The Faraway Paladin – Bab 2

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

The Faraway Paladin – Bab 2

Keesokan paginya, setelah menghabiskan malam di bawah keramah-tamahan mereka, aku berpamitan dengan Tom, John, dan penduduk desa lainnya, dan berangkat untuk merebut kembali desa dari para iblis.

Dengan Menel sebagai penunjuk jalan, kami pergi ke arah timur laut. Melompati bebatuan untuk menyebrangi sungai, dan bergerak menembus lebatnya hutan. Menginjak dedaunan kering dan mendaki pohon tumbang berlumut, aku mengikuti Menel dengan penuh kehati-hatian.

Sekarang aku sudah terbiasa mengikutinya dari belakang. Hutan-hutan ini memiliki visibilitas yang buruk sampai aku nyaris kehilangan arah, namun Menel terus melaju tanpa ragu. Secara berkala, dia terus memanggil para peri, dan hasilnya semak belukar dan rumput tinggi bergerak menyediakan jalan untuknya.

Blood pernah bilang jangan pernah terlibat pertarungan dengan elf di tengah hutan, sekarang aku mengerti dengan jelas alasannya: ini bahkan tidak layak dianggap “pertarungan”; kau hanya akan dipermainkan dan dibunuh.

Mengambil istirahat secara berkala, kami lanjut menembus hutan dengan kecepatan sedang.

“Kita akan berkemah disini,” kata Menel.

Matahari sudah mulai terbenam. Kami diberi tahu bahwa sekitar sehari penuh untuk menuju desa tetangga, jadi tempat tujuan kami kemungkinan sudah sangat dekat.

“”Orang-orang hijau, berikan aku tempat perlindungan malam. Sebuah tempat tidur rumput dan atap pepohonan, dan jangan biarkan tamu tak diundang masuk.”” Dia merapalkan mantra untuk memanggil para peri, dan pepohonan di sekitar kami segera melengkung membentuk kubah. Rerumputan lembut tumbuh di bawah kaki kami, dan semak-semak berkumpul di luar untuk melindungi kami.

“Wh-Whoaa, menakjubkan!” Ini layak disebut tenda pepohonan. Untuk ukuran teknik elementalist, ini cukup sulit, bukan?

“Ini tidak sehebat itu. Ayo tidur.”

“Bukankah salah satu dari kita perlu berjaga?”

“Kita akan biarkan para peri menghuni pepohonan. Jika sesuatu terjadi, mereka akan bersuara dan membangunkan kita.”

Sejumlah usaha yang kulakukan dalam berkemah sampai sekarang tampak menggelikan.

Menel adalah seorang pemburu terampil dan elementalist yang ahli. Sebagai musuh dia sangat menakutkan, namun sebagai kawan, dia asset yang berharga. Jika saja sekarang dia lebih terbuka padaku….

“Hmmm.” Dia mulai lagi.

“Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”

“Aku mungkin apa yang kau sebut kurang didikan. Aku tidak suka orang-orang sepertimu yang terlihat seperti dibesarkan dengan baik. Aku akan membayar hutangku, dan melakukan pekerjaanku dengan benar, tapi cuma itu yang akan kulakukan.”

Begitu sulit didekati, pikirku.

“Kita akan sampai di desa besok pagi. Aku hanya akan mengantarmu dan tidak lebih. Aku tidak berniat membantumu menghabisi para iblis itu.”

“Ya, aku tahu.”

Wajah Menel tampak merengus. Aku bersyukur kami telah bertemu, dan meskipun kami telah saling menyilangkan pedang, aku berharap kami bisa bergaul. Namun sepertinya ini tidak akan mudah.

Sesaat setelah kami berdua diam dalam hening, Menel dengan malas menatap ke arah tujuan kami besok. Setelah melihat tatapan menyakitkan di matanya, aku tidak tega mengganggunya dan menanyakan tentang hubungan yang ia miliki dengan orang-orang di desa itu.

Kami berbaring di sana dalam hening di kasur rumput yang lembut, dan aku perlahan tertidur. Rumah-rumahan sihir dari tumbuhan hijau memang terasa sangat nyaman.

Keesokan paginya, kabut tebal tampak menggantung di udara yang dingin; mungkin karena kami berada dekat sungai. Jalur kabut-susu yang perlahan mengalir diantara pepohonan terasa seolah aku mengembara ke tempat yang bukan dari dunia ini.

Saat aku berjalan mengikuti Menel, fondasi-fondasi dari dinding batu kuno terlihat di depan kami.

“Sebuah reuntuhan?”

“Ya. Di dekat sini.”

Karena faktor seperti ketersediaan air dan transfortasi, tempat-tempat yang paling cocok untuk mendirikan pemukiman tidak banyak berbeda sekarang dengan masa lalu. Dan jika terdapat reruntuhan kuno di dekatnya, biasanya orang-orang sana akan mengambil bebatuannya sebagai bahan bangunan. Ini adalah cara yang cerdas untuk membangun sebuah desa.

Para arkeolog dari kehidupanku sebelumnya mungkin akan menyayangkannya karena membongkar sebuah reruntuhan, namun untungnya (atau mungkin sayangnya), tidak ada seorangpun di periode zaman ini yang akan memperdulikan itu.

Kami secara bertahap mendekati desa, sambil terus menyembunyikan diri kami di belakang ruruntuhan dinding batu tua dan bangunan-bangunan yang hancur. Aku bisa mendengar beberapa mahluk bergerak.

“Mereka dekat,” kata Menel berbisik.

Aku mengangguk.

“Aku akan mengintai. Tunggu disana,” katanya dan bergerak maju dengan langkah yang benar-benar tanpa suara. Dia sudah berada pada level dimana pengintai paling berpengalaman pun akan dibuat malu.

Blood telah mengajariku teknik pengintaian sampai batas tertentu, namun jika melihat ini, yeah, Menel mungkin lebih baik daripada aku. Sangat jelas, perbedaan antara yang terlatih dan tidak terlatih.

Dengan tombak di tanganku, aku menunggu dalam bayangan di salah satu dinding reruntuhan. Sesaat kemudian, Menel kembali.

“Mereka melakukan beberapa ritual aneh di sisa-sisa kuil di luar desa.”

“Seperti apa rupa kuil itu? Iblis macam apa mereka?”

“Kuil itu bentuknya seperti ini.” Menel mulai menggambar di atas tanah menggunakan ranting. “Sudah tidak ada atapnya, dan dindingnya sudah hancur di beberapa tempat. Mereka mengambil posisi di tengah-tengah sini untuk melakukan ritual mereka. Dua Komandan, dengan wajah seperti kadal. Disebut apa mereka….?”

“Vraskus? Dengan sisik-sisik dan ekor berduri?”

“Ya, sepertinya memang itu.”

Aku pernah bertarung melawan vraskus ketika pertama kali aku mendapatkan Pale Moon, tombak yang kugenggam saat ini. Jadi, jumlah mereka ada dua ya, dan–

“Apa yang lainnya?”

“Beberapa Tentara berkeliaran di luar kuil. Aku berhasil menemukan seekor hewan buas di dalam, tapi mungkin ada lebih banyak lagi.”

“Bisa kau ceritakan detail hewan buas itu?”

“Wajahnya mirip manusia. Dia memiliki tubuh seekor singa, sepasang sayap mirip kelelawar, dan tubuh sebesar seekor kuda.”

“Itu manticore.”

Hewan-hewan buas berbahaya dengan ekor berduri. Aku pernah mendengar dari Blood bahwa mereka “sedikit berbahaya”– “sedikit” bagi Blood terkadang “memang” atau “sangat” bagiku– Jadi kuputuskan untuk waspada.

Menel menatapku dengan ekspresi heran.

“Apa?” Tanyaku.

“Kau banyak tahu soal hal-hal semacam ini.”

“Aku telah diajari banyak hal soal itu.”

Gus telah menetapkan banyak usaha dalam pelajaran sejarah alamnya, dan Blood suka menceritakan kisah-kisah semasa dia hidup. Mereka berdua memberi tahuku bahwa ketika menghadapi sesosok monster, sangat penting mengetahui terlebih dahulu tentang kelemahan dan metode untuk menyerang. Lawan yang tidak diketahui adalah yang paling menakutkan.

“Baiklah,” kataku. “Untungnya cuma itu saja yang perlu kita urus.”

“Itu saja?”

Aku mempunyai pengalaman bertarung dengan iblis, namun tidak satupun dari mereka yang akan kulawan berperingkat Jendral atau diatasnya. Kalau harus melawan mereka, aku cemas tentang mengambil resiko. Tapi untungnya mereka cuma Komandan yang ditemani Tentara dengan para hewan buas, memiliki keuntungan dari mengetahui situasi sebelumnya, kemungkinanku berhasil sangat tinggi.

“Ayo kita lumat mereka.”

Tempat itu adalah sisa-sisa kuil kecil di masa lalu. Atapnya sudah berjatuhan, dan ruang di dalamnya sekitar ukuran ruang kelas yang kutahu di kehidupan masa laluku.

Berbaris di bagian belakang bangunan adalah patung-patung dewa, diantara mereka adalah dewa petir, Volt, dan Ibu-Bumi, Mater. Wajah mereka sudah terkelupas. Ini mungkin hasil perbuatan para iblis.

Mengambil banyak usaha untuk menghancurkan patung; merusak wajah mereka ketimbang membuatnya “tanpa badan” adalah sesuatu yang bisa ditemui dalam sejarah dunia masa laluku juga.

Puji-pujian untuk dewa, yang harusnya terukir di dinding, juga dirusak mereka. Di tempat banyak Word tertulis, dengan script yang memberikan rasa takut. Word itu, yang ditulis dengan darah yang tercemar, dipanjatkan untuk Dyrhygma, dewa dimensi yang disembah oleh para iblis. Lengan terulur dan melumat bunga di bawah crest Dyrhygma, tangan patung itu seakan-akan menggenggam siklus abadi, adalah manticore yang disebutkan Menel.

Lebih jauh ke dalam, adalah pusat kuil, diatas lantai batu yang tidak rata, dengan rumput yang tumbuh diantara celah-celahnya, terdapat tumpukan tubuh manusia.

Dengan mayat-mayat, binatang buas, dan crest di depan mereka, dua iblis–percampuran antara manusia dan buaya–melantunkan Word sumpah serapah pada dewa-dewa kebajikan dengan penghinaan, disertai suara nyaring. Aku bisa tahu itu adalah semacam ritual, namun aku tidak tahu apa tepatnya itu. Tidak heran sih, mengingat bahkan pengetahuan Gus tidak menjelaskan detail-detail rumit dari semacam ritual kegelapan tersebut. Yang jelas, aku tahu bahwa ritual ini tidak boleh terus berlanjut.

Menyembunyikan suara langkah kakiku, aku merayap ke depan, menyiapkan tombakku, dan menusukannya ke salah satu leher vraskus tersebut. Cuma itu, mahluk itu langsung ambruk dan berubah jadi abu.

“…■■■?!” Karena serangan kejutan itu, vraskus lain meneriakan sesuatu dalam bahasa iblis, menarik pedang lengkungnya, dan langsung mengayunkannya.

Reaksinya terhadap serangan kejutan itu lebih cepat dari yang kuduga. Lompatan besar yang harus kulakukan menghancurkan efek Word yang kurapalkan pada diriku sendiri: Word of Invisibility (Tak terlihat). Teknik ini memainkan persepsi penglihatan orang lain terhadap pengguna, membuatnya sangat efektif ketika menyergap musuh-musuh yang bergantung pada indra penglihatan.

Aku menggunakan sihir ini untuk luput dari penglihatan para Tentara di luar dan menerobos tepat ke tengah-tengah ritual. Aku tidak ingin terlibat dalam situasi dimana aku harus berurusan dengan dua Vraskus yang sepenuhnya siap dan seekor manticore selagi aku sibuk dengan para Tentara. Itu akan sangat berbahaya. Sebaliknya, aku memilih metode yang Blood dan Gus telah ajarkan padaku: kejutan, inisiatif, dan pembagian.

“Cadere Araneum.” Tepat sebelum manticore itu membuat pergerakan, aku menyerangnya dengan jaring untuk menahan pergerakannya dan memasuki pertarungan jarak dekat dengan vraskus.

Aku menangkis ayunan mendatar dari pedangnya dengan perisaiku dan menusuknya berulang kali dengan tombakku. Mengingat sisik-sisiknya yang keras, kulit yang elastis, dan ototnya yang tebal, aku mengincar persendiannya, secara efektif memberinya luka terus menerus.

Pada tahap ini, para Tentara di luar sepertinya juga sudah menyadari penyusupanku.

“Currere Oleum.”

Aku melapisi minyak di depan pintu masuk kuil untuk menahan mereka sementara waktu. Saat ekor vraskus mendatangiku dari titik buta, aku mencabik-cabiknya dengan tombakku tanpa menoleh, dan dengan ayunan yang barbalik aku menariknya memotong tenggorokannya. Yang ke dua juga berubah menjadi abu.

Tak berselang lama, manticore akhirnya berhasi terbebas dari jaring, dan mengaum.

“Acceleratio!”

Dengan sebuah lompatan, aku menusukkan ujung tombakku ke lehernya.

Manticore itu, yang suaranya seperti tercekik, meronta-ronta dengan marah menggunakan kedua tangannya, berusaha untuk melawan. Aku meningkatkan tekananku, memaksa ujung tombakku dan mendorong hewan buas itu ke dinding kuil. Serangan dari cakarnya yang tidak beraturan mengenai zirah mithrilku. Masih ditekan ke dinding, mahluk itu berusaha mengayunkan ekor cambuknya padaku.

Dengan mengincar tubuhnya, aku melantunkan Word “Vastare” dan meledakkan pusaran-kehancuran langsung ke arahnya. Auman dari ledakkan itu dikombinasikan dengan jeritan hewan buas di dalam, mengubahnya menjadi bubur, hingga suara keduanya lenyap menyisakan kesunyian.

Menggunakan sihir tingkat tinggi seperti itu sebenarnya sangat beresiko, jadi aku tidak terlalu suka menggunakannya, tapi manticore itu terlalu sulit diatur. Mencoba membunuhnya hanya dengan tombakku akan terlalu memakan banyak waktu.

“Dan sekarang sisanya tinggal….”

Untuk jaga-jaga, aku menarik kembali tombak itu dan menggenggamnya sambil menunduk. Tinggal beberapa lagi yang tersisa. Mereka mungkin saja Tentara, tapi aku harus tetap waspada hingga aku menghabisi semuanya. Anehnya, saat aku menyiapkan kuda-kudaku bersiap untuk bertarung, tidak ada satupun tanda-tanda musuh.

Kebingungan, aku pun melangkah ke luar dan mendapati para Tentara itu berubah menjadi abu dan menyebar. Panah putih mencuat dari leher dan dada mereka.

“Oh!” Eksekusi yang sempurna seperti biasa, tapi–

“Kukira kau tidak ingin terlibat?” Tanyaku.

“Tapi bagian pentingnya kau yang lakukan. Aku cuma menghemat waktu.” Menel muncul dari bayangan, melihat sekeliling, dan mengerutkan keningnya. “Aku cukup yakin siapapun tidak bisa masuk begitu saja dan menghabisi makhluk-makhluk itu sendirian… normalnya sih.”

“Kau benar. Beruntung kondisinya memungkinkan.” Jika aku masuk begitu saja dan menghadapi banyak musuh secara langsung, pertempuran mati-matian tidak dapat dihindarkan. Amati musuh dahulu, kejutkan mereka, dan habisi mereka tanpa memberi mereka kesempatan untuk melawan. Semua ini adalah bagian dari taktik pertempuran seorang warrior.

“Tidak, bahkan tanpa itu pun, kekuatanmu sendiri tidaklah normal. Kau melakukan sesuatu yang spesial?”

“Uh….Memakan banyak roti suci?” Mary selalu berdoa demi roti untuk kumakan setiap hati, jadi tak heran bila itu membentuk tubuhku. Dewa undeath pernah mengatakan sesuatu seperti itu juga.

“Memakan roti tidak akan sampai seperti itu, kawan.”

“Memang sih.” Kupikir Menel benar. Kau tidak akan bisa membentuk otot hanya dengan memakan banyak roti tanpa melakukan pelatihan apapun.

“Terserahlah, cukup dengan rotinya. Kuil sudah beres. Apa menurutmu aman mengasumsikan bahwa kau sudah menghabisi sebagian besar dari mereka?”

“Kita pergi ke sekitar desa, menghabisi sisanya, baru kita bisa merasa lega, kurasa.”

Entah kita akan mengubur mayat-mayat atau mencari area dimana ada lagi orang- orang yang selamat, akan menyulitkan jika musuh masih membuntuti. Yah memang sih, kupikir kita sudah baik-baik saja sekarang–aku tidak merasakan keberadaan iblis dimanapun– tapi kita harus berkeliling desa untuk amannya.

Aku berdoa untuk mayat-mayat yang ditumpuk di kuil, dan kemudian kami berdua menuju desa.

Bagaimana pun, kami telah menang. Memenangkan pertempuran merupakan kekhawatiran terbesar kami, jadi meskipun masih ada banyak alasan untuk cemas, kupikir Manel dan aku bisa merasa lega untuk sementara ini.

“Kuharap setidaknya masih ada seseorang yang selamat,” kata Menel, terlihat cemas.

“Yeah.”

Kemudian, kami mendengar suara sayu seorang anak.

“Men..el..”

Ekspresi Menel membeku.

Aku menengok arah sumber suara itu. Terdapat pondok kecil, kemungkinan sebuah gudang, dan sesuatu begerak merangkak ke arah kami.

“Menel…”

Itu adalah mayat seorang anak laki-laki, legam terbakar dengan tulang-tulangnya yang setengah terbuka. Hanya bagian atas tubuhnya yang masih tersisa; semua bagian di bawah pinggangnya telah tercerai-berai dan terbakar.

“Para iblis, mereka, umm, menyerang desa.” Mayat itu mendongak ke arah Menel dengan lubang matanya yang kosong. Menel masih membeku di tempat.

“Aku bersembunyi sesuai perintahmu…aku tidak melakukan apapun yang berbahaya…” Dia merangkak lebih dekat, menyeret dirinya ke depan menggunakan sikunya. “Waktu itu panas sekali, tapi aku berusaha agar tidak membuat suara sedikitpun….’Karena…”

Menel gemetar. Kedua tangannya mengepal erat, rahanya gemertak hebat.

“Aku tahu kau akan datang.” Mayat itu tersenyum; dengan darah yang mengental, itu adalah pemandangan mengerikan, dan meskipun senyum itu terasa hangat. “Dan kau memang datang. Terima kasih.”

Dengan wajah yang terlihat sangat senang, mayat itu menjulurkan tangannya ke arah Menel. Menel mencoba meraihnya, tapi sesaat kemudian dia ragu. Aku tidak tahu apakah itu karena rasa jijiknya pada mayat itu, ketidakpercayaan pada seorang undead, penyesalan karena tidak tepat waktu, atau karena rasa bersalah. Entah apapun itu, yang jelas mayat itu merasakan penolakannya, dan wajahnya diisi dengan kesedihan.

“Huh…? Tunggu…Kenapa? Apakah aku…”

Aku tahu ini bukan waktunya merasa kehilangan. Aku berlutut, mengangkat mayat itu-dan memeluknya erat.

“H-hey…” Menel menatapku, bingung.

Tak apa Menel, kupikir. Memeluk undead ini bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan.

“Kerja bagus,” kataku. “Kami sangat bangga padamu.”

“Huh? Siapa kau, tuan?” Masih berada di pelukanku, anak laki-laki itu memiringkan kepalanya. Serpihan kulit yang hangus terbakar berjatuhan dari wajahnya.

“Aku teman Menel. Aku minta maaf soal Menel. Dia hanya sedikit lelah. Dia sungguh tidak bermaksud begitu. Tolong maafkan dia.”

“Baik.” Anak itu mengangguk.

“Anak baik. Kemarilah Menel.” Aku memegang lengan anak laki-laki itu untuk Menel ambil.

Kali ini, dia tidak ragu. Dia memegang erat tangan anak laki-laki itu yang legam terbakar. “Aku minta maaf tidak kemari sesegera mungkin.” Suaranya bergetar.

“Tak apa.”

“Kau pasti lelah. Tidurlah.”

“Ide bagus ..aku merasa…ngantuk..”

“Mimpi indah.”

“Baik…”

Meskipun dia gemetar, Menel tidak mengalihkan pandangannya.

“Gracefeel, dewa kobaran api. Bimbinglah dan istirahatkan jiwa ini.”

Ini adalah berkat Obor Suci (Divine Torch). Saat anak laki-laki itu menutup matanya dalam tidur yang damai, mawar api menyala di udara dan mengambil jiwanya, bersama dengan jiwa-jiwa di dekat mereka, dengannya menuju samsara.

Menel menyaksikan sampai api itu benar-benar tidak terlihat lagi, dan kemudian, setelah beberapa saat, dia bicara.

“Hey, uh…”

“Apa?”

“Aku minta maaf.”

“Untuk apa?”

Ada keheningan saat Menel memilih kata-katanya. “Aku meremehkanmu dan ternyata aku salah. Kupikir kau adalah bocah kaya tak berotak yang beruntung memiliki perlindungan dewa dan suka muncul dan menghilang seenaknya. Cuma orang yang melakukan amal baik tanpa pamrih.” Dia menghela nafas. “Jadi …aku minta maaf.”

“Bukan masalah besar.” Aku memberinya sebuah senyuman.

Meskipun rona kesedihan bisa terlihat di wajahnya, dia balas memberiku senyum.

Kami berdua berjalan menyusuri desa bersama-sama.

Menel tidak pernah ragu lagi setelah kejadian itu. Dia menggenggam tangan undead yang masih memiliki kesadaran dan akal sehat, dan memberi mereka kata-kata perpisahan. Mereka yang tidak–mereka yang telah diambil alih oleh kebencian dan kemarahan–aku memurnikan mereka menggunakan perlindungan dari dewa kobaran api.

“Gracefeel, dewa kobaran api. Istirahatkan dan bimbinglah jiwa mereka.”

Divine Torch adalah teknik yang efektif saat digunakan melawan undead, namun itu tidak maha kuasa. Jika undead itu sendiri melawan teknik tersebut, maka hasilnya akan menjadi adu kekuatan antar si pengguna dan undead. Singkatnya, jika seorang undead berlevel tinggi setingkat Gus, Blood, atau Mary dengan serius mencoba melawan, sangat diragukan apakah aku bisa membimbing jiwa mereka dengan doaku atau tidak. Jika aku bisa menjadi pengguna-doa tingkat-lanjut seperti Mary maka mungkin itu bisa dilakukan, tentu saja.

Dan btw, karena alasan itulah aku sedikit cemas jika ada beberapa di desa ini yang berada di luar kemampuanku, tapi untungnya tidak seorang pun disini yang menjadi undead berlevel tinggi.

Tubuh spektral meluncur keluar dari wanita gila yang berdiri di depanku, yang mengacung-ngacungkan sebuah pisau. Karena terkejut, jiwanya segera mengamati sekitar dan langsung mengerti situasinya. Aku meletakkan tanganku di dada dan membungkuk, “Serahkan sisanya padaku.” Wanita itu tersenyum, mengangguk, dan lalu satu lagi jiwa kembali ke siklus keabadian.

“Umm.” Aku memeriksa sekitarku. Sulit mengetahuinya karena kabut, tapi kurasa kami sudah menjangkau semua tempat yang bisa kami jangkau. “Menel, apa masih ada rumah lain?”

“Satu lagi… Ikuti aku.” Menel berjalan ke depan, melangkah dia atas bumi yang gersang.

Rumah itu, yang berlokasi di bagian pusat desa, telah benar-benar terbakar hangus hingga tak bersisa. Kemungkinan sebelumnya ini merupakan bangunan yang besar, dengan tiga sampai empat ruangan, kelihatannya. Rumah-rumah lain paling hanya terdiri dari satu atau dua ruangan ditambah sebuah gudang.

Menel menatap bagunan itu sejenak. Dia mengambil nafas panjang dan perlahan menghembuskannya. Kemudian, dengan erat mengepalkan tangannya membentuk tinju, dia memanggil seseorang. “Yo! Apa kau disini, Marple?”

“Oh?” Sesosok mahluk spektral muncul, menyelinap diantara pilar-pilar yang ditutupi jelaga. “Jadi itu kau, Menel.” Dia adalah seorang wanita tua yang tampaknya telah hidup lama. Namun punggungnya tidak bongkok, dan dia terlihat masih sangat segar bugar.

Sekilas aku teringat Gus–dan sesaat kemudian aku menyadari sesuatu, keringat dingin mengucur di punggungku. Ini buruk. Hantu wanita tua yang bernama Marple ini mungkin hampir sepenuhnya termaterialisasi. Dimana hantu-hantu lain tampak kabur dan kehilangan cahayanya, tubuh wanita tua ini sangat jelas seperti Gus. Yang kumaksud bukanlah kemampuan bertarungnya, tapi aku punya perasaan, bahwa jiwanya akan semakin kokoh. Jika dia cemas dan bingung lalu melawan doaku, kemungkinan mengirimnya ke samsara akan di luar kemampuanku. Dan itu berarti aku harus menggunakan senjata yang efektif melawan sosok spektral–sebuah senjata seperti Pale Moon atau Overeater–untuk memotong hantu wanita tua di depan Menel….

“Hehehh. Kau tidak perlu secemas itu, anak muda.”

Dia meyadari kegelisahanku…..

Kemudian, dia tersenyum. “Aku belum pikun.”

Rona kejenakan terlihat jelas di matanya.

“Senang mendengarnya. Sepertinya kau masih memiliki beberapa penyesalan yang tertinggal. Tapi jangan khawatir. Lihat, orang ini, seorang pendeta tingkat tinggi yang asli. Aku bertemu dengannya secara kebetulan.” Menel bicara ke hantu wanita tua itu. Sekarang dia mulai cerewet. “Dia bisa mengirim jiwa yang tersesat sepertimu untuk kembali bereinkarnasi, menyembuhkan luka–dia sangat ahli dalam hal-hal semacam itu. Jadi kami berdua yang akan mengurusi desanya. Kau bisa beristirahat dengan tenang.”

Aku seorang pendeta tingkat tinggi? Heh, dia pasti bercanda.

“Atau adakah sesuatu yang lain?! Seperti pesan yang ingin kau berikan pada seseorang? Aku akan akan menyampaikannya untukmu, jadi kau–”

“Menel…” Hanya dengan satu kata, wanita itu mengakhiri ocehan Menel. Kemudian, dia menghela nafas. “Kau berperilaku buruk lagi.”

Aku melihat kedutan di bahu Menel. “I-itu tidak benar….Darimana dasar pemikiran itu? Apa kau yakin tidak asal tebak?”

“Kau sangat mudah dibaca, Menel.”

“Oh ya? Caranya?” Menel berpura-pura bodoh, namun itu tidak berhasil. Marple melanjutkan dengan yakin.

“Kau pembohong yang buruk. Dan anak yang keras kepala. Namun, jauh di dalam hatimu, kau adalah orang yang jujur dan tulus.”

Menel terlihat seperti dia akan membalas kata-katanya, namun tidak sepatah pun yang keluar. Wanita tua itu hanya tersenyum. Mereka terlihat seperti keluarga. Yang satunya hidup, satunya lagi seorang undead. Hari-hari yang telah kuhabiskan bersama keluargaku terbersit sekali lagi di hatiku.

“Membunuh dan mencuri…Orang sepertimu tidak bisa lepas dari hal-hal buruk seperti itu.”

Menel tidak bisa membalas.

“Dan sudah saatnya kau mengakuinya. Berhenti berbuat onar. Hentikan gaya hidupmu yang selalu bertarung dengan orang lain.” Kata-katanya tidak menunjukkan penahanan diri, menyinggung soal gaya hidup Menel dan mencercanya layaknya tukang daging mencincang daging hingga berkeping-keping.

“Diam…” Suara Menel, yang kontras, bergetar. “Diam! Jangan bicara seolah kau tahu segalanya tentangku! Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?!” Dia berteriak, hampir menangis. “Kau sudah mati, warga desa yang tersisa kelaparan dan kedinginan! Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?! Kekuatanku adalah satu-satunya yang bisa kuandalkan! Atau apa kau menyuruhku berdoa pada Dewa?! Apakah pernah sekalipun Dewa menolongku?!”

Menel mencoba memegang hantu wanita tua itu, namun tangannya hanya menyapu udara.

“Sialan….Sialan…!!!” Menel jatuh berlutut, menundukan kepalanya.

Yang bisa kulakukan hanyalah menonton.

“Aku sudah tidak tahan lagi… Biarkan aku ikut denganmu…” Saat kabut berputar-putar di sekitar desa yang hancur, gema dari suara merdu seorang half-elf menjerit-sedih bisa terdengar. “Kehidupan seorang darah campuran terlalu lama untukku…”

Mereka yang mewarisi darah elf bisa hidup sampai beberapa ratus tahun. Kehidupannya pasti tidak mudah. Bahkan setelah kehilangan tempat dan orang-orang yang berharga baginya, dia masih melanjutkan hidup. Apa kata-kata yang harus kuucapkan untuk menghiburnya? Aku tidak tahu.

“Dengarkan aku, Menel. Meneldor.” Marple menaikan suaranya, suaranya terdengar serius. Menel menengadah. “Dewa telah memberimu satu kesempatan lagi.” Dia tersenyum perlahan. “Untuk terakhir kalinya. Menebus dosamu dari gaya hidup menyedihkan ini.”

Senyumnya penuh cinta. Aku bahkan teringat dengan Echo Mater sang Ibu-Bumi yang pernah kutemui sebelumnya. Dia mungkin saja tidak mampu mengayunkan pedang ayau menggunakan sihir, tapi aku yakin bahwa orang ini mempunyai sesuatu yang jauh lebih hebat dan tak ternilai dari apapun byang kumiliki–seperti kekuatan senyuman itu.

“Kau boleh saja membenci Dewa, tapi Dewa selalu menyayangimu. Entah kau menyadarinya atau tidak, Dewa selalu menyinari dirimu, tak henti-hentinya dan tak kenal lelah.” Melalui kesunyian dari desa yang hancur, suara wanita itu bisa jelas terdengar, begitu lirih layaknya seorang anak kecil memberi tahu temannya dimana ia menyembunyikan benda yang berharga baginya. “Sekarang, semuanya tergantung padamu. Yang perlu kau lakukan hanyalah melihat cahaya itu.” Dia tersenyum. “Cobalah, dan aku jamin itu akan berhasil.”

Menel menutupi wajahnya dan diam-diam mengusap air matanya, bahunya gemetar.

Kemudian… wanita itu menoleh padaku.

“Sekarang, Bapak, boleh aku bicara?”

(Note: Bapak, sebutan untuk pendeta)

“Tentu ”

“Bisakah aku memintamu menjaga anak bodoh ini? Dia sebenarnya anak yang baik. Maukah kau…yah… berteman dengannya?”

Itu adalah permintaan terakhir dari orang yang akan meninggalkan dunia ini. Aku mengangguk mantap. Marple tersenyum puas.

“Oh benar…. Tentang iblis-iblis yang menyerang desa–kelihatanya mereka tidak cuma kebetulan lewat dalam jumlah kecil. Mereka punya pemimpin dan sebuah basis di tengah hutan, dia mengirim bawahannya ke berbagai tempat dari sana. Aku tidak tahu rinciannya, tapi kedengarannya mereka punya niat jahat dengan menjinakkan hewan-hewan buas dan menyerang manusia.”

“Tunggu, jangan bilang, kau bisa mengerti bahasa mereka?” Bahkan Gus pun tidak tahu banyak soal bahasa itu. Mungkinkah beberapa penelitian telah dilakukan dalam kurun waktu dua ratus tahun ini?

“Yah… Itu cerita lama di masa lalu.”

Masa lalu macam apa yang dimiliki wanita ini?

“Menilai dari arah kedatangan mereka, aku curiga basis mereka berada di arah Pegunungan Rust, ibu kota bangsa Dwarf yang sudah jatuh.”

Aku menengok ke arah barat. Di luar kabut ini, aku bisa secara samar melihat jajaran pegunungan merah kecoklat-coklatan di kejauhan. Itu mungkin yang dia maksud.

“Apa menurutmu itu terlalu menyusahkan?”

“Sebenarnya, kau sangat membantu.”

“Bagus,” kata Marple disertai senyuman. “Aku merasa bersalah karena tidak bisa membalas kebaikanmu suatu hari. Jika itu membantumu, Bapak, maka aku senang.”

“Um, penyesalanmu itu, mungkinkah…”

Wanita itu meledak dengan tawa. “Tentu saja yang itu! Memangnya aku bisa membawanya sampai ke kubur? Seseorang harus mengetahuinya!” Dia sejenak tertawa. “Jadi, cuma itu dih. Kuharap kau tidak tersinggung, Bapak, karena aku tidak membutuhkan bimbinganmu. Dewa, kau lihat, dia sudah menungguku.”

Aku melihat api samar di sebelah wanita tua itu. Ah… Rupanya kau juga disini ya, pikirku.

(Note: Kemungkinan itu si Gracefeel)

“Jadi, umm, aku berangkat,” kata Marple, dan tersenyum.

Situasi di dunia luar tidaklah bagus, persis seperti yang orang tuaku takutkan. Tapi masih ada orang-orang disini. Itu tidak semuanya buruk.

“Menel, angkat kepalamu. Dunia ini dipenuhi hal-hal yang tidak bisa diselesaikan. Kau tidak harus menanggung semuanya sendirian dan biarkan mereka membantumu. Berdirilah, pandanglah ke depan, dan lakukan apa yang perlu dilakukan.”

“Shit. Jadi kau cuma mau mengomeliku dan pergi begitu saja.” Kata Menel dengan pahit.

Marple tertawa. “Lihatlah dirimu di cermin, nak. Kita berdua suka melakukan hal-hal dengan cara kita sendiri. Sungguh anak yang manis.” Dia tersenyum, kerutan terbentuk di sudut matanya, dan dia melingkarkan kedua lengannya di sekitar Menel, memeluk punggungnya dengan tangan yang tidak bisa menyentuh.

“Baiklah,” katanya dengan tenang. “Sisanya aku serahkan padamu.”

“Baik.” Aku meletakkan tanganku di samping dadaku, dan kembali membungkuk. “Kau bisa menyerahkan sisanya padaku.”

Dia tersenyum.

Kemudian, jiwa lain kembali ke samsara.

Setelah Marple kembali ke siklus reinkarnasi, Menel membeku sesaat.

Setelah dia mendapatkan kembali ketenangannya, kami melakukan diskusi dan sepakat untuk mengurusi mayat penduduk desa terlebih dahulu.

Aku menyucikan kembali sisa-sisa kuil dengan sihir dan doa, dan membuatnya menjadi area suci dimana iblis dan mahluk-mahluk itu tidak bisa mendekat. Untuk setiap mayat penduduk desa, aku mengatupkan tanganku bersama-sama dan mendoakan mereka, membersihkan mereka dengan sihir, menggendong mereka di punggungku, dan membariskan mereka di kuil. Berdoa, membersikan, lalu menggendong mereka dan membariskannya, semua terus kulakukan berulang-ulang. Tidak peduli seberapa hancur atau menjijikkannya tubuh mereka, aku memberi mereka perlakuan yang sama.

Saat bekerja, aku memikirkan tentang situasi dunia luar. Keadaan sudah cukup suram sekarang. Berapa banyak pertempuran kecil yang telah kualami semenjak meninggalkan kota hantu? Makhluk-makhluk berbahaya seperti iblis dan hewan buas tersebar ke segala penjuru bahkan sampai ke area pemukiman.

Dan ketika orang-orang menderita karena serangan mereka, mengakibatkan, entah karena kemiskinan ekstrim atau kegagalan untuk mendapatkan persediaan darurat, menciptakan sekelompok bandit yang kelaparan. Karena rasionalitas mereka sudah tidak jalan, tidak ada belas kasih atau rasa iba diantara mereka, hukum pun sudah tidak berlaku lagi.

Kekerasan menjadi tak terkendali, dan yang terkuat yang berkuasa. Ini adalah kasus yang terjadi setidaknya di seluruh daerah yang dikenal dengan Beast Woods, atau bahkan area yang lebih luas. Bahkan sekilas saja aku sudah tahu bahwa itu mengerikan.

Tentu saja, aku bisa dengan tidak tahu malunya bilang, “Itu adalah budaya mereka, masyarakat mereka. Ini bukan tempatku sebagai orang luar untuk ikut campur,” menempatkan diriku sebagai pengamat netral.

Tempatku dibesarkan adalah kota hantu, bukan hutan ini. Aku cuma orang lewat, dan tidak punya kewajiban apapun mengenai daerah ini. Permasalahan sosial seluruh tempat ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan usaha semalaman dari satu orang, jadi pilihanku hanyalah berurusan dengan masalah yang membutuhkan penanganan secepatnya di depanku dan hanya bertindak sesuai sumpah yang kuucapkan.

Berdasarkan pengamatan sejauh ini, kelihatannya aku dikualifikasikan sebagai warrior yang cukup kuat bahkan di dunia luar, dan juga aku memiliki kekuatan sihir, perlindungan dewaku, dan sejumlah besar kekayaan. Jika aku menginginkan kehidupan damai disuatu tempat tanpa dicurigai, aku mungkin bisa mewujudkannya dengan mudah. Aku cuma perlu mencari sebuah kota yang tidak terlalu cerewet soal asal-usulku, berbaur ke dalamnya, dan aku yakin itu akan berhasil.

Akan tetapi…

“Saat kau berpergian–”

“Kudoakan engkau, bawalah cahaya ke kegelapan yang jauh.’

Jika itu adalah keinginan dewa, maka aku harus mendengarkannya. Hutangku padanya terlalu besar untuk dibayar.

Meski demikian–

“Apa yang harus kulakukan?”

Masalahnya tidak hanya terbatas pada iblis dan hewan-hewan buas. Namun juga gabungan antara masalah sosial akibat kemiskinaan dan kekalutan yang mengelilingi mereka. Aku bisa mengalahkan iblis dan hewan-hewan buas menggunakan pedang dan tombakku, namun permasalahan sosial tidak bisa diselesaikan menggunakan demonblade. Selagi memikirkan apa yang yang harus kulakukan, aku bedoa, menyucikan, menggendong, mereka, dan membariskan mereka, lagi dan lagi.

Beberapa hari kemudian, para penduduk kembali ke desa mereka. Kondisinya sudah hangus dimana-mana, dan banyak bangunan telah runtuh. Ketika mereka menyaksikannya dengan mata mereka sendiri, mereka tampak terkejut.

Bersama-sama, kami membersihkan alat-alat pertanian yang masih tersisa, menggali beberapa lubang, dan mengadakan pemakaman sederhana untuk berkabung.

Setiap orang secara bergiliran menyekop sedikit tanah ke atas mayat-mayat yang terbaring diatas pekuburan. Untuk membuatnya seperti pemakaman yang absah, aku membacakan ayat-ayat dari kitab suci yang telah diajarkan oleh Gus dan Mary selagi menyaksikan para penduduk desa bekerja. Meski begitu, aku tidak mengikuti tatacara yang umum; aku cuma bertindak agar orang lain melihatnya “terlihat sah”. Sepertinya aku harus membuat kontak dengan pendeta dari suatu organisasi absah di suatu tempat dan belajar dari mereka.

Setelah pemakaman selesai dilangsungkan, aku putuskan mengajukan sebuah pertanyaan.

“Jadi, umm…Apa yang akan kalian lakukan mulai sekarang?”

Jumlah rumah yang bisa dikatakan layak huni tampaknya cukup untuk menampung penduduk desa yang selamat; akan tetapi, banyak ladang telah terbakar hangus. Jika mereka tidak punya makanan, maka pilihan yang mungkin mereka lakukan adalah melakukan perampokan, dan skenario terburuknya, aku mungkin dipaksa menyerahkan uangku dan mereka menyebar ke desa-desa tetangga…

“Hahaha! Yah, kau cukup lihat saja.”

Para penduduk desa tertawa menanggapi ekspresi seriusku. Mereka memberiku isyarat untuk mengikuti mereka ke sebuah gudang, dimana mereka mulai menggali tanah. Kantong jerami dan jambangan yang diisi biji-bijian keluar satu persatu.

“Oh…” Kataku.

“Kau lihat, perampokan dan pembakaran bukan barang aneh di sekitar sini.”

“Ya,” warga desa lain menimpali. “Selama kau bisa kembali, kau bisa membangunnya lagi. Yakinlah.”

“Kau sangat dermawan, tapi kami tidak berencana mengambil keuntungan darimu, Bapak. Kami bisa mengurus diri kami sendiri,jangan khawatir.”

Beberapa orang yang pergi ke hutan sekitar desa juga mulai kembali dengan makanan dan kebutuhan-kebutuhan lain. Hanya tuhan yang tahu di mana mereka menyembunyikan barang-barang itu. Sepertinya orang-orang ini tidak berniat membiarkan diri mereka dihancurkan dengan mudah. Boleh jadi orang-orang ini dikutuk untuk secara putus asa dirampok lagi dan lagi, namun itu juga faktor yang membuat mereka memiliki karakter kuat dan keras.

“Well, ini sangat melegakan.” Aku cuma punya dua tangan, berpikir aku harus mengurusi semuanya dari awal hingga akhir, iblis dan hewan buas saja sudah cukup merepotkan. Jika mereka bisa mengurus diri mereka sendiri tanpa bantuanku, ini kabar bagus.

Api dinyalakan, dan aku bisa mendengar suara ibu-ibu asyik memasak. Bukti bahwa akan ada pesta makan malam ini, untuk merayakan sekembalinya mereka ke rumah mereka dan berkabung untuk mereka yang meninggal.

“Bapak, kami berhutang padamu atas rasa syukur mengembalikan desa kami.”

“Aku juga turut senang,” kataku, mengangguk–dan secara tiba-tiba menyadari sesuatu.

“Huh?”

Entah bagaimana, Menel telah menghilang.

Aku memberitahu orang-orang yang menyiapkan pesta makan malam kemana aku akan pergi, dan berangkat mencari Menel. Dia meninggalkan barang-barangnya disini, jadi dia tidak mungkin pergi jauh.

Aku memang tidak bisa melihat peri, namun teori penyihir menyebutkan bahwa segala hal di dunia ini diciptakan dari Words. Dengan membaca Word dan Sign yang muncul di tanah dan pepohonan, aku berjalan menembus hutan, berusaha mengikuti jejeknya.

Aku melangkahkan kakiku ke hutan musim dingin yang kering. Pepohonan di sekitarku nampak kering akibat cuaca, sementara yang lain berwarna hijau tua. Langit bersinar merah di ufuk barat; matahari akan segera tenggelam. Angin dingin berhembus melalui pepohonan. Hari sudah mulai gelap.

“Lumen.” Aku membuat ujung dari Pale Moon menyala terang.

Bukan ide bagus untuk bertindak gegabah. Disana baru saja ada serangan dari iblis dan hewan buas. Mereka bisa melompat ke arahku dari mana saja. Aku tidak berniat menurunkan penjagaanku.

Dengan tetap waspada terhadap sekitarku, selangkah demi selangkah aku menembus pepohonan, dan selagi melakukan itu, aku memikirkan Menel.

Apa dia baik-baik saja? Pikirku penasaran. Berpisah dengan Marple sepertinya cukup mengguncang dirinya. Jika aku berada dalam posisinya, kupikir ini mirip saat aku kehilangan Blood dan Mary dalam insiden yang tiba-tiba.
Membayangkan itu membuatku memahami betapa sulitnya itu baginya. Aku tidak bisa membayangkan bahwa seseorang sepertiku, yang baru bertemu Menel beberapa hari yang lalu, mampu melakukan sesuatu di waktu seperti ini. Mungkin yang benar-benar dibutuhkannya saat ini adalah menyendiri, dan yang kulakukan hanyalah ikut campur yang tidak diinginkan. Tapi meski begitu…

— Bisakah aku memintamu untuk menjaga anak nakal ini?

Aku sudah diminta bantuan, jadi setidaknya kupikir aku mempunyai kewajiban untuk mengawasinya. Jika dia bilang aku tidak dibutuhkan, maka aku cuma perlu berbalik dan membiarkannya sendiri. Aku seorang anak yang hidup di daerah terpencil yang tidak pernah melihat manusia lain selama hidupku. Aku mempunyai nol poin pengalaman dalam interaksi sosial, jadi ketika aku keluar untuk menghadapi dunia, aku mempersiapkan semuanya untuk dimulai dengan pergi ke selatan.

Saat aku berjalan dengan berpikir secara yakin bahwa jika aku membodohi diri sendiri aku bisa merasa ngeri nantinya, aku tiba di dataran miring. Aku bisa melihat puing-puing yang kemungkinan bekas dinding batu.

Sesosok peri yang terpendar menari ringan melewati bidang pandangku. Aku mengikuti pemandangan itu selagi mengedipkan mata, dan ketika aku menengadah, aku melihat, hampir semuanya tertutupi oleh pepohonan, adalah sisa-sisa bangunan yang kecil dan tak terawat yang tampaknya bekas sebuah menara pengawas kuno.

Dibangun diatas bukit kecil yang bisa digunakan sebagai titik pandang, strukturnya sudah hancur, dengan hanya menyisakan fondasinya, di sekitarnya para peri berkelap-kelip seperti kunang-kunang. Seolah mereka dengan perhatian mencemaskan seseorang, mereka saling berbisik satu sama lain selagi mencuri pandang.

Tak diragukan lagi, pikirku. Dia ada disini.
Aku dengan hati-hati mendaki lereng itu, dengan menaruh perhatian lebih pada kakiku dan batu-batu yang berlumut. Aku memutari sekitar dinding batu yang runtuh, dan bidang pandangku pun diperluas.

“Ah.”

Saat aku melihat ke bawah bukit, aku melihat kota yang dibangun dengan batu di bawahku. Rumah-rumah yang tak terhitung jumlahnya bersama jalan-jalan menyebar keluar dari sungai, semuanya tua, hancur dan sudah dikuasi oleh hutan, menyisakan kota mati yang menunjukkan tanda-tanda kemakmuran di masa lalu. Warna dari matahari terbenam, berubah setiap saat, dengan lembut menyinari semua itu.

“Hey, Will.”

Di sanalah dia, duduk dengan satu kaki ditekuk, bersandar pada sebuah pohon yang akar-akarnya menyebar diantara bebatuan menara pengawas yang hancur. Ekspresi muram di mata gioknya, kulit perinya sedikit bersinar karena matahari terbenam, dan telinganya yang agak runcing mencuat dari rambut peraknya yang berkibar. Peri-peri yang terpendar secara berkala menari di sekitarnya.

“Menel.”

Meskipun dia sedang galau, sosoknya sungguh sempurna. Orang rupawan memang selalu terlihat menarik, pikirku.

“Boleh aku duduk disini?”

“Terserah.”

Aku duduk di sampingnya. “Ini pemandangan yang bagus.”

“Dari luar sih iya.”

Aku menatapnya bingung.

“Reruntuhan itu adalah sarang undead. Sudah tak terhitung jumlahnya para petualang yang mati disana. Tidak satupun dari mereka yang kembali hidup-hidup.”

Begitu ya. “Kalau begitu aku sebaiknya pergi kesana nanti untuk mengembalikan mereka semua ke siklus reinkarnasi.”

“Hah? Lu kagak denger ya?”

“Yeah, katamu itu adalah tempat yang berbahaya. Jadi aku perlu melakukan sesuatu tentang itu.”

Menel menggelengkan kepalanya dan menaruh tangannya di dahi seolah ia mengalami sakit kepala. “Kau pasti bilang begitu. Aku sempat lupa siapa kau.” Dia menghembuskan nafas berat. “Bersamamu membuatku jadi idiot. Kupikir sebelumnya diriku, kau tahu, lebih keren dan kalem dari ini.”

“Keren?”

“Ya, keren!”

“Hahaha….” Aku dengan sengaja tertawa dengan maksud mengejeknya. Dia menggerutu tidak terima.

Aku terkejut betapa lucunya dia saat aku mengejeknya seperti itu, terlebih, saat melihat reaksinya.

Sekarang aku mempunyai banyak… penemuan baru, kurasa, saat berbincang dengan Menel. Awalnya kukira dia orang baik; lalu dia berniat membunuhku tanpa keraguan sama sekali. Kemudian aku pikir dia kepala batu dan egois, tetapi sebenarnya, dia memiliki sisi lucu juga.

Ini mungkin bukan batas Menel. Manusia umumnya memiliki banyak sisi. Ada yang kasar, ada juga yang suka bertindak tanpa berpikir, lalu ada juga sisi yang bisa membuatmu menyunggingkan sebuah senyum. Ada banyak untuk dilihat, selama kau berkeinginan untuk mencarinya. Mungkin saling bercampurnya sisi tersebut adalah yang membangun hubungan sesama manusia.

Saat pemikiran itu melaju di kepalaku, Menel dan aku saling mengejek satu sama lain. Terakhir kali aku memilki kesenangan seperti ini dengan teman sebayaku mungkin ketika aku masih kecil di kehidupanku sebelumnya.

Setelah selesai saling ejek, aku bertanya padanya, “Jadi orang macam Marple itu?”

Menel menaikan bahunya. “Dia seorang wanita tua yang aneh. Kau mungkin sudah tahu ”

Matahari mulai kembali ke peraduannya. Dunia yang semula berwarna senja berubah menjadi merah lembayung, hari mulai berubah malam.

“Aku lahir di Grassland di utara, Hutan Besar Erin dimana para elf tinggal.”

“Ibuku… Dia mempunyai kepribadian yang serba ingin tahu ketika masih muda, dan melarikan diri dari hutan. Kemudian, setelah beberapa tahun, dia kembali dengan keadaan hamil. Dia mati muda kurasa. Adapun untukku, aku tumbuh lebih cepat dari orang-orang di sekitarku. Sepertinya apa yang dilakukan ibuku masih membekas di diri mereka… Mereka memanggilku noda di rumah mereka… Dan pada akhirnya, aku pikir aku harus pergi dariku hutan itu, dan… yeah. Itulah yang terjadi pada darah campuran kotor sepertiku.”

Kisahnya sungguh berat, dan dia baru saja mulai.

“Tentu saja, dunia tempat manusia juga bukanlah surga. Baru kusadari bahwa dunia luar itu begitu keras, dan hidup di Hutan Erin jauh lebih mudah. Untungnya, aku tahu cara menggunakan panah dan pisau, dan yang paling penting aku bisa melihat para peri.” Sesosok peri bertengger di ujung jari Menel, diam disana, dan kemudian terbang kembali. “Aku cukup kuat untuk membunuh siapapun atau apapun yang berusaha memangsaku. Jika tidak begitu, aku akan berakhir melacur di gang-gang saat ini.”

“Kau memang mempunyai wajah yang rupawan….”

“Jangan mengejekku, sialan.”

“Aku cuma berpikir kalau kau akan cukup populer diantara pria homo.”

“Cuih…”

Dia maunya aku gimana? Berbohong? Bagaimanapun juga, aku tidak punya ketertarikan pada sesama jenis, jadi pendapatku tentangnya hanya sekedar “dia memiliki wajah rupawan.”

“Ok lanjut, intinya adalah, karena berbagai alasan, aku menjadi seorang ‘petualang’. Soutmark masih memiliki banyak reruntuhan, jadi aku memanfaatkan kebijakan terbuka Fertile Kingdom dan melintas kesini.” Menel memiliki pandangan jauh di matanya. “Kemudian, salah satu orang yang kuajak menghianati kami dengan meracuni kami. Saat itu aku hampir terbunuh.”

Aku tidak bisa berkomentar. Sangat kejam…

“Aku bertaruh keserakahanlah yang memainkan peran. Godaan dari reruntuhan terlalu menggiurkan. Untungnya, aku hanya sedikit memakan racun itu, jadi tidak seburuk itu. Dan aku berhasil membunuh si bajingan itu, tapi meski begitu..”

Jadi inilah standar di dunia ini. Sangat kejam, dan perbedaannya dengan kehidupan masa laluku ibarat langit dan bumi. Aku bisa membayangkan sosok Blood dan orang-orang seperti dirinya akan menyebabkan kegemparan di sana.

“Orang-orang yang kukenal yang kuajak bersamaku semuanya terbujur kaku di tanah, dengan busa keluar dari mulut mereka, racun yang kumakan dan luka yang kuterima semakin membuat pandanganku kabur. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai ke desa waktu itu, tapi aku melakukannya, saat itulah aku ambruk. Marple merawatku. Tentunya, waktu itu dia tidak setua itu. Jika bukan karena dia…. .”

Menel lanjut bercerita, pandangan yang jauh masih terlihat di matanya. “Dia benar-benar wanita tua yang aneh. Dia merawatku, beberapa orang yang terluka dan bermuka masam terbujur di tanah, dan dia memberiku makanan dan tempat untuk tidur; dia bahkan memberiku nasehat untuk hidup dengan benar. Ada banyak orang seperti itu, bermacam-macam keadaan namun cerita yang mirip–semuanya berakhir menetap di desa itu setelah dirawat olehnya.”

“Siapa dia sebenarnya?”

“Entahlah.” Menel menggelengkan kepalanya. “Dia mengatakan dirinya adalah “udik yang tidak berpendidikan” atau sejenis sampah. Apapun itu, dia sudah mati sekarang, dan kebenaran ikut pergi bersamanya. Banyak hal yang terjadi di benua ini.”

Aku teringat pepatah di duniaku sebelumnya: “Setiap orang memiliki cerita.” Dan sayangnya, satu orang saja tidak bisa mempelajari semuanya.

“Jadu begitulah, dia mengizinkanku tinggal, dan bisa jadi dia wanita tua yang rewel, tapi aku berhutang padanya. Aku tidak bisa tinggal di desa dengan memainkan peran seorang petani, oleh sebab itu… aku pergi ke desa-desa terdekat, melakukan pekerjaan terbaikku sebagai pemburu. Kerena memburu hewan-hewan berbahaya adalah sesuatu yang bisa kulakukan.”

Menel bercerita dengan nostalgia, seolah ia sangat menghargai harta yang rusak. “Beast Woods dihuni mahkuk-mahluk berbahaya. Orang-orang mengandalkanku. Aku menemukan tempat yang bisa kusebut rumah.”

Dan kemudian–

“Tanpa peringatan apapun, semuanya lenyap.”

Desa itu, diserang oleh para iblis; wanita tua yang baik, Marple; anak-anak di gudang–semuanya mati.

“Jadi aku putuskan tidak akan menjadi seseorang yang barang-barangnya dirampas darinya. Aku akan menjadi yang merampas, dan melindungi apa yang tersisa kumiliki. Yang sayangnya gagal secara spektakuler, karenamu.” Pemburu berambut perak itu menghela nafas panjang. “Begitulah keadaan tempat ini. Kau harus jadi seperti itu jika ingin bertahan hidup disini.”

Dia terdengar seperti ingin menyerah, seperti orang tua yang sudah lelah. “Hidup lebih lama dari orang lain di tempat seperti ini…. itu menyakitkan, kau tahu? Sungguh rasa sakit yang tak tertahankan.” Kata-katanya tidak mengandung kekuatan, hanya kelelahan dan perasaan didalam dirinya yang layu menuju ketiadaan.

“Kadang-kadang aku berharap ingin mati.”

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan setelah Menel mencurahkan emosinya. Itu mengingatkanku pada kehidupan masa laluku dan ketika kata-kata dewa undeath mengantarkanku pada keputusasaan.

Aku menimang-nimang bagaimana aku menghiburnya. Aku bertanya-tanya bagaimana aku harus menyemangatinya. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa melakukannya seperti Mary, Blood, dan Gus. Aku tidak bisa memikirkan apapun.

Ini adalah sesuatu yang sangat kusadari ketika aku bertemu hantu wanita tua itu, Marple. Tentunya ada dewa di dunia ini, dan jika kau menerima perlindungan mereka, kau akan mampu menyembuhkan luka dan penyakit. Rasanya seperti kekuatan super, seperti yang biasa kau temukan di buku komik. Tapi bukan berarti itu akan memberimu lebih pengalaman hidup. Itu tidak memberimu kemampuan untuk mengungkapkan kata-kata pelipur lara, kata-kata yang bisa menyelamatkan seseorang dari kesulitan.

Aku bisa menyembuhkan fisik, tapi tidak dengan hati. Seperti itulah, pada akhirnya, seseorang harus mengambil tanggungjawab diri mereka sendiri. Dan saat keheningan mulai menyebar, aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku harus berkata apa? Aku harap seseorang bisa memberi tahuku. Apa yang harus kulakukan di saat seperti ini? Aku tidak punya pengalaman tentang ini di kehidupanku sekarang dan sebelumnya. Jika Blood, Mary, atau Gus disini, mereka mungkin bisa melakukan sesuatu. Tapi setelah semua yang kupelajari, aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat, bahkan tidak satu kalimat pun, untuk menyelamatkanku dari situasi ini.

“U-umm…Aku, kupikir, kau… uh..” Aku menggumamkan seauatu, namun itu tidak membantu. Oh dewa… Aku benar-benar menyesali bagaimana aku dulu. Tapi Menel benar-benar dalam keadaan tidak baik saat ini. Aku harus mengatakan sesuatu.

Namun, disaat aku mengotak-atik otaku, Menel mengembuskan nafas tajam. “Yosh,” katanya, sambail merenggangkan kedua lengannya diatas kepalanya untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku.

“Ini menyedihkan, tapi harus tetap maju!”

Huh?

Menel menatap ke arahku dan memiringkan kepalanya. “Hm? Ada apa? Kenapa kau membuat ekspresi bodoh begitu?”

“Apa? Huh…?” Aku bingung.

Tidak, tahan dulu. Barusan dia sangat depresi, dan sekarang…. apa?

“Haha, lihat itu. Dirimu saat ini dan saat bertingkah sebagai pendeta seperti dua orang yang benar-benar berbeda, kau tahu.”

“Bb-bberisikkk.”

“Sayang sekali, padahal kau sangat keren ketika bertingkah sebagai pendeta.”

“Aku tidak–Aku hanya–uhh…”

Setelah sedikit mengejekku, dia dengan ringan bangkit dan menatapku dengan wajah serius. “Will… William. Pendeta dari dewa kobaran api. Aku berterimakasih padamu. Untuk menghentikanku sebelum aku bertindak terlalu jauh, dan menyelamatkan orang-orang desa. Maka dari itu–”

Dia meletakan tangannya di dada, dengan khidmat bertekuk dengan satu lutut, dan menundukkan kepalanya ke arahku. “Denganmu sebagai perantaraku, aku meminta perlindungan dari dewa kobaran api.”

Ini adalah kalimat standar yang digunakan ketika mengubah dewa penjagamu dan sumpahmu. Terkejut karena ketulusan dalam suaranya, aku buru-buru berdiri menghadapnya.

“Akankah kau bersedia melakukannya untukku?” Tanyanya.

“Aku akan menjadi perantaramu dan membawamu bersama dewaku.” Aku meresponnya dengan jawaban standar zaman dulu seperti yang diajarkan Mary. Aku menaruh tanganku dengan lembut diatas kepala Menel dan berdoa kepada dewaku saat ia berlutut. “Kudoakan kamu atas nama dewa kobaran api. Semoga Gracefeel mengasihimu, menyinari kamu, dan membimbingmu dalam perjalanan.”

Dalam kegelapan, aku merasakan api redup dengan hangat menyala di belakangku.

“Maka untuk penjagaku, aku membuat sumpah ini ” Menel menaikan matanya dan menengadah ke arah kibaran api itu. “Aku akan menebus dosaku dan hidup dengan benar, tunggu saja ” Itu adalah pernyataan yang kuat. “Tolong terangi jalan di depanku dengan apimu.”

Itu juga merupakan permintaan Marple untuknya, di saat-saat terakhir.

“Menel…”

“Hidup memang tidak mudah. Terkadang itu melukaiku sangat parah sehingga aku ingin berbaring dan mati. Tapi aku tidak akan menyerah.” Dia menaikan bahunya dan membuat senyum percaya diri. “Aku akan bangkit apapun yang terjadi, seperti yang Marple katakan, aku akan memandang ke depan dan melakukan apa yang perlu dilakukan.”

Kehidupan masa laluku berakhir tanpa aku mampu menyembuhkan keputusasaanku, dan bahkan dalam kehidupan ini, aku baru bangkit setelah diberi kata-kata penyemangat Mary. Tapi Menel berhasil mengerahkan kekuatannya untuk bangkit sendirian. Dia sudah menemukan sebuah jalan untuk menyelesaikan pergulatan didalam dirinya, mengubah sikapnya, dan menemukan cara untuk bertindak menebus masa lalunya; dan dia melakukan semua ini sendiri.

Dia mempunyai kata-kata Marple yang menyelamatkannya, dan dia mungkin menempatkan sebuah keberanian di depan juga, tapi meski begitu, aku tidak bisa melakukan apa yang dia lakukan. Betapa sombongnya aku, untuk berpikir bahwa dia membutuhkan kata-kataku? Dia itu kuat. Lebih kuat daripada aku. Lebih kuat daripada yang kupikirkan.

Andai saja aku mempunyai kekuatan semacam ini di kehidupanku sebelumnya; sesuatu mungkin akan berbeda. Ketika aku memikirkan ini, dadaku terasa sesak dengan perasaan menyesal. “Menel, kau luar biasa, sungguh,” kataku dengan kekaguman. “Aku benar-benar kagum padamu.”

“Apa, tunggu dulu,” katanya, lalu bangkit dan menekan salah satu bahuku. “Kaulah yang luar biasa disini. Bagaimana bisa kau sebagus itu dalam bertarung?”

“Bukan aku yang luar biasa. Tapi guru-guruku.”

“Aku tidak bisa bayangkan masa kecilmu seperti apa. Eh, terserah, aku tidak akan bertanya lebih jauh,” katanya, sambil berjalan melewatiku. “Ayo kita kembali. Makanan mungkin sudah siap sekarang.”

“Oh yeah. Kau benar. Kita akan membuat mereka khawatir jika tidak buru-buru.” Aku mengikutinya, dan kami kembali ke desa bersama-.

Perayaan makan malam atas kembalinya desa dan meratap baru saja dimulai. Meskipun itu terlalu kecil untuk disebut “perayaan makan”, mereka tidak berhenti menawariku makanan. Menel terus berusaha tidak terlalu menonjol di pojokan. Dia menolak, dan kami berakhir dengan perkelahian aneh.

Itu adalah malam kompetisi, bermain-main, dan momen yang dihabiskan dengan tenang, mendengarkan kisah-kisah indah dari mereka yang meninggal dunia.

5 Responses

  1. Highest emperor says:

    Terimakasih min dan di tunggu update selanjutnya

  2. Highest emperor says:

    Terimakasih min dan tolong di lanjutkan update series faraway paladinnya

  3. Iorki says:

    akhirnya… sangkyu minn!!, lop yu dah, heheh, ^_^

  4. Koshi says:

    Thanks, euphraxia nopel utk updatenya, ditunggu next chapter the faraway paladin-nya..

  5. Redwin says:

    Gan .. Bila lagi lanjutannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.