The Faraway Paladin – Vol 2 Bab 1

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

The Faraway Paladin – Vol 2 Bab 1


Dia mengenakan sebuah jubah dengan tudung yang membuatnya sulit untuk melihat matanya. Menggenggam sebuah busur dengan dekorasi unik di tangannya. Sebuah anak panah sudah dikaitkan pada tali busur itu. Anak panah dengan bulu putih. Dia belum menarik kembali tali busur itu, seolah memberi peringatan padaku kalau dia bisa melepaskannya kapanpun dia mau. Jubah dan pakaian luarnya mempunyai motif rumput dan tanah, dan dia mengenakan sepatu boot kulit yang tinggi dan sarung tangan kulit. Sebuah parang pendek tergantung di pinggangnya, dan dia mempunyai beberapa pisau lain juga. Orang ini kemungkinan adalah seorang pemburu.

Terjadi keheningan.

Aku berhadapan dengan seorang pemburu. Tidak ada satupun dari kami yang bicara atau bergerak.

Ketegangan semakin meningkat seiring berlalunya waktu.

Tidak bagus, kupikir. Seharusnya aku mengapresiasi emosi pertemuan pertamaku dengan seseorang sekarang, tapi bahkan aku tidak mampu melakukan itu. Ini benar-benar tidak bagus.

Kontak pertama telah terbentuk secara kebetulan diantara dua orang yang tidak saling mengenal sama sekali di tengah-tengah hutan. Pengetahuan kehidupanku sebelumnya juga memberi tahuku bahwa situasi ini sangat berbahaya. Bagaimanapun juga, ini adalah hutan yang jauh dari pemukiman. Tidak ada sistem pengadilan atau penyelenggaraan hukum disini. Dengan kata lain, jika bentrokan tiba-tiba pecah, aku tidak bisa mengharapkan sedikitpun pertolongan. Di tempat seperti itu kami bertemu, baik dia atau aku adalah orang asing, dan kami berdua bersenjata.

Sekarang…. tindakan apa yang tepat dalam situasi seperti ini?

Haruskan aku tersenyum dan meminta berjabat tangan? Membayangkan diriku di posisi dirinya: Jika seorang pria bersenjata tiba-tiba tersenyum kepadaku dan mengulurkan tangannya….bisakah aku menjabat tangan itu?

Mungkinkah aku harus melepaskan senjataku untuk menunjukan bahwa aku tidak berbahaya? Bagaimana jika dia sudah berniat bertarung denganku? Dan bagaimana jika dia menganggap itu jebakan? Apa ada jaminan kalau aku melepaskan senjataku, pergerakan itu tidak akan disalahpahaminya sebagai tanda pertama sebuah serangan?

Memakai doa untuk menunjukkan bahwa aku hamba tuhan yang beriman? Tidak, itu masih akan menyisakan kemungkinan dia mencurigaiku sebagai seorang pendeta dewa jahat, yang mencoba menyembunyikan sifatnya. Terlebih lagi, aku harus memastikan apakah pihak lain benar-benar hanya berdiri disana dan mengamati selagi aku menggunakan sebuah kemampuan tepat di depannya.

Yup–aku tidak punya cara membuktikan bahwa aku bukanlah ancaman. Lebih buruk lagi, aku bukanlah anggota sebuah perkumpulan. Dan lagi, aku juga tidak bisa menyebutkan nama seseorang yang bisa menjaminku. Itu artinya aku tidak punya cara untuk membuktikan karakterku. Di duniaku sebelumnya, antropologi budaya telah memperingatkan bahaya pertemuan pertama secara kebetulan dengan otang asing. Ketegangan dan kewaspadaan meningkat dalam situasi seperti ini, dan ada kemungkinan berujung langsung menjadi sebuah pertarungan mematikan.

Jantungku dipompa lebih dari batas normal. Pemburu itu masih mempertimbangkan bagaimana menangani situasi ini, tapi aku bisa tahu bahwa dia sama tegang dan waspadanya denganku; tatapan tajam terhadap perlengkapanku dari balik tudungnya adalah bukti. Dia sedang tertekan antara mengambil keputusan bertarung atau lari.

Pemburu itu menurunkan kakinya sedikit. Perasaan merinding di kulitku tumbuh lebih kuat

Ini buruk, benar-benar buruk. Jika terus seperti ini, kami akan berakhir dengan saling membunuh.

Saat aku mati-matian mencari kata yang pas dan menolehkan mataku untuk melihat apa yang orang itu bawa, aku tiba-tiba sadar: busur yang dibawa pemburu itu–aku pernah melihat motif itu sebelumnya, dalam pelajaran sejarah alam Gus. Ya, pasti itu–Jadi aku harus–

Berhati-hati dan bergerak perlahan agar tidak memancing serangan dari pihak lawan, aku meletakkan tangan kananku di sebelah kiri dadaku, dan mengucapakan setiap kata dengan jelas dan sehati-hati mungkin, kataku–

“”Bintang-bintang bersinar di saat pertemuan kita.””

Pemburu di depanku membelalakan matanya. “Old Elvish…!” katanya dengan gemetar dalam suaranya. “Kau mempunyai hubungan dengan para elf?”

“Tidak. Tapi kurasa kau punya.”

Aku mempunyai ingatan tentang jenis busur itu. Menurut penuturan Gus dalam sejarah alam, Rhea Silvia, dewi air dan tanam-tananaman hijau yang berjiwa bebas, mempunyai pengikut dari ras orang-orang rupawan dan berumur panjang yang turun dari greater fae yang diciptakan dulu sekali oleh Progenitor. Mereka adalah ras yang disebut elf, dengan busur panah sebagai ciri khas mereka. Jadi kupikir dengan menggunakan salam Elvish akan melunakkan sedikit ketegangan.

“Keh!” Dia meludah dengan jijik. “Yah, kau tidak salah “

Kurasa aku benar. Pemburu itu melunakkan suaranya sedikit, namun kali ini aku yang dibuat terkejut: meskipun nada bicaranya sedikit memiliki irama, bahasa yang dikatakannya sendiri cukup kasar. Aku dengar karena para elf berumur panjang, menjadikan mereka ras yang sangat penyabar dan berbudi santun….

“Eh. Terserahlah.” Pemburu itu melonggarkan posturnya dan membuka tudung jubahnya.

Hal pertama yang menangkap mataku adalah rambutnya yang berwarna perak. Alis yang mengkerut, mata setajam batu giok, hidung yang mancung, garis dagu yang elegan, wajah seorang pemuda dengan rupa yang sedikit feminim mengungkapkan dirinya.

Telinganya tidak panjang, pendek berukuran sama seperti manusia pada umumnya namun agak runcing. Jika aku mengingat pelajaranku dengan benar, itu adalah karakteristik seorang half-elf, anak persilangan antara elf dan manusia–

“Yang lebih penting,” katanya, menyadarkan lamunanku. “Kau yang lakukan itu?” Dia menunjuk babi hutan yang tergeletak di tanah dan bilah tombakku, yang basah dengan darah.

“Ya, itu aku.”

Dia mengerutkan kening. “Itu aksen lama.”

Aku bingung sejenak, namun setelah memikirkannya, aku sadar sudah dua ratus tahun semenjak zaman Blood dan Mary. Itu lebih dari cukup untuk membuat bahasa berubah, sekalipun dunia ini mempunyai ras seperti elf yang hidup lebih lama daripada manusia. Gaya bicaraku tentunya terdengar jadul. Bahkan mungkin ketinggalan zaman. Jika mengibaratkan Bahasa Sunda dalam kehidupanku sebelumnya, mungkin seperti memakai “kaula” ketimbang “kuring”. Aku harus memahami bagaimana orang-orang berbicara si zaman ini dan memperbaiki bahasaku agar mereka tidak mewaspadaiku.

“Maaf. Sudah kebiasaan.”

“Aneh, tapi terserah. Jadi babi ini,” kata half-elf berambut perak itu, mengubah kembali topik ke babi yang tergeletak di tanah. “Milikku.” Dia menunjuk anak panah yang masih menancap disana.

Itu anak panah dengan bulu berwarna putih, sama dengan anak panah lain di kantong panah miliknya. Fakta bahwa tidak berselang lama antara waktu kedatangannya dan setelah aku membunuh babi itu mengindikasikan bahwa dia tidak berbohong.

“Tapi kaulah yang membunuhnya,” katanya terus terang.

Alasan kenapa ia tidak langsung menuduhku mencuri buruannya mungkin karena dia waspada terhadapku. Dia ingin menghentikanku sebelum aku mendapatkan kesempatan.

Dorongan untuk mengatakan maaf seolah tertanam di dalam kepalaku, sebuah kebiasaan dari kehidupanku sebelumnya, tapi aku menghindari itu. “Ya. Hewan ini mencoba menyerangku, jadi aku terpaksa membela diri. Tapi–” Aku berkata jujur. Namun sudah waktunya untuk taktik negosiasi. “Aku yang membunuhnya, jadi kupikir setidaknya aku pantas mendapatkan bagian.”

Aku berharap ini akan menuntunku menuju penyelesaian–meskipun entah itu manusia atau elf, aku tidak tahu.

Negosiasi berjalan alot.

Half-elf berambut perak itu adalah negosiator yang cukup terampil; aku, di sisi lain, tidak punya pengalaman nyata dalam negosiasi, aku benar-benar dibuat tak berkutik. Dari penampilannya dia tampak sebaya denganku, meskipun elf dan termasuk juga hal-elf yang berbagi darah dengan mereka dikatakan mempunyai jangka hidup yang lebih panjang, jadi aku menyimpulkan dia lebih tua dariku. Meski begitu entah bagaimana aku berhasil bertahan, dan akhirnya kami sampai pada keputusan aku mendapatkan bahu sisi yang kutusuk sebagai imbalan membantunya membunuh babi itu.

Menguliti babi liar bukanlah pekerjaan mudah.

Pertama-tama, kami harus membawanya ke sungai, mengeluarkan darahnya dan membersihkannya. Bulunya diselimuti lumpur. Mungkin dia sudah berkubang di suatu tempat.

“Ahh, benda sialan ini remuk,” Kata half-elf berambut perak itu, menatap mata panah yang ia tarik dari bangkai babi liar tersebut. Yang hancur berkeping-keping. Kemungkinan besar itu mengenai tulangnya.

Aku menyaksikan dia melepaskan mata panah itu dan secara hati-hati menyimpannya ke dalam tas miliknya. Sepertinya benda logam cukup bernilai di daerah ini. “Kita keluarkan serpihan-serpihan panahnya,” katanya. “Kalau sampai tergigit saat kita memakannya, tentu bukan hal yang bagus “

Kami memanfaatkan area batu yang datar di sekitar sungai untuk secara hati-hati mengeluarkan serpihan-serpihan mata panahnya, dan kemudian mulai bekerja menguliti babi liar itu. Aku menguasai beberapa keterampilan ini berkat Blood, meski begitu half-elf berambut perak itu sepertinya jauh lebih terampil daripada aku. Untuk babi liar, lemak di bawah kulitnya adalah bagian yang enak, jadi ujiannya adalah dalam keterampilan pisau seberapa tipis kulit yang bisa kau potong. Dan dia melakukannya sangat cepat dan rapi.

“Kalau begitu, sekarang.” Dia menusukkan pisaunya ke bawah rahang babi itu dan memotongnya secara memutar pada bagian leher. Dia sepertinya sudah mencapai tulang leher, jadi aku memegang kepalanya dan memutarnya untuk melepaskannya.

“Hey, kau cukup terampil juga,” katanya melemparkan senyum, jadi aku tersenyum balik padanya. Kemudian, dengan beberapa gerakan pisau, dia memotong daging dan urat dan memisahkan kepala itu seluruhnya.

Aku meletakkan tubuh babi itu dengan punggungnya menghadap ke bawah dan menahannya dalam posisi tersebut, dia mulai memotong perutnya memanjang dari tenggorokan sampai ujung bagian belakang tubuh babi, secara hati-hati hanya memotong bagian kulitnya. Memotongnya terlalu dalam akan menyebabkan kerusakan pada organ internal, yang mana akan membuat….um, bagaimana menjelaskannya….isi usus, kandung kemih, dan organ reproduksi akan tumpah dan mengacaukan segalanya. Dengan cara ini, maka itu bisa dihindari.

Setelah dia selesai melakukan itu, dia membuat beberapa potongan menggunakan kapak, dan kemudian secara bersama-sama kami memisahkan tulang rusuk. Kami membuat potongan di sekitar anus, membuka rongga dada, turun ke diafragma, membersihkan membaran ke bawah tulang belakang…

“Sip, selanjutnya kita keluarkan ini…” Dia memegang batang tenggorokan dan kerongkongan babi itu dan menariknya ke ujung belakang. Semua isi perutnya keluar sekaligus dalam satu kali tarikan. Dia sangat efisien dalam melakukan ini.

Dan sekarang, babi yang kami kuliti sudah mirip “daging”, tampak beku dan menggantung yang kulihat di TV atau film dari kehidupanku sebelumnya. Aku menghadap kearah kepala babi yang kami potong dan mengatupkan tanganku bersama-sama dalam doa.

Aku meminta maaf. Dan berterima kasih. Kami tidak akan menyia-nyiakan apa yang kami ambil.

“Jadi kau benar-benar orang beriman, ya?” kata half-elf itu, dengan perlahan mengangkat bahunya. “Bbaiklah, sesuai perjanjian, satu bahu untukmu.” Dia dengan terampil memasukan parangnya ke sendi-daging yang dulunya adalah babi hutan dan mengirisnya hanya di bagian bahunya. “Dan ini bagianmy.”

“Baik.”

Dengan kapak yang basah karena darah dan parang pendek di tangan kami, kami bertukar senyum mengapresiasi masing-masing pekerjaan kami. “Sepertinya kita harus mengolah bagian hatinya cepat-cepat. Rasanya akan tidak enak bila dibiarkan lama-lama.”

“Ah, aku akan ambil panci.”

Hati segar itu enak.

Kami berkerja dalam cuaca yang menusuk, air sungai di musim dingin, jadi tangan kami sudah mati rasa. Setelah half-elf berambut perak itu mengumpulkan bakar, aku mencampurkannya bersama-sama dengan ranting kering dan melantunkan Flammo Ignis untuk membakarnya. Kupikir sebaiknya aku menjaga rahasia kalau aku bisa menggunakan sihir untuk sekarang. Bukan berarti aku tidak bisa mempercayai orang ini… meskipun kemungkinan itu masih ada. Aku hanya tidak cukup tahu tentang kehidupan sosial di zaman ini. Sihir mungkin bisa diterima di zaman Gus, tapi aku tidak tahu bagaimana tanggapan masyarakat sekarang.

“Brrr…Ya Tuhan, ini dingin sekali.” Aku melepaskan sepatu boot-ku dan menghangatkan tangan dan kakiku di samping api unggun.

Setelah beberapa saat, half-elf itu kembali. “Dingin,” katanya, melemparkan beberapa kayu bakar ke api. Kemudian dia duduk di sebelahku. Kami tersenyum satu sama lain.

“Baiklah, inilah yang kita tunggu-tunggu,” kataku.

“Ya.”

Aku meletakkan panci di atas api dan memasukkan beberapa lemak babi. Setelah cukup menutupi bagian bawah panci, aku memasukan potongan-potongan hati yang sudah kuiris, kemudian menggosok batu garam dan menaburkannya. Suara menderis yang dibarengi wangi lezat daging yang sedang dimasak bisa kami saksikan.

Aku menutup mata dan mengatupkan tanganku bersama-sama. “Mater sang Ibu-Bumi kami, dewa-dewa kebajikan, berkahilah makanan ini, yang dengan kasih engkau akan kami terima, dan jadikanlah makanan ini agar menopang tubuh dan pikiran kami.”

“Njirr, kau beneran fanatik agama ternyata.” Half-elf berambut perak itu menatapku tidak percaya. Sepertinya dia adalah termasuk orang yang tidak mempercayai hal-hal semacam ini.

Namun jika memikirkan ini secara logika, aku orang yang memiliki ingatan kehidupanku sebelumnya. Bukankah lebih masuk akal jika aku orang yang tidak sabaran menunggu makan, dan dia yang lebih religius? Meskipun di tengah-tengah doa, aku terkesan betapa terbaiknya perasaan ini.

“Atas rahmat para dewa, kami sangat bersyukur.”

“Hebat. Sekarang mari makan.”

Dia mungkin cukup sabar, setidaknya dia tidak kurang ajar dengan mengabaikan doaku dan makan sebelum aku.

Setelah aku selesai berdoa, kami mengambil pisau masing-masing yang telah dicuci dan dibersihkan, menusukannya ke sepotong hati yang dimasak di panci, lalu menariknya. Dengan uap yang masih mengepul, aku memasukannya ke dalam mulutku.

Ini panas. Dan sangat lezat. Rasa yang kuat dari hati yang hanya ditambahkan taburan garam mengisi mulutku. Tuhan, ini enak sekali. Andai saja aku punya bir dingin juga.

Bahkan kerutan di dahi hal-elf berambut perak itu telah mengendur sekarang. Makanan yang disantap setelah kerja keras memang yang terbaik.

Tanpa sadar, matahari audah mulai terbenam.

“Huh? Kau ingin tahu….jalan? Apa?”

Setelah menyelesaikan makan kami, aku bertanya padanya tentang jalan, dia menatapku dengan heran, seperti yang kuduga.

Saat itulah kutahu keputusan tepat menanyakan ini hingga akhir. Pertanyaan yang sedikit berbahaya. Yang akan mengundang jawaban sulit. Seperti–

“Serius, sebenarnya dari mana asalmu? Aku tidak pernah melihatmu di sekitar sini.”

“Yah, itu… sulit dijelaskan. Aku tidak yakin harus berkata apa.”

Jika aku 100% jujur padanya dan bilang, “Aku dibesarkan oleh para undead di kota reruntuhan, bertarung melawan dewa undeath, dan sekarang memulai perjalanan,” dia mungkin akan menganggapnya cerita gila yang mana tidak mungkin baginya untuk percaya.

Tidak memiliki cara untuk membuktikan siapa dirimu membuat semuanya semakin sulit, tidak peduli di masyarakat manapun. Manusia tidak bisa membuktikan bahwa diri mereka tidak berbahaya; mereka hanya bisa meminta orang lain untuk menjaminnya. Di kehidupanku sebelumnya, yang memiliki sistem kependudukan seperti kartu keluarga dan KTP, dan di dunia ini, yang sepertinya berhubungan dengan kerabat dan komunitas lokal. Tidak memiliki itu sama saja dengan menyatakan pada dunia bahwa aku mungkin saja orang yang berbahaya. Namun seorang penyihir yang menggunakan Words akan sulit untuk berbohong…Jadi untuk saat ini, aku memutuskan menggunakan jawaban yang bias agar tidak dianggap bohong juga.

“Aku datang dari selatan, bagaimana dengan itu?”

“Selatan? Kawan, tidak ada ‘selatan’. Tempat ini adalah selatan yang bisa kita capai.

“Apa maksudmu tidak ada selatan?”

“Tempat ini adalah titik paling selatan. Benteng umat manusia. Saat ini kita berada di Beast Wood, daerah Soutmark.”

Beast Woods. Sungguh nama yang cukup mengintimidasi. Mungkin terdapat hewan-hewan ganas disini. Babi hutan itu jelas termasuk salah satunya. Aku harus lebih berhati-hati.

Omong-omong, bagaimana aku harus menjelaskan ini? Aku sama sekali tidak tahu.

“Aku memang datang dari selatan. Ini rumit….”

“Oh…apa kau…? Orang-orang penjelajah itu, kau seorang pemburu reruntuhan?”

Seorang pemburu reruntuhan… Sekarang kalau dipikir-pikir, ada banyak reruntuhan yang tersebar di sepanjang jalan yang berasal dari zaman Blood dan Mary. Mungkinkah menjelajahi tempat-tempat seperti itu adalah pekerjaan bagai sebagian orang? Jika memang begitu, situasiku sendiri tidak jauh berbeda. Bagaimanapun juga, aku bertahan hidup dengan apa yang bisa kuperolah dari kota reruntuhan itu.

“Ya, semacam itu…”

“Apa kau tersesat?”

“Umm, kurasa….. semacam itu..” Jawabku, tersengat agak tidak yakin.

“Oh, kawan.” Half-elf berambut perak itu menghela nafas lemas. “Kau petualang paling pikun yang pernah kutemui. Eh… terserahlah. Kau cukup ikuti aliran sungai ini sampai ke hilir. Sekitar dua hari kau akan menemukan sebuah kota kecil disana. Semoga beruntung.” Nada suara dalam dua kata terakhirnya jelas sebuah peringatan. Sepertinya niat baik yang kusemai dengan bekerja bersamanya dengan cepat menghilang berkat setiap percakapan mencurigakan yang kumulai.

“U-Um, aku paham tidak masuk akal meminta ini,” aku mulai ragu-ragu, “tapi apakah boleh aku singgah ke tempatmu…..”

Sorot matanya tiba-tiba berubah tajam. Menghela nafas panjang, dia kemudian mengacungkan belatinya ke arahku.

“Aku tidak ingin terlibat dengan orang sepertimu. Jangan buat aku mengejanya.”

“Aku minta maaf..”

Aku tidak bisa berdebat. Dia sangat benar, dan aku tahu itu. Jika aku berada dalam posisinya, aku juga tidak ingin terlibat dengan orang mencurigakan sepertiku. Aku adalah orang bersenjata tanpa identitas dan asal-usul yang jelas. Ada memangnya yang akan mengajak orang seperti itu ke pemukiman mereka?

“Jadi jangan ikuti aku.”

Kuperhatikan matahari sudah hampir terbenam, dan semakin gelap

Dia berdiri dan memikul babi rusa itu di punggungnya. Dia memiliki tubuh yang ramping, tapi sepertinya dia lebih tangguh dari kelihatannya.

“Ah–Apa kau baik-baik saja tanpa penerangan?”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, terimakasih.”

Dia menggumamkan sesuatu, dan sesuatu menyerupai bola cahaya melayang dari kedalaman hutan ke arahnya.

“Apa itu–”

“Itu peri–”

“Aku belum pernah melihat satu pun sebelumnya.”

Peri dan elemental adalah fae yang lebih rendah: mahluk dengan eksistensi lemah yang merupakan mediator alam. Ada teknik agar bisa berkomunikasi dengan mereka, dan pada saat yang sama, memanfaatkan mereka. Mereka yang bisa memanipulasi teknik-teknik mistis itu dijuluki sebagai elementalists.

Para elf, yang merupakan minion dari dewa fae, Rhea Silvia, dikatakan memiliki afinitas kuat dengan minion fae lain. Jelas bahwa half-elf ini pun tidak terkecuali.

Aku ingat pernah membaca di salah satu buku Gus bahwa esensi elementalisme adalah sensitif terhadap empati dan menerima kesamaran dan ketidaktetapan. Itu adalah cabang lain dari mistis, yang terpisah dari “sihir”– atau kekuatan Words, dengan memfokuskan pada teori, pengetahuan, memori, dan repetisi– dan berbeda dari “doa”, yang meminta perlindungan dan berkah surgawi yang berlandaskan keyakinan agama dan disiplin.

“Selamat tinggal,” katanya singkat, dan berjalan lamban dengan babi hutan di punggungnya.

Itu adalah satu-satunya percakapan yang kupunya dengan orang lain selama sepuluh hari ini. Mungkin itulah kenapa aku merasakan dorongan aneh untuk tidak membiarkan dirinya pergi. Tahu-tahu, aku memanggilnya saat ia pergi.

“Aku Wi! William G. Marybloid! Kau?”

Ada jeda sebelum dia menjawab. “Menel. Meneldor. Aku ragu kita akan bertemu lagi, sih.” Katanya, berjalan pergi. “Berusahalah agar tidak mati selama perjalanan.”

Dengan babi hutan yang sudah dikuliti di punggungnya, dia berjalan pergi, tanah di sekitarnya diterangi dengan cahaya peri. Aku menyaksikannya berlalu tanpa niat mengikutinya.

Waspada terhadap mahluk yang mungkin saja terpancing oleh bau darah, aku menjauh dari tempat dimana kami menguliti babi liar itu. Aku membuat api unggun baru dan menggunakan tali untuk mengikat terpal diantara pepohonan untuk membuat tenda sementara. Aku menuliskan Sign yang akan bertindak sebagai alarm peringatan di berbagai tempat, dan melantunkan Word untuk mengusir serangga dan mahluk-mahluk mengganggu lainnya. Terakhir, aku membaringkan selimutku dan pergi tidur. Bahu babi hutan yang kudapat hari ini akan kujadikan sarapan besok.

Aku sudah melakukan percakapan dengan orang hidup yang sebenarnya. Ternyata ini benar-benar berlangsung dengan baik. Kekhawatiranku tidak terbukti.

Menel. Meneldor. Sepertinya aku ingat arti nama itu “seekor elang yang terbang sangat cepat” dalam bahasa Elf. Dia sedikit kasar, tapi menyenangkan saat bicara dengannya.

Dia bilang kita mungkin tidak akan bertemu lagi. Menutup mataku, aku berharap kita bisa bertemu lagi.

Di tengah malam, aku mendengar suara.

“Prithee, O flame.”

Aku setengah terjaga.

…..itu adalah seorang wanita dengan rambut hitam dan tudung yang menutupi matanya

“Saat kau bepergian–”

Tanpa menahan diri, dia mengungkapkan keinginannya:

“Prithee, bawalah cahaya ke kegelapan yang jauh.”

Dan kemudian, seperti sambaran petir, berbagai penglihatan memasuki pikirkanku, dijejalkan ke dalam kepalaku.

Senjata. Jeritan. Kekacauan. Darah. Darah. Tubuh. Tubuh. Dan, half-elf berambut perak.

Aku menghirup nafas tajam.

“Lumen!!!”

Setelah aku merapalkan cahaya ke ujung tombak Pale Moon, aku cepat-cepat menyiapkan perlengkapanku dan bergegas menuju ke kedalaman hutan.

Aku terus bergerak, langkahku dipercepat dengan sihir. Sialnya aku tidak bisa lebih cepat lagi dari ini. Penglihatan itu menunjukkanku sebuah tragedi, dan Menel adalah orang yang akan menjadi korban.

Aku menggertakkan gigiku.

Aku sudah menduganya, tapi sekarang ini benar-benar kejadian: zaman dimana aku hidup adalah tempat yang sangat berbahaya. Orang yang kutemui hari ini bisa saja menjadi mayat besok. Gila…

Aku memeriksa sekitar. Tidak ada apapun kecuali kegelapan hutan. Musim dingin membuat rumput tidak tumbuh terlalu tinggi, setidaknya, tapi aku ragu bisa mencapai desa Menel di kegelapan ini hanya dengan maju secara membabi buta. Aku punya pilihan dengan mengikuti jejak kaki Menel, tapi jika begitu aku harus melakukannya dengan teliti, dan aku tidak tahu apakah masih sempat. Belum lagi Menel mungkin juga menutupi jejaknya. Bagaimanapun juga, dia waspada terhadapku, dan dia adalah seorang pemburu profesional. Jika dia benar-benar serius menyembunyikan jejaknya dariku, aku tidak bisa berbuat apapun.

Aku melantunkan Word dengan rentetan yang cepat. Itu adalah Words of Searching (Mantra Pencarian), yang gunanya untuk mendeteksi sesuatu.

“Itu jalannya…!”

Ini adalah sihir sederhana yang memperkirakan arah mata angin, tapi jauh lebih daripada tidak sama sekali.

Aku sudah benar-benar ceroboh.

Memegang perisai ke depan, aku secara paksa menerobos hutan belantara, melompat menuruni lereng yang curam, dan melantunkan Feather Fall untuk melembutkan pendaratanku. Aku terus melaju ke depan, menggunakan berbagai macam teknik yang orang normal akan terperangah jika mereka melihatku di hutan.

Fakta bahwa ada sebuah pemukiman berarti ada cukup ruang terbuka di sana. Sesekali berhenti untuk merasakan arah menggunakan Words of Searching, aku kembali berlari.

Tiba-tiba, disana. Aku bisa melihat tanah terbuka di luar hutan. Ada ladang dengan deretan parit, dan di sebelah luarnya, menembus kegelapan malam, aku bisa melihat, aku bisa melihat rumah-rumah yang dikelilingi oleh pagar kayu. Sepertinya tidak asa apapun yang terjadi.

“Apakah aku….sudah terlambat….?”

Tidak, masih ada peluang, alasannya masuk akal, tragedi itu baru saja terjadi. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya dalam penglihatanku. Itu bisa saja iblis, goblin, mahluk undead, atau hewan buas…jika aku mendekat tidak hati-hati, kemungkinan aku akan menerima serangan sebelum aku siap.

Aku melantunkan Word dan memadamkan cahaya pada ujung tombak Pale Moon. Hal pertama yang harus dilakukan adalah: mengintai. Aku putuskan terus membuka telingaku dan mendekat secara hati-hati. Merendahkan postur tubuhku di atas tanah, aku keluar hutan dan mendekati ladang. Kemudian, aku mendengar seseorang bencengkrama.

“Sepertinya aku melihat sesuatu bersinar di dalam hutan.”

“Kau yakin?”

Ada dua lentera, dan mereka semakin mendekat. Yang memegangnya adakah dua orang pria, satunya berusia paruh baya sedangkan satunya lagi seorang remaja. Keduanya mengenakan jubah lapis bulu di atas tunik dan membawa sebuah pemukul di tangan mereka. Yang terlintas di kepalaku mereka kemungkinan adalah petugas patroli malam desa. Setidaknya, mereka tidak terlihat dalam keputusasaan tanda bahwa bencana seperti itu benar-benar terjadi.

Sepertinya penglihatan itu sama-sekali tidak benar. Terima kasih tuhan.

“Hm?”

Saat aku mulai lega, pria tertua dari kedua orang itu menangkap sosokku dengan lentera yang dipegangnya. Aku tersenyum canggung dan mulai berjalan ke arah mereka. Kupikir jika aku memperkenalkan diriku sebagai kenalan Menel, mereka mungkin tidak akan berbuat kasar padaku.

Saat keduanya nyaris membuka mulut untuk bicara, aku menerjang ke depan dan mengayunkan tombakku.

“Apa–?!”

“Hyeeek!”

Terdengar suara dentuman baja yang saling bersilangan. Aku melangkah ke depan lagi dan mengayunkan tombakku ke samping tanpa kehilangan ritme. Terdengar suara dentuman logam sekali lagi.

“Tetap di belakangku!” Aku berdiri di depan keduanya untuk melindungi mereka, memblokir apapun yang terbang ke arah kami.

Para penyerang itu…! Jika mereka menggunakan senjata proyektil, maka mereka bukanlah hewan buas. Kemungkinan tersisa adalah iblis, goblin, dan undead. Aku dengan segera memfokuskan mataku terhadap benda apa yang jatuh, berharap bisa mengetahui indentitas lawanku.

Itu adalah anak panah dengan bulu berwarna putih.

Pikiranku membeku. Tak berselang lama, terdengar sebuah suara. Itu adalah dentingan tali busur!! Aku mengangkat perisaiku dan memblokir kembali anak panah yang mengincar kami.

Panah yang datang dari depan kami pada dasarnya sebuah titik. Sangat sulit menangkis mereka dengan tombakku. Selagi melindungi bagian yang paling rentan di tubuhku, aku memperluas sihir cahayaku dan melihat ke arah mereka.

Pada ujung bidang pandangku…. memicingkan matanya dengan wajah serius… adalah half-elf berambut perak dengan sebuah anak panah yang terkait di tangannya.

Di sebelahnya berdiri sepuluh orang lebih dengan pakaian yang sedikit kotor, dipersenjatai dengan pemukul sederhana dan tombak. Tidak diragukan lagi.

“Menel…”

“Menel…”

Pemukiman Menel? Sebuah bencana yang akan menimpanya? Aku harus bergegas menyelamatkannya? Betapa bodohnya aku…

Menel–Meneldor bukanlah korban dari tragedi yang aku saksikan.

Dia adalah pelakunya.

Otaku tidak bisa memahaminya. Kenapa Menel
..Kita telah tertawa bersama dan saling bertukar senyum, bukan…?

“Pergi. Amankan desanya,” Menel memberikan perintah. “Akan kuurus yang satu ini.”

Orang-orang di sekitarnya mulai menyebar.

“Tungg–” Aku mencoba bergerak untuk menghentikan mereka, saat itulah panah lain terbang ke arahku. Jika aku menghindarinya, tentu itu akan mengenai dua orang di belakangku. Aku menangkisnya dengan perisaiku.

“Kubilang jangan mengikutiku…Serius, kawan…” Beberapa jenis emosi terpancar dari mata Menel, namun segera menghilang dengan cepat. “Mati.”

Teknik yang kulihat selanjutnya sangat luar biasa. Dia menembakkan tiga anak panah–yang mengincar wajahku, tanganku, dan kepalaku–sekaligus dalam sekali serangan.

Pikiranku masih kacau, tapi tubuhku, yang dilatih oleh Blood, bereaksi dengan serangan Menel yang luar biasa dengan teliti. Selagi menggunakan perisaiku untuk menangkis anak panah yang mengincar tangan dan wajahku, aku menarik kakiku ke belakang dan membalikkan tubuhku ke arah samping, menghindari anak panah yang terakhir.

Terengah-engah tanpa kata dari dua orang di belakangku mulai berubah menjadi teriakan. Mereka akhirnya mulai memahami situsinya. “Semuanya! Bangun! Bangun!”

“KITA DISERANG!! Ambil senjata!!! Sembunyikan wanita dan anak-anak!”

“Cih!” Teriakan-teriakan itu sepertinya menempatkan dirinya dalam tekanan, Menel menembakkan panahnya lagi ke arahku. Masing-masing sangat brutal dan akurat. Aku yakin jika aku tidak memiliki perisai ini, sudah beberapa anak panah yang tertancap di tubuhku. Dan memikirkan aku pernah mempertimbangkan tidak membawanya sama sekali; ternyata, benda ini menyelamatkan hidupku.

Saat aku maju sambil mempertahankan pertahananku, Menel mundur, menjaga jarak antara kami.

Jika ini adalah jarak yang ideal baginya, maka…aku akan menutup jarak itu!

“Acceleratio!” Sebuah ledakan kecepatan–

“”Gnomes, gnomes, slip underfoot!”” Menel berteriak hampir pada saat yang bersamaan. Tanah tiba-tiba menggeliat, mencoba mengambil kakiku.

Sepertinya ini adalah Slip, sebuah mantra yang dibuat menggunakan gnomen, elemental jenis tanah. Aku masih berakselerasi; jika kakiku tertangkap, momentumnya akan membuat kakiku patah.

Aku bisa melihat Menel tersenyum puas. Dia menggunakan kekuatan elemental pada saat yang benar-benar sempurna, dan aku tidak punya strategi untuk mengatasi hal semacam ini. Dan karena aku tidak punya strategi–

“SSEHHH—HNG!!” Aku menghentakkan kakiku kuat-kuat. Terdengar suara gemuruh. Tanah berguncang dengam kuat, dan para gnome menghentikan pekerjaan mereka seolah ketakutan sampai terdiam.

“Apa?!” Menel terperangah ke arahku. Begitu pun dengan orang-orang yang berusaha menyerang desa. Bahkan para penduduk yang keluar dari rumah mereka sambil membawa senjata, semuanya menatapku terbelalak.

Mereka jelas tidak sadar–bahwa bila kau mempunyai otot, kau bisa menyelesaikan semuanya dengan kekuatan!!!

“Sialan!” Menel mundur lebih jauh, dia mengumpat.

Setelah menembakkan anak panah ke arahku dengan gerakan cepat, dia menggantungkan busur panahnya di bahunya dan mulai melemparkan pisau ke arahku. Pisau-pisau itu menerjang ke arahku secara melengkung–mungkin dia punya cara khsusus untuk melemparnya, atau pisaunya sendiri memiliki beberapa trik dalam desainnya–melengkung ke arahku dari sisi kanan dan kiri. Satu sisi berhasil kuhindari dengan membalikan tubuhku; sisi yang satunya lagi, aku menangkisnya dengan perisaiku. Aku menekannya lebih dekat. Perisai benar-benar sangat beguna. Aku senang karena membawanya.

Menel tampak seperti akhirnya pasrah berhadapan denganku. Dia memegang kapaknya bersiap untuk menyerang, dan kemudian–

“Salamander! Hanguskan dia!””

Dari belakang, Nafas Api menerjang ke arahku dari lentara yang dibawa oleh pria paruh baya di belakangku. Tanpa berbalik, aku menjulurkan tombakku dan menusukannya ke api itu, membuyarkan mereka.

Aku sudah cukup banyak melihatnya.

“Tidak mungkin.” Menel tampak terpana.

Tipuannya terlalu jelas jika dibandingkan milik dewa undeath dan trik yang Blood dan Gus lancarkan padaku ketika mereka benar-benar serius.

Saat Menel berdiri di sana, aku menutup jarak.

“Kau benar-benar kuat …” katanya, dengan senyum pahit di wajahnya.

Aku membanting gagang tombakku ke ulu hatinya.

Aku bisa mendengar udara dipaksa keluar dari paru-parunya, dan dia jatuh berlutut. Dadanya terasa sesak dan ia tidak bisa mengendalikan nafasnya. Dia tidak akan bisa bergerak untuk sementara. Pada saat yang sama, aku melantunkan Word of Web-making (membuat jaring) untuk menjeratnya.

Aku melihat ke arah desa. Tidak ada pertempuran; semuanya hanya menyaksikan pertarungan kami dengan takjub. Aku sangat beruntung.

Kuputuskan menangkap penyerang sisanya sebelum seseorang terluka.

Hasilnya: Tidak ada seorang pun yang mati.

Setelah melumpuhkan Menel, aku berhasil mengatasi kesepuluh orang itu cukup mudah menggunakan Words of Sleep dan Paralysis. Dengan begini, penyerangan yang mengerikan berhasil dihindari, dan meskipun ada beberapa orang yang terluka, aku tidak punya kesulitan menyembuhkan mereka menggunakan doa.

Karena kejadian ini, aku menerima banyak terimakasih dari orang-orang desa sebagai “seorang warrior baik hati yang kebetulan lewat”–namun ketika matahari mulai terbit di alun-alun desa, wajahku hanya menunjukan ketidaksenangan.

Di tengah alun-alun desa adalah sesuatu seperti kuil kecil, dimana tumpukan batu yang tidak teratur diletakkan disana. Itu adalah kuil yang didedikasikan untuk dewa-dewa kebajikan. Aku bisa bayangkan kuil tersebut dibuat menggunakan batu-batu yang digali saat mengelola ladang dan tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadapnya. Dalam hal ini, itu mungkin juga bisa dianggap monumen dalam usaha pertanian mereka.

Jika adat ini sama dengan apa yang Gus telah ajarkan padaku, maka diskusi penting sering diadakan di depan para dewa untuk pemukiman-pemukiman kecil seperti ini, terkadang sambil membuat sumpah untuk mereka. Bahkan di duniaku sebelumnya, ada banyak daerah yang mengadakan pertemuan dan diskusi penting di depan dewa mereka. Di dunia ini, bagaimanapun juga, dimana dewa bisa menggunakan pengaruhnya secara nyata, adat ini memberikan kesan yang lebih signifikan.

Pada saat ini, di tengah alun-alun dengan kuilnya, orang-orang desa sedang berdebat tentang apa yang harus dilakukan terhadap penyerang-penyerang itu, yang saat ini sudah tidak sadarkan diri dan diikat.

“Untuk kesekian kalinya–”

“Gantung para bajingan itu! Diskusi selesai!”

“Tunggu dulu–Hey! Kubilang tunggu dulu–”

“Mereka tiba-tiba datang dan menyerang kita!”

“Dengar, bukan itu yang penting saat ini!”

Sungguh kacau. Sebenarnya, ini terlihat seperti orang-orang hanya berteriak satu sama lain.

Ini mengerikan.

Untuk sesaat, aku bertanya-tanya kenapa mereka bersikap seperti itu–dan kemudian aku tiba-tiba menyadari sesuatu tentang orang-orang desa itu. Mereka memiliki warna kulit yang tidak sama, masih-masing dari mereka mempunyai aksen yang berbeda, dan dalam kemarahan mereka, beberapa ada yang meneriakan kata makian yang tidak pernah kudengar sebelumnya.

Saat aku menyaksikan ini dengan keterkejutan, seorang pria paruh baya mendekatiku.

“Kami mohon maaf, tuan, atas pemandangan tidak menyenangkan ini. Dan terima kasih atas bantuannya, kami sangat bersyukur.” Dia membungkukkan kepalanya ke arahku. Aku kemudian sadar bahwa dia adalah orang yang sama yang kutemui sebelumnya, salah satu dari dua orang yang diserang pada penyerangan pertama Menel. “Nama saya John, tuan.”

“Ah, sama-sama. Um…namaku William. Uhh….jadi…” Mengabaikan orang-orang yang saling meneriaki, untuk saat ini, aku mencoba mendapatkan informasi yang lebih jelas melalui John.

Seperti yang kudengar dari Menel kemarin, aku saat ini berada di Beast Woods, Soutmark. Hutan yang gelap dan luas, dengan mahluk-mahluk ganas dan bahkan “hewan buas” yang lebih berbahaya merajalela. Akibatnya, John menjelaskan, pengaruh Fertile Kingdom yang menguasai area itu bahkan tidak mencapai tempat ini.

“Sejujurnya kami memiliki banyak karakter disini, bila harus kukatakan, ini desa yang majemuk…”

Kriminal, budak yang melarikan diri, mereka yang mengungsi kemari dari negara-negara yang hancur, para petualang yang singgah untuk berburu reruntuhan–semua jenis orang yang, untuk beberapa alasan atau keadaan khusus lainnya, tidak bisa tinggal di kota dan dengan sendirinya berkumpul membangun desa ini. Rupanya, ada banyak pemukiman seperti ini di sekitar hutan.

Maka dari itu, tempat asal para pemukim, norma-norma mereka, dan persepsi mereka mengenai hukum semuanya bervariasi. Tidak heran jika mereka seperti ini jika mencoba mengadakan pertemuan. Aku bersimpati dengan situasi sulit mereka, tapi pada saat yang sama–

“Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada mereka.” Aku menatap Menel. Dia telah dijerat menggunakan Words of Web-making (membuat jaring) dan Paralisis dan membiarkannya berbaring di tanah; aku tidak bisa melihat ekspresinya dari tempat aku berdiri.

Jika kau membentuk sebuah grup dan menyerang sebuah desa di daerah yang tidak tersentuh hukum, kemudian gagal dan tertangkap…aku bisa perkirakan nasib apa yang akan menanti mereka.

Menel akan dibunuh orang-orang desa lalu menggantungnya di alun-alun… sesuatu seperti itu, kurasa.

Ini membuatku tidak nyaman. Kusadar bahwa aku bersikap terlalu lembut, mungkin juga salah satu pengaruh kehidupanku sebelumnya, namun ada sesuatu yang membuat ini agak sulit kuterima.

Alasan egois seperti ini, gagasan bahwa orang-orang yang kutangkap akan mati–yang berarti juga, secara tidak langsung aku yang membunuh mereka–bukanlah sesuatu yang ingin kualami, aku juga tidak ingin bila orang-orang desa yang brutal menjadi pengalaman pertama yang kusaksikan saat memasuki peradaban. Selanjutnya, meskipun dia adalah seorang bandit, aku merasa tidak nyaman jika menyaksikan seseorang yang kukenal, seseorang yang pernah mengobrol denganku, mati di depan mataku dalam keadaan tak sadarkan diri.

Maksudku, setelah meninggalkan kota retuntuhan itu, aku tahu bahwa aku akan memasuki daerah yang tidak terjamah hukum, aku sudah mempersiapkan diri jika hal semacam itu akan terjadi, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini.

Bertarung melawan bandit adalah cerita petualangan klasik, tapi sekarang aku mengalaminya sendiri di dunia nyata, sekarang aku sadar betapa sulitnya berurusan dengan mereka. Kau tidak bisa menghajar mereka begitu saja dan tidak mengharapkan masalah kedepannya. Saat aku bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan–

“Takutnya, aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka.”

“Kau tidak tahu?” Aku memiringkan kepalaku. Dalam situasi seperti ini, aku sudah memperkirakan entah solusi apapun yang akan mereka putuskan, tidak akan jauh-jauh dari membunuh para penyerang itu.

“Wajah mereka tidak asing, kau tahu. Mereka adalah tetangga kami dari desa sebelah. Ah, meskipun kubilang tetangga, mereka tidak langsung berbatasan dengan kami. Membutuhkan waktu seharian untuk berjalan menembus hutan dan menyebrangi sungai.”

“Huh?”

Desa tetangga yang menyerang mereka? Di tengah-tengah musim dingin? Tanpa peringatan?

“Mereka tidaklah kaya, begitupun dengan kami, tapi mereka memiliki cukup persediaan, sejauh yang kutahu sih…bisa kukatakan mereka adalah orang yang tepat untuk tinggal di hutan ini, dan kupikir kami tidak punya masalah sampai sekarang.”

Hmmm. Itu terdengar misterius.

“Terlebih lagi, half-elf berambut perak itu, mempunyai reputasi bagus diantara desa-desa tetangga sebagai pemburu terkenal. Dia sudah banyak membantu kami membunuh hewan-hewan buas yang berbahaya. Beberapa dari kami bahkan berhutang nyawa padanya. Aku sama sekali tidak paham.”

Sekarang aku mulai mengerti asal keragu-raguan John dan hanya bisa mengangguk menyaksikan berbagai teriakan orang-orang yang mengadakan pertemuan.

“Bagus, bagus,” seorang pria tua bicara, bertepuk tangan keras-keras. “Aku yakin kalian sudah lelah berdebat. Kenapa kita tidak minum dulu sebentar?”

Semua orang memang tampak beteriak serak saat ini. Pria tua itu sepertinya sudah menunggu momen sempurna seperti ini untuk bergabung dalam pertemuan.

Posturnya pendek, dengan rambut yang hampir seluruhnya berwarna putih, dan dia menggunakan tongkat. Dia tampak ramah, namun kesan di matanya memberitahuku bahwa pria tua itu patut diwaspadai. Ada bekas luka kecil di sebelah kiri alisnya yang sangat khas. Kemungkinan itu adalah luka lama.

“Pria itu itu adalah Tom,” John memberitahuku. “Dia adalah tetua desa.”

Selagi kendi air mulai di dibagikan, Tom mulai bicara. “Baiklah. Kalian tidak perlu berhenti minum, tapi kuharap kalian bisa dengarkan apa yang kukatakan sebentar. Pertama-tama, hanya memastikan: Orang-orang yang berbaring disana berasal dari desa sebelah, bukan? Dan lalu, ada juga pemburu berambut perak itu.”

Pidato tetua itu begitu lancar seolah menarikku ke dalamnya. Karena dia telah menghitung waktu ketika para penduduk lelah berbicara dan sekarang sedang minum dan mengambil nafas, orang-orang yang sebelumnya berteriak keras sama sekali tidak ada yang menyelanya. Dia cerdas, kupikir.

“John, aku yakin kau melihat orang-orang itu bergegas ke desa kita semalam, sambil membawa senjata. Apa itu benar?”

Mata semua orang tertuju pada John, yang duduk agak jauh dari orang-orang yang mengadakan pertemuan itu.

“Aku memang melihatnya, Tetua,” Dia menjawab dengan tenang, mengangguk. “Dan aku diselamatkan oleh warrior suci ini.”

“Mm. Izinkan aku mengungkapkan terimakasihku.”

“Tidak perlu,” kataku. “Ini, uh… semua ini berkat bimbingan dari dewa kobaran api.”

“Kalau begitu aku harus mengungkapkan rasa terimakasihku pada dewa itu juga,” balas Tom. Berbalik ke arah kuil, membungkuk ke arahnya dan tersenyum. Ekspresinya sedikit mengingatkanku pada Gus.

Dia secara singkat memberiku tatapan penuh arti, dan selagi aku bertanya-tanya apa maksudnya itu, dia melanjutkan. “Baiklah, coba kita lihat. Untuk saat ini, bisakah kami berasumsi selagi kami mendiskusikan ini, kau akan melindungi kami jika sesuatu terjadi?”

“Hmmm…”

Sepertinya Tom ingin pembicaraan ini mengarah pada mendapatkan penjelasan dari para bandit itu. Dia menyinggung apakah aman jika membangunkan mereka dengan aku yang melindungi jika mereka berniat melakukan kekerasan lagi. Aku berfikir sejenak kemudian membalas, “Demi api Gracefeel, aku akan melindungi semua orang disini.”

Alasan aku menjawabnya bias karena takutnya desa ini memang punya alasan bagus untuk diserang. Tergantung keadaan, aku juga mungkin harus melindungi para penyerang itu.

“Kalau begitu kami akan aman sekalipun mereka mengincar kami lagi,” kata Tom, tersenyum ringan. Sepertinya dia sudah memahami niatku. “Semuanya, kupikir kita harus mulai dengan membangunkan mereka dan mengajukan beberapa pertanyaan. Bagaimana menurut kalian?”

Salah satu penduduk desa yang sedang menenggak air menghabiskan minumannya dengan napas puas. “Tetua”, katanya, “Bukan ide bagus memberikan orang-orang yang akan digantung kesempatan bicara. Kau akan mulai merasa bersalah dan kemudian ragu untuk melakukannya. Hal seperti ini harusnya dilakukan dengan cepat.”

Aku bisa melihat beberapa orang setuju.

Orang-orang itu mungkin sudah terbiasa dengan hal-hal kejam seperti ini. Fakta bahwa mereka cukup mengenal para penyerang itu kemungkinan ada hubungannya juga.

“Aku yakin kalian setuju sangat berbahaya jika kita tidak mengetahui faktanya, bukan? Selain itu, bukan hal baik jika membuat warrior suci yang menolong kita berpikir berpikir bahwa kita menyembunyikan sesuatu.” Tom sepertinya berhasil merangkul orang-orang desa agar berada disisinya. Dia kemudian melihat ke arahku.

Aku balas mengangguk.

Menel mungkin saja memiliki kepribadian yang kasar, tapi dia tidak seperti orang yang menikmati membunuh dan merampok barang orang lain bagiku, sepertinya orang-orang di desa ini juga tidak tahu alasan kenapa mereka harus diserang.

Apa yang sebenarnya terjadi disini? Apa alasan orang-orang itu menyerang tetangga mereka sendiri?

Selagi memikirkan misteri ini, aku menghampiri setiap orang dan membatalkan Wordnya.

Setelah melepaskan ikatan orang-orang itu dan menuntut penjelasan dari mereka, situasi tumbuh semakin mengerikan dibandingkan sebelumnya.

“Iblis. Desa kami diserang oleh iblis….”

“Banyak orang yang mati.”

“Mereka membawa hewan-hewan buas yang belum pernah kulihat sebelumnya…”

Untuk meringkas apa yang mereka jelaskan pada kami: Desa mereka, yang jaraknya sekitar sehari dari sini, sepertinya dihancurkan oleh serangan iblis dan hewan-hewan buas yang dibawa oleh mereka. Sekitar setengah penduduk desa telah meninggal, beberapa bangunan telah hangus dilalap api, dan mereka yang cukup beruntung bisa bertahan hidup tidak punya tempat untuk pergi. Dengan wanita, anak-anak, dan orang terluka yang harus dilindungi, mereka hanya menunggu kematian dalam pahitnya musim dingin, tanpa makanan, tempat benaung, dan harta satu pun.

Begitulah situasi mereka sampai akhirnya–

“Akulah orang yang menyarankan penjarahan,” kata Menel dengan suara rendah, kepalanya menunduk. “Mereka tidak punya peluang menghadapi iblis yang diperkuat hewan-hewan buas. Mereka hanya bisa tergeletak dan mati, aku memberi saran mereka harus menjarah tempat terdekat, mengisi perut mereka, dan pergi ke suatu tempat.”

Rupanya, Menel kebetulan melewati desa ini saat ia membuntuti babi hutan dan dengan cepat memahami situasi desa. Kemudian dia memburu babi itu untuk memenuhi kebutuhan darurat mereka dan kembali dengan daging saat mereka kedinginan di hutan. Saat itulah ia menyarankan melakukan penjarahan, dan mengumpulkan para pria untuk melancarkan penyerangan malam.

Dari sudut pandang mereka, desa ini sepertinya tidak bisa banyak menampung pengungsi, dan sekalipun mereka meminta bantuan pada penduduk, hanya penolakan yang akan menanti mereka. Jika desa khawatir bahwa mereka akan menjadi pencuri, kemungkinan mereka diserang juga ada. Jika begitu keadaannya, pilihan terbaik memang menjarah, menyerang sebelum desa memahami situasinya, mengambil barang-barang mereka, dan melarikan diri dari iblis.

Di tempat dimana pengaruh kerajaan tidak bisa mencapainya, keputusan tersebut tentunya logis dalam keadaan krisis. Meski begitu, Menel–

“Kau tidak tinggal di desa itu, bukan?” Tanyaku. “Kenapa kau bertindak sejauh itu demi mereka?”

“Marple, wanita tua dari desa itu,” katanya singkat. “Aku berhutang padanya.”

“Apa yang terjadi pada Maple?” Tom bertanya.

“Mereka bilang dia mati.”

“…Begitu.” Dia mengangguk.

“Aku adalah orang yang menyarankan penyerangan ini. Gantung aku. Aku yang akan bertanggung jawab. Lepaskan mereka. Kumohon.”

Diskusi berubah menjadi kekacauan. Orang-orang berteriak: ada juga yang menangis, “Memangnya kami mau melakukan itu? Gantung mereka semua,” sebagian lagi mengatakan mereka harus mencari perlindungan pada kenalan lama, sementara yang lain bersikeras tidak ingin menerima mereka.

John dan Tom berekspresi muram.

“Tetua…”

“Mm…”

Mereka dalam situasi dimana iblis yang menghancurkan desa berada di dekat mereka, tapi sebelum diskusi bisa dilangsungkan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengeksekusi orang-orang ini, yang merupakan tetangga desa mereka dan korban dari bencana tersebut. Tentunya ini membuat frustasi.

“Kita mempunyai hutang pada si pemburu, dan aku juga kasihan dengan nasib buruk yang menimpa tetangga kita…Akan tetapi,” katanya dengan pahit, “mereka harus digantung.”

Bahkan jika penduduk desa melepaskan mereka, mereka masih tidak punya tempat untuk pergi dan mungkin akan melancarkan penyerangan lain. Yang berarti setelah mereka diserang, desa tidak punya pilihan selain membunuh mereka.

Meskipun keadaan yang memaksa mereka melakukan hal ini, para penduduk desa masih akan membunuh mereka demi keamanan; mereka juga tidak memiliki metode atau sumberdaya untuk menolong mereka. Para penyerang, juga, mengetahui sekalipun mereka meminta bantuan, tidak ada belas kasihan yang akan mereka terima, dan itulah kenapa mereka tidak punya pilihan lain selain menggunakan metode kekerasan dari awal.

Perselisihan selalu ada diantara mahluk-mahluk berakal. Inilah peringatan yang diberikan orang tuaku tentang dunia luar. Keadaan diluar sini memang sangat kejam.

Banyak orang akan bilang bahwa situasi ini tidak bisa dihindari. Mereka akan bilang kekerasan dan kekejaman sering ditemui di tempat-tempat terpencil, dan tidak ada gunanya terlibat di dalamnya.

Aku tidak punya alasan untuk ikut campur dalam insiden ini ataupun kewajiban untuk terlibat semenjak awal. Aku bisa berpura-pura tidak melihatnya, dan melanjutkan perjalananku ke kota di utara. Aku yakin aku bisa menemukan cara untuk menyesuaikan diri jika aku menemukan daerah perkotaan yang sedikit lebih beradab. Tidak ada gunanya terjebak dalam setiap masalah selama perjalanan.

Aku tahu itu adalah keputusan yang bijak.

Akan tetapi.

Ibuku telah memberitahuku bahwa dia ingin aku menjadi orang baik, menyayangi orang-orang bagaimanapun situasinya. Ayahku mengatakan agar terus maju ke depan dan yakin akan hasilnya, jangan biarkan kekhawatiranku menahanku di tempat. Dan kata-kata mereka masih tersimpan di dalam hatiku.

Dan oleh sebab itu aku putuskan untuk mengatakan, “Persetan dengan bijak,” dan mengambil langkah kecil dengan berani ke depan.

“Permisi!”

Demi kata-kata yang orang tuaku berikan padaku, demi menjaga sumpah yang kubuat pada dewaku, aku akan membalikan “situasi tanpa harapan” di depanku.

Aku meninggikan suaraku sekeras mungkin, akibatnya, semua orang mengalihkan fokus mereka padaku. Pelafalan sangat penting dalam menggunakan Words secara efektif. Aku menggunakan pelatihan yang Gus berikan padaku sepenuhnya.

Membentangkan lenganku untuk menarik perhatian semua orang, aku memilih kata secara hati-hati–

“Bisakah ini diselesaikan dengan uang?!”

Mata penduduk desa terbelalak seolah akan keluar dari kepala mereka. Aku menekankan, mencoba selangkah lebih maju dari pemahaman mereka.

“Kompensasi. Uang tebusan. Apa kau punya sesuatu semacam itu?”

Menurut Gus, sudah menjadi kebiasaan di banyak daerah jika suatu kesalahan dilakukan, masalah itu bisa diselesaikan dengan pembayaran uang atau ternak daripada menumpahkan darah. Pengetahuan kehidupanku sebelumnya mendukung klaim tersebut. Kebiasaan seperti itu diikuti oleh banyak daerah di seluruh dunia, dari Jerman sampai Celtic, Russia, dan Scandanvia. Aku pernah membaca bahwa praktek tersebut masih berlaku di beberapa negara Islam-modern, dimana kau bisa memilih qisas atau diya–eksekusi atau denda.

Jika terus berlangsung seperti ini, mereka akan mati. Jika aku bisa menyelesaikan semuanya dengan uang, maka itulah yang akan kulakukan. Aku bisa bayangkan Gus akan mengatakan: ‘Betapa menakjubkannya uang itu–kau bahkan bisa membeli nyawa seseorang!’

“Tahan dulu, tahan dulu! Tentu, kami bersedia, tapi siapa yang akan membayarnya?”

“Orang-orang ini tidak memiliki apapun kecuali pakaian yang mereka kenakan!”

Aku mendapat tanggapan. Terlebih lagi tanggapannya bukan “Uang tebusan?! Beraninya kau!” melainkan pertanyaan praktikal tentang siapa yang akan membayarnya. Jika ternyata mereka menolak gagasan tersebut, maka semuanya akan semakin rumit, jadi aku sangat bersyukur atas kesempatan yang mereka berikan padaku.

Di dalam kepalaku, mesin yang Gus pasang mulai bergerak.

“Aku yang bayar!”

Sekali lagi, bisik-bisik menyebar ke seluruh kerumunan.

“Harap tenang, semuanya.” Tom menenangkan penduduk desa, “Apa alasannya, warrior suci?”

“Itu karena iblis adakah musuh bebuyutanku yang menyebabkan kematian kedua orangtuaku.” Meskipun aku sedikit melebih-lebihkannya agar terdengar meyakinkan, itu bukanlah kebohongan. Memang benar bahwa Mary dan Blood telah meninggal akibat melawan pasukan iblis. “Aku adalah pendeta yang dikaruniai oleh perlindungan dewa, untuk mengusir kejahatan dan membawa pertolongan bagi orang-orang yang menderita. Jika iblis yang jahat menyakiti orang-orang, maka mereka akan mendapatkan pertolonganku.”

Aku mengumumkan posisiku saat berdiri dan mendramatisirnya. Trik bicara ini juga diajarkan oleh Gus.

“Selain itu, para iblis tidak boleh dibiarkan menguasai desa itu begitu saja. Aku akan menuju ke sana dan melawan mereka. Oleh sebab itu, kau, orang yang disana–” Aku menunjuk Meneldor. Dia menatap ke arahku, tercengang. “Kau adalah pemburu terampil yang mengenal hutan, bukan? Aku ingin menyewamu untuk melacak para iblis itu. Kau akan dibayar dengan layak.”

Bisik-bisik semakin meningkat diantara penduduk desa. Jika orang-orang ini bisa merebut kembali desa mereka, maka tidak perlu lagi saling bertarung. Dendam yang luar biasa bisa diselesaikan dengan uang tebusan, dan bahkan mereka akan mendapatkan untung. Semuanya diuntungkan, dengan pengecualian seorang warrior suci yang baik hati yang tidak seorang pun mengenalnya datang dari tempat yang tidak diketahui, yang akan menderita kerugian cukup besar.

Mereka sibuk membahas hal ini, dan tidak memerlukan waktu lama hingga mereka sampai pada kesepahaman. Fakta bahwa aku melemparkan beberapa koin emas dan perak di depan mereka juga menambah dorongan tersebut.

“Apa kau yakin tentang hal ini, tuan?” John bertanya padaku. “Sejauh yang kulihat, semua ini tidak ada untungnya bagimu–”

Aku balas tersenyum padanya. “Jika kau mendapatkan untung dari ini, maka itu adalah berkah yang diberikan para dewa atas perbuatan baikmu.” Kataku selagi berdoa pada dewaku demi keajaiban kecil. “Gracefeel, dewa kobaran api, yang menguasai jiwa-jiwa dan samsara, sedang menyaksikan kehidupan kalian dengan mata penuh kasih.”

Saat aku mengatakan kata-kata itu, sebuah keajaiban yang kuminta muncul. Sebuah api kecil membesar di depan kuil yang didedikasikan untuk dewa-dewa kebajikan. Orang-orang terkesiap, mereka mengucapkan kata-kata syukur dan memanjatkan doa mereka.

Aku menolong orang-orang dengan pertumpahan darah sedikit mungkin. Dan meskipun aku sedikit berlebihan, aku mengingatkan mereka bahwa Engkau masih ada. Juga, aku menderita kerugian finansial, tapi sebagai tangan-Mu, sebagai pedang-Mu, mungkin caraku menangani situasi ini tidak terlalu buruk….?

Saat aku membisikan ini di kepalaku, aku mendapat perasaan bahwa di suatu tempat, dewaku sedang memberiku senyuman kecil.

Aku membicarakannya dengan semua orang, dan kami mempunyai seorang perwakilan dari masing-masing desa untuk ambil bagian dalam ritual sumpah untuk memurnikan darah buruk mereka.

Setelah kami selesai, aku mengatur perlindungan untuk orang-orang yang selamat dari insiden iblis yang menghancurkan desa yang secara fisik tidak bisa ambil bagian dalam penyerangan, seperti wanita, orang tua, dan anak-anak. Mereka berkumpul di sekitar api unggun di tengah hutan, gemetar karena kedinginan, tapi setelah aku meminta Menel menjelaskan situasinya, mereka dengan cepat mengerti.

Banyak dari mereka yang terluka atau mulai terkenal flu, jadi aku menyembuhkan mereka menggunakan berkah Close Wounds (Menutup Luka) dan Cure Illness (Menyembuhkan Penyakit). Kemudian, aku meminta desa sebelumnya untuk menampung mereka sementara, dengan janji hanya sampai aku merebut kembali desa yang diserang.

Penduduk desa menerima mereka dengan tangan terbuka, meskipun aku cukup yakin tidak ada sedikitpun niat baik dalam melakukan itu. Itu hanya karena kami sudah membuat kesepakatan; mereka kemungkinan juga mempertimbangkan nilai menahan para pengungsi sebagai sandera. Meski begitu, perlindungan tetaplah perlindungan, dan aku senang untuk itu.

Aku membayangkan apa yang akan terjadi seandainya aku mati dalam merebut kembali desa. Sangat mungkin mereka tidak mampu lagi memberikan perlindungan pada orang-orang yang mereka tampung dan terpaksa membunuh mereka.

Meneldor mendekatiku. “Apa sebenarnya tujuanmu?”

“Hm? Yang kukatakan memang benar. Aku tidak menyembunyikan apapun.” Aku tidak bisa mengabaikan iblis-iblis yang berkeliaran, dan aku ingin mencegah orang-orang saling membunuh satu sama lain. Yang kulakukan hanyalah mengambil tindakan yang diperlukan.

“Oh, benar, aku bekerja untukmu sekarang. Kupikir lebih mudah meminta maaf daripada meminta izin.”

Ups. Bukan itu niatku. Kupikir juga penting meminta persetujuan Menel. “Bisakah aku menyewamu untuk merbut kembali desa dan melacak para iblis?”

Dia mengerutkan kening, “Uh, kawan? Aku menghasut penjarahan dan pembunuhan. Apa kau yakin tidak perlu menghakimiku, wahai warrior suci?”

“Aku sudah menyelesaikan masalah itu dengan membayar uang tebusan. Dan kau melakukannya karena tidak ada pilihan lain, bukan? Kau tidak bisa mengabaikan mereka, orang-orang desa yang membantumu, disaat mereka butuh pertolongan.”

Aku bisa saja mengatakan bahwa dosa adalah dosa. Mereka semua, termasuk Menel, secara teknis mempunyai pilihan untuk tergeletak dan mati tanpa menyakiti siapapun, dan jika mereka mampu membuat pilihan tersebut, itu mungkin sangat mulai.

Tapi memilih mencuri dari yang lain daripada menerima kematian bukankah perbuatan tercela; ini wajar. Terlebih lagi jika mereka memiliki wanita dan anak-anak, mereka merasakan kewajiban untuk melindungi.

“Aju lebih suka tidak menghakimi orang normal yang membuat keputusan normal jika bisa…”

Dia bersiul. “Pernah terpikir aku mungkin saja menaruh dendam padamu dan menusukmu daru belakang?”

“Jika aku mati, maka orang-orang desa itu yang akan menderita.” Setidaknya hingga aku merebut kembali desa dari para iblis. Aku tidak bisa bayangkan bahwa pemburu berambut perak di depanku ini tidak bisa menimbang antara kerugian dan keuntungan.

Menel akhirnya memalingkan muka. “Kau sangat naif. Seteorang akan merampokmu di siang bolong suatu hari, dan itu akan menjadi akhir bagimu.”

“Mungkin, bener.” Aku hanya bisa tersenyum. Itu adalah masa depan yang bisa aku bayangkan. Aku mengingatkan diriku bahwa aku tidak bisa terus bergantung pada pemberian Gus; aku harus menghasilkan uang di suatu tempat untuk mengembalikan jumlah yang telah kupakai.

“Keh. Terserah, kawan. Aku akan bekerja untukmu. Lagipula, aku memerlukan uang untuk mereka.”

“Yah. Terima kasih atas bantuanmu.”

Bibir Menel melengkung sinis, dan dia mengangguk. “Oh omong-omong, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, tuan?”

“Bergerak, mungkin! Kita tidak boleh membuang-buang waktu…”

Selanjutnya keheningan terjadi.

Aku punya rencana….Tapi mungkin aku harus memperkirakan dia akan menentang ini. Mungkin aku tidak pikir panjang dulu…

“Eh, kau benar.” Secara mengejutkan, dia mengangguk. “Kita sebaiknya bergerak cepat. Maksudku, ada kemungkinan penduduk desa yang mati disana akan menjadi undead.”

Aku terdiam. Aku melupakan itu.

Sama halnya dengan dunia ini diisi oleh perlindungan dewa-dewa kebajikan, dunia ini juga diisi dengan perlindungan dewa undeath, Stagnate.

Sangat jarang bagi dewa undeath untuk datang langsung menemui para pahlawan berbakat, membentuk kontrak dengan mereka, dan menciptakan undead berperingkat tinggi seperti yang terjadi pada Mary dan Blood. Akan tetapi, karena sifat perlindungan dewa yang merembet, tidak ada yang aneh jika seseorang yang mati sambil membawa penyesalan akan bangkit kembali menjadi salah satu undead, dan itu bisa terjadi karena berbagai alasan, termasuk permusuhan, kebingungan, atau sekedar kematian yang datang tiba-tiba, yang tidak disadari atau diterima.

“Tidak baik jika membiarkan orang-orang menyakiskan orang tua, saudara, dan anak mereka berubah menjadi undead. Kita harus mengakhiri mereka secepatnya jika memungkinkan.”

Aku mengangguk setuju. “Aku harus mengembalikan mereka ke samsara sebelum mereka mengembara dan tersesat.”

Aku hanya memerlukan lokasi mereka, dan aku bisa mengembalikan mereka ke samsara dengan berkah dewa kobaran api. Namun aku tidak bisa melakukan apapun pada jiwa-jiwa yang tersesat yang tidak bisa kutemukan. Aku harus bertindak sebelum itu terjadi.

“Tapi apakah kita punya peluang melawan iblis-iblis itu?” Tanya Menel. “Jika mereka semua berkumpul disana, dan membawa hewan-hewan buas juga…

“Ya.”

Ya…kita punya, pikirku. Aku tidaj berpikir bagian itu akan menjadi masalah, Menel. Bagaimanapun juga, aku sudah sering menghajar iblis undead hari demi hari di kota reruntuhan itu, jadi sekarang–

“Aku sudah terbiasa.”


Catatan:

1. Pengertian fae:

A fae is a humanoid mystical creature that wields great power in magic and elementals, usually have anteneyes and insect like wings, and are short. faes are otherwize known as faries and are commonly used in RPs

2. Elf memiliki kekuatan mistis yang disebut elemental:

Elemental adalah makhluk mistis yang dijelaskan dalam karya okultisme dan alkimia dari sekitar zaman Renaisans Eropa, dan khususnya diuraikan dalam karya-karya Paracelsus abad ke-16. Menurut Paracelsus dan pengikut generasi selanjutnya, ada empat kategori elemental, yaitu gnome, undine, sylphs, dan salamander. Ini sesuai dengan empat elemen kuno Empedoclean: bumi, air, udara, dan api. Penjelasan lengkap https://en.m.wikipedia.org/wiki/Elemental

3. Quote “Lebih mudah meminta maaf daripada meminta izin” https://www.brainyquote.com/quotes/grace_hopper_170166


4 Responses

  1. Ariel says:

    thanks for updated, seemangat min update nya.
    dan selalu jaga kesehatan.

  2. Will says:

    Lanjut lah 🙁

  3. Marry says:

    Lanjut lah

  4. Anonymous says:

    Masih d lanjut kh min??, ceritanya bagus sejauh ini, bikin penasaran lanjutannya, tp knp translator pada ngedrop LN ini ya? Jd sedih saya. Semoga engkau gk sama min T_T

Leave a Reply

Your email address will not be published.