroan perut. Reystov dan petualang lainnya juga tidak terluka, kecuali–

“Sembuhkan Menel! Dia akan mati!”

Aku kembali mendapatkan akal sehatku. “Menel!!!” Aku berlari, hampir tersandung saat menuju ke arahnya.

Dia terbakar hangus, dan wajah rupawannya terbakar sampai sulit dikenali. Kedua lengannya terkilir, dan dia kehilangan beberapa jarinya.

Aku mulai bernafas berat.

Aku berdoa dan berdoa.

Berkat yang diberikan dewa kobaran api mulai menyembuhkan tubuhnya.

“K-kumohon–kumohon–” Aku mengucurkan air mata. “Bangun… kau tidak boleh… kau tidak boleh mati…”

Dia terluka sangat parah. Proses penyembuhan berjalan lambat, namun dia belum membuka matanya. Aku berdoa, berdoa, berdoa….

Aku merasa sangat pusing. Aku mengayunkan demonblade berulangkali dan mengeluarkan kemampuannya untuk waktu yang lama. Mungkin ini adalah bayarannya.

Namun… aku harus menyembuhkan… Menel…

Dan selagi aku di tengah-tengah berpikir, yang tiba-tiba miring membentuk sudut yang aneh, dan aku pingsan.

Setelah bangun, Reystov menjelaskan situasinya padaku.

Aku berada di sebuah desa dekat dengan lembah tersebut, dan ini adalah rumah kosong yang mereka izinkan untuk disewa. Setelah pertempuran itu, Reystov dan yang lainnya mundur kemari, membawa Menel dan aku di bahu mereka. Untungnya, aku sudah membantai gerombolan hewan buas itu, dan setelah Chimera itu kabur, tidak ada tanda-tanda serangan lain.

Menel lolos dari Kematian.

Itu mungkin berkat mantra-mantra dan doa yang aku rapalkan padanya sebelumnya. Ini juga berkat Menel yang tidak bodoh mencoba bertahan ketika Chimera itu menyerangnya, namun berguling dan membiarkan dirinya terlempar. Tabrakan dengan dinding batu dan nafas api chimera itu nyaris membunuhnya, namun sihir yang kurapalkan padanya berhasil membuatnya tetap bernafas, dan doaku tepat waktu.

Namun, karena aku terlalu berlebihan menggunakan demonblade-ku, aku pingsan di tengah-tengah merawat Menel, jadi dia masih belum siuman.

“Untuk sekarang, mari istirahat sejenak,” kata Reystov.

“Tapi–”

“Kondisi Meneldor sudah stabil. Kau terlalu memaksakan diri. Istirahatlah,” katanya dengan empati, memberiku tatapan tajam. Kemudian dia meninggalkan ruangan.

Dia terlihat kelelahan juga. Pastinya ada korban lain selain aku dan Menel dalam pertempuran kacau itu, namun dia tidak mengatakan apapun, mungkin sengaja.

Dan beginilah, di dalam rumah kosong dengan dinding lumpurnya, aku duduk di bawah cahaya redup yang masuk diantaranya celah-celah atap, kepalaku tertunduk melamun.

Dimana aku mengacaukannya?

Apakah saat aku mempercayakan Menel melindungi serangan dari belakang? Tidak, mengingat situasinya, hal itu tidak terhindarkan. Pilihan itu memang benar nyaris menyebabkan kekalahan total dan kehilangan nyawa kami, namun terlepas dari itu, dari tempatku berdiri keputusan menyerahkan Chimera itu kepada Menel jelas bukan pergerakan yang buruk. Aku sangat yakin akan hal itu. Jika aku menghadapi Chimera itu sendiri, ada kemungkinan bahwa semua orang mungkin terinjak-injak oleh terjangan para iblis.

Momen terburuk bagi kami kemungkinan besar saat kami jatuh pada perangkap yang menggunakan mayat sebagai umpan. Jumlah kami masih utuh waktu itu, kami sudah sangat berhasil pada titik ini, dan kami bertindak sedikit lebih berani setelah keterkejutan akibat melihat mayat-mayat orang yang kami kenal. Semua faktor yang dikombinasikan itu pastinya menyebabkan kami sedikit ceroboh.

Kami harusnya sudah waspada di saat kami menemukan tubuh mayat-mayat itu. Kami harusnya sabar dan teliti, dan mengirim regu pengintai ke setiap arah. Jika kami melakukan itu, kami tidak akan berjalan tanpa tujuan ke lembah terbuka dan terpancing ke pertempuran yang tidak menguntungkan.

Penyebab kegagalan ini adalah karena sangat, sangat kurang kewaspadaan. Kami mendapatkan hukuman kami karena membiarkan diri kami terpancing ke wilayah musuh dan bertindak ceroboh. Tamat.

Meski begitu–

Ada sesuatu… sesuatu yang terasa tidak benar dari penjelasan ini. Aku melewatkan sesuatu yang penting. Aku bisa merasakannya. Tapi apa? Apa yang tidak kusadari?

Aku berbaring terlentang dengan kepalaku yang dipenuhi perasaan yang mengganjal ini, saat itulah aku mendengar suara melalui dinding tipis ini.

“Dipaksa mundur, ya…”

“Tidak bisa dipercaya bukan? Mereka si Pembunuh Wyvern dan si Pendobrak yang kita bicarakan disini.”

“Ada seekor chimera yang tidak wajar disana, kudengar. Perpaduan mengerikan dari beragam hewan buas yang berbeda.”

“Apa rencana untuk menghadapi mahluk itu?”

“Pukul aku.”

“Kudengar half-elf itu terluka juga, kau tahu soal itu?”

“Ya, dia terluka parah. Dia harusnya tidak ikut dalam pertempuran dimana si Pembunuh Wyvern terlibat, itu tak ada bedanya dengan bunuh diri. Orang itu monster.”

Mereka berdua–para petualangan, kupikir–yang lewat di luar, mungkin benar-benar tidak sadar bahwa aku bisa mendengar percakapan mereka.

Kenyataan pahit terbersit di benakku. Sekarang aku melihatnya. Itu bukan strategi. Namun kekuatan dari kelompok kami.

Aku memercayakan Menel menjaga bagian belakangku. Aku berpikir bahwa meskipun kami berhadapan dengan musuh yang kuat, Menel akan mampu menahannya sebentar jika aku menyerahkannya padanya. Dan ketika chimera itu muncul, aku berpikir sama, seolah itu benar-benar wajar.

Akan tetapi, bagaimana kenyataannya? Menel tidak bisa bertahan melawan chimera itu sama sekali. Dia tidak sekuat yang aku harapkan. Aku memberinya beban yang tidak bisa ia pikul, begitu saja, tanpa berpikir dua kali. Aku menganggapnya sebagai teman, dan aku berpikir dia bisa mengatasinya–

“Oh…”

Sekarang aku paham. Sesuatu datang merangkak dari kegelapan hatiku yang paling dalam. Itu mungkin sesuatu yang tanpa kusadari berusaha kuabaikan. Aku berusaha tidak memikirkannya, namun sekarang aku tidak bisa memalingkan wajahku lagi.

Dengan standar dunia ini, level kekuatanku benar-benar gila.

Aku sudah diberitahu hal ini berulang kali semenjak meninggalkan kota kematian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan tiap kali itu, aku tersenyum rendah hati dan bersikap ramah, dan membiarkan kata-kata itu masuk dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiri.

Kenapa aku tidak memikirkannya sampai sekarang? Aku mungkin secara tidak sadar menghindari berpikir terlalu dalam tentang ini. Tidak peduli berapa kali semua orang memuji kemampuanku, aku tetap bersikap rendah hati. Aku mengevaluasi kemampuan orang-orang yang kutemui, dan aku merasa malu karena ketidakdewasaan-ku. Karena kalau tidak, itu akan berarti mengakuinya.

Tidak peduli seberapa menyedihkan orang-orang yang kutemui, tidak peduli seberapa mengerikan penampilan yang kulihat, aku menghindari perasaan kasihan ke semua orang. Aku mencoba menjadi seorang pemecah masalah yang baik. Karena kalau tidak, itu akan berarti mengakuinya.

Bahwa kami tidak setara.

Dan setelah aku mengakui itu–

Setelah aku menganggap bahwa diriku berada di atas mereka, dan semua orang jauh, jauh dibawah diriku–

Setelah aku mulai menyadari bahwa meminta seseorang untuk bertarung di sampingku bisa diartikan memaksakan beban berat padanya–

Aku tidak bisa seperti mereka. Tidak seperti mereka bertiga. Saling menjaga punggung masing-masing, mendukung satu sama lain, menghormati satu sama lain. Aku tidak pernah punya teman seperti itu. Karena aku sendirian.

Jadi aku menolak kenyataan bahwa ada perbedaan kekuatan diantara kami.

Tapi apa kenyataannya? Aku ingin Menel bertarung di sampingku, tapi dia lemah. Aku mengajarnya tanpa ampun ketika pertama kami bertemu. Bahkan saat pertarunganku melawan wyvern, yang dia lakukan hanyalah mensupport mantra-ku dan membantuku menjatuhkan wyvern itu ke tanah. Cuma itu. Aku tanpa sadar memalingkan mataku pada kebenaran sederhana itu, dibandingkan denganku, dia sangat lemah. Seperti sesuatu yang menjijikkan yang tidak mau kulihat.

Kenapa aku takut sendirian?

Sesaat memikirkan itu, sebuah kejadian teringat kembali di kepalaku, ingatan yang penuh dengan kegelapan.

Tempat di kamar tuaku, di kehidupan sebelumnya. Itu adalah kamar kosing tanpa apapun di dalamnya, sebuah rumah tanpa sosok kedua orang tua, sebuah tempat sunyi seperti kuburan. Aku ketakutan. Aku ketakutan. Aku sendirian. Sesuatu terasa sakit. Aku tidak bisa menahannya–

“Oh…”

Oh.

Jadi begitu. Itu sangat sederhana. Aku tidak ingin sendirian. Aku takut tidak ada seorang pun yang mau berada di sisiku.

Jadwal meskipun dia adalah orang yang harus kulindungi, seseorang yang harusnya kuselamatkan, aku mencoba melihatnya setara denganku tanpa alasan. Aku terus membuat alasan demi alasan untuk tidak memikirkan fakta yang jelas dan terang. Aku memintanya berdiri di sampingku, dan sebagai hasilnya, aku nyaris membunuhnya. Dan semua itu hanya karena sebuah alasan, alasan keras kepala bahwa aku tidak ingin sendirian.

Aku akhirnya mengerti… apa kesalahanku.

Aku berdiri. Sedikit terhuyung-huyung sedikit, namun sebuah doa berhasil diselesaikan tanpa kendala sama sekali. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku sangat kuat.

Aku mulai berjalan. Pertama-tama, aku harus melihat Menel. Aku harus menyembuhkannya.

Di luar mulai gerimis , namun itu tidak menggangguku sedikitpun. Aku merasa semua kekhawatiranku sudah lenyap.

Dan aku mulai tertawa, dari dalam lubuk hatiku.

2 Responses

  1. Highest emperor says:

    Terimakasih min sdh update dan di tunggu update selanjutnya dari LN ini

  2. Reyno says:

    Mksh min, gw msh akan keep nungguin update an seri ini di euphra. semangat terus pokok ee ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published.