The Faraway Paladin Jilid 2 Bab 4

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

The Faraway Paladin Jilid 2 Bab 4

Whitesails adalah kota yang makmur. Orang-orang berlalu-lalang melewati jalanan dengan pakaian yang beragam, dan aku bisa melihat kecenderungan akan corak tertentu dalam gaya rambut dan perhiasan mereka.

Singkatnya–di tempat ini–sebuah trend muncul! Mereka sampai punya waktu untuk peduli tentang fashion! Hal itu sendiri mengejutkanku.

Sebenarnya, keterkejutanku sudah ada sebelum itu, tepatnya ketika aku memasuki kota. Tidak ada pemeriksaan, dan tidak ada biaya masuk. Awalnya aku mengira ini akan sama dengan sistem kota yang kutahu mengenai abad pertengahan, dan aku sudah mempersiapkan diriku untuk menunggu, tapi mereka mengizinkanku masuk begitu saja.

“Ini adalah salah satu kebijakan Yang Mulia. Dialah orang yang memerintah kota,” Tonio menjelaskan padaku.

Berbagai komoditi dalam jumlah besar dikirim ke kota ini melalui rute laut dari utara, dan menyebar sampai ke Soutmark melalui jalur darat dan sungai layaknya pembuluh darah. Karena banyaknya jumlah barang yang hilir-mudik, berhenti di depan gerbang akan menimbulkan kekacauan. Akibatnya, dengan dihilangkannya pemeriksaan di gerbang kota, menjamurnya penyelundupan dan barang-barang ilegal menjadi tak terelakkan.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Yang Mulia menetapkan pajak tinggi pada kapal-kapal di dermaga, biaya sewa lahan untuk pasar, pajak perusahaan untuk mendirikan bangunan dan toko di dalam kota, dan sebisa mungkin tidak ikut campur dalam pergerakan orang-orang, barang, dan uang. Itulah kebijakan yang dia ambil, setidaknya di White sails, kata Tonio.

Aku mengangguk, agak terkesan. Aku tidak terlalu ahli dalam ekonomi, namun aku merasa ini adalah kemajuan, berpikiran-terbuka, dan kebijakan bebas/liberal.

Cara orang-orang membicarakan Duke Ethebald, kelihatannya dia orang yang layak, pikirku saat berjalan di sekitar kota. “Hmmm? Apa itu?”

Objek yang menyerupai pilar berjejer di sepanjang jalan. Masing-masingnya seperti…. bagian atasnya payung?

“Oh, itu lampu-lampu jalan.”

“Lampu jalan?!”

Apa?!

“Kau juga tidak tahu apa itu? Oh ya Tuhan, Will, perhatikan! Ada Word of light yang terukir disana. Para siswa dari akademi Sage setiap malam akan berkeliling dan menyalakan mereka. Para siswa itu akan mempraktekkan mengikat mana ke dalam Sign, dan orang-orang di kota akan mendapatkan penerangan saat malam juga, jadi itu sangat berguna.” (Bee)

“Tepat sekali. Itu adalah pelatihan yang sangat bagus bagi siswa-siswa penyihir, dan cara untuk menambah uang saku juga. Demikian pula…,” kata Tonio, menunjuk bangunan besar di depan kami, “itu adalah salah satu penghasilan terbesar dari penyihir yang sedang dalam masa pelatihan. Bagaimana pun, mereka secara berkala menggunakan Words of Heat dan Purification. disana”

“Apa itu–”

“Hehe..” Bee sekali lagi tertawa jahil. “Aku bertaruh kau juga tahu yang satu ini,” katanya, sambil menari-nari membuatnya semakin lucu. “Tebakanmu benar, itu adalah balnea!”

Balnea!!

“Hmm? Ada apa, Will?”

“Ada yang tidak beres?”

Tunggu, aku tahu kata itu! Bukankah itu pemandian umum?! Aku bisa mandi disana?!

“Ayo!” Seruku tanpa pikir panjang. Mereka bertiga nampak terkejut.

Ringkas cerita, mandi pertamaku setelah sekian lama adalah pengalaman yang menakjubkan.

Bagaimanapun juga, mempertimbangkan periode zaman ini, jujur saja aku menganggap bahwa kemungkinan air akan kotor, tidak higienis, dan membawa berbagai macam penyakit, tapi dengan Word of Purification, air akan sejernih kristal. Masalah mempertahankan suhu agar tetap panas telah dipecahkan dengan Word of Heat. Menakjubkan. Sekali lagi aku berkomentar, ini sangat hebat.

Bentuknya tidak seperti pemandian air panas bergaya Jepang yang kukenal–melainkan, sebuah sauna seperti mandi air panas dan kolam air dingin–tapi meski begitu, ini sangat hebat. Kelelahan akibat perjalanan pada otot-otot seluruh tubuhku semuanya menghilang saat aku bersantai. Ini adalah momen yang membahagiakan.

Setelah keluar dari pemandian umum, aku merasakan setiap lapisan kotoran dari tubuhku telah diangkat layaknya kulit telur rebus. Tubuhku terasa hangat, dan angin sepoi-sepoi terasa nyaman kurasakan. Meskipun selama perjalanan aku menjaga tubuhku agar tetap bersih menggunakan Word of Purification, mandi yang sebenarnya memang sesuatu banget.

Tiga pria dari kelompok kami sedang menghabiskan waktu di area terbuka di luar pemandian, dan sesaat kemudian…

“LA LA LA…♪” Bee datang sambil memegang barang-barang yang ia titipkan ke pemilik pemandian. Dia bersedandung ria menandakan suasana hatinya jelas sangat baik. “Sangat nyaman rasanya mandi setelah sekian lama,” katanya.

“Oh jelas.”

“Tidak bermaksud menyangkal, tapi aku tidak terlalu suka tempat ramai seperti ini.” Menel telah menarik perhatian banyak orang karena ketampanannya dan fakta bahwa jarang half-elf terlihat di daerah ini. Biasanya kemanapun dia pergi ia akan mengenakan tudung kepala atau semacamnya, tapi tidak mungkin dia melakukan itu saat di pemandian.

Saat ini, ia dengan ketat mengenakan tudung kepalanya sampai menutupi kedua matanya sambil bermuka masam, kami pun memutuskan untuk bergegas dan mengubah lokasi. “Tunggu, kata Ber, “bagaimana kalau kita ke kedai untuk makanan, dan setelah itu…”

“Selanjutnya apa?”

“Aku sarankan kita pergi ke kuil,” kata Tonio. “Will adalah seorang pendeta, jadi kupikir Will ingin mengunjungi mereka.”

“Oh!” Kataku. Perhatikanku fokus pada banyak hal sampai aku lupa, bahwa aku harus membuat kontak dengan kuil. Secara teknis aku adalah pendeta asli yang diberkati dengan perlindungan dewa, jadi aku berharap mereka akan meluangkan waktunya untukku, tapi aku punya keraguan.

Kami berempat berjalan bersama-sama ke sebuah kedai dan makan. Aku sangat terkejut ketika melihat masakan mereka menggunakan nasi. Bentuknya mirip dengan nasi Indica yang kutahu, mungkin ini tumbuh di lahan kering. Sayuran dan–sangat cocok dengan daerah pelabuhan–adalah makanan laut pilihan, termasuk udang, kerang, dan ikan di bagian dasarnya, kemudian ditambahkan nasi dan air lalu dimasak bersama-sama.

Nasinya meresap aroma dari ikan dengan baik, dan hidangan itu digarami dengan sempurna. Aku bisa memakan ini seharian. Anggur yang disajikan rasanya sangat enak juga.

Ini adalah peradaban. Hanya itu yang bisa kugambarkan. Ini adalah rasa peradaban.

Tonio dan Bee sedang berdebat soal makanan.

“Rasanya cukup enak, bukan begitu?”

“Hmmm.” Tampaknya dia tidak sepenuhnya yakin. “Aku bisa membuatnya lebih baik dengan tidak direbus terlalu lama.”

Bagi keduanya, seorang pedagang dan musisi jalanan, kota ini adalah basis operasi mereka. Mereka mungin sudah terbiasa dengan ini.

Adapun untuk Menel dan aku, percakapan mereka kami abaikan, dan fokus menikmati hidangan kami. Dan setelah selesai, kami memesan untuk yang kedua kalinya.

Peradaban memang suatu yang hebat dan menakjubkan!

Singkat cerita kami sampai di sebuah kuil. Sebuah bangunan besar yang dibuat dari batu putih halus, dengan tiang-tiang yang besar dan lebar, jalan setapak berlapis batu, patung-patung dewa, dan di depannya adalah taman yang penuh dengan tanaman dan pepohonan yang dipangkas dengan rapi. Menel berkomentar pastinya mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk tempat ini.

Aku meminta Menel, Tonio, dan Bee untuk menunggu di depan taman sebentar, dan aku berjalan masuk ke dalam kuil itu. Setelah di dalam, aku pikir setelah bertemu pendeta aku akan diantar untuk menemui seseorang dengan posisi tinggi.

Namun, reaksi pertama yang muncul dari diaken pemuda yang berdiri di depanku mengenakan jubah putih longgar adalah ‘mmmm” yang tidak bersahabat. Kedengarannya seperti aku memberi dia masalah.

“Kau bilang kau diberkati dengan perlindungan Gracefeel, dewa kobaran api?”

“Ya, itu benar.”

Pemuda deakon itu menggerutu lagi.

“Hal seperti itu jarang-jarang ada…. Berdasarkan aturan kami, kita harus menggunakan Detect Faith untuk menentukan…”

“Aku tidak keberatan.”

Bayangkan jika seorang pendeta dari evil god, yang tidak peduli konsekuensi atas tindakannya, sekonyong-konyong berjalan masuk dan berkata, “Aku ingin bertemu pendeta berperingkat tinggi.” Tidak semua pendeta terlatih dalam pertempuran sepertiku, jadi aku bisa paham perlunya langkah keamanan untuk memastikan jika orang yang mencurigakan–sepertiku, tidak mengabdi untuk evil god dan mencoba menyembunyikan identitasnya.

“Baik,” katanya, “tapi sangat disayangkan, semua orang yang mempunyai berkat yang layak untuk menentukan iman orang lain sedang keluar saat ini…”

“Keluar?” Untuk kuil sebesar ini? Aku terkejut hal itu bahkan mungkin terjadi.

“Ya. Serangan dari hewan buas skala besar dan kecil telah meningkat secara signifikan akhir-akhir ini. Semua orang dari wakil-bishop ke bawahnya sangat sibuk.”

Dari wakil-bishop ke bawahnya…. Apa barusan dia bilang wakil-bishop?

“Apa yang kalian lakukan di tengah jalan begini?” Kata seseorang dari belakangku dengan suara berat yang bergetar. Aku berbalik dan mendapati seorang pria paruh baya yang sangat gendut, mengenakan jubah pendeta longgar bersulam emas dan perak. Dia tidak berusaha menyembunyikan perutnya yang buncit, atau pipinya yang tembem sebagai ganti eskpresinya yang tajam. Dia mengenakan beberapa cincin emas dan perak di jari-jarinya yang besar.

“B-Bishop Bagley!” Deakon itu sangat terkejut melihat sosoknya.

“Aku tanya apa yang kalian lakukan,” Bishop Bagley mengulangi. Dia nampak tersinggung.

Deakon itu nampak sangat gelisah dan terlihat seperti dia tidak bisa memberikan jawaban yang benar. Meskipun ini sikap yang buruk, aku putuskan untuk menyela.

“Salam kenal. Namaku William G. Maryblood. Aku diberkati dengan perlindungan dewa kobaran api, Gracefeel, dan datang mengunjungi kuil di Whitesails ini untuk memperkenalkan diri.” Aku menaruh tangan kananku di dada sebelah kiri, sedikit merapatkan kakiku, dan membungkuk. Mary yang mengajarkanku ini.

“Hmmm. Bart Bagley. Aku yang bertanggung jawab atas tempat ini.” Bishop Bagley membungkuk padaku, dan kemudian memandang dengan tajam ke arahku. “Gracefeel.. Dewa kobaran api. Secara praktiknya pendeta dari dewa itu sudah tidak ada. Tentu saja, ada kemungkinan beberapa masih tersisa, yang kita takutkan disini adalah orang mencurigakan yang menggunakan nama Gracefeel untuk tujuan jahat….”

“Kecurigaan itu bisa dipahami. Apakah aku perlu menunjukkan berkatku sebagai bukti?”

Bishop Bagley mendengus. “Orang baru seringkali menggunakan divine protection ketika dalam masalah. Perlindungan yang diterima dari dewa tidak boleh disepelekan dan tentunya bukan untuk ajang pamer.”

Wow. Itu tanggapan yang tidak kusangka, tapi kalau dipikir-pikir, dia ada benarnya. Gus pernah mengatakan hal yang sama tentang sihir. Berkat tidak membawa banyak resiko, jadi aku seringkali menggunakannya tanpa pikir panjang, dia sangat benar.

“Anda benar. Terimakasih telah manyadarkanku dari kenaifanku.”

Bishop mendengus lagi. “Apa yang telah kau pahami setelah menerima pengajaran dari dewa kobaran api?”

“Cahaya adalah eksistensi dari kegelapan. Kata-kata adalah eksistensi dari diam. Dan hidup adalah eksistensi dari kematian.”

Bishop kembali mendengus untuk kesekian kalinya. “Kau,” katanya pada deacon itu. “Tambahkan dia ke daftar anggota dan ajak keliling kuil untuk melihat-lihat.”

“Huh? Tapi… Kita masih perlu menggunakan Detect Faith dan Detect Lie untuk–”

“Idiot!” Suaranya menggelegar seperti sambaran petir. “Apa kau tuli?!” Suaranya menggema ke seluruh kuil, mengawang-awang di udara seperti badai. Orang lain menatap ke arah kami.

“Aku harus siap-siap untuk acara penjamuan Guild Waver–nikmati waktumu, jangan buat masalah, dan berdonasi lah sedikit jika memungkinkan,” Bishop Bagley berkata padaku tanpa jeda dalam kalimatnya, kemudian pergi ke suatu tempat di dalam kuil. Sedangkan deakon itu masih menundukkan kepalanya.

Setelah bishop menghilang sepenuhnya, deakon itu akhirnya mulai berbicara denganku, dengan nada suara yang terdengar masih terguncang. “Ada apa dengan Bishop Bagley sebenarnya?” katanya. “Dia sungguh membuat kita kelabakan, tidakkah kau setuju? Aku terkesan kau bisa menghadapi orang itu dengan baik.”

Kemudian ia berbicara tentang betapa borosnya bishop itu menghabiskan waktunya dalam penjamuan, tidak pernah sekalipun menggunakan berkatnya, cepat marah, dan sering mengeluh; di sisi lain, wakil-bishop adalah orang terhormat yang luar biasa dan hal-hal bagus yang disebutkan tentangnya.

Tidak ingin membela pihak manapun, aku memberinya anggukan ringan selagi menyelesaikan registrasiku. Kemudian, setelah kembali menemui Menel, Bee, dan Tonio, aku meminta deakon itu mengajak kami keliling kuil lalu mengantar kami ke kamar tamu. Ruangannya cukup sederhana, tapi setidaknya kami diberikan lebih dari sekedar kasur jerami untuk tidur; ada kasur dengan spray disana.

“Katakan,” kataku, “tentang bishop disini, um..”

“Mmm, tidak banyak hal baik yang kudengar tentangnya, kurasa?” Kata Bee. “Seperti dia sedikit congkak. Dan materialistik.”

“Dia juga orang yang memiliki pengaruh dalam perdagangan di kota dan serikat-serikat industri di balik layar,” tambah Tonio.

Huh. Itu reputasi yang dia punya? Saat aku mencoba menggabungkan informasi bersama-sama dengan kesanku padanya, aku sadar sulit untuk konsentrasi. Suara bising apa yang ada di luar? Kedengarannya seperti dentang yang tidak putus-putus, mungkin suara lonceng.

Ekspresi Bee, berubah, dia tampak kebingungan.

“Itu… bukan lonceng pertanda waktu….” katanya.

“Mereka memukul-mukulnya… Apakah ada kebakaran atau semacamnya?!”

“Ya, kedengarannya itu adalah lonceng darurat,” kata Tonio.

Kecemasan mulai menyebar ke seluruh kuil. Kami bergegas mengenakan perlengkapan kami dan barang-barang lainnya yang kami simpan di sudut ruangan. Kami mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru menuruni lorong, dan kemudian berteriak.

“Wyvern! Wyvern! Semuanya, Lariiiiii!!”

Di luar dinding ruangan dan diatas atap, hembusan angin yang rendah dan bayangan besar lewat diatas kepala kami. Sekejap kemudian, suara hentakan yang besar menggema ke seluruh kuil.

“Hnnnggggggg!”

“Ow, oww, owwww!”

“Seseorang! Siapapun tolong! Ada orang yang terjepit di bawah sini!!!”

“Apa yang terjadi?!”

“Jangan dorong-dorong!!”

“Anakku, apa seseorang melihat anakku?!”

“Astaga…!”

Situasi dalam kuil berada dalam kepanikan. Sambil mengenakan zirahku, aku pergi ke halaman gedung yang dikelilingi oleh gang-gang. Menggunakan dekorasi arsitektural kuil dan pilar sebagai acuan, aku melompat ke sisi bangunan, dan setelah beberapa lompatan, aku sampai di atap.

Kuil ini terdiri dari banyak bangunan, seperti asrama, ruang pertemuan, dan lain-lain. Saat memeriksa sekitar, aku perhatikan bahwa atap dari gedung utama telah roboh.

Aku menatap ke bawahnya. Terjadi kekacauan di sana; aku perkirakan ada banyak orang yang mungkin terjebak di bawah puing-puing. Bencana ini terjadi ketika para pendeta berperingkat tinggi sedang keluar sekarang; sepertinya memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk membuat situasi agar terkendali. Tanpa sadar aku mengernyit.

Namun aku tidak bisa pergi ke sana dan menolong mereka.

Aku memalingkan mata, dan melihat siluet abu-abu berputar-putar di atas langit Whitesails. Dia memiliki ekor yang panjang dan sayap sangat besar yang terbuat lembaran kulit. Berjejer di belakang punggungnya adalah serangkaian pisau seperti paku, dan lehernya begitu tebal sehingga kau nyaris bisa melingkarkan kedua tanganmu disana. Samar-samar aku bisa melihat nafas api dari mulutnya.

Gerakan berputar-putar dari sosok rampingnya sangat penuh dengan energi, dan aku bisa yakin bahwa pemandangan ini akan membuat bulu kuduk siapapun berdiri jika melihatnya.

Itu adalah seekor wyvern.

Dia bertengger di salah satu menara kota dengan kakinya yang menggenggam erat berdiri disana. Kekuatan dari pendaratan itu menghancurkan struktur bangunan. Saat bebatuan dinding menara itu berjatuhan, wyvern itu menghentakkan kakinya lagi, kembali terbang berputar-putar di atas langit Whitesails.

Orang-orang di permukaan yang sepertinya para tentara secara berkala menembakan anak panah ke arah wyvern, tapi sepertinya mahluk itu tidak memperdulikannya. Gerakannya terlalu cepat. Para tentara yang mengincar wyvern itu, mereka bahkan tidak bisa mempertahankan jarak. Dan jika mereka terlalu dekat, mereka tidak akan pernah bisa mendaratkan satu tembakanpun dengan kecepatan terbang seperti itu.

Api keluar dari mulut wyvern itu–nafas api. Dari are yang terjilat oleh lidah api itu teriakan dan tangisan begitu keras sehingga aku bisa mendengarnya dari kuil. Rumah-rumah terkena api. Orang-orang berlarian, saling mendorong berjuang untuk melarikan diri. Sang wyvern mengaum senang dan menukik ke bawah.

Atap ubin beterbangan karena tekanan angin, berjatuhan kemana-mana dan membanting ke jalan raya. Beberapa rumah telah roboh. Kepanikan semakin menjadi. Beberapa orang tersungkur. Aku bisa yakin ada beberapa yang terinjak-injak. Aku bisa mendengar bangunan yang roboh. Sang wyvern menghancurkan yang lain.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa wyvern itu melakukan ini? Namun itu tidak mengubah kenyataan: kota ini sedang dihancurkan di depan mataku. Peradaban–yang mereka bertiga perjuangkan untuk dilindungi–sebuah tempat dimana orang-orang harusnya hidup–sedang dihancurkan.

Aku menjadi naik pitam.

“Verba volant…” Perafalan ini sedikit agak panjang–bukan sesuatu yang biasanya kugunakan. Bersamaan dengan perafalan lisanku, aku menambahkan Word lain dengan sebuah gerakan dari jariku untuk meningkatkan jaraknya, dan kemudian–

“Tonitrus!!”

Waktu itu, terdengar suara yang memekakkan telinga, seperti suara lonceng yang rusak karena dipukul sekeras mungkin, atau mungkin suara sebuah meriam. Aku mencium bau udara yang terbakar saat sebuah kilat menyambar dari tempatku berdiri di atap kuil mengarah langsung ke wyvern yang dengan sombongnya terbang di atas kota.

Namun itu tidak kena! Jaraknya terlalu jauh. Bukan cuma itu, namun serangan lurus ini sangat tidak akurat melawan wyvern yang memiliki kebebasan penuh di udara untuk terbang ke segala arah. Jarak untuk sihir kuno tidak begitu hebat semenjak awal; itu mungkin tidak membantu juga. Word adalah Word, mereka lemah terhadap jarak, memiliki efek yang lebih kecil pada target yang lebih jauh.

Aku menyiapkan tembakan kedua. Word yang bisa kugunakan dalam jumlah stabilitas yang masuk akal, Word of Lightning yang diperkuat dengan jarak yang lebih luas. Aku bisa menembakan sebanyak yang diperlukan sampai aku mengenainya. Itulah yang terlintas di kepalaku, pemikiran yang berasal dari keputusasaan, kemarahan, dan hilangnya ketenangan–

“Apa yang kau lakukan, bodoh?!” Bagian belakang kepalaku tiba-tiba terasa sakit. Aku berbalik, dan Menel ada di belakangku. Dia pastinya mengikutiku ke atap. “Jangan merapalkan sihir terus menerus karena marah! Kau akan menghancurkan dirimu sendiri!” Dia tampak marah. “Dan sihir tingkat tinggi seperti itu?! Apa kau bosan hidup?!”

“Tapi–”

“Bapakmu tapi!” Menel menarik kerahku. “Kau sedang melawan seekor wyvern! Yang kumaksud adalah lakukan dengan efisien! Untuk orang secerdas dirimu, yang kau lakukan itu perbuatan bodoh, kau paham itu?! Kau sudah diberi otak, pakai dulu itu!”

Ditusuk oleh mata zamrudnya yang tajam, aku tiba-tiba mendapatkan kembali ketenanganku.

–Pakailah sihir seminim mungkin, dengan akurat dan penuh perhitungan.

Pengajaran Gus kembali terngiang di kepalaku. Aku bisa merasakan pikiranku semakin jernih. Gus tidak akan kehilangan ketenangan di situasi seperti ini. Akurat. Penuh perhitungan. Hanya gunakan ketika dibutuhkan, dan sebanyak yang diperlukan.

“Aku paham.”

“Bagus.”

Aku mulai berpikir. Dengan kemampuanku sekarang, apa yang bisa kuperbuat pada wyvern itu? Ide yang tak terhitung jumlahnya melesat pada sirkuit di pikiranku seperti kembang api, masing-masing dipertimbangkan sesaat sebelum menghilang. “Baiklah.” Aku mengangguk. “Menel, aku memerlukan bantuanmu dan bantuan para elementalmu.”

“Dipahami.” Menel mengangguk juga.

“Dan Bee, Tonio!” Aku memanggil ke arah halaman kuil, dimana aku bisa melihat mereka berdiri. Berkat Word of Lightning, banyak orang memfokuskan perhatian mereka ke kami di atas atap. “Bimbing semua orang untuk keluar melalui bagian depan taman kuil!” Aku melambaikan tanganku secara dramatis dan berteriak. “Kami akan menjatuhkan wyvern itu!”

“Kita mulai. ‘Sylphs, Sylphs, maidens of wind. Your steps are the wind’s steps, your songs are the wind’s songs.”

Suaranya terdengar jelas saat ia merapalkan kata-kata itu. Para elemental berkumpul dan menari-nari.

“‘Sing in chorus, sing in rounds, cheer and shout applause. Thine harmonic tones spread the primordial Words in the ten directions.”

Semenjak Menel mulai merapalkan mantranya, peri-peri kecil mulai bermunculan dari segala arah, mengabur bersama terpaan angin dan berkelap-kelip.

Sylphs—elemental angin. Setelah aku yakin akan hal itu, aku mulai melantunkan Word.

“Verba volant…”

Ini sihir yang sama seperti sebelumnya, Word of Lightning, namun aku memperluasnya dengan Word yang dulu Gus gunakan untuk menghancurkan splinter dari dewa undeath.

“…conciliat, sequitur…”

Aku menggunakan jari-jariku juga, menggambar beberapa Word rumit di udara. Seperti sebuah crest atau lingkaran sihir, simbol-simbol rumit menyebar di udara. Dan pada akhirnya, aku membentangkan tanganku dalam khidmat dan berteriak–

“Tonitrus… Araneum!!”

Dalam sekejap Word bergema. Sylph yang berkumpul makin bermunculan, harmoni mereka makin meningkat, dan petir menyambar terus menerus membelah udara. Jaring dari kilat menyebar keluar, dan meskipun melemah seiring peluncuran, masih turun dan jatuh seperti jaring ke atas wyvern yang terbang jauh di atas.

Monster itu mengaum kesakitan. Suaranya memekakkan telinga, postur terbangnya hancur. Namun dia hanya terkena salah satu dari sekian banyak petir yang melemah dari jarak yang sangat jauh; itu tidak cukup untuk menjatuhkannya. Dia dengan cepat pulih dan menyeimbangkan tubuhnya.

Bagi wyvern itu, petir yang menyambarnya mungkin cuma terasa “sangat sakit”, tak lebih dari itu–namun itu cukup. Perhatiannya teralihkan ke arah kami. Dia menatap kami, pelaku yang menyebabkan rasa sakit itu–kemudian ia mulai terbang berputar-putar dan meluncur ke arah kami. Wyvern itu sudah menganggap kami sebagai musuhnya.

Monster-monster semacam itu aslinya agresif. Gus pernah memberitahuku bahwa pada situasi dimana hewan buas terbang, monster seperti wyvern akan cenderung bertingkah agresif.

“Dia datang.”

Hanya tersisa satu masalah, sebuah pertanyaan, dan itu adalah bagaimana caranya sekarang aku melakukan seperti mereka bertiga dulu.

Saat wyvern itu kian mendekat, aku dengan cepat merapalkan mantra dan doa ke diriku dan Menel untuk meningkatkan kemampuan fisik kami. Menel juga memanggil beberapa elemental, dan memperkuat kami berdua dengan cara yang sama. Makin lama, semakin pula sosok seperti burung itu semakin besar saat ia mendekat.

Garcefeel, kupikir, aku sekarang akan bertarung demi sumpahku: menumpas kejahatan dan memberi pertolongan bagi mereka yang kesusahan. Tolong, berkati aku dengan perlindunganmu!

“Atas api Gracefeel!” Aku menggenggam tombakku, Pale Moon, di kedua tangan dan memanjatkan doa. Sebuah dinding besar dari cahaya bangkit mengelilingi kuil. Ini adalah berkat Sanctuary (Tempat Perlindungan).

Beberapa orang berteriak panik di bawah sana, namun aku mengabaikan mereka untuk saat ini. Aku tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan mereka.

Wyvern menerjang lurus ke arah kami dan bertabrakan dengan dinding besar. Suara hentakan bisa terdengar.

Aku berdoa. Aku berdoa.

Tak terhancurkan seperti adamantine. Jadilah kekal. Jadilah tahan lama. Tolak semua kejahatan!!

Namun tiba-tiba, aku mendengar suara hisapan nafas tajam yang diikuti suara retakan yang bergema, semua orang membatu, suara mereka tertahan.

“Apa–”

Bahkan aku pun, untuk sesaat lupa tentang doa, dan mataku terbuka lebar. Apa yang kulihat ini? Wyvern itu sedang berjuang menerobos dinding cahaya, dan urat di sekujur tubuhnya berubah hitam, asap beracun keluar dari setiap bagiannya. Miasma hitam terus menggerogoti dinding suci, merusaknya, dan kemudian–

Dengan taji di kakinya, wyvern itu menendang dinding cahaya. Terdengar suara seperti kaca yang pecah, dan ketika wyvern itu turun, sekarang dengan miasma hitam, aku melihat sepasang mata reptil, tanpa emosi, menatap ke arahku.

Secara reflex aku berguling untuk menghindar, dan cakar tebal di kakinya itu hanya melewatiku. Tekanan angin menghempaskan atap genting kemana-mana. Aku kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh dari atap, nyaris tidak berhasil meraih bagian tepi.

“‘Sylphs! Elegant maidens of the wind, princesses who dance in the gale!’” Itu adalah suara Menel. Dia dengan cekatan tetap mempertahankan keseimbangannya dan masih dengan tegap menginjakan kakinya di atap.

Wyvern itu mendengus dan kemudian berbalik, meninggalkan jejak miasma di belakangnya saat dia terbang, dan sekali lagi mendekati atap dimana Menel berdiri–

“‘Those foolish enough fancy themselves better dancers—’” Itu adalah perapalan lain. “‘Show them the bitter taste of earth!’”

Pada waktu itu, angin yang kuat berhembus. Tidak masalah seberapa aneh penampilan dan tingkah laku wyvern itu, tidak ada yang bisa dia lakukan secara fisik terhadap hembusan angin kuat yang menggebor sayap-sayapnya. Postur terbangnya hancur, dan–

“Will!!”

“Ligatur, nodus, obligatio!” Aku merapalkan mantra pengunci lagi dan lagi. Sayap-sayap wyvern itu mengejang.

Makhluk itu berontak, berusaha melawan mantra tersebut, dan kemudian jatuh menubruk tanah. Terdengar suara guncangan hebat, dan tanah bergemuruh. Aku melihat ke bawah dan mendapati wyvern itu jatuh mengenai air mancur di depan taman.

Aku melompat dari atas atap, mendarat dengan aman, dan berjalan ke arah wyvern itu.

Di dalam kepalaku, aku bisa merasakan rantai-rantai menegang, rekahan-rekahan terbentuk dalam sebuah cincin baja. Wyvern itu berontak melawan mantra pengunci. Jika diberikan waktu yang cukup, dia akan bisa menghancurkannya terbebas dan terbang lagi ke langit. Tentu aku tidak akan membiarkannya terjadi

Air mancur itu sudah hancur, dan air terus menyembur keluar ke bagian depan taman kuil.

Menggenggam erat tombakku, aku berlari ke arah wyvern yang terjerembab disana. Tujuanku jelas: mengincar jantung atau tenggorokannya. Sama seperti Blood, yang menghabisi seekor wyvern dengan hanya satu ayunan pedangnya, aku berencana mengakhiri ini dengan satu serangan dengan mengincar titik lemahnya.

Wyvern itu merasakan aku mendekat dan memalingkan kepalanya.

“Acceleratio!” Aku meluncur ke depan seperti peluru, mengincar jantungnya, Pale Moon bersinar di kedua tanganku. Dengan momentum yang hebat, bidang di sekelilingku berpindah, tubuh wyvern itu dengan cepat menjadi besar dalam pandanganku–dan saat selanjutnya, terdengar auman hebat, dan wyvern itu juga menerjang ke arahku.

Kami berpapasan–dan kemudian–sebuah benturan. Aku mendorong tombakku kedalam dadanya yang memancarkan miasma, dan dengan sekali nafas, dengan cepat aku beranjak sebelum pergelangan tangan dan sikuku remuk oleh momentum monster itu, dan berguling ke samping. Tombak itu sudah menancap di dadanya. Tidak ada keraguan.

Sorak sorai bangkit di sekitarku.

Akan tetapi–

“Tidak mungkin…” Aku mendengar suara Bee dari suatu tempat.

Aku berbalik, sebuah perasaan menakutkan terbentuk di dalam diriku. Wyvern itu perlahan memalingkan kepalanya ke arahku juga. Apakah tombakku tertahan oleh kulitnya yang elastis? Apakah ototnya sekeras itu? Atau apakah aku cuma gagal mengenai target? Yang manapun itu–aku gagal menusuk jantungnya.

Lebih banyak miasma yang keluar. Wyvern itu manatapku, api merah terbakar didalam mulutnya.

“Lari!!! Dia akan menyemburkan api!!”

Masih banyak orang di belakangku yang belum melarikan diri. Aku tidak boleh membiarkannya menyemburkan api. Namun waktunya tidak sempat, aku tidak punya rencana. Aku harus bertindak. Lakukan! Tapi apa?!!

Dan kemudian–di dalam hatiku–Blood tertawa. Dia tertawa keras. Lalu berbicara:

Hancurkan dia.

“Acceleratio!” Dengan mantra itu, aku menerjang tepat ke arah wyvern, begitu dekat sampai aku bisa merasakan nafasnya. Untuk mencegah dirinya melukai diri sendiri, monster itu membiarkan apinya keluar dari sisi-sisi mulutnya, menggertakkan rahangnya ke arahku. Yaris aku tidak bisa mengelak, aku mencengkram pergelangan lehernya yang besar dengan kedua tanganku.

Tidak bisa memikirkan solusi yang bagus? Sifat dari musuhmu tidak diketahui? Di dalam kepalaku, Blood mengangkat tinju dan berteriak. GUNAKAN OTOTMU! HAJAR DIA! REMUKKAN DIA!!

Miasma yang keluar dari wyvern itu perlahan mulai menggerogoti lenganku, namun stigmataku yang membakar disana–cahaya putih melindungiku.

Aku mendengus saat aku menegangkan otot-ototku. Wyvern itu melawan. Aku mencengkram lehernya keras-keras, menyumbat saluran pernafasan dan peredaran darahnya. Aku merentangkan kakiku lebar-lebar dan menurunkan pangkal pahaku, memastikan aku memiliki tumpuan yang baik. Dengan semua kekuatanku, aku memutar tubuhku untuk menahan wyvern yang memberontak.

Wyvern yang besar itu terangkat ke udara.

Aku mengangkat dan menghempaskan kembali ke air mancur, air menyembur ke segala arah.. Kemudian bumi kembali berguncang, namun aku terus mengencangkan lenganku erat-erat ke lehernya. Aku tidak akan membiarkannya pergi.

“H……Headlock throw?!” seseorang bertanya.

(https://en.m.wiktionary.org/wiki/headlock)

Ya, headlock throw, kurasa. Aku mengunci kepalanya dan kemudian membantingnya, tentu saja itu headlock throw. Bukankah sudah jelas?

Aku naik ke atas wyvern yang ambruk itu, terus mencekiknya sekeras yang kubisa. Di belakangku, tubuh monster itu memberontak dengan liar, terus menendang dan mengejang. Dia dengan mati-matian mencoba menghentikanku dari mencekiknya. Aku mengeram dan menempatkan semua kekuatanku ke dalam otot-ototku. Sekarang ini adalah kontes adu kekuatan melawan wyvern, dengan semua tenaga yang kupunya. Aku terus menahannya agar tidak melawan dan bangkit; sebenarnya, aku menekan wyvern itu ke bawah, mendorongnya keras-keras ke tanah.

Kau tidak bisa lari, sobat. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak akan membiarkanmu menyemburkan api lagi dari tenggorokanmu itu.

Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan sayap itu lagi untuk terbang. Aku tidak akan membiarkan taring atau cakarmu menyakiti orang lagi!

Saat kerumunan menyaksikan ini, nafas semua orang tertahan, dalam senyap itu, akhirnya terdengar suara gemerutuk, tulang leher wyvern itu patah.

Leher wyvern yang lemas berada di kedua lenganku. Untuk lebih amannya dan memastikan dia benar-benar mati, aku terus mencekiknya sedikit lebih lama, dan kemudian aku menyadari keheningan telah jatuh di sekitarku.

Orang-orang yang sedari awal sudah berada di kuil, dan orang-orang yang mengungsi kemari dari tempat lain di sudut kota–begitu banyak orang yang menatap ke arahku. Emosi di dalam mata mereka begitu kompleks, dan tiba-tiba aku sadar bahwa aku berada dalam masalah.

Aku telah mematahkan leher seekor wyvern yang beratnya berkisar dua ton (jika membandingkannya dengan buaya air asin sepanjang enam meter yang memiliki bobot satu ton), dan aku melakukannya di depan mereka. Nyaris sebelum nafas api wyvern itu membakarku dan orang-orang di dekatku menjadi arang, jadi agar aku menang tanpa membuat orang lain terbunuh, aku tidak punya pilihan selain mencekik monster itu sampai mati. Biarpun begitu, meski aku sadar bahwa apa yang kulakukan ini tergolong gila. Jika pada akhirnya mereka menganggap bahwa aku adalah sosok yang berbahaya–

“Spektakuler!! Menakjubkan!” Terdengar suara tepuk tangan. Kebingungan, aku berbalik dan… disana adalah Tonio. “Terimakasih dewa karena mereka telah mengirim seorang pahlawan ke tempat ini!”

Bertepuk tangan dengan gaya yang berlebihan, Tonio melangkah ke arahku seolah dia tidak mengenal siapa aku. Kemudian, dia memberiku senyum singkat dan menaikan sebelah alisnya yang orang-orang tidak bisa lihat dari tempat mereka berdiri. Aku melepaskan leher wyvern itu dan berdiri. Tonio memegang kedua tanganku dan mengayunkannya selagi berkata betapa bersyukur dirinya.

Sesaat kemudian aku menyadari apa yang coba ia lakukan.

“Tidak masalah,” kataku sambil tersenyum, dan menepuk bahunya.

Bee pastinya sudah menyadari niatnya juga. Memetik alat musiknya, dia berseru, “Sang Pembunuh Wyvern! Hari ini, pahwana baru telah lahir!” Suaranya dibawakan dengan baik. “Mari beri tepuk tangan meriah pada pahlawan kita!”

Dia membimbing, dan beberapa tepuk tangan canggung kemudian mengikutinya–makin lama tepuk tangan makin keras dan meriah. Semuanya diisi dengan keceriaan, dan tak lama kemudian aku mulai dikerumuni orang-orang. Mereka menyentuh tanganku dan meminta berjabat tangan, berkata “Terima kasih” lagi dan lagi.

Aku punya perasaan bahwa aku baru saja selamat dari situasi yang cukup berbahaya. Menel dan aku mungkin tidak akan menemukan cara untuk keluar dari situasi ini sendiri. Hanya dengan bantuan Tonio dan Bee, dengan semua pengalaman mereka mengendalikan masyarakat, bisa berhasil sebaik ini. Aku sangat bersyukur.

Setelah pujian-pujian itu mereda, aku menaikan suaraku dan memanggil ke kerumunan. “Kemungkinan masih ada yang terkubur di bawah puing-puing, dan orang-orang yang terluka!! Mari kita bantu selamatkan mereka semuanya!!”

Sorakan persetujuan bangkit dari kerumunan. Dengan kompak, mereka menuju aula dan bekerja bersamanya untuk memindahkan puing-puing dan merawat mereka yang terluka. Perasaan aneh dari solidaritas terbentuk diantara bermacam-macam orang.

Selagi semua orang sibuk, aku menemukan waktu untuk segera berterimakasih kepada Bee dan Tonio.

“Oh, sama sekali bukan masalah,” Tonio membalas. “Aku menganggap ini sebagai investasi.”

“Hehe.” Bee tertawa ejek. “Aku akan membuat sebuah lagu tentang ini nanti, oke?”

Selagi membantu memindahkan beberapa batu besar, aku juga bertukar beberapa kata dengan Menel.

“Seriusan, adakah sesuatu yang tidak bisa kau lakukan? Apa kau memang tidak normal dari sananya?” Dia bertanya.

“Terkejut?” Jawabku.

“Aku sudah terbiasa oleh ketidaknormalan mu itu.”

“Yah, untukku, sangat menyakitkan kalau mengingat seberapa jauhnya hal-hal yang masih harus kulalui.”

“Eh wanjir!”

Wyvern itu memiliki urat hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan memuntahkan gas berbahaya. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Mungkin ia telah bermutasi, atau dikutuk setelah mengaktifkan perangkap di sebuah reruntuhan, atau seseorang sengaja menciptakannya untuk tujuan jahat. Apapun itu, aku tidak bisa berhenti berspekulasi bahwa penampilan abnormalnya dan alasan kenapa ia menyerang saling terhubung.

Tentu saja, aku tidak menampik kemungkinan bahwa keduanya benar-benar tidak berhubungan, dan tingkah laku wyvern itu murni kerena insting. Akan tetapi, untuk seekor wyvern yang menyerang sebuah kota manusia, aku menganggap ini tak lebih dari bunuh diri. Memang sih wyvern itu tak terkalahkan, namun itu cuma karena dia menyerang kota dengan tiba-tiba yang memberinya keuntungan. Bukan itu inti masalahnya, jika saja kota mulai mengirim legiun tentara yang tepat, para penyihir, dan pendeta, wyvern itu kemungkinan sudah tamat.

Jadi ini tidak normal, dan sepertinya dia wyvern yang lebih kuat dari kebanyakan, meski begitu, pertarungan barusan benar-benar kacau. Jika Menel tidak disana, kemungkinan aku sudah mati. Lebih jauh lagi, jika bukan karena Tonio dan Bee, aku tidak bisa menampik kemungkinan menderita kematian sosial.

Bermacam-macam kecaman terus bermunculan di kepalaku, betapa naifnya diriku selama ini, semua kesalahan yang kubuat, dan bagaimana aku tidak memperhitungkan segalanya.

“Will. Kawan.” Menel memanggilku. Aku tersadar dari lamunanku dan menatapnya. “Aku tidak tahu sejauh mana kau menyalahkan diri sendiri, tapi ayolah. Kau baru saja membunuh seekor monster. Bagus jika kau mengkritik diri sendiri, tapi beri juga dirimu beberapa penghargaan. Aku berusaha senang untukmu disini.”

Aku sama sekali tidak memikirkan itu. Dan meskipun ada banyak hal yang aku harap diselesaikan secara berbeda, sekarang ini aku adalah “Pembunuhan Wyvern,” seperti mereka bertiga dulu.

“Yeah… ” Dia benar. Aku senang tentang itu. “Yeah… Yeah. Terimakasih, Menel! Aku tidak bisa berhasil kalau tanpamu!”

“Ya. Kerja bagus. Dan kau orang yang paling berjasa, kawan!” Dia memberiku kepalan tinju. Gestur sederhana itu benar-benar membuat kami saling terhubung satu sama lain dalam banyak cara.

Seberapa lama kami bekerja setelah itu?

Kami telah menyerahkan mayat wyvern itu ke para tentara yang datang ke tempat kejadian tak lama setelahnya. Kekhawatiran terbesarku adalah apakah kita sudah selesai mengeluarkan semua orang yang terluka di bawah reruntuhan. Tepat saat aku memikirkan bahwa kami telah menemukan semua orang yang terjebak, aku mendengar keributan di sekitar gerbang kuil.

Beberapa pendeta datang berlari ke atah kami. “Pembunuh Wyvern! Apakah Pembunuhan Wyvern disini?”

“Oh! Itu aku, ada apa?!” Aku melambaikan tanganku ke mereka.

Mereka terlihat seperti memang terburu-buru. Mereka bicara padaku dengan nafas pendek menginformasikan bahwa mereka akan mengurus pekerjaan sisanya dan memintaku mengikuti mereka.

“Y–Yang Mulia….”

“Yang Mulia, adik sang Raja, ingin berbicara denganmu!”

Aku mematung.

Ruangan itu penuh dengan warna-warna yang memberikan semangat. Berbagai anyaman warna-warni menghiasi dinding, dan dekorasinya bisa dijelaskan dengan satu kata: kemegahan. Semuanya menyiratkan kekuatan tanpa cita rasa yang buruk. Ruangan ini mungkin sengaja dikhususkan untuk tujuan tersebut.

Menel dan aku telah diundang ke mansion yang dimiliki lord Whitesails, dan kami baru saja sampai di ruangan penerimaan tamu.

“Selamat datang di mansionku, pahlawan.” Berdiri di sisi lain meja kayu eboni yang besar, Duke Ethelbald Rex Fertile menyambut kami dengan tangan terbuka. Adik dari Raja Fertile Kingdom, dia adalah lord Whitesails dan penguasa Soutmark.

Dia memiliki mata yang tajam, kurasa. Berwarna ungu tua, tatapannya seolah menembus jiwaku yang paling dalam. Dia mengingatkanku akan mata burung pemangsa yang mengincar buruannya.

Rambutnya berwarna ungu muda yang dipotong pendek, dan sepertinya dia sangat rajin melatih tubuhnya. Dia mengenakan pakaian berkualitas tinggi, dan sebuah pedang di pinggulnya. Sarung pedangnya tampak tidak terlalu banyak ornamen, dan terlihat cepat untuk ditarik, menandakan bahwa senjata itu bukan sekedar untuk hiasan.

Di belakangnya berdiri dua penjaga berpenampilan serius dalam armor penuh.

“Sungguh suatu kehormatan bisa menyaksikan kejayaan anda, Yang Mulia. Nama saya William G. Maryblood, hadir atas permintaan anda.” Aku menempatkan tangan kananku di sisi kiri dadaku, menarik kaki kiriku sedikit ke belakang, dan membungkuk.

“Oh!” Duke Soutmark menanggapi. Apakah aku melakukan kesalahan? “Aku terkejut kau mengenali adat tua seperti itu. Jika tebakanku benar, kau adalah seseorang berdarah biru?” Dia bertanya, kemudian membalasku dengan sikap yang sama.

Sepertinya yang kulakukan sudah benar, namun dia sedikit salah paham disini. “Bukan, um… Saya akan sangat menghargai jika Yang Mulia tidak membahas soal kelahiran saya.”

Yah, apa boleh buat. Ini kesalahanku karena tidak menjelaskan.

“Ha ha ha. Jadi situasimu tidak biasa. Baiklah, kalau begitu. Silahkan duduk.”

Dia menawarkan kursi. Aku membungkuk sedikit dan duduk.

Aku dengan cepat menyadari tanpa melihat, bahwa Menel tidak mengambil kursinya, namun tetap berdiri di belakangku sedikit ke kanan. Ini mengejutkanku. Kenapa dia bersikap seolah dia seorang pelayan?

Sebentar… Apakah dia sengaja menyerahkan semua isi percakapan padaku seorang diri?

Aku memalingkan kepalaku sedikit dan mamberinya tatapan tajam. Aku melihat sudut bibirnya naik ke atas. Ah jancok, sesuai dugaan, aku kembali mengarahkan pandanganku ke Duke. Melihat-lihat sekitar terlalu sering selagi berhadapan dengan tuan rumah akan menjadi tidak sopan.

“Aku terkejut melihat bahwa hanya seorang perwakilan yang hadir disini…” katanya. “Perintahku adakah membawa kalian semua kemari.”

“Huh?” kataku, terkejut. Apa seharusnya aku membawa Bee dan Tonio juga bersamaku? Bee sebenarnya tertarik melihat bagian dalam mansion milik lord, tapi dia tidak memainkan peran apapun dalam pertempuran melawan wyvern, jadi kami meminta dia dan Tonio menunggu di kuil.

“William, kau bepergian dalam sebuah kelompok berjumlah empat sampai lima orang, kalau tidak salah.”

“Ah, ya. Kami berempat.” Bagaimana dia mengetahuinya?

“Seorang penyihir, seorang pendeta, seorang elementalis, dan seorang warrior. Ya, itu memang komposisi yang seimbang.”

“Huh?”

“Hmmm?”

Baik, uh… “Kami terdiri dari pendeta, seorang pemburu, seorang pedagang, dan penyair…”

“Hmm…”

Apakah salah satu dari kami… telah salah paham?

“Satu orang yang merapalkan petir ke wyvern itu, satu orang yang membangun dinding cahaya di sekitar kuil, satu orang yang mengendalikan angin, dan terakhir, seseorang yang paling banyak kudengar, warrior yang menghadapi wyvern itu dengan tangan kosong dan menghancurkan lehernya. Bukan?”

“O–Oh.” Sekarang aku paham. “Yang Mulia, saya mohon maaf atas kebingungan ini, tapi jika itu yang anda maksud, saya yakin tidak ada kesalahan jika hanya kami berdua yang mesti datang kemari.”

“Hm? Maksudmu–”

Aku mengangguk. “Teman saya Meneldor adalah yang disebut elementalis tersebut, merapalkan Word, dan membuat wyvern itu terjerembab ke tanah dengan memanipulasi angin.”

“Jadi dialah elementalis itu. Aku paham. Bagaimana tiga yang lainnya?”

“Itu adalah saya.”

“Maaf, bisa kau jelaskan lebih detail apa tepatnya yang sudah kau lakukan?”

“Pertama, saya berusaha seorang diri menembakkan petir ke wyvern itu. Yang ini gagal. Dengan bantuan Meneldor, saya mencoba serangan kedua. Kali ini sukses memprovokasi wyvern itu agar mengincar kami. Setelah itu, saya merapalkan doa Sactuary untuk mencegahnya menukik dan bermaksud menghentikan momentumnya, sayangnya, setelah wyvern itu mengeluarkan gas misterius yang berbahaya, dia berhasil menerobos penghalang tersebut…”

Menjelaskan kegagalanku sendiri keras-keras membuatku merasa agak menyedihkan. Kalau Marry dia pasti akan bisa mencegahnya menerobos.

“Semuanya tampak sangat genting waktu itu, namun dengan bantuan elemental Meneldor yang membantu dengan memberikan tekanan angin yang kuat, saya memaksa wyvern itu jatuh ke tanah menggunakan mantra pengikat. Kerumunan masih berkumpul di area tersebut, jadi saya bermaksud menghabisi wyvern itu bukan dengan sihir penghancur yang kuat, melainkan dengan menusukkan tombak saya ke jantungnya. Namun gagal.”

Blood akan memberiku tatapan aneh jika tahu aku membuat kesalahan semacam itu. Aku benar-benar perlu kembali mengulangi latihanku dari dasar.

“Wyvern itu nyaris saja menyemburkan apinya ke kerumunan dan menimbulkan banyak korban jiwa, jadi saya tidak punya pilihan selain melawannya sekali lagi, kali ini dengan tangan kosong. Dia mencoba mengigit saya, saya mengelak. Saya mengunci lehernya dan membantingnya ke tanah, terus menahannya, dan mencekiknya untuk mencegah dia menyemburkan api. Saya sudah merapalkan sihir penguatan fisik pada diri saya sebelumnya, jadi saya tetap pada posisi itu dan membiarkan otot-otot saya melakukan sisanya, hasil pertarungan diputuskan setelah saya mematahkan leher wyvern itu.”

Sungguh pertarungan yang memuakkan. Setelah aku selesai menguraikan pertarungan itu–pertarungan yang menyisakan banyak penyesalan bagiku–mulut Duke mengerut menjadi seringai. “Jadi kau membunuh seekor wyvern dan bahkan tidak merasa bangga. Sungguh suatu kehormatan bagiku menyaksikan warrior pemberani sejati yang bukan hanya ada dalam legenda.” Dan dia terkekeh.

“Jika Yang Mulia tidak keberatan atas apa yang saya katakan, apakah anda yakin bisa menghabiskan waktu dengan berbicara dengan saya seperti ini?” Tanyaku. “Tidakkah anda perlu membantu kota mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh wyvern?” Dengan banyaknya pelayan sipil dan orang-orang yang nampaknya pegawai militer berlalu-lalang, nampaknya situasi sangat sibuk di luar mansion.

“Tentu saja. Aku sudah melihat berbagai masalah yang ada, dan aku masih banyak pekerjaan setelah ini juga. Berbagai laporan, instruksi, mengunjungi tkp secara pribadi dan menenangkan para warga, mendengarkan keluh kesah mereka… ” Duke dengan sedikit bercanda menghitung satu-satu dengan jarinya. “Namun ada hal yang memerlukan prioritas paling utama.” Dia menatap ke arahu. “Contohnya… memberikan terimakasihku pada pahlawan yang menuntaskan akar dari masalah ini.” Dia memberiku senyum tawa.

“Oh, tidak, anda tidak perlu…”

“Jangan merendah. Aku tidak ingin rakyatku berbicara buruk tentangku dan menyebutku pria yang tidak tahu berterimakasih.” Duke berdiri dari tempat duduknya dan mengahadap lurus ke arahku dan Menel. “Sebagai perwakilan Whitesails, izinkan aku menunjukan rasa terimakasihku. Terimakasih karena telah dengan pesat menurunkan tingkat kerusakan yang disebabkan oleh serangan mendadak wyvern.” Dia bahkan sedikit menunduk.

Bahkan aku pun sadar bahwa seseorang dengan begitu banyak pengaruh menundukkan kepalanya bukanlah hal yang wajar. Beberapa orang mungkin berpikir itu tidak akan berpengaruh apa-apa, namun jika kau menjadi orang penting seperti dia, maka menundukan kepala kepada orang lain akan menurunkan wibawamu.

“Saya merasa terhormat.” Aku menunduk balik.

Tapi…Oh tuhan. Memikirkan apa yang hendak diungkap memberiku sakit perut yang serius. Namun aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Aku akan sangat senang jika kau mau menerima hadiah,” katanya. “Ada yang terpikirkan?”

“Ada.” Ini mungkin menyebabkan masalah besar, tapi aku harus melakukannya. Baiklah, ini dia. “Saya datang kemari dari Beast Wood, di selatan. para penduduk desa berkata bahwa wilayah tersebut saat ini berada dalam ancaman para iblis yang memiliki hewan-hewan buas berbahaya.”

“Begitu.”

“Pertama, saya ingin memastikan dulu–apakah Yang Mulia memiliki otoritas untuk memobilisasi tentara untuk berburu iblis? Apakah itu memungkinkan?”

Pandangan serius terpancar dari wajahnya. “Berbicara murni soal kapabilitas, itu tidak mustahil. Tidak mustahil, namun tentunya sulit. Kau sudah melihat wyvern itu,” katanya, sambil memijat pelipisnya dalam lingkaran kecil. “Kami tidak pernah menduga bahwa monster sekuat itu akan datang secara langsung ke Whitesails, namun kami sudah berpengalaman menghadapi monster yang sama dalam insiden yang secara rutin terjadi di Soutmark yang diperintah oleh Fertile Kingdom.”

Aku hampir takut untuk bertanya. “Yang anda maksud insiden yang sama…”

“Ya, yang kumaksud adalah miasma hitam itu. Mereka yang terinfeksi olehnya akan terpengaruh oleh racun dan mengamuk.” Dia menjelaskan bahwa hewan buas yang diselimuti benda itu tidak terkendali? “Bagaimana denganmu, William? Kau mencekik leher wyvern itu saat gas keluar darinya. Apakah itu mempengaruhimu?”

“Saya tidak mudah terkena racun, Yang Mulia.”

“Aku senang mendengarnya. Tentara sering kali ambruk setelah bertarung dengan hewan-hewan buas itu, kau tahu ”

Mengingat kembali apa yang terjadi dengan dewa undeath, sepertinya racun-racun semacam itu tidak berdampak pada tubuhku, yang diberi makan roti suci. Jadi itulah yang terjadi apabila orang biasa bersentuhan dengan miasma itu…? Ini perkiraan, tidak, pastinya ini perbuatan para iblis.

“Sumber daya kami tidak bisa menopang semua kebutuhan akibat dari kebijakan ekspansi Raja sebelumnya. Kami bahkan tidak mampu menyediakan perlindungan yang memadai ke semua penduduk yang di bawah pengawasan kami. Aku harap kau paham apa yang aku maksud.”

Aku paham, dan sisanya yang tidak bisa dia katakan juga. Di bawah situasi seperti itu, dia tidak bisa membagi pasukan demi pemukiman independen (ilegal) di garis depan, yang bahkan tidak membayar pajak ke Kerajaan atau di bawah pengawasan Kerajaan. Jika dia melakukannya, dia akan mendapat kecaman dari berbagai pemukiman desa yang resmi (yang berada di bawah pengawasan kerajaan). Dia tidak bisa mengirim pasukan ke mereka yang tidak memberi uang sementara mengabaikan mereka yang memberi uang. Dalam hal kapabilitas, secara teknik bisa dilakukan, namun dalam prakteknya, tanpa diragukan lagi mustahil.

“Jika begitu situasinya–” Aku menemukan apa yang harus dilakukan. “Bisakah Yang Mulia memberi saya izin untuk mengorganisir petualang dan tentara bayaran dalam ekspedisi pribadi untuk berburu iblis?”

Aku telah memikirkan ini beberapa kali. Tidak mungkin aku bisa pergi sendirian berburu iblis dalam jumlah besar yang merajalela di Beast Woods. Oleh sebab itu, aku perlu menghabiskan banyak uang untuk menyewa orang-orang dan meningkatkan jumlahku.

Namun waktu aku menanyakan ini, aku melihat pelipis dari Duke Soutmark merenggut. Dalam keheningan dia mengangkat kedua tangannya ke mata dan memijat-mijat pelipisnya sekali lagi, perlahan, kemudian mengembalikan tatapannya ke arahku.

“William, apa kau paham maksud dari apa yang barus saja kau minta padaku?” Dengan tajam dia menatapku. Suasana di dalam ruangan perlahan mulai berubah.

“Saya paham seberapa besar permintaan saya.”

“Dan kau tetap memintanya?”

“Ya.”

Duke menatapku untuk waktu yang lama. Aku merasa baru saja mempelajari arti sebenarnya dari istilah tersebut, “mata yang kuat”. Tatapan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang dengan tempramen lemah gemetaran dan menarik kembali opininya. Namun aku memiliki sumpah yang harus kupenuhi.

“Saya mohon pertimbangkan berapa jumlah penduduk desa yang menggantungkan harapannya, seberapa banyak orang yang akan meninggal akibat kelaparan dan kekerasan.”

“Namun untuk menyelamatkan mereka semua akan menjadi pencapaian besar yang bahkan dewa-dewa pun tak bisa memenuhinya.”

Kami saling beradu tatap, tidak satupun dari kami yang mau mengalah.

Duke adalah orang pertama yang berpaling. Kemudian dia menurunkan bahu. “Nasib jelek betul,” dia bergumam. “Ini akan jauh lebih mudah jika saja kau seorang pria tanpa reputasi.”

“Saya turut prihatin, Yang Mulia. Meski begitu, jika saya tidak membunuh wyvern, saya mungkin tidak akan mendapat perhatian publik.”

Duke meletakan kedua tangan di matanya, dan kemudian memijat pelipisnya lagi. “Cukup. Kendati demikian…” Dia terdiam.

Prestasi sang Pembunuh Wyvern mulai bertindak tidak menyenangkan.

Seperti yang dia katakan: jika saja aku cuma orang biasa yang tidak kuasa melihat daerah perbatasan dalam keadaan seperti itu dan ingin mengumpulkan beberapa orang dalam ekspedisi pribadi dan melakukan sedikit perburuan iblis, maka itu tidak jadi masalah. Dia mungkin bisa memandangnya sebelah mata. Namun kenyataannya dunia ini penuh dengan ras-ras jahat, dan menyewa petualang karena lord tidak bisa merespon cukup cepat juga dikatakan sangat normal, jadi itu masih berada dalam batas yang bisa diterima.

Nanun aku tak lain adalah pahlawan yang dikenal sebagai Pembunuh Wyvern, yang selanjutnya disalahpahami memiliki latar belakang bangsawan; dan aku mengemukakan niatku untuk mengumpulkan pasukan yang berpotensi melayani sebagai tentara pribadi, yang beroperasi di Beast Woods, sebuah daerah diluar kuasa lord saat ini.

Memangnya apa yang bebahaya dari itu, kau tanya? Ada banyak potensi resiko yang mustahil mengurut semuanya satu-satu. Contohnya saja, aku bisa menjadi pemimpin dari gerakan pemberontak. Aku mungkin bergerak demi kepentingan negara lain. Aku bisa saja terlalu berlebihan dalam menjalankan ekspedisi ini dan malah memprovokasi hewan buas hutan dan ras-ras jahat.

Jadi bertindak hati-hati jelas suatu keharusan.

“Aku mungkin mempertimbangkan kau harus mati.”

“Itu menakutkan. Bagaimana mungkin anda berkata saya harus mati?”

“Aku akan menyisakan kehormatanmu, setidaknya itu yang bisa kujanjikan. Bagaimana dengan ini: kau tiba-tiba mulai batuk darah, kemungkinan akibat racun saat pertarunganmu dengan wyvern itu. Kami mencoba merawatmu, namun sudah tak tertolong.”

Para penjaga di belakang duke bergeser sedikit. Ketika dia memberikan perintah, aku yakin mereka berdua akan menendang meja dan menerjang ke arahku.

Aku mungkin bisa melumpuhkan keduanya, namun aku juga merasakan kehadiran para tentara yang bersembunyi di sisi kanan dan kiri ruangan, yang kemungkinan akan mencoba mencingcangku berkeping-keping. Aku juga perlu waspada terhadap proyektil. Dan duke sendiri terlihat cukup terampil. Dan jika dia memberikan perintah, para penjaga akan bergerak ke posisi bertahan selagi dia mundur ke belakang, jadi akan sulit membawanya sebagai sandera…

Untuk jaga-jaga ini berakhir menjadi pertempuran, aku merenungkan apa yang mesti dilakukan, namun tak ada yang terpikirkan. Meskipun aku membunuh semua orang di mansion ini, itu akan menjadi akhir bagiku di masyarakat. Tentu itu bukan pilihan.

“Oh?” Mata duke mengerjap terhadap Menel. “Oh Tuhan…. Begitu menakutkan.” Kemudian dia menurunkan bahunya. Penasaran apa yang sebenarnya terjadi, aku melirik ke belakang, namun aku hanya melihat Menel disana yang tanpa ekspresi.

“Apa?” katanya.

“Barusan…. Ah lupakan.”

Hm. Tadi itu apa? Aku tidak bisa terus menatap Menel, jadi aku kembali berbalik ke duke.

Aku mungkin yang berperan dalam percakapan, kendati demikian, semuanya tidak berjalan dengan baik. Aku harus bisa melewati situasi ini. Kedua tanganku basah oleh keringat di bawah meja. Aku tidak punya keyakinan apakah ini akan berhasil…

“Yang Mulia.”

“Bila garam kehilangan rasa asinnya, dengan apa menurut anda sehingga garam itu bisa kembali terasa asin?

“Hmmm?” Duke menaruh rasa curiga terhadap pertanyaanku.

“Jika semua pembawa obor di dunia ini terus menyalakan obornya di siang hari, menurut anda apa yang bisa diterangi oleh obor itu?”

Dia tidak berkata apapun. Aku menatap kedua bola matanya. Pandangan kami bertemu. Aku tidak berpaling, aku tidak berkedip. Aku menatapnya lurus.

“Saya telah diberkati sepenggal cahaya oleh Gracefeel, dewa kobaran api.”

Menatapnya, aku terus berbicara.

“Saya percaya bahwa mereka yang membawa obor dari Gracefeel harus mengambil langkah awal ke kegelapan, lebih dulu dari yang lain. Mereka harus menerangi orang-orang yang menderita dalam kegelapan, dan menunjukkan jalan bagi mereka yang mengikutinya. Saya percaya itu adalah misi saya.”

Hadapi apa yang berada di depanmu. Bujuk dia dengan kata-kata yang berasal dari hati. Itulah satu-satunya cara, dan cara yang benar. Bujuk rayu jelas tidak akan berhasil pada orang ini.

“Jadi saya mohon pada anda. Bisakah Yang Mulia memberi saya izin untuk kegiatan saya?” Aku berdiri dari kursiku, berlutut, dan menurunkan kepalaku dalam sikap bungkuk yang dalam. Aku tidaklah pintar maupun cerdik. Aku benar-benar lugas padanya. Mungkin ini terbilang naif, namun kupikir jika kau hendak membuat permintaan yang tidak masuk akal ke seseorang, kau mesti jujur padanya.

Duke itu terdiam.

“William,” katanya, setelah bungkam untuk waktu yang lama. “Hampir dalam semua kasus, jalan yang kau ambil ini akan berakhir menuju keputusaan. Sangat jarang mendapatkan hasil yang kau idamkan, dan sekalipun berhasil, kau akan membayarnya dengan harga yang mahal.”

Mendengar kata-kata itu, aku perlahan mengangkat kepalaku, dan tersenyum ke Yang Mulia. Aku sudah tahu itu, kupikir. Kendati demikian–

“Sebenarnya, saya mempunyai beberapa urusan dengan keputusasaan itu,” tanggapku.

“Oh? Memangnya urusan macam apa?”

“Yah, saya hanya tidak menyukai penampilannya, jadi aku bermaksud menendang bokongnya sehingga dia paham,” kataku, menurunkan bahu.

Duke nampak agak terkejut mendengar jawabanku untuk sesaat… dan kemudian tawanya lepas. “Hahahaha! Menendang bokongnya, ya. Aku suka itu. Hah hah hah!”

Sepertinya ini berjalan lancar. Duke memegang tepi meja dan memukul-mukulnya. Bahkan matanya berair.

“Haha. Ya…. Aku hampir lupa. Kau, bagaimanpun juga, adalah seorang pendeta, yang bahkan mampu merapalkan Sanctuary. Ditambah lagi teman baik yang kau punya itu.”

“Huh? Uhh…”

“Hm? Kau tidak sadar? Tepat saat aku bilang kau harus mati, half-elf di belakangmu melihatku dengan tatapan membunuh. Itu adalah tatapan seorang tentara yang bersiap untuk mati. Dia sudah bersiap membunuh semua orang disini dan bertarung demi melindungimu! Sangat mengesankan, sangat mengesankan… ” duke tertawa.

Aku perlahan melirik ke belakang.

“I-Itu boho! Aku cuma…. jaga-jaga, sangat mungkin dia akan membunuhku juga, cuma itu… Ah sial, berhenti menyeringai seperti orang idiot!”

Aku tidak sadar, namun aku baru saja membuat suasana hati Menel bahkan semakin buruk.

Tiba-tiba, dari arah koridor, aku mendengar suara langkah kaki terburu-buru dan teriakan yang keras.

“B-Bishop, tolong berhenti, Yang Mulia sedang dalam perbincangan–”

“Tunggu! Ayah, tunggu!”

“Lepaskan aku! Kubilang lepaskan!”

Aku bisa mendengar berbagai macam suara.

“Jangan ikut campur, kau bodoh!”

Pintu terbuka dengan suara bang.

Itu adalah Bishop Bagley. Dia diikuti oleh jajaran pelayan mansion, seorang wanita muda yang kupikir adalah seorang deakon, dan lebih banyak lagi di sampingnya. Menghela nafas berat, dia menginjakkan kakinya ke dalam ruangan, menyeret orang-orang yang menggantung padanya karena protes, dan tanpa basa-basi, dia berdiri di depan duke

Mata Bishop bersinar dengan cara yang berbeda dengan Ethelbald, dan dia sesaat menatapnya sebelum membuka mulut. “Saya akan sangat menghargai jika Yang Mulia bisa mentolelir akan sikap keras kepala ini.”

“Oh? Sikap keras kepala? Pada apa tepatnya itu, Bishop Bagley?” Dia mengangkat bahu saat ia bertanya, nampak agak terhibur.

“Jangan pura-pura bodoh!” Bishop menginjak lantai dengan keras. “Pemuda ini,” dia menyahut, mengacungkan jarinya padaku, “terdaftar di kuilku! Entah sementara atau bukan, dia adalah anggota kuil! Namun anda memanggilnya kemari tanpa satupun peringatan! Apa maksudnya ini?! Apa Yang Mulia bermaksud mengabaikan otoritas kuil?!” Dia sangat berapi-api hingga tidak sempat menarik nafas.

“Oh, jadi begitu…. Aku sungguh tidak tahu. Apa itu benar?”

“Um…. ya.” Aku memang menuliskan namaku di buku pendaftaran. Namun aku ingat dengan jelas tidak melakukan apapun yang sangat penting…. itu lebih seperti buku tamu atau semacamnya.

“Ketidaktahuan bukanlah alasan! Hanya karena aku sedang absen bukan berarti mengizinkamu mengabaikan prosedur verifikasi!”

“Itu mungkin benar, tapi orang-orang di kuilmu nampak tidak keberatan mengirim pemuda ini kemari.”

“Mereka cuma kurang pelatihan! Aku akan memarahi mereka nanti!!” katanya, dan memukulkan tangannya yang gembul, yang dihiasi cincin emas dan perak, ke meja. Cara si gendut itu membentak meja terlihat menggelikan. “Kesimpulannya, dia milik kuil! Sangat tidak bisa diterima jika Yang Mulia dengan bebas–”

“Itulah tepatnya letak kekeliruanmu, Bishop. Dia lebih dari itu.”

“Apa….?”

“Dia memintaku mengizinkannya membentuk tentara pribadi. Dia bilang ingain menyelamatkan orang-orang yang menderita di Beast Wood.”

“Apa?!” Tatapan Bishop mengarah padaku kali ini. “K-ka-kau…” dia gelagapan, matanya membelalak.

“Sejujurnya, akan bohong jika ide membunuhnya tidak terlintas di kepalaku.”

Bishop kini kehabisan kata-kata, dan mulutnya membuka-menutup seperti ikan.

“Tapi dia mengemukakan isi pikirannya begitu terbuka,” duke melanjutkan, “dan itu menumbuhkan ketertarikanku.”

“Apa–?!”

“Aku berencana menunjuknya sebagai knight. Bagaimana menurutmu, Bishop, tentang kuil yang memberikan berkatnya?”

“Ap-apa?!”

“Kau tahu, yang kumaksud adalah holy knight. Seorang paladin. Baik aku dan kuil akan mengambil tanggung jawab dan keuntungan yang sama…. Bagaimana?”

“APAAAA–––!!”

Dia sangat berisik. Seluruh ruangan bergemuruh.

“Dia akan berada dalam otoritas gabungan kita bedua, dan jika ini terlaksana, kau bisa mengucilkannya kapanpun kau mau.”

(https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ekskomunikasi)

“Bukan itu masalahnya.”

“Kalau begitu apa?”

“Ini sangat tiba-tiba!” Dia memukul meja sekali lagi. “Aku akan membawanya pulang bersamaku dan kami akan mendiskusikan ini! Anda tidak keberatan?”

“Hmmm, bukan masalah. Diskusikan semua yang kau inginkan. Namun akan sangat menyenangkan melihat ini benar-benar nyata, Bagley. Aku menyukai pemuda ini.”

“Aku akan sangat berterimakasih jika kau menjauhkanku dari permainan konyolmu itu!” katanya dengan nada tinggi. “Kau orang baru! Kita pergi! Ayo!”

“B-baik!” aku cepat-cepat berdiri dari kursiku.

Bagley yang cerewet telah pergi secepat saat ia datang, dengan demikian, pertemuanku dan Yang Mulia Ethelbald, Lord Whitesails berakhir.

“Berbagai ancaman memberiku masalah, dan itu tidak sedikit….”

Bishop Bagley terus mengomel selama perjalanan pulang. Menel pura-pura tidak mendengar, namun aku bisa tahu kepala pendeta itu sangat menggangunya. Yeah, mereka berdua tidak akan bergaul dengan baik.

“Um–” aku hendak mengatakan sesuatu, tapi….

“Terutama kau, orang baru! Tidakkah kau berpikir untuk berkonsultasi padaku sebelum pergi sendirian?”

Saat komplain Bishop Bagley menjadi semakin berapi-api, Menel akhirnya mulai balik bicara. “Konsultasi? Persetan dengan itu. Kami bukanlah bidakmu.”

“Barusan kau bilang apa?! Aku adalah kepala kuil!”

“Lalu apa?!” Mereka mulai cekcok, dan jika sudah kejadian, mustahil bagiku untuk ikut campur. Oh dewa, mereka berdua bagai air dan minyak….

Saat aku melihat mereka berdua berdebat, deakon yang tadi berusaha menghentikan bishop memasuki mansion lord bicara padaku. “Aku minta maaf soal Papa. Ada banyak hal yang menyusahakannya baru-baru ini, dan dia sepertinya sedikit frustasi….” Dia memiliki rambut pirang muda yang dikepang, mengenakan daster rok panjang yang dibalut dengan sabuk.

“Bukan masalah. Aku juga minta maaf tentang temanku. Jadi kau adalah putri Bishop Bagley?” Aku sudah lama penasaran tentang itu. Sejatinya, sejauh yang kusadari, tidak ada larangan pernikahan bagi anggota kependetaan di dunia ini, tapi apakah Bishop benar-benar sudah menikah?

“Ya, aku putrinya. Meskipun kami tidak berhenti berhubungan darah, sih.”

“Jadi…”

“Sebelum ditunjuk kemari, ayahku berada di ibukota. Dia bertanggung jawab menjalankan sebuah kuil dan panti asuhan besar.”

“Ah, jadi begitu.”

Bagaimana tepatnya dia mendapat perhatian duke aku tidak tahu, yang jelas duke membawanya dari ibukota kemari. Aku belum lama mengenal Bishop itu, namun kejadian di mansion barusan memberitahuku bahwa dia orang yang mampu dan berapi-api. Mungkin duke menilai bahwa dia akan cocok menjalankan sebuah kuil di daerah terpencil seperti ini.

“Banyak senior dan teman-temanku yang meninggalkan panti asuhan menemukan pekerjaan di daratan utama. Papa membantu mereka ke tempat yang berbeda-beda, namun aku dan beberapa orang lainnya mengikuti beliau kemari.”

Tidak hanya dia mempunyai beberapa koneksi, dia juga sangat loyal kepada orang-orang yang mengikutinya. Meskipun aku terus menutup pikiranku pada orang itu hingga kini, mungkin ini saatnya aku terbuka padanya.

“Bishop Bagley.” Aku memanggil bishop itu, yang masih cekcok dengan Menel. “Terimakasih banyak. Ikut campurmu sangat membantuku.”

“Kau pikir aku melakukannya untukmu? Aku hanya melindungi otoritas kuil dari sikap sewenang-wenang Yang Mulia. Kau cuma nomor dua!” Kemudian dia mulai kembali menggerutu tentang duke dan bagaimana dia melakukan hal-hal menyebalkan ketika dia tertarik akan sesuatu.

Bishop Bagley benar-benar banyak omel. Meskipun ini kemungkinan adalah cara dia menjaga dirinya agar tetap waras, aku rasa aku paham kenapa pribadinya tidak disukai oleh orang-orang di kuil.

“Meski demikian, mengesampingkan semua itu,” katanya padaku, “otoritas orang biasa juga harus dihargai. Tolong tetap di kuil setelah Doa Malam. Kita akan mendiskusikan permintaan Yang Mulia.”

“Ah baik, aku mengerti. Tapi… umm…”

“Sekarang apa?!”

“Maaf… Apa Doa Malam itu?”

Kerutan terbentuk di dahi bishop. Sejenak ia terdiam, kemudian cacian dan makian terlontar dari mulutnya seperti ember tumpah.

Ya maap kalau saya tidak tahu 😒 ….

Ternyata, praktik keagamaan telah mengalami banyak perubahan selama dua ratus tahun terakhir. Ritual harian, yang pada zaman Mary termasuk Kebakitan Malam, Komplina, dan beberapa lainnya, sekarang disatukan kedalam suatu ritual yang disebut Doa Malam.

Mempertimbangkan bagaimana berbagai ritual telah disatukan menjadi satu dan bahasa yang digunakan juga disederhanakan, kelihatannya setelah runtuhnya Union Age mengakibatkan beberapa tempat tidak mampu mempertahankan keaslian dari berbagai ritual rumit tersebut. Juga, bishop dan deakon itu keduanya terkejut ketika aku memberi tahu mereka bahwa aku tahu soal Kebaktian Malam dan Komplina, jadi sepertinya bahkan hal-hal itu tidak banyak didengar lagi.

“Apa kau belajar dari orang-orang yang familiar dengan peribadatan kuno?” tanyanya. “Suku-suku biarawan berumur-panjang atau semacamnya?”

“Umm, ya. Kurang lebihnya begitu.” Aku tidak yakin apakah menjadi undead termasuk kategori “berumur panjang,” namun tidak ada keraguan bahwa Mary sangat familiar dengan peribadatan-peribadatan kuno.

“Jadi kau tidak sepenuhnya bodoh kalau begitu.” Bishop Bagley bergumam. “Anna, harusnya ada satu atau dua buku di perpustakaan yang sampulnya mengenai revisi-revisi peribadatan. Bawa semuanya padaku, dan saat disana, lihat apakah kau bisa mengatur guru yang cocok untuknya. Bukan hanya orang ini seorang pemula, dia adalah peninggalan dari dua abad lalu. Ini akan memerlukan beberapa usaha.”

Aku punya perasaan bahwa dia sengaja berkata jelek padaku lagi, namun aku tidak bisa komplain–perkataannya sangat benar. Di belakang bishop, deakon yang disebut Anna menundukkan kepalanya berulangkali padaku, terlihat sangat menyesal.

Setelah itu, aku kembali ke kuil, bergabung kembali dengan Bee dan Tonio, yang memborbardirku dengan berbagai pertanyaan (terutama Bee), dan setelah menuntaskan berbagai tugas yang perlu diselesaikan, aku mengambil bagian dalam Doa Malam.

Meskipun orang-orang di kuil masih sangat sibuk membersihkan sampah dan merawat orang-orang yang terluka, kelihatannya tidak satupun daru mereka berniat mengabaiakn doa harian mereka. Mereka tahu bahwa saat-saat sulit seperti ini yang paling harus diutamakan adalah berdoa. Kupikir ini adalah sikap yang sangat terpuji.

Ritual tersebut sangat khidmat dan mengesankan, namun aku merasa kurang nyaman. Semua orang menyarankan menyediakanku tempat duduk terbaik, dan beragam pasang mata berbinar padaku dari semua arah. Aku tidak biasa menerima keramahan seperti ini maupun menjadi pusat perhatian, jadi aku tidak merasa tenang selama peribadatan.

Setelah acaranya berakhir, semua orang meninggalkan kapel, dan aku menunggu sejenak disana selagi berdoa. Tak lama kemudian, bishop akhirnya datang. Dia sepertinya memiliki janji pertemuan dan memotong jadwal doa.

“Tunggu dulu sebentar,” katanya. Kemudian ia berlutut, mengatupkan kedua tangannya, dan berdoa.

Seketika, atmosfir di dalam kapel, yang kosong kecuali aku dan bishop, benar-benar berubah.

Doa bishop terlihat benar-benar alami. Itu adalah pemandangan yang indah, meskipun sang bishop sendiri begitu jauh. Aku belum pernah melihat seorang pun terlihat begitu menyatu dengan elemen mereka saat berdoa sebelumnya–tidak seorang pun, kecuali Mary. Tanoa sadar, aku mengatupkan kedua tanganku juga.

“Kalau begitu sekarang.” Sang bishop berdoa dalam waktu yang lebih singkat dari yang kuperkirakan.

“U-um…”

“Apa?”

“Bishop Bagley, aku sudah lama penasaran tentang ini, uh…” Aku berhenti sejenak untuk memilah kata-kataku. “Kau tentunya telah diberikan berkat perlindungan tingkat tinggi oleh para dewa, aku bisa melihatnya.”

Aku tidak punya keraguan tentang itu setelah yang barusan kurasakan. Aku sudah mempunyai perasaan semacam itu semenjak pertama kali aku bertemu dengan bishop, namun baru sekarang aku mempunyai keyakinan untuk mengatakannya: tingkat perlindungan yang telah dia terima kemungkinan setara denganku, atau bahkan melebihinya.

“Tapi aku dengar dari orang-orang di kuil bahwa kau jarang menggunakan berkatmu. Setelah melihat doamu barusan, aku jadi berpikir kau tidak mau orang-orang melihatnya, atau kau sengaja menyembunyikannya dari orang-orang. Kenapa begitu?”

“Hah. Amatir memang bodoh.”

Dia menghinaku….

“Apa kau paham berkat itu apa, bocah?”

“Perlindungan yang diterima dari para dewa.”

“Kalau begitu katakan, kenapa para dewa memberimu perlindungan? Untuk memberimu perlakuan khusus? Kukira tidak, bukan?”

Aku terdiam.

“Itu karena melalui dirimu–apa kau memahami ini? Melalui dirimu, dewa memiliki sesuatu yang ingin mereka capai. Dan kita harus terus berpikir bagaimana menggunakan berkat kita dengan cara yang sejalan dengan keinginan para dewa yang memberikan kita perlindungan. Mereka yang hanya menggunakannya seperti alat semau merera bukan orang yang bijak. Perlindungan yang diperlakukan seperti itu hanya akan berkurang seiring berjalannya waktu. Banyak orang diluar sana yang gagal memahami ini. Karena mereka tidak paham, maka selamanya menjadi amatir, dan pada akhirnya kehilangan perlindungan mereka.”

Bishop benar-benar menekankan ini.

“Aku adalah kepala dari kuil ini. Daerah kasar yang baru-baru ini mulai dikembangkan. Untuk mengamankan hak dan harta kita, kita harus berteriak dan mengancam; untuk membuat izin, kita harus mengandalkan orang dalam dan suap. Bayangkan jika aku memamerkan berkat tingkat tinggi dalam situasi seperti itu. Orang-orang akan berpikir, ‘Apa yang para dewa pikirkan dengan memberikan berkat pada orang seperti itu?”

Dia menatap tajam padaku. “Biar kutanya sesuatu, bocah, apa kau pikir ini sejalan dengan yang dewaku inginkan? Apa kau pikir itu akan berguna dalam menaikan keagungan Volt, sang dewa petir dan penghakiman?”

“Tidak.”

“Tepat sekali. Tidak. Dalam hal ini, langkah yang benar adalah membuatnya seimbang. Aku menyerahkan tugas tentang mempromosikan keagungan dewa ke masyarakat pada tangan-tangan berbakat dari vice-bishop. Dia juga sangat bagus dalam memenangkan hati orang-orang. Aku bisa menyerahkan tugas menyebalkan menjadi maskot kuil padanya.”

Kemudian, Bishop mengalihkan pembicaraan padaku. “Dan bagaimana denganmu, pemula? Apa kau pikir kau seorang “pahlawan” hanya karena kau membunuh seekor wyvern?”

Aku tidak bisa menjawabnya.

“Seorang Paladin?!” katanya, dengan nada mengejek. “Dan disinilah kita, dengan seorang pemuda yang bahkan tidak mengerti arti diberkati, dan dia disebut paladin?! Yang Mulia memang suka bercanda!”

Bishop menunjukkan sikap terkejut yang dibuat-buat, dan sejujurnya karena aku tidak tahu bagaimana harus merespon, aku hanya mendengarkan.

“Nak. Aku bahkan bisa bilang ini padamu, asal tahu saja. Jika aku bersikeras menolak, bahkan Yang Mulia sekalipun tidak bisa berbuat banyak. Jadi…?” tanyanya, dengan suara menekankan.

Bentuk tubuhnya yang besar dikombinasikan dengan tatapan tajam milikinya memberikan kesan intimidasi yang tidak kurang sewaktu berhadapan dengan Duken Soutmark.

“Menyerahlah dengan ide itu, pemula,” katanya. “Yang menantimu bukanlah sesuatu yang bagus.”

“Meskipun begitu…” aku tidak berpaling. Aku balas menatapnya tepat ke mata sang bishop. “Meskipun begitu, melalui aku, dewaku mencoba mencapai sesuatu.”

Bishop mengernyitkan keningnya dan menatapku, ekspresinya sangat tidak ramah.

“Kau tidak menyerah?”

“Tidak akan.”

“Bodoh.”

“Mungkin.”

“Apa yang kau janjikan pada dewa reinkarnasi?”

“Untuk mencurahkan hidupku padanya, menumpas kejahatan, dan memberi pertolongan bagi mereka yang membutuhkan.”

“Selamat. Aku sudah bertemu banyak pemula beberapa tahun ini, dan kau melampaui mereka semua.” Dia membuang nafas berat. “Akan kucarikan beberapa orang untukmu. Sisanya terserah padamu.”

Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam padanya. Tidak masalah apapun yang orang lain katakan tentangnya. Aku putuskan dia layak menerima hormatku.

Setelah itu, keadaan berangsur-angsur membaik, dan semua orang kembali bersemangat.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat bishop menghubungi duke untuk memberitahu maksud kami menerima tawarannya, selagi pendeta berpenampilan serius yang Anna temukan sedang mengajariku masalah etiket dan prosedur ritual untuk para pendeta.

Panggung sudah disiapkan untukku menerima penobatan. Semuanya begitu cepat. Apa semudah ini kah untuk menerima gelar kesatria? Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan persiapan yang secepat ini.

Meski begitu, kerusakan yang diakibatkan wyvern pun tidak dianggap remeh; banyak orang yang kehilangan rumah dan pekerjaan mereka,

Dan begitulah, jika aku menjadi knight, hal-hal akan bisa selesai lebih cepat. Orang-orang, uang, barang–semuanya akan lebih mudah diatur dengan otoritas dan kekuasaan yang kupunya. Ketika aku memikirkan itu, rasanya tidak begitu penting biarpun aku diikatkan tali kekang ke leherku oleh duke dan bishop. Aku pikir itu tidak terlalu buruk juga, mungkin … sih.

“Dari manakah datangnya ia? Dan dimana ia berlatih, dimana ia belajar? Kita hanya tahu sedikit, namun ia adalah murid dari dewa reinkarnasi yang hilang, yang berada di kedua tangannya adalah obor suci.”

Ini mungkin langkah yang dibutuhkan.

“Dalam imannya setingkat dengan seorang bishop, dalam ilmunya setara dengan seorang sage. Dan bersemayam di kedua tangannya, sebuah kekuatan luar biasa yang meremukkan seekor wyvern. Di dalam tubuh pria ini, Jiwa-jiwa dari Tiga Pahlawan, apa kau mau nama besarmu dilebih-lebihkan agar makin termasyhur lagi?”

I-ini… harus dilakukan.

“Murid sang Obor, Pembunuh Wyvern, Si Kuat Tiada Tara–Faraway Paladin, William G. Maryblood. Semuanya, ketahuilah nama seorang pahlawan baru yang muncul di kota Whitesails! Hmmm, apa kedengarannya sudah bagus?”

Baik, meskipun itu oerku, tapi ayolah!

“Bee, kau tidak keberatan jika berhenti mempraktekan syairmu di depanku?”

“Oh ayoolah. Jangan merusak kesenangan orang lain.”

“Itu memalukan tahu!”

“Hey-hey memang begitu kejadiannya bukan? Dia tidak salah.”

“Ta-tapi itu tetap memalukan!”

Saat ini kami berada di kamar kami di kuil. Selagi kami bertiga mengobrol dan bertengkar, Tonio sedang asik sendiri main-main dengan abacusnya. “Hmmm.”

“Ada apa, Tonio?”

“Perhitunganku sudah mencapai kesimpulan, sayangnya dengan sejumlah besar hewan yang harus kita beli, uang yang dibutuhkan tidaklah sedikit.”

“Ah, tentang itu…”

Semuanya telah sangat kacau dengan urusan knight ini yang disebabkan olehku membunuh wyvern, namun aku tidak lupa dengan tujuan awalku. Tujuanku masih sama: memburu para iblis di Beast Woods, dan pada saat yangs sama, melakukan tentang masalah ekonomi di area tersebut dan mempromosikan nama dewa kobaran api.

Dan demi itu, aku punya sebuah rencana

“Oh? Dan apakah itu?”

“Bisakah kau mencari hewan-hewan yang sakit atau terluka? Bisa kau menawarnya dengan harga lebih rendah?”

“Huh?”

“Lalu aku akan menyembuhkan mereka semua.”

“Oh…! Mata Tonio terbuka lebar.

Pedagang hewan ternak akan senang karena bisa menjual hewan yang terluka dan sakit milik mereka, dan kami pun senang karena memperoleh hewan yang kami perlukan. Adapun dampak potensial dari penjualan si pedagang di masa depan, penduduk dari Beast Woods sangat tidak ramah dan memiliki daya beli sangat rendah, jadi mereka tidak akan menjadi pelanggan dari sang pedagang semenjak awal.

Aku juga bisa menyelamatkan hewan-hewan itu dari penderitaan. Mereka akan terus menjadi hewan pemamah biak dan dipekerjakan, jadi aku tidak bisa bilang itu baik atau buruk sih–tapi setidaknya secara teori, semua orang akan puas.

Dalam prakteknya, pedagang mungkin tidak akan terlalu senang karena menjual hewan-hewan sakit dan terluka milik mereka jika pada akhirnya akan disembuhkan setelah itu, namun itu bukan masalah besar.

“Juga… aku akan sangat terbantu jika bisa terus mengandalkan dirimu untuk perdagangan antara Whitesails dan Beast Woods… Berapa banyak uang yang kubutuhkan?”

Tonio meletakan tangannya di dagu dan berpikir. “Will,” katanya, “Kupikir kita perlu duduk dan membicarakan bisnis sebentar.”

“J-jangan terlalu keras padaku.”

Tugas yang mesti kulakukan semakin bertambah. Namun aku hanya mempunyai satu fokus, dan aku terus maju ke arah itu. Gracefeel, bisikku di dalam hati, aku baik-baik saja. Dan aku akan melakukan yang terbaik.

Aku merasakan dewi yang tanpa ekspresi dan dingin itu memberiku senyum.

Penginapan itu sepertinya cukup besar. Memiliki dua lantai; lantai bawah adalah kedai, dan lantai atas adalah kamar untuk para pelancong. Letaknya di lantai dua, tentu saja, untuk mencegah numpang tak bayar. Beberapa hal masih sama entah di dunia manapun itu, aku pikir.

Papan nama yang menggantung di depan tertulis “Steel Sword Inn”, dan di bawahnya adalah logo kecil dengan motif senjata. Kemungkinan itu adalah simbol dari “Kedai para Petualang”–sebuahbl titik berkumpul yang juga memberikan layanan dan pekerjaan bagi petualang sekaligus.

Petualang adalah berandalan, menjadikan kehidupan mereka sebagai tentara bayaran, bodyguard, pemburu reruntuhan dari Union Age, pembasmi hewan buas, dan apapun yang bisa menghasilkan uang. Jika membandingkannya dengan sejarah kehidupan masa lakuku, seorang gladiator professional dari Roma kuno mungkin pendekatan yang paling akurat, atau mungkin koboy dari barat. Status sosial mereka tidak terlalu tinggi, meskipun pada saat yang sama, itu adalah pekerjaan yang menciptakan pahlawan dan kekayaan dalam sekejap.

Hari sudah malam, dan jalanan penuh dengan pekerja yang sedang dalam perjalanan pulang. Menel dan aku sampai di penginapan itu, pintunya sudah membuka lebar, dan kami mengintip ke dalam. Sudah ada keriuhan di dalam, mengesampingkan waktunya. Kami melihat orang-orang mengenakan pakaian hangat–bagaiamanpun juga, ini masih musim dingin–penuh suka cita mengobrol dengan botol yang diisi minimum. Namun sedikit ada yang aneh.

“Itu… tanduk hewan buas. Dan kulitnya juga.” Botol minuman yang dengan santai mereka gunakan berasal dari hewan buas bertanduk, dan beberapa jubah dan ikat pinggang yang mereka kenakan terbuat dari kulit mereka. Menel berbisik padaku bahwa itu adalah tropi pertarungan mereka, dan cara paling mudah untuk memamerkan kekuatan mereka.

Kami melangkah ke dalam. Banyak pasang mata melirik ke arah kami, untuk sesaat suasana menjadi hening, kemudian mereka mulai bisik-bisik.

“Seorang pemuda berambut cokelat dan elf campuran berambut perak.”

“Dia telah melewati banyak pelatihan neraka. Dilihat saja kau bisa tahu…”

“Itu dia. Tidak diragukan lagi.”

Suara pertama yang memanggilku adalah seorang pria berperawakan cerdas yang sedang minum. “Dia pria yang jadi pembicaraan itu! Pembunuh Wyvern! Apa yang kau mau dengan mengunjingi bar ini?”

“Aku punya pekerjaan.”

“Kalau begitu kau harus bicara pada pemilik dan membayar sedikit untuk menggunakan papan pengumuman.”

“Terimakasih.” Aku melihat ke arah dinding penginapan dan mendapati papan kayu besar menggantung disana, yang padanya potongan-potongan kertas dalam jumlah besar telah dijepitkan. Aku memanggil si pemilik, membeli beberapa penjepit (yang mana itulah cara mereka membebankan biaya pendaftaran), dan menjepit lembaran kertasku di samping yang lain.

Itu menarik banyak peminat, dan orang-orang berkumpul untuk melihat pekerjaan apa yang aku tawarkan.

DICARI PETUALANG

Untuk membasami iblis yang menyusup ke Beast Woods.

Bulan-bulan dalam kegelapan penuh

Bahaya yang tiada henti.

Kembali dalam keadaan selamat diragukan.

Bayaran yang kecil.

Kehormatan dan pengakuan jika misi berhasil.

— William G. Maryblood.

Dan tempat itu seketika menjadi hening.

“Hey. Tuan Pahlawan.” Tanggapan pertama yang kudapatkan adalah ejekan dari pemabuk. “Kami bukan lembaga amal. Tidak satupun dari kami yang mau melakukan itu.”

Orang yang berbicara padaku adalah sosok pria berwajah merah, mengenakan armor tebal yang terlihat usia tiga puluhan. Dia mengenakan sebuah pelindung-dada baja yang berkilau dan sebilah pedang berwarna merah yang tersarung di pinggangnya tanpa sedikitpun goresan. “Benarkan teman-teman?” katanya, dan beberapa orang yang diperkirakan adalah kelompoknya mengamini dan menyebutku kikir.

Menel mulai mengepalkan tinjunya. Sesaat aku panik, dan kemudian–

Sosok pria dekil dengan lambat berjalan kami.

“Diamlah, keparat.”

Kata-katanya dengan segera meredam mereka.

Pria itu memiliki janggut, dan aku tidak bisa memperkirakan usianya. Bentuk fisiknya sepertinya sangat bagus, namun terlihat lesu tidak punya semangat. Jubah yang dikenakannya sudah lusuh, lecek, dan banyak goresan. Pedang yang tersarung di pinggangnya tampak babak belur dan kelihatan sudah diotak-atik. Namun yang paling mencolok adalah jari-jemarinya.

Mereka ditutupi oleh bekas luka dan kotoran, dan semua kuku-kukunya dipotong pendek. Aku kembali teringat apa yang dikatakan Blood padaku.

–Ketika kau bertemu seorang pendekar pedang, lihatlah jari-jarinya. Tiap kali kau merasa ragu, dan melawannya adalah ide buruk, dan kau merasa bingung, apakah kau harus mengikuti hatimu atau mengabaikannya? Lihatlah sajalah tangannya.

“Sepertinya itu aku…” Dia bicara perlahan. Kupikir dia tidak terlalu bagus dengan kata-kata. “Sepertinya kau sedang mencari orang gila. Kau tidak tertarik dengan si sombong itu, yang hanya pilih-pilih pekerjaan dan mau hidup enak, tapi tidak punya banyak skill. Kau menginginkan sekelompok orang gila yang tidak kenal takut. Kau menginginkan seorang pecandu yang gemar mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah ide bodoh.”

Aku mengangguk. Aku tidak memberi mereka imbalan rendah bukan tanpa alasan, namun kenyataan bahwa membasmi hewan buas di daerah miskin seperti itu sangat berbahaya dan tidak ada untungnya. Memang sih masih ada beberapa reruntuhan yang belum terjamah, namun tetap saja disertai resiko, dan aku tidak ingin orang-orang yang bekerja di bawahku berada dalam iming-iming palsu.

“Itu benar. Itulah sebabnya aku memilih tempat ini.”

“Kalian dengar itu? Itu yang dia mau! Tuan Pahlawan mencari orang gila!” Setelah dia meneriakkan ini, orang-orang yang sedari tadi menyaksikan kami dari meja mereka mulai berdiri.

“Cih. Hey bajingan,” salah satu dari keparat itu berkata. “Jika kau memang kaya, jangan pelit soal uang!”

Semua orang dengan perlengkapan yang menarik, seperti orang yang pertama memanggilku tadi, dengan ringan mendecakkan lidahnya dan kembali ke meja mereka. Aku pikir mereka mengharapkan sesuatu yang mendatangkan mereka keuntungan, namun karena kenyataan tidak seperti itu, mereka jelas tidak tertarik. Sangat wajar jika orang akan lebih memprioritaskan kebutuhan hidup mereka palibg utama.

Mereka yang sekarang mendekatiku, di sisi lain, sebagian besar adalah borang-orang berpakaian lusuh dan kucel. Sebagian besar peralatan mereka ditutupi oleh kulit binatang buas, dan mereka minum menggunakan botol yang terbuat dari tanduk binatang buas. Mereka adalah orang yang menomor-duakan pekerjaan yang aman, seperti menjadi bodyguard seorang pedagang. Mereka adalah bajingan sampai ke akar-akarnya yang menginginkan api dalam kehidupan mereka terbakar panas, menikmati pertarungan, resiko, dan petualangan.

Ya–mereka adalah orang-orang seperti Blood.

“Apa yang kau cari di Beast Woods?” salah satu dari mereka bertanya.

“Reruntuhan atau udara terbuka?” tanya yang lain.

“Aku tidak mau receh-receh.”

Aku dengan sengaja memberi mereka seringai tanpa kenal takut. “Pimpinan dadi iblis-iblis disana.”

Saat kukatakan itu, beberapa orang sejenak terdiam. Aku menatap mereka semua. “Pemimpin iblis yang berkeliaran di bagian barat Beast Woods. Dia mengendalikan banyak hewan buas. Dia adalah target kita.”

“Tangkapan besar…” kata pria berjanggut yang tadi bicara padaku, memikirkannya.

“Ya, itu,” jawabku.

“Lokasinya tidak jelas… membutuhkan beberapa usaha bahkan untuk menemukannya.

“Kau sepenuhnya benar ”

“Dan jika kita disergap selagi melakukan pencarian, mereka akan membunuh kita dalam sekejap.”

“Aku bisa membayangkan itu.”

“Terlalu bertele-tele, terdengar seperti orang bodoh, penuh bahaya, penuh kesenangan petualangan.” Dia tertawa. “Jika ada lowongan untukku, aku ikut. Cuma perlu makan dan tempat tidur, aku tidak masalah. Jika ada uang tambahan kedepannya, itu malah kebih baik.”

“Aku juga.” “Dan aku.” Suara-suara lain dengan cepat mengikuti, mengatakan hal yang sama.

“Tentu. Kau akan dapatkan itu. Dan bayarannya juga.”

Senyum terbentuk dari kelompok itu.

“Namun sebelum itu,” kataku.

“Apa?”

Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku ke pria itu.

“Bisa berutahu nama kalian? Aku Will. William G. Maryblood.”

“Reystov.”

Sesuatu yang Bee pernah katakan padaku terlintas kembali di kepalaku.

– Oh benar harus memilih sesuatu. Dari lagu baru-baru ini… Reystov sang Pendobrak sering dimainkan belakangan ini.

“Sang Pendobrak?”

“Terserah.” Petualang berjanggut menjawab dengan kasar.

3 Responses

  1. Anonymous says:

    Terima kasih min
    Lanjut

    • Reyno says:

      Mksh min buat update-an nya sampai bab 4 jilid ke 2 ini. Biasanya aku ngecek euphra novel tiap bbrp waktu, tp blkgan ini lg ada bnyk pikiran jd gk Ingat untuk berkunjung, dan udh lama bgt sejak waktu trakhir update-an kisah si paladin ini. Begitu buka dan lihat judul tulisan paling atas, “ahh, akhirnya..”. Sedih sih ngebayangin klo ini novel udh d drop euphra , untungnya blm. Berjuang terus min utk lanjutin update kisah si paladin ini.. aku gak tau lagi mau kemana nyari translasi indo utk LN ini. Mksh min

  2. Highest emperor says:

    Thanks banget min sdh update lagi dan selalu di nantikan update LN ini min

Leave a Reply

Your email address will not be published.