The Faraway Paladin – Vo 2 Bab 3

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

The Faraway Paladin – Vo 2 Bab 3

“Semua persediaan kita sudah habis, dan banyak alat-alat yang tidak tergantikan hancur.”

“Wow…”

Meski berhasil merebut kembali desa dari para iblis, para penduduk masih mempunyai banyak masalah. Banyak hewan peliharaan dan peralatan mereka yang hilang. Wajah mereka nampak serius saat mendiskusikan masalah dari semua aspek. “Kita memerlukan persediaan dari Whitesails…”

“Tapi bagaimana dengan uangnya?”

“Kita memerlukan bantuan juga.”

Sebuah kata yang asing di telinga muncul dalam percakapan mereka, jadi aku bertanya pada Menel. “Whitesails itu apa?”

Menel menatapku terheran-heran. Apakah “Whitesails” adalah nama sebuah tempat yang sudah sewajarnya kau tahu jika sudah lama tinggal disini?

“Hey serius, kau tidak tahu?” tanyanya. “Apa kau tinggal di bawah batu selama ini?” Kemudian dia memberikan penjelasan singkat tentang sejarah negara ini.

Ternyata, zaman dimana Blood dan Mary hidup mereka menyebutnya sebagai Union Era, yang mana kala itu semua jenis ras membuat sebuah konfederasi besar. Dengan pengecualian daerah-daerah seperti yang satu ini di perbatasan, saat itu merupakan zaman keemasan yang damai dimana tidak banyak konflik.

Akan tetapi, gelombang para iblis yang terjadi sesudahnya menyebabkan Keruntuhan Besar (Great Collapse), dan Union tercerai berai. Soutmark telah jatuh di tangan para iblis. Ratusan Pahlawan–yang mengacu pada Blood dan orang-orang yang membantunya–terbunuh oleh raja iblis, namun tetap saja, umat manusia terpaksa meninggalkan benua ini untuk sementara.

Menyebrangi kanal dan laut dalam yang disebut Middle-Sea (Laut Tengah), umat manusia mundur ke Grasssland di utara. Namun sebagai akibat dari Great Collapse, pusat pemerintahan Grassland kehilangan kemampuan pemerintahannya, dan benua terpecah menjadi negara-negara kecil yang bersaing demi kekuasaan. Perselisihan antara fraksi militer itu tidak berlangsung sebentar, dan selagi terus berlanjut, tidak satupun divisi yang bergerak untuk mengatasi kegelapan di Soutmark, tempat paling jauh yang penuh dengan undead, iblis, dan goblin.

Setelah Fertile Kingdom menyatukan bagian barat daya Grassland, terjadi sedikit perubahan. Selama beberapa dekade terakhir, mereka telah mengembangkan dan membangun kembali visi untuk merebut kembali Soutmark, dan Whitesails adalah kota pelabuhan yang saat ini merupakan jantung koloni yang datang dari utara.

Tak heran jika dia melihatku tidak percaya karena tidak mengetahuinya.

Btw, Whitesails, yang merupakan pelabuhan dari sisi utara Soutmark dan basis dari proyek koloni mereka, tampaknya sangat ramai dengan kapal-kapal imigrasi dan perdagangan. Dan dengan banyaknya kapal-kapal itu yang keluar-masuk, tidak aneh jika orang-orang mencurigakan, atau mereka yang menyembunyikan sesuatu, dan orang-orang yang terpaksa harus meninggalkan tanah kelahiran mereka juga ada disana.

Prosedur imigrasi yang benar sama sekali tidak ada di era ini, jadi tentu saja, tidak ada cara untuk mencegah orang-orang seperti itu untuk datang. Beberapa orang langsung terjun kedalam organisasi kriminal di Whitesails, sementara yang lain yang berhasil lolos, membuat rumah, dan membuka ladang di wilayah perbatasan paling ujung, dimana pengaruh kekuatan-kekuatan itu tidak menjangkaunya. Pemukiman independen seperti itu tersebar di sekitar Beast Woods.

“Selain orang-orang itu, banyak petualang datang kemari juga. Akan kujelaskan rinciannya…”

Seorang “petualang”, dia memberitahuku, adalah mata pencaharian dimana kau mengais-ngais reruntuhan dari Union Era dan mengambil sejenis pekerjaan tentara bayaran. Petualang bukanlah bagian dari sebuah organisasi atau kelompok tertentu; mereka adalah pekerja lepas, muncul hampir di semua kota besar, yang mengambil pekerjaan di sebuah kedai minum khusus demi upah. Kebanyakan dari mereka kurang beruntung dan tidak mendapatkan kehidupan layak, namun itu yang menjadi alasan kenapa mereka memburu reruntuhan dari Union Era sebagai jalan untuk mewujudkan mimpi mereka.

“Bukan berarti juga tiba-tiba kau menemukan harta dan boom, kau jadi kaya. Hidupmu tidak langsung berubah seperti itu. Orang-orang yang menginginkan pencapaian besar yang menyebut diri mereka petualang beramai-ramai datang kemari. Bukan cuma mereka sih. Ada juga orang-orang yang ingin jadi pahlawan, orang-orang sepertimu yang memiliki pencerahan dari dewa mereka– ada bermacam-macam orang.”

Jadi kau tidak bisa menyamaratakan mereka begitu saja sebagai orang-orang yang ingin hidup enak. Petualang sepertinya tidak sesederhana itu.

“Kau juga mempunyai alasan tersendiri, bukan?” tanyanya. “Kau memiliki pencerahan dan menolong orang-orang, jadi kutebak kau mungkin juga berusaha menyebarkan kepercayaanmu. Maksudku, benua bagian selatan dulunya sangat mengakar dengan kepercayaan Gracefeel.”

“Hmmm… Bisakah kau memberiku informasi lebih tentang itu?”

Aku mengajukan beberapa pertanyaan padanya, dan tahu bahwasanya dewa kobaran api dulunya adalah agama mayoritas disini, di Soutmark.

Akan tetapi, gelombang iblis yang disebabkan oleh Great Collapse dua ratus tahun yang lalu menghasilkan kekacauan di Soutmark, dan akibatnya, para pengikut Gracefeel menyebar. Beberapa nyaris tidak bisa melarikan diri ke Grassland di utara dan mempertahankan nama-Nya. Tapi tidak seperti kebanyakan dewa, yang pengikutnya sangat banyak dan tidak terisolasi di area tertentu, kepercayaan Gracefeel tampaknya menyusut secara signifikan.

Iblis dan hewan-hewan buas sudah tidak terkendali. Ada banyak desa yang nyaris tidak bisa bertahan, dan beberapa sampai putus asa dan berakhir menjadi pencuri. Kepercayaan merosot sampai titik menghilang sepenuhnya. Semuanya tampak mengerikan dari segala sisi. Dan mengertahui ini, misi yang diberikan oleh dewaku adalah untuk mengatasi masalah tersebut malah membuat perasaanku semakin tidak nyaman.

Blood, Mary, Gus? Dunia luar ternyata tempat yang mengerikan, aku meratap di dalam hatiku. Kemudian, aku secara perlahan menghela nafas, kemudian menghembuskannya.

Sejujurnya, ini merupakan beban yang terlalu berat bagiku, dan aku sangat berharap jika orang lain bisa menggantikanku, tapi aku mempunyai sumpah dan hutang kepada dewaku dan sudah memutuskan untuk hidup dengan benar. Atas nama keyakinanku, aku sudah memutuskan untuk melakukan apa yang aku bisa. “Pertama-tama. Adalah desa ini.”

“Tentang itu. Kau sepertinya sudah cukup paham, jadi aku minta maaf jika meminta ini, orang-orang disini sama sekali tidak mempunyai uang. Jika memungkinkan, mereka ingin memin–”

“Menel, ayo kita menjelajahi reruntuhan! Kita akan ambil apapun yang kita temukan!”

“Apa?” Dagu Menel kembali jatuh.

“Aku tidak percaya kau juga sehebat ini dalam berburu reruntuhan….”

“Aku sudah terbiasa”

Menel dan aku menaklukkan reruntuhan di sebelah desa, dan mendapati jiwa-jiwa dari undead yang mengembara pada saat yang sama.

Aku pernah menjelajahi bawah tanah kota kematian untuk menerima pelatihan keras di bawah Gus dan Blood, jadi, secara relatif aku bagus untuk hal semacam ini. Pengalaman Menel di masa lalu sebagai petualang sangat membantunya juga: gerakan kakinya sangat cepat.

Dengan mengumpulkan uang dan item sihir dari reruntuhan, Menel mendapatkan jumlah yang cukup yang diperlukan untuk membangun kembali desa, dan aku berhasil mengisi kembali jumlah yang sudah kuhabiskan. Aku diberitahu bahwa ada banyak reruntuhan yang tidak tersentuh di sekitar sini, jadi aku bisa mengumpulkan dana yang kubutuhkan untuk diriku sendiri, setidaknya untuk sementara.

“Serius, siapa kau sebenarnya…” Kata Menel bertanya keras-keras.

“Kau tidak akan mencoba menyelidiki, kan?”

“Yeah, aku menahan diri untuk itu, tapi…. cih.”

Aku sedang dalam perjalanan dengan Menel saat ini. Tujuan kami adalah sama–Whitesails, kota paling makmur di Soutmark–tapi alasan kami datang ke sana berbeda.

Untuk Menel sederhana: dia perlu ke sana untuk membeli hewan ternak dan berbagai alat yang diperlukan untuk penduduk desa.

Adapun untukku, aku punya banyak alasan. Aku ingin membantu Menel, aku ingin mempelajari tentang aktivitas iblis di Beast Woods, dan aku ingin mendapatkan informasi lebih tentang benua dan negara-negara di dunia ini. Melakukan sesuatu tentang gerak-gerik mencurigakan para iblis, menyebarkan ajaran dewa kobaran api, menolong para penduduk desa–semua itu sangat diperlukan dengan pertama-tama menuju sebuah kota dimana orang-orang dan berbagai hal berkumpul.

Kami berjalan menyusuri Beast Woods. Pemandangan sekitar jalan setapak hampir berubah, dan hutan yang lebat nyaris mencegah cahaya masuk. Untungnya, ini adalah akhir musim dingin, dan semak-semak di tanah tidak selebat itu, tapi meskipun begitu, waktu yang kami habiskan begitu lama seolah rasanya hanya berjalan berputar-putar. Aku tidak melihat apapun selain pemandangan seperti ini beberapa hari terakhir.

Hari ini juga, kami sudah berjalan sekitar setengah hari, dan matahari mulai naik di atas kepala kami, aku sudah tidak bisa menahannya lagi.

“Kita mengalami kemajuan…. bukan?”

“Tentu saja,” kata Menel. “Kau mulai bosan?”

“Sedikit.”

“Yah… aku tidak bisa menyahlakanmu. Aku juga sudah tidak sabar sampai di sebuah desa, atau setidaknya, melihat dataran terbuka. Ladang gandum musim dingin yang tertiup angin tahun ini pastinya jadi pemandangan yang sangat cantik.”

“Oh, kedengarannya hebat,” kataku, sedikit lebih bersemangat saat membayangkan pemandangan itu.

Kemudian, sebuah pekikan panjang bergema, yang disertai suara minta tolong.

“Tolong! Seseorang!!!”

Aku dan Menel saling menatap, dan dengan segera kami berlari ke arah sumber suara itu.

Ada sebuah pekikan di bawah.

Asalnya dari seekor monyet raksasa dengan bulu berwarna cokelat tua. Monyet itu tingginya melebihi dua meter, dan diperkirakan memiliki berat hampir tiga ratus kilogram.

Dia besar. Otot-otot lengannya sangat tebal, sama seperti kakinya. Batang tubuhnya, mulai dari leher, bibir, lalu kedua matanya–semuanya besar menyembul. Itu mengingatkanku pada hewan-hewan mistis dalam cerita Xianxia di kehidupanku sebelumnya.

Ada suara pekikan tinggi lainnya. Dua orang dengan panik berlari ke arah kami mencoba kabur dari monyet itu. Salah satunya adalah pria kurus dengan tas di punggungnya yang tampaknya seperti seorang penjual keliling. Satunya lagi, membawa sebuah instrumen semacam alat musik gesek di punggungnya, adalah seorang gadis kecil–bukan–

“Seorang darah campuran, ya,” Menel bergumam.

Dia sangat pendek, dan pelari yang cukup cepat untuk seukurannya. Telinganya runcing seperti daun, dan rambutnya berwarna merah bergelombang. Aku sudah mempelajari berbagai darah campuran dari Gus–mereka adalah suku pengembara orang-orang kecil yang ceria, suka menyanyi, menari, dan makan…. Hmmm, sekarang bukan saatnya memikirkan itu.

Mereka berdua dengan panik berlari ke arah kami. Si gadis pendek mengejar pria itu dan mulai menyusulnya. “Apa yang kau lakukan?!’ teriaknya. “Buang itu! Buang itu, dasar bodoh!”

Pedagang keliling itu tampak pucat mengerikan dan berkeringat deras saat berusaha berlari. “Tapi–” dia protes.

“Kont*l!!! Kenapa harus aku sih!!!”

Sebelum mereka bisa saling mencaci satu sama lain lebih jauh, kera besar itu menyerang mereka, dan dengan suara teriakan yang berbarengan mereka berlari ke arah yang berlawanan. Mengambil keuntungan dari badannya yang kecil, si gadis merayap menuju semak belukar.

Sepertinya dia akan sukses melarikan diri.

Tapi saat dia melihat ke arah si pedagang keliling, ia mendapati bahwa dia yang dikejar. Sorot mata gadis itu berubah tegas dengan keputusan. Ia berteriak, “Hey! Sebelah sini!” dia mengambil sebuah ranting pohon dan melemparkannya ke arah monyet itu. Rupanya, ia berharap itu akan menarik perhatiannya.

Aku bergerak diantara gadis kecil dan monyet itu.

“Lihat sini a–ah?! A–awas….!!!”

Ketika monyet besar itu melihatku menerjang ke depan, dia menghentikan serangannya. Bola matanya yang besar menatap ke arahku, ia terperangah. Kemudian, mulutnya yang besar terbuka lebar sambil melolong menampilkan taringnya yang tajam, berusaha mengancamku. Kemarahannya itu membuat udara bergetar.

Dia kembali mengaum, memukul-mukul dadanya dengan kedua tangannya. Suaranya sangat luar biasa, seperti bunyi memukul sebuah drum ukuran besar.

Aku menatapnya balik tanpa mengedipkan mata.

Dalam bidang pandang sekitarku, Menel sepertinya berhasil membopong penjual keliling itu, tapi aku tidak akan mengalihkan perhatianku dari monyet itu. Aku terus menatapnya. Monyet itu menatap balik ke arahku selagi mengeluarkan geraman yang sangat rendah. Blood telah memberitahuku bahwa dalam menghadapi hewan liar, kau akan kalah jika kau berpaling darinya.

Ayolah. Ingin bergulat? Aku siap kapanpun.

Aku terus menatapnya dengan intens, membiarkan monyet itu tahu bahwa aku lebih dari siap untuk bertarung. Geramannya berangsur semakin pelan, dan pada akhirnya berhenti. Akhirnya, kontes saling tatap berakhir dengan monyet itu mengalami kekalahan, dan dia berbalik menuju kedalaman hutan.

Aku membuang nafas.

Aku tidak perlu bertarung. Sungguh melegakan, pikirku, dan kemudian berbalik.

“Kau tak apa?” kataku, dan gadis darah campuran itu (halfing) melompat ke arahku.

“Apa itu?!! Apa itu, tadi itu sangat gila kau tahu?! Hei hei beritahu aku siapa kau, seorang petualang?! Kera besar tidak berhenti hanya karena kau menatapnya kan, itu tadi wow, maksudku wow!”

Matanya berbinar dengan rasa ingin tahu.

“Aku Robina! Robina Goodfellow! Aku seorang musisi jalanan, aku menyanyi, aku menari, aku pergi kemanapun angin membawaku, kau bisa memanggilku Bee! Dan si cupu ini adalah seorang pedagang keliling, namanya Antonio! Tapi aku selalu memanggilnya Tonio! Kapal dagang tempat ia bekerja tenggelam satu persatu, jadi sekarang dia bepergian sendirian sebagai seorang penjaja keliling di jalanan kota perbatasan!”

Robina memiliki rambut merah bergelombang dengan fisik seorang anak perempuan. Seorang gadis darah campuran–Bisakah aku memanggilnya seorang gadis? Seorang “wanita muda”, mungkin? Dia terlihat kecil, tapi kemungkinan dia memiliki masa hidup yang lebih lama dari manusia, jadi aku tidak terlalu yakin dengan usianya. Apa yang kutahu adalah, dia banyak bicara. Aku belum pernah bertemu orang seperti dia sebelumnya.

“Hahahaha… Aku tidak percaya masih ada sesuatu yang bisa aku katakan. Dia sudah memborong semuanya. Hello, namaku Antonio. Kalian bisa memanggilku Tonio. Seperti yang Robina bilang, aku seorang penjaja keliling rendahan. Aku sedang dalam perjalanan pulang ke Whitesails, dimana basisku berada, dan… yah, Ya Tuhan, tadi itu nyaris sekali. Aku benar-benar berterima kasih.”

Antonio adalah seorang pria berjanggut di usianya yang akhir 30-an. Dia terlihat ramah dan bersahabat, tapi sedikit lesu, dia kurang melatih tubuhnya… Yah, tidak bermaksud menghinanya, tapi aku paham darimana komen Robina soal “cupu” tadi.

“Aku Meneldor. Aku dulu seorang petualang, tapi sekarang aku adalah pemburu di kawasan sini. Aku sedang dalam perjalanan ke kota untuk membeli barang-barang. Dan ini–” Menel melihat ke arahku.

Aku tidak terlalu bagus dalam pengenalan diri–tidak di kehidupanku sebelumnya, ataupun saat ini. Aku selalu gugup tiap kali melakukannya. “William. William G. Maryblood. Aku seorang petualang, sekaligus pendeta dari dewa kobaran api, Gracefeel.” Tak lupa aku menunjukkan senyum. “Kalian bisa memanggilku Will.” Yah, itu mungkin sudah lumayan.

“Wowww itu benar-benar nama seorang bangsawan, apa barusan kau bilang Gracefeel?! Gracefeel yang itu bukan, dari selatan! Dewa yang pada dasarnya tidak memiliki pendeta lagi! Whoaa, sungguh pertemuan yang luar biasa! Dan tidak hanya pendeta, kau juga seorang warrior yang terampil? Maksudku kau pastinya begitu, memangnya siapa lagi yang mampu berhadapan satu lawan satu melawan seekor kera besar?!”.

“Itu hampir benar,” kata Menel menggantikanku. “Dia terlihat sedikit lamban, tapi sebenarnya dia sangat bagus. Maksudku, sudah lama aku berpergian dengannya, dan tidak pernah sekalipun kami menemukan seekor hewan buas menyerang kami.”

“Maksudmu bahkan hewan buas pun tahu betawa kuatnya dia dan berusaha menghindarinya?! Whoaa, itu luar biasa!”

Hmm? “Apa biasanya ada lebih banyak hewan buas daripada ini?” Tanyaku.

“Bisa dibilang begitu… Itulah kenapa kawasan ini disebut Beast Woods.” Bahkan Antonio melihat ke arahku seolah ada sesuatu yang salah tentangku.

“Bagaimana tentang kalian berdua, kalian sendirian?” Tanya Menel, sambil melihat sekitar. “Tidakkah kalian memiliki pengawal? Apa mereka terbunuh atau semacamnya?”

“Yah, soal itu, kau lihat…. aku malu mengakuinya, tapi saat kami berpapasan dengan monyet besar itu, mereka semua kabur.. ”

“Dan itu malah membuat monyet itu merasa terancam dan lihat apa akibatnya! Monyet besar biasanya tidak pernah menyerang manusia!” Robina terlihat sangat frustasi. “Mereka cuma terlihat menakutkan, mereka sebenarnya sangat baik!”

Ketika Menel mendengar ini, ia tidak bisa lagi menahan tawa. “Jadi mereka sama sekali tanpa persiapan, memaksamu untuk membayar uang muka, dan kabur! Kau harus pandai menilai orang lain, bro, jika kau ingin menjadi seorang pedagang!” Puk-puk, dia menepuk bahu Antonio beberapa kali memberikan simpati. Antonio terlihat malu.

Sepertinya ini adalah sesuatu yang setiap petualang alami sekali atau dua kali. Itu agak mengejutkan… Lebih celakanya lagi, itu berarti bahwa mereka berdua telah kehilangan perlindungan mereka.

“Apa rencana kalian sekarang?” Tanyaku, “Jika kalian mau–”

“Kami bisa menemani kalian,” Menel menyela. “Kau bisa membayar kami nanti.” Matanya dengan jelas menyiratkan, kau bisa menyerahkan soal negosiasi padaku! Jadi aku terpaksa menutup mulutku.

“Hmmmm. Dan bagaimana kau ingin kami membayarnya?”

“Aku bermaksud membeli hewan ternak dari Whitesails. Aku membantu orang ini dalam perburuan reruntuhan, dan hasil yang kami dapat lumayan, aku bermaksud memakai uang itu demi orang-orang di desa.”

“Ah, aku paham! Baik, aku tidak keberatan membantumu, tentu saja. Aku punya koneksi dengan pedagang yang bisa kukenalkan padamu.”

“Itu sangat membantu. Maaf merepotkan. Tapi orang ini sedikit… Pengetahuannya tentang dunia agak kurang.”

“Oh, jadi tebakanku benar soal dia terlahir dari kalangan bangsawan? Dia memberikan aura semacam itu, kau tahu?! Orang yang tertutup, lebih tepatnya, naif…” (Antonio)

“H-hei, tidak ada gunanya membicarakan asal-usulku, kau mungkin tidak mempercayaiku, dan lagian, itu bukan sesuatu yang bisa ku-umbar begitu saja….”

“Jadi kau seorang petualang dari keluarga aristokrat yang tetap menjaga rahasia masa lalunya karena urusan bangsawan?! Aku paham! Dan bukan cuma itu, seorang pendeta dari dewa yang terlupakan!! Wahaaa! Begitu luar biasa! Otak puitisku menyukai ini!” (Robina)

Tunggu… apa? Sepertinya tidak peduli apapun yang kami katakan, itu cuma memperdalam kesalahpahamannya.

Apa yang menanti kami beberapa hari kemudian selagi terus berjalan di jalan setapak adalah, pemandangan akhir musim-dingin kawasan Beast Woods yang tidak berubah.

Robina dan Antonio, untuk selanjutnya kami memanggil mereka Bee dan Tonio. Tonio mempunyai sikap santun dan terampil berinteraksi dengan orang lain; adapun untuk Bee, dia orang yang blak-blakan, sampai-sampai aku meragukan apakah konsep menjaga jarak dengan orang lain ada di kepalanya sedari awal.

Tiap kali kami memasuki sebuah desa, kami akan dihebohkan dengan sesuatu seperti, “Wohooo! Disinilah aku, anak-anak!” Dengan tawa ceria dan berisik, dan memastikan bahwa semua orang memperhatikannya. Setelah dia selesai bernyanyi, menari, membuat keramaian, dan mendapatkan jumlah uang yang banyak dilempar padanya, Tonio akan menggelar tikar untuk jualan. Kemudian, karena semua orang dalam suasana hati yang baik, mereka akan mudah membelanjakan uang mereka.

Mereka adalah kombinasi yang saling melengkapi. Bahkan Menel terpukau dengan cara mereka berbisnis. Menurutnya, ada penjaja keliling yang baik dan yang jahat, sama seperti lainnya. Tidak semua orang seperti Tonio; ada juga penjual yang agresif dan mereka yang tidak ada bedanya dengan pencuri. Yang berarti benar bahwa Tonio kemungkinan berasal dari perusahaan yang mempunyai reputasi.

Tonio juga sekarang mengajakku bekerjasama dengannya, dia meletakkan elemen baru ini untuk manfaat yang luar biasa juga. Bee bertugas mengumpulkan orang-orang, kemudian aku akan bertanya apakah ada seseorang yang sakit atau terluka diantara mereka, memberi mereka perawatan, dan melakukan perayaan akan kesembuhan mereka. Sebagai hasilnya, orang-orang yang berkumpul jauh lebih ramai dan lebih cepat karena pendekatan ini.

“Oke,” kataku. “Coba perlihatkan lukamu.”

Aku merapalkan berkat Cure Ilness (Menyembuhkan Penyakit) dan Close Wounds ( Menutup Luka) pada semua orang sebisaku.

Sama seperti esensi sihir yang merupakan penciptaan dari chaos menggunakan Words, esensi dari doa adalah menulis ulang realitas menggunakan pengaruh dan kasih sayang para dewa, eksistensi tertinggi di dunia ini. Ini agak menakutkan bagaimana orang-orang disembuhkan seolah tidak ada apapun yang terjadi pada mereka sedari awal, hampir seperti menghapus bagian dari goresan pensil dan dengan mudah menuliskannya kembali. Keagungan para dewa tidak pernah sebanding dengan sihir manusia.

Doa itu bersifat kaku–kau harus menjadi hamba dari sesosok dewa secara spesifik, masing-masing dewa memiliki fokusnya masing-masing–jadi itu bukanlah seperangkat sihir, dan ada beberapa pemisah yang membedakan kedua bidang tersebut, namun tiap kali aku memikirkan tentang doa, aku teringat kembali betapa menakjubkannya doa itu.

Kekuatan ini adalah sesuatu yang aku pinjam dari Gracefeel. Aku harus hati-hati agar tidak jatuh pada perangkap bahwa kekuatan ini adalah milikku sendiri. Jika kulakukan itu, aku sangat yakin tidak akan ada hasil yang bagus nantinya.

“P-permisi,” kata seorang ibu rumah tangga yang sedang kurawat karena luka bakar di lengannya, “berapa biaya yang harus aku bayar….?”

“Oh, tak usah. Lagipula aku masih dalam pelatihan, terimakasih engkau harusnya ditujukan pada dewa kobaran api, bukan aku. Jika engkau merasa masih berhutang sesuatu, tolong beli barang dari Tonio.” Wanita itu membungkuk ke arahku beberapa kali, kemudian berpaling ke arah dimana Tonio menggelar tikar. Menel memberiku tatatapan mencela atas perkataanku yang mengaku “masih dalam pelatihan.”

Aku tidak sepenuhnya berbohong padanya… Aku benar-benar masih dalam pelatihan…

Dan begitulah, kami menyambangi dari desa ke desa untuk merawat orang-orang, memainkan musik, dan melakukan jual beli selagi menuju ke utara selama lebih dari sepuluh hari.

Aku tidak tahu seberapa jauh kami bepergian; jalan setapak di hutan secara konstan berkelok-kelok, dan kami mengambil banyak jalan memutar untuk menyambangi desa yang Antonio tahu. Firasatku mengatakan bahwa kami sudah berjalan cukup jauh, tapi itu tidak mudah jika harus mengira-ngiranya dengan mengambil jarak lurus.

Setelah beberapa saat menghabiskan waktu tiada lain untuk berjalan, sebuah senyum ceria tampak dari Bee, pemimpin rombongan kami. Aku berlari ke arahnya untuk melihat apa yang terjadi, sekelilingku berubah terang, kemudian bidang pandangku menjadi jelas.

Tidak ada lagi pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan, dan disana juga tidak ada kegelapan dan kesuraman.

Ketika aku menengadah, cahaya mentari membanjiriku yang sudah mulai condong ke arah barat. Langit biru awal musim semi yang jernih menyebar di atas kepalaku. Aku merendahkan pandanganku; jalanan yang berkelok-kelok membentang menuju cakrawala, dan di kedua sisinya adalah petak-petak sawah, menciptakan sebuah pola yang cantik, warna dari alam. Angin berembus, dan gandum muda di ladang saling melambai-lambai.

Meskipun itu tidak dingin, aku merasa merinding.

“LADANG GANDUM!!! YAHOOO!!”

Bee menari-nari, kemudian menarik Tonio dengan kedua lengannya dan menari berputar-putar.

Menel menatap ladang gandum yang melambai-lambai tertiup angin, sambil merenung.

Ladang yang luar biasa itu juga membuatku terperangah sejenak–kemudian Bee menarik lenganku, aku juga ikut menari berputar-putar. Aku menertawakan diriku sendiri, dan mulai ikut menggila bersamanya.

Akan tetapi, karena kami menghabiskan terlalu banyak waktu berbuat konyol, matahari mulai terbenam sebelum kami sempat sampai di desa terdekat. Berkunjung di larut malam dan disalahpahami sebagai pencuri tentunya akan sangat konyol, dan karena kebetulan kami menemukan sebuah kuil kecil, kami putuskan untuk membuat kemah disana.

“Hehehe, suasana hatiku sedang baik hari ini!” Kata Bee. “Bagaimana jika kupersembahkan sebuah lagu untuk kalian semua? Kali ini gratis!” Dia mengeluarkan sebuah intrumen kecil berdawai tiga yang mirip buah pir (yang ternyata itu bernama rebec), dan meletakkan sebuah busur si dawai tersebut dengan ayunan yang sangat dramatis.

“Ooh!!” Kata Menel. “Betapa murah hatinya dirimu.”

Gadis itu tetawa dengan bangga. “Oh benar, lagu akhir-akhir ini… Reystov the Penetrator sudah terlalu sering dimainkan, tapi Berkeley Tale of Valor juga terlalu jadul… ” Dia bergumam berpikir untuk sejenak. “Baik, aku tahu! Aku akan membawakan epic dari Tiga Pahlawan terkenal yang membunuh High King. Sang Sage Pengembara, War Ogre, dan Putri Terkasih! Terdengar bagus bukan?”

Aku pikir jantungku mau copot.

“Oh, itu ide yang bagus,” kata Tonio

“Terdengar seperti pilihan yang bijak,” Menel menimpali.

“Kalau dipikir-pikir sudah lama aku tidak memainkannya. Um, ada apa Will?”

“U-uh, tidak, bukan apa-apa! Silakan mulai! Aku ingin mendengarnya juga!”

“Oho! Bagus, bagus, itulah yang ingin kudengar! Baiklah, ayo kita mulai!”

Tali busur itu mulai berbunyi. Itu adalah nada sedih yang membuat udara bergetar, membawa kembali ingatan dari tanah kelahiran yang jauh. Jantungku berdegup kencang.

“Waktu kian berlalu, kendati demikian, kita kan terus berkelana.” Suara Bee, yang biasanya penuh keceriaan, sekarang sangat dalam dengan kesedihan, syair-syair yang ia lantunkan dengan jelas menembus udara malam. “Yang kuat, bahkan sang sage dan gadis suci yang cerdik–tak luput binasa bersama dengan pergantian bulan, sampai saat ini hanya menyisakan abu dan nama mereka yang masih bertahan….”

Suara gesekan dawai itu bergema menembus udara.

Mereka masih hidup.

“Karenanya, biarkan melodi ini bemain syahdu, selagi mendoakan agar jasa mereka abadi, nama-nama heroik mereka bergema tak lekang oleh waktu.”

Nada suaranya memberikan suka cita yang teramat besar di dalam hatiku.

Mereka masih hidup.

“Malam ini kanku kisahkan tentang Penaklukan Wyvern, satu dari sekian banyak jasa Tiga Pahlawan….” Bee tersenyum ke arahku. “Semuanya, jika berkenan tolong diam dan dengarkan.”

Mereka masih hidup! Nama mereka, bahkan sampai sekarang, masih hidup!

Di dalam kuil yang kecil berdebu dan tidak terawat, melodi rebec bergema disertai suara keritik api unggun.

Setelah pembukaannya, Bee secara terampil berkisah tentang para pahlawan yang berperan dalam cerita. Aku dalam keadaan setengah sadar, seolah hampir rasanya aku melayang di udara. Aku merasakan semacam kebanggaan, sejenis kebahagiaan…. aku mempunyai kenangan indah di hari-hari itu.

“Yang pertama, seorang anak yang terlahir di selatan, di sebuah pemukiman liar yang terpencil. Saat tangisan pertamanya bergema, dikatakan bintang jatuh dari Leo. Anak itu terus tumbuh semakin kuat, dan berangkat ke tempat yang tidak diketahui dengan demonblade-nya, ia memiliki perangai yang sesuai dengan bintang jatuh. Dikenal sebagai sang Singa, Star Sword, Hired Blade, Anugrah para Dewa di Medan Perang… Pria ini adalah Blood, sang War Ogre. Jalan yang dilaluinya adalah badai darah yang berkecamuk, dan teriakan kemenangannya bergemuruh seperti auman singa.”

Dadaku bergetar. Sialan kau, Blood, kau tidak menceritakan dirimu sama sekali. Jadi itulah misteri di balik pedang itu…

“Suatu tempat di kepulauan Laut Tengah, tersebutlah seorang bayi yang terlahir dengan karunia; seseorang yang memiliki afinitas alami dengan Words. Bandit menyerang tanah kelahirannya; ia kemudian mengutuk mereka dengan kabut, dan mengusir mereka. Dikatakan pria yang bijak mengajak anak yang luar biasa itu ke tempatnya untuk belajar. Dia melompati dua tingkat sekaligus. Dan tidak berlangsung lama kemudian, setelah menjadi yang teratas, mengumumkan kata-katanya yang tak lekang hingga kini: ‘Tidak ada kebenaran di akademi.’ sang Pengembara Liar, Pikiran Besar yang tidak Diakui, Sang Curahan yang Deras, Sang Peneliti Budaya–ada banyak julukan untuk Gus, sang Sage Pengembara. Nama sejatinya tidak seorang pun yang tahu, siapa yang tahu seberapa dalam pemikiran dan hatinya?”

Tidak seorang pun yang tahu nama Augustus? Kalau dipikir-pikir, Gus pernah bilang bahwa beberapa penyihir, para pengguna Words, berpikir bahwa nama mereka adalah kekuatan dari Words itu sendiri, dan menyembunyikannya, mereka hanya dikenal dengan julukan atau nama samaran. Aku kira yang menjadi alasan kenapa dia dengan mudahnya memberi tahuku namanya adalah karena dia sudah tidak peduli lagi tentang hal itu setelah kematiannya.

“Dari mana asal gadis mulia itu? Kabar mengatakan dia berasal dari keluarga bangsawan di negeri kita; dikatakan pula dia adalah seorang Putri dari negeri yang jauh. Kabar lain mengatakan ia adalah reprentasi dari langit itu sendiri, mata zamrudnya yang berkilauan tercipta dari bintang-bintang yang bertaburan di langit malam, sedangkan rambut emasnya yang terurai berasal dari sang surya yang menerangi segala kehidupan. Darimana pun ia berasal, bagaimana bisa kita meragukan bahwa sesosok dewi bersemayam di dalam dirinya? Saint dari Utara, sang Perawan Suci, sang Pembawa Berkat, sekuntum Bunga yang Cantik…. Mary, yang juga dikenal sebagai putri Mater. Tangan putihnya yang penuh kasih, dikatakan bahwa hewan ganas pun akan menundukkan kepalanya, sosoknya adalah penerang yang menembus kegelapan.”

Sepertinya sejarah Mary tidak diketahui, dan dia diperkirakan berasal dari keluarga bangsawan. Aku setuju bahwa auranya yang berwibawa memberikan perasaan seperti itu, tapi Mary pernah bilang padaku, “Oh, tidak seperti itu. Aku terlahir di sebuah dusun kecil!” Aku juga bisa membayangkannya.

Bagaimana pun juga, Mary sangat suka berkebun dan menanam bunga. Dan tiap kali musim semi datang, halaman di sebelah kuil akan penuh dengan ladang bunga yang bermekaran…

“Kisah masa lalu mereka…”

Suara mereka, wajah mereka, kata-kata mereka–mengisi kepalaku, dan aku merasa air mata mulai mengalir di pipiku.

“Ah, kenangan dan perasaan yang seluas hamparan langit ini; bila engkau tidak pulang ke rumah, aku bisa membawakan engkau (syair) keras-keras, dan membawa engkau ke atas hembusan angin….

Cerita dimulai.

Blood ternyata pernah menjadi seorang pendekar pedang pengembara yang disewa. Union Age sebagian besar merupakan masa-masa damai, kendati demikian, ada banyak pertarungan di daerah terpencil seperti ini, melawan goblin, hewan buas, dan manusia lainnya. Blood adalah salah satu dari orang-orang bengis itu yang mengisi hari-harinya dalam pertempuran, mendapatkan uang dengan mempertaruhkan hidupnya ke dalam berbagai konflik.

Kalau dipikir lagi, aku ingat dia pernah memberiku rincian pengajaran mencurigakan tentang rahasia menghindari masalah ketika mempraktekkan kemampuan berpedang. Pastinya dia merujuk pada ini.

Dan suatu hari, sebuah insiden mempertemukan Gus dan Blood, dan mereka menyelesaikan masalah bersama-sama. Sang pendekar pedang barbar belajar tentang jalan sang pria bijak, dan dia belajar bagaimana mengendalikan sifat liarnya dan menambahkan ketajaman dari kecerdasannya pada pedangnya–atau begitulah menurut kisah yang Bee ceritakan. Tapi jika mereka sama seperti bagaimana aku mengenal mereka, kuakui Gus memiliki pengetahuan yang tiada taranya namun dia mudah kehilangan kontrol, dan Blood tanpa diduga memiliki akal sehat yang luar biasa yang mendampingi orang tua itu, mereka memang pasangan yang aneh.

Perjalanan mereka terus berlanjut, dan suatu hari, Mary bergabung dalam kelompok. Dimana dan apa yang mempertemukan mereka masih menjadi misteri, tapi diketahui bahwa Mary membangun dirinya di dalam kelompok itu sebagai sumber kekuatan yang luar biasa–yeah, aku bisa bayangkan itu–dan trio itu, kemampuan dan kepribadian mereka sekarang seimbang, membangun nama mereka sebagai pahlawan di daerah pedalaman.

Setelah pengenalan tokoh selesai, Bee mulai memasuki bagian cerita, berkata bahwa itu adalah salah satu dari sekian banyak jasa-jasa mereka. Kejadian itu berlangsung di sebuah desa terpencil, yang mana terdapat sesosok monster di pegunungan tak jauh dari sana: seekor wyvern.

Wyvern adalah demidragon bersayap yang mampu terbang, meskipun jika aku ingat pengajaran Gus dengan benar, mahluk itu adalah subyek debat para akademisi apakah wyvern dikategorikan demidragon atau hewan buas. Meskipun wyvern memiliki napas api seperti naga, mereka tidak memiliki kaki depan dan ukurannya lebih kecil, lebih lemah, dan lebih sederhana.

Kendati demikian, mereka tetaplah ancaman yang serius. Memburu seekor wyvern membutuhkan persiapan yang matang, tim yang terlatih untuk menyerang sarangnya. Sangat sulit untuk meraih kemenangan di dataran terbuka melawan wyvern karena mahluk itu memiliki kontrol penuh di udara.

Juga dikatakan bahwa beberapa wyvern langka bisa berbicara bahasa naga. Para wyvern itu mengabdi pada naga, dan lizardmen mengagungkan mereka. Adapun wyvern di gunung itu, dia adalah salah satu yang menyerupai hewan buas: dengan kecerdasan rendah dan tidak mampu berbicara.

Seiring berjalannya waktu, ketika wyvern merasakan lapar, dia akan menyerang desa-desa, menghancurkan lumbung, dan membawa hewan-hewan buas bersamanya.

Para penduduk desa mendiskusikan masalah bersama-sama, dan memutuskan untuk menawarkan salah seorang diantara mereka sebagai pengorbanan untuk wyvern tersebut. Di daerah-daerah pedalaman seperti itu, kehidupan manusia seringkali tidak ada harganya.

Orang yang terpilih waktu itu adalah seorang gadis half-elf cantik dari desa terdekat. Bagian elf-nya berasal dari kakek-neneknya; tapi kedua orang tuanya sendiri adalah manusia. Jadi sudah sewajarnya, sang ayah merasa curiga kalau sang ibu selingkuh, dan ada pertengkaran diantara mereka.

Setelah gadis itu tumbuh, dia menjadi sumber pertikaian karena kecantikannya. Beberapa ada yang berjuang demi dirinya, sementara sisanya memandangnya dengan perasaan dengki dan iri dan memperlakukannya seperti orang luar. Pertikaian yang disebabkannya membuat orang-orang menjaga jarak, dan dari sana, tidak terelakan jika dia yang akan dipilih sebagai pengorbanan.

Aku pernah mendengar dari orangtuaku bahwa sulit bagi half-elf untuk mendapatkan perlakuan sama diantara manusia, atau bahkan diantara elf sekalipun. Half-elf itu rupawan, berbakat, dan mempunyai umur yang panjang, meskipun tidak sepanjang elf murni. Satu-satunya pilihan mereka adalah mempertahankan sifat alami mereka di puncak masyarakat, atau di kasta masyarakat paling rendah, atau pun menjauhkan diri mereka dari semua orang sebagai pertapa. Terlalu berbeda untuk seorang manusia dan terlalu cepat dewasa untuk ukuran elf, sulit bagi mereka untuk diperlakukan sama dalam masyarakat keduanya. Masa lalu Menel sayangnya mengikuti pola itu.

Ketika Mary, Blood, dan Gus tiba di desa itu dan mendengar situasinya, mereka saling berbeda pendapat. Cerita berlanjut, Mary bersikeras ingin menyelamatkannya, Blood bertanya apakah dia berencana mengadopsi gadis itu dan jika benar darimana dia mendapatkan uang, dan Gus tetap diam sambil menimang-nimang.

Aku merasa bahwa inti percakapan mereka waktu itu sama dengan cerita, namun ada sedikit perbedaan. Kepribadian dan karakter dalam cerita itu terasa sedikit salah, terutama yang berhubungan dengan Gus dan Blood, lebih tepatnya soal pendapat Gus tentang uang.

Yah terserahlah, sebagai kesimpulan dari perdebatan mereka, Blood mengumpulkan para penduduk desa dan berkata pada mereka, “Kami bisa melakukannya. Apakah ada yang berani membayar? Bersedikah kalian memberikan uang sebagai harga untuk membunuh wyvern itu?”

Para penduduk desa saling menatap, tidak satupun yang memberikan jawaban. Apa yang terjadi jika mereka gagal membunuh wyvern itu dan membuatnya marah? Dan meskipun mereka bisa, memangnya ada yang bersedia membayar mereka dalam jumlah besar hanya untuk menyelamatkan seorang tumbal?

Di tengah keheningan, Blood mendecakkan lidahnya dan kembali ke penginapan mereka, melewati Mary dengan kata-kata, “Kau lihat itu? Itulah kenyataannya.”

Tapi di malam itu, mereka bertiga dikunjungi seorang anak petani miskin. Anak itu, yang sepertinya tidak diajarkan sopan santun, dengan tidak sopan mengeluarkan beberapa koin untuk mereka ambil; koin-koin tembaga yang sudah diselimuti karat, dan koin-koin perak yang ujung-ujungnya sudah aus dan memiliki sisi depan yang menghitam. Dia tidak bicara, namun sangat jelas bahwa itu semua yang dia punya.

Blood berkata, “Kau ingin kami melawan wyvern untuk upah yang sedikit ini?”

Tapi Gus dengan sigap mengambil koin-koin dari anak itu, memeriksa uang kotor itu, yang bahkan tidak menunjukkan satu pun kilauan dan berkata, “Ohh ya, ini memang uang yang bagus. Lihat kilauananya ”

Aku yakin itulah kata-kata yang ia ucapkan karena aku bisa membayangkan kejadian itu dengan jelas sejelas siang hari.

“Tidakkah kau setuju, Mary?”

“Mm. Dan kupikir, karena kita sudah diberikan sesuatu yang sangat berharga…”

“Kita akan menerima pekerjaaannya, bukankah begitu?” Mary tersenyum hangat

Blood menurunkan bahunya frustasi. “Kalian terlalu lembek. Bekerja untuk sesuatu yang tidak berguna.” Gumamnya.

Kemudian, anak itu melangkah ke arah Blood dan berseru, “Jika itu tidak cukup, aku akan membayarnya dengan diriku. Kau lihat mereka. Tidak seorang pun disini yang punya nyali merebutku kembali jika kau mengambilku. Jual aku ke pedagang budak atau apapun yang kau suka.”

“Kau tidak ada harganya,” kata Blood, memberinya tatapan tajam.

Anak itu tidak berpaling.

Blood menyunggingkan senyum lebar. “Heh. Kau memang punya nyali. Kurasa bocil sepertimu bisa menjadi warrior juga.” Dia mengarahkan pandangannya ke anak itu. “Aku juga seorang warrior. Dan jika sesama warrior membuang kebanggaannya untuk meminta tolong, kita harus mendukung satu sama lain. Jadi… baiklah nak.” Dia mengacak-acak rambut anak itu, senyum tersungging di sudut bibirnya. “Mari kita lakukan.”

“Ya.”

“Mm.”

Dan mereka bertiga pun pergi untuk menaklukkan wyvern.

Wyvern itu terbang tinggi. Kepakannya begitu cepat melawan angin, bertindak seolah langit adalah miliknya sendiri. Dia berpikir bahwa hari ini sudah waktunya untuk mengambil makanan di lapangan di kaki gunung. Dia berpikiran sederhana, namun itu cukup.

Terdapat altar sederhana di lapangan itu, dan daripadanya berdiri sesosok tumbal, mengenakan penutup kepala sambil menunduk ke bawah. Mahluk itu menukik ke bawah, berniat untuk melahapnya.

Pada saat itu, sang wyvern dihempaskan oleh dinding cahaya yang luas. Sosok berambut emas muncul dibalik penutup kepala itu.

Dia adalah Mary.

Tanpa memberinya waktu untuk membalas, Gus muncul dari belakang altar dan merapalkan Word of Knotting (pengikat). Wyvern itu dengan segera berusaha melarikan diri dari situasi tak terduga ini, namun ia tidak bisa melawan. Dalam sekejap, sayapnya secara ajaib terikat, dan dia terjungkir ke tanah.

Suaranya menggelegar saat membentur tanah, namun tubuh wyvern itu keras. Dia menghela nafas berat, mempersiapkan dirinya untuk melindungi diri dari serangan yang tiba-tiba. Blood menyerukan teriakan perang dan menerjang, pedangnya dengan erat digenggam kedua tangannya, siap menebas.

Wyvern itu menyemburkan api.

Di belakang Blood, Mary berdoa. Berkat-nya melindungi Blood dari semburan api yang menyebar. Jari-jemari Gus merapalkan Word of Knotting terus menerus, menahan agar monster itu tidak terbang. Langit tidak berpihak padanya, wyvern itu menunjukan taringnya dan menerjang ke arah si penyerang. Satu ayunan dari pedang dua-tangan Blood menghempaskan mahluk itu seutuhnya.

Dalam sekejap, apakah kepala wyvern itu menyedari apa yang terjadi? Tiga “makanan kecil”– yang semuanya disana. Dan ketiga makanan kecil itu telah membunuhnya. Tentu saja, kesadarannya mungkin sudah memudar sedetik atau kurang saat air mancur darah membasahi dan menggenangi tanah.

Hari berikutnya, para penduduk desa datang untuk memeriksa altar pengorbanan dan mendapati bangkai wyvern tanpa kepala, dilucutinya setiap bagiannya yang bisa ditukar dengan uang tunai.

Setelah itu, Mary, Gus dan Blood membawa anak miskin dan gadis half-elf itu bersama mereka dan pergi menuju sebuah kota. Tidak ada tempat lagi di desa itu untuk mereka berdua.

Blood bertanya pada mereka apa yang akan mereka lakukan mulai sekarang, dan anak itu menjawab tentang rencananya. Mendengar itu, Blood memberikan anak itu sebuah belati. Itu adalah belati ajaib yang diukir dengan Words.

“Pak tua Gus mengukirkan Word ke dalamnya. Benda ini jauh lebih sakti dari kebanyakan amulet. Setiap warrior biasanya mempunyai satu pedang pendek atau belati. Tidak afdol rasanya kalau tidak punya.”

“Tolong ambil ini juga,” kata Mary, menyerahkan sebuah tas ke gadis itu. “Tolong rawat tubuhmu. Dan kalian, aku yakin banyak rintangan terjal yang menanti kalian bedua, tapi tolong, jangan kalian lupa untuk tetap berjuang dan sabar. ”

Mereka memeriksa isi tas itu. Isinya penuh dengan koin tembaga dan perak.

Mereka berdua menutup kembali tas itu secepat yang mereka bisa. Jumlahnya jauh melebihi upah yang diberikan anak itu kepada mereka bertiga! Si gadis juga protes–mereka tidak bisa menerima sesuatu semacam ini. Tapi Gus mengangkat bahunya dan berkata, “Hmph. Memangnya siapa yang bilang aku memberikan ini pada kalian? Ini investasi. Aku meminjamkannya, tidak lebih.”

Mereka berdua memiringkan kepala ke samping kebingungan. Meminjamkannya?

“Inilah apa yang kami minta pada kalian,” kata Gus. “Berjuanglah dalam hidup, tingkatkan kekayaan kalian, buatlah nama untuk kalian. Sebarkan nama kalian ke segala penjuru, jadi kemanapun kalian pergi, orang-orang akan menghormati kalian. Dan ketika nama kalian mencapai telinga kami, itulah saat dimana kami atau utusan kami akan menagih apa yang telah dipinjamkan pada kalian, ditambah bunga tentunya.”

Kemudian Gus berkata dia akan memberitahukan nama sejatinya, yang mana akan menjadi sebuah kode isyarat, dan untuk diingat juga. Dan begitulah kisah si anak laki-laki dan gadis hal-elf itu mengetahui nama sang Sage Pengembara, nama yang tidak seorang pun tahu di dunia ini.

Si anak laki-laki dan gadis half-elf itu saling bergandengan tangan dan menuju kota bersama-sama. Sementara para pahlawan mengambil jalan raya untuk mencari petualangan baru. Dan begitulah, di bawah langit biru, kisah Tiga Pahlawan yang Membunuh Wyvern berakhir

“Dan ada sedikit rumor mengenai kisah ini…” Bee tersenyum nakal. “Count Dagger dari Fertile Kingdom.. Dikatakan bahwa nama belakang sejatinya adalah Wizardsdagger.” Suara dawai bergema, catatan dan cerita keduanya berlangsung menyenangkan. “Bahkan hari ini, di mansion count, seorang wanita half-elf tua menunggu utusan sang Sage.”

Kemudian….

“Sang Sage meninggal dunia, namun ia masih percaya bahwa suatu hari, seorang utusan yang mengetahui nama sejatinya akan datang.”

Nama mereka….

“Dan dia akan mengembalikan belati itu, uang yang dipinjamnya, dan bunga, dan juga jumlah yang dipercayakan kepada suaminya.”

Nama mereka masih bergema.

“Dan dia akan mengatakan terimakasihnya atas apa yang mereka lakukan padanya.”

Dua ratus tahun setelah kejadian itu, nama mereka masih bergema.

“Dan itulah akhir dari kisahku. Kisah dari para pahlawan yang luar biasa yang namanya terus bergema tak lekang oleh waktu, bahkan sampai hari ini… Huh? Will? Will, apa kau menangis?”

Dia memiringkan kepalanya dan menatap ke arahku, aku panik. Wajahku memerah, dan kedua mataku basah kuyup oleh air mata. Itu adalah momen sebelum aku benar-benar terpuruk. “M-menangis?! Tidak, aku tidak menangis!”

“Oh, kau memang menangis Will! Matamu memerah!” Bee tertawa puas. “Pembawaan ceritaku yang luar biasa menyentuhmu, bukan!”

“T-tidak, itu tidak benar!”

“Heheheh, kalem kalem!”

Kami saling menggoda malam itu. Saat kami bercanda bersama-sama, aku merasakan sesuatu yang hangat menyala di dalam hatiku.

Blood, Mary, Gus.

Masih banyak orang di dunia ini yang mengingat kalian selain diriku.

Mereka ada banyak.

Dan aku sampai menangis bahagia dibuatnya.

Keesokan harinya, aku sudah berada di luar kuil sebelum fajar menyingsing, berlatih menusukkan tombakku dan menariknya kembali. Alasan aku sudah berada diluar kerana aku kebagian jaga sejak tengah malam tadi, dan aku sedikit senang.

Aku sekarang sudah mendengar tentang “Fertile Kingdom.” Itu adalah sebuah negara yang diperluas dari Grasslands ke sini ke Soutmark. Count Dagger adalah seorang bangsawan, dan ekspansinya dari Fertile Kingdom ke Soutmark adalah perkembangan baru dalam beberapa dekade terakhir, jadi wanita half-elf dalam cerita mungkin sudah kembali ke benua lain. Yang artinya aku harus menyebrangi laut, aku bisa menemukan seseorang yang bisa kuajak bicara tentang Blood, Mary, dan Gus.

Aku punya banyak hal yang perlu kuselesaikan sekarang, jadi aku tidak bisa langsung kesana, tapi suatu hari aku ingin menyeberangi lautan dan berkunjung. Menusukan tombakku kedepan sekali lagi, aku membayangkan betapa inginnya aku berkata dengan penuh kebanggaan, bahwa aku adalah bagian dari keluarga mereka.

Dipadukan dengan beberapa gerakan kaki yang lihai, aku menusukan tombakku sekali lagi, dengan tajam. Dan lebih tajam lagi.

Dalam istilah teknik pertarungan, “ketajaman” tidak mengacu hanya pada kecepatan. Namun mengacu pada pergantian antara ketenangan dan aksi.

Ketenangan…

Gerakan yang meledak-ledak.

Ketenangan….

Gerakan yang meledak-ledak.

Lebih tajam lagi. Lebih tajam lagi–

“Yo. Kulihat kau sudah rajin pagi-pagi ”

Suara itu membuyarkan konsentrasiku. Berapa banyak tusukan yang telah kulakukan? Tadi itu cuma bebera helaan nafas, jadi kukira setidaknya seratus.

“Tonio.”

Orang yang keluar dari kuil tua itu adalah pria berjanggut dengan senyum menyejukkan. Aku meletakkan tombakku.

“Oh, tidak, aku tidak bermaksud menyela. Silahkan lanjutkan.”

“Ah terimakasih…”

Meski begitu, aku tidak ingin terlalu keasyikan dalam berlatih. Aku masih perlu berjalan jauh hari ini, jadi hasilnya tidak akan bagus jika membuat diriku lelah dengan mendorong diriku melebihi batas. Aku juga perlu pendinginan, jadi kuputuskan hanya melatih kuda-kudaku. Tonio duduk di tunggul kayu terdekat dan menontonku.

“Harus kuakui, kau memang kuat, Will.”

“Aku? Kau pikir begitu?”

“Yah, aku tidak terlalu percaya diri soal penilaianku, mengingat aku adalah orang yang ditipu oleh sekelompok petualangan penipu…” Tonio tertawa seolah untuk menutupi rasa malunya.

Aku mendengarkannya selagi mempraktekkan kuda-kudaku dengan gerakan lambat. Menghilangkan senjata musuh, merendahkan tubuhku, menusuk ke atas…

“Tapi setidaknya aku bisa tahu bahwa gerakanmu sangat halus. Dan lebih dari itu, jika aku memberikan pendapat sebagai seorang pedagang…”

“Apa itu?”

“Aku percaya bahwa tombak itu adalah sebuah mahakarya bangsa dwarf, dan kau secara sempurna menyatu dengannya. Seseorang yang cocok dengan permata seperti itu pastinya seorang permata juga.” Dia menaikan bahu. “Akan tetapi, ada sesuatu yang tidak kumengerti.”

“Sesuatu yang tidak kau mengerti?”

“Ya,” katanya. Aku tiba-tiba menyadari bahwa di balik tatapannya yang lembut adalah mata tajam seorang pedagang yang dengan hati-hati menilai suatu barang. “Apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidupmu?”

Aku membisu dan memiringkan kepalaku ke samping. “Tujuan hidupku sebenarnya? Hmmm, yah, yang kuinginkan adalah demi dewa kobaran api–”

“Itu adalah tujuan hidupmu sebagai seorang pendeta. Yah, mungkin setelah seseorang menjadi hamba tuhan, tujuan hidupnya tidak akan jauh berbeda, tapi bukan itu yang kumaksud…. Apa kau tidak memiliki keinginan pribadi?”

“Kenapa kau bertanya?”

“Karena aku seorang pedagang.” Tonio tertawa. “Aku menjual barang dari tempat ke tempat. Bisnis kami adalah memindahkan produk, menyediakan kebutuhan orang-orang, dan memastikan mereka puas dengan harga yang cocok.”

Dia bicara secara terbuka dan jujur, tapi suaranya terdengar serius. Ini menyadarkanku bahwa inilah keyakinan yang ia jalani.

“Dan ya…. aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau puas,” Tonio melanjutkan. “Kau sedikit misterius. Kau mempunyai lengan-lengan yang berotot dan cukup banyak bulu. Berdasarkan caramu menyembuhkan luka berat dan penyakit, kau telah mendapatkan berkat dewa. Aku merasakan etiket dan pengetahuan dari caramu bertindak, dan kau juga sudah membangun fondasi finansialmu. Dan lagi, kau cukup sensitif sampai bisa menangis mendengar cerita terkenal seolah kau telah mengalaminya sendiri. Aku belum pernah bertemu orang sepertimu sebelumnya. Sepertinya ‘bangswan’ tidak terlalu akurat. Kau lebih seperti kesatria suci yang orang-orang dengar dalam cerita.”

Tonio tersenyum. “Jadi demi kebaikanku, aku pikir aku ingin bertanya kepadamu secara langsung selagi ada kesempatan. Apa sebenarnya, yang menjadi tujuanmu, secara pribadi? Atau apakah kau memang seorang utusan Dewa seutuhnya?”

Aku harus memikirkan jawaban. Apa yang aku inginkan dari dunia luar–dari dunia ini? Sebenarnya, pertama-tama…

“Tonio, aku, um… sebelum ini, aku tinggal di tempat kecil yang menyenangkan, dengan orang-orang…. yah, mereka adalah orang yang membesarkanku, mereka ada guruku, dan aku juga berpikir bahwa mereka adalah keluargaku. Namun tepat sebelum aku mengambil jalanku sendiri dan mandiri, aku tiba-tiba kehilangan mereka dan terpaksa harus pergi. Di tempat mereka, aku mendapatkan perlindungan dewa kobaran api.”

Peristiwa dengan dewa undeath–itu tampak tidak nyata, namun kejadiannya baru beberapa minggu lalu.

“Pengetahuanku mengenai dunia masih sedikit–tentang semuanya, sejujurnya–pada dasarnya aku hanya mengikuti misi yang diberikan dewaku, kupikir.”

Aku tidak tahu apapun tentang tempat ini, jadi bagaimana mungkin aku tahu apa yang kuinginkan? Aku pikir yang kubutuhkan pertama adalah belajar tentang dunia ini, dunia dimana Blood, Mary dan Gus berjuang untuk mereka lindungi. Dan aku memberitahunya itu. “Jadi hal pertama yang kuinginkan adalah belajar tentang dunia ini. Dengan begitu kupikir aku akan menemukan apa yang kuinginkan saat aku menemukan hal-hal baru dan belajar tentang mereka.”

Saat aku mengatakan itu, bayangan dari Blood, Mary, dan Gus yang tertawa muncul di kepalaku.

Aku menunduk sedikit, merasa malu. “Juga, aku… aku ingin membuat beberapa teman…. kurasa.”

Itu adalah sesuatu yang tidak bisa kudapatkan di kehidupanku sebelumnya. Sekelompok teman seperti Mary, Gus, dan Blood. Mereka bertiga adalah guru sekaligus orangtuaku, namun itu adalah sesuatu yang tidak bisa mereka berikan, sesuatu yang harus kucari sendiri ke dunia luar untuk mendapatkannya.

“Apakah Menel, bukan temanmu?” Tanya Tonio.

Berdiri di tempat, aku terkekeh selagi memikirkan jawabannya. “Kurasa kami bergaul cukup baik, namun dia tidak melihatku sebagai seorang teman, kau tahu? Dan semua orang menganggapku seorang musafir, memanggilku ‘pak’ atau “Bapak” dan semacamnya….” Aku tidak terbiasa dengan itu, dan aku merasa tidak nyaman dihormati begitu berlebihan sedangkan aku bodoh dalam segala hal. Jika Menel berkata kami adalah teman, maka tentu itu akan membuatku senang.

“Yeah,” kataku. “Mempunyai teman sepertinya menyenangkan…”

Ini menyadarkanku. Aku pernah bilang aku ingin teman karena meskipun di usia lima belas (berdasarkan sistem solistik), aku tidak punya satupun. Itu cukup menyedihkan, kuakui. Ini sedikit lucu. Orang memang tidak terlalu banyak berubah.

“Begitu ya.” Setelah mendengar jawabanku, Tonio tersenyum ceria. “Kalau begitu mungkin aku akan mengambil tempat ke tiga.”

“Huh?”

“Aku takut memancing kemarahan Menel dan Robina jika mengambil tempat mereka.”

Melihat kepalaku miring ke samping kebingungan, Tonio tertawa dan bangkit dari tunggul kayu. Matahari sudah terbit tanpa kusadari. “Baiklah. Ayo kita ambil air dan mulai mempersiapkan sarapan.”

Tonio mahir memasak. Untuk sarapan, dia membuat roti dengan mencampurkan air dengan tepung, meremas-remasnya membentuk adonan, memutar-mutarnya menggunakan tongkat, kemudian memanaskannya di atas api unggun. Cukup sederhana, namun dimakan panas bersama keju, dengan daging babi panggang yang kaya akan lemak, dan sedikit taburan garam di atasnya, hasilnya sangat lezat.

Menurut Bee, kemampuan memasak Tonio adalah alasan kenapa ia menemaninya. Sepertinya dia adalah seorang halfing yang benar-benar suka makan.

Sedangkan aku, aku sudah belajar cara memasak, normalnya, tapi bahan-bahan yang bisa kudapatkan di kota kematian sangat terbatas, jadi tidak banyak yang bisa kubuat. Dan Menel, sangat kontras dengan penampilan luarnya, dia orang yang tidak terlalu peduli soal rasa selama dia bisa mendapatkan makanan, dan itu terlihat dari masakannya juga. Kahadiran Tonio telah memperkaya makanan harian kami.

Kami memakan roti suci yang dianugerahkan kepadaku setiap pagi selesai berdoa sebagai makanan ringan saat kami berjalan. Makanan dimakan dua atau terkadang tiga kali sehari di dunia ini. Para pekerja kasar biasanya makan di tengah hari, dan saat ini, kami di tengah-tengah perjalanan. Berjalan seharian membutuhkan banyak energi. Aku ingin makan siang jika memungkinkan, tapi disisi lain, aku tidak ingin berhenti berjalan. Tonio yang menyarankan bahwa kami harus menyalakan api untuk sarapan dan menyisakan roti suci untuk makanan ringan selama perjalanan, dan ini terdengar rencana yang sempurna untukku.

“Engkau bertanya padaku kapan aku pulang / aku harap aku mengetahuinya juga ”

Bee sering bernyanyi saat kami berjalan.

“Langit terbuka diatas telaga yang tenang/ Kita bedua terdiam saat hujan mengguyur.”

Dia tidak terlalu peduli apakah itu cocok dengan suasana sekarang atau tidak.

“Jika kita tidak tahu kapan, kita akan bilang ‘suatu hari’ / Bahwa suatu hari, kita akan saling berpelukan lagi / Dan tertawa tentang hari ini.”

Oh. Kupikir ini akan menjadi lagu sedih tentang sepasang kekasih, namun mengalir cantik menjadi akhir yang penuh harapan. Cerdas.

“Heheh.” Bee terdengar bangga. “Yang ini sangat bagus, bukan?”

“Bait terakhir terasa seperti seberkas cahaya menembus awan.”

“Ya, tepat!” Kata Bee, sama dengan pembukaan dalam lirik. “Itulah bagian hebatnya.”

Dia benar-benar menyukai lagu dan syair.

Sambil mengobrol seperti itu, kami melewati beberapa desa, yang mana semakin ramai semakin jauh kami ke utara.

Terkadang, kami bahkan melewati sebuah tempat yang cukup besar untuk menyebutnya kota, yang mungkin lebih dari seribu orang yang tinggal disana. Di tempat seperti itu, Tonio dengan cepat melakukan jual-beli dan mengumpulkan informasi, dan kemudian kami melanjutkan perjalanan. Dia terlihat ahli dalam proses ini. Aku berpikir kembali betapa hebatnya dia sebagai seorang pedagang.

“Oh, benar. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu,” kata Menel. “Bagaimana Whitesails akhir-akhir ini?”

Aku juga tiba-tiba sadar, dia mengurung dirinya di sebuah desa terpencil, jadi pasti sudah lama sejak terakhir kali dia mengunjungi pelabuhan.

“Fertile Kingdom sedang dalam masa transisi pergantian raja yang baru,” kata Tonio.

“Tunggu, maksudmu Egbert II telah….?”

“Ya,” kata Bee. “Nama yang diwarisi setelah kematian ayahnya ‘Egbert si Pemberani,’ mereka bilang. Dia adalah raja yang sangat baik, kurasa….”

“Jadi dia sudah mati…” Menel memejamkan matanya. Entah kenapa, aku merasakan karakter berwibawa dari seorang hal-elf tua dalam dirinya.

Menurut Tonio dan Bee, Fertile Kingdom saat ini sedang berkabung atas rajanya yang meninggal, dan raja baru telah diangkat menggantikannya.

Orang yang telah memperkaya kerajaan sampai sejauh ini dan memberikan dorongan untuk melakukan ekspansi ke wilayah selatan adalah King Egbert II, yang juga dikenal sebagai Egbert si Pemberani. Setelah kematiannya, dia digantikan oleh putra sekaligus pewarisnya, Pangeran Owen. Mendengar pembicaraan mereka, aku punya kesan bahwa King Egbert II adalah pria yang sangat cerdas, sekaligus jenis orang suka menunjukan prestasinya.

Meskipun King Egbert II menjalankan kerajaan dengan luar biasa dan membuatnya makmur, para tuan feodal lokal sedikitpun tidak menyukainya karena hak-hak dan perhatian mereka perlahan terkikis karena tindak sewenang-wenang sang raja dan para bangsawan yang mendukungnya. Namun, karena dia membuahkan hasil nyata, mereka tidak bisa mengkritiknya secara terbuka.

Waktu tenang seperti ini dimana dia adalah pecinta alkohol yang menikmati hari-harinya. Kematiannya begitu tiba-tiba dan dikaitkan dengan serangan jantung atau semacamnya. Dia mungkin dikelilingi oleh para priest yang memberinya divine protection yang kuat, namun tidak ada yang bisa mereka lakukan dalam kasus seperti ini karena dia sudah diambang kematiannya.

King Owen, yang mewarisi tahta, berada dalam usia primanya, namun dikatakan bahwa dia adalah orang yang biasa-biasa saja. Dia bukan orang bejat atau pemikir sesat, namun bukan pula orang berbakat dan bijak seperti ayahnya. Jika mengumpamakannya dengan buku laporan pendidikan dari kehidupanku sebelumnya, dia mungkin termasuk kategori Bs atau Cs, namun tidak dengan As, bahkan jika ditambahkan poin ekstra dari sikap.

Soal kepribadiannya, dia tidak memiliki ketegasan seperti ayahnya, dan para feodal lokal yang menyembunyikan taringnya dari raja sebelumnya sekarang sudah berani memberontak. Mereka bersikeras bahwa melakukan ekspansi ke utara adalah ide yang buruk. King Owen berkata bahwa ini ide yang bagus dan mereka harus melanjutkannya. Yang mana para tuan feodal itu terus mengeluh soal “kekayaan kami” yang ini, atau “tentara kami” yang itu, “pertahanan kita sedang menderita,” dan ini itu, berbagai macam keluhan.

“Bukankah itu…. tidak bagus?”

“Ya. Sepertinya situasi politik di benua sedikit kacau. Untungnya, bagaimana pun juga, Soutmark tidak terlalu terpengaruh. Itu pasti karena adik Owen yang dikirim kemari. Yang Mulia adalah orang yang sangat berbakat.”

Adik sang raja, Ethelbald Rex Fertile, adalah seorang pemuda usia tiga puluhan. Dia adalah putra dari Egbert II dari istri keduanya, dia berbeda ibu dengan King Owen; namun, dikatakan bahwa dia mewarisi bakat ayahnya, sangat mahir dalam berpedang dan urusan di atas meja.

King Owen, yang khawatir tentang pergolakan politik, memberikan perintah untuk menurunkan adiknya menjadi status orang biasa. Kemudian, dia menghidupkan kembali keluarga bangsawan yang punah di Soutmark, dan mengangkat adiknya menjadi Duke Ethelbald Rex Southmark. Dengan kata lain, dia menunjuk adiknya untuk bertanggung jawab atas seluruh ekspansi ke Soutmark.

Setelah Duke Ethel menerima gelarnya, dia mengumpulkan sekelompok pengikut baik dari kalangan militer dan non militer, setelah menyelesaikan persiapan yang diperlukan, dia segera menyebrangi lautan menuju utara. Dan pergolakan di benua pun terus berlanjut–

“Segala fungsi pemerintahan yang masih berlangsung sampai sekarang di Whitesails adalah berkat Yang Mulia.”

Situasinya nampak cukup dramatis.

Selagi kami berbincang tentang berbagai hal, akhirnya kami sampai di sebuah jalan yang terdapat ladang di sisi-sisinya. Gandum saling melambai tertiup angin. Udara cukup dingin; musim dingin masih belum berakhir, namun aku bisa merasakan tanda-tanda awal musim semi.

Saat kami mencapai puncak bukit, bau garam yang samar dari laut menggelitik hidungku. Terbentang di depan kami adakah lautan di cakrawala.

Itu adalah teluk.

Daratan membentang di setiap sisinya, seolah memeluk lautan itu. Lautan biru begitu sibuk dengan kapal-kapal berlayar putih (whitesails) yang pulang-pergi, dan tepat di bagian ceruknya adakah sebuah kota besar. Mataku menangkap atap-atap ubin berwarna merah cerah dan coklat, kemudian barisan rumah putih menjalar pada lereng ke arah laut, ada sebuah menara lonceng disana. Dan apakah rangkaian lengkungan yang membentang di pinggiran terluar kota adalah saluran air?

Itu adalah sebuah kota, kota hidup yang sebenarnya. Beberapa ribu orang mungkin tinggal disini–mungkin bahkan sampai sepuluh ribu. Ada jalanan kota yang diisi dengan orang-orang. Disana adalah aktivitas, kesibukan orang-orang yang menjalani keseharian mereka. Meskipun aku melihatnya dari jarak yang cukup jauh, aku bisa merasakan semangat kota itu seolah aku sendiri berada di tengah-tengahnya.

Sebuah kota. Kumpulan orang-orang yang beraktivitas. Itu adalah simbol apa yang Blood, Mary dan Gus perjuangkan dengan mengorbankan nyawa mereka.

Saat sinar matahari berilau di permukaan laut, aku tetap menatap hiruk pikuk kota yang luar biasa itu sampai akhirnya Menel dan Bee memanggil namaku.

3 Responses

  1. Reyno says:

    Selalu nunggu updatean kalian buat LN ini. Mksh buat terus ngerjain seri ini min.. terus smgt ^^

  2. Highest emperor says:

    Terimakasih min dan lanjutkan update series ini

  3. Redwin says:

    Terima kasi Min…
    Teruskan min..

Leave a Reply

Your email address will not be published.