Paladin : Prolog

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Paladin : Prolog


The Faraway Paladin : Prolog


hahaha.jpg

Ingatan tentang kematianku samar dan kacau. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar yang suram. Aku hancur. Di suatu tempat, aku telah menghancurkan sesuatu. Hampir mustahil bagiku untuk meninggalkan rumah itu.

Hubungan antara aku dan keluargaku biasa-biasa saja. Mereka tidak membentak, ataupun mengeluh. Mereka hanya memberikan senyuman ambigu[1] dan pandangan bias[2]. Mereka memberiku kata-kata hampa, dan memperlakukanku seolah semuanya normal. Itu mungkin semacam kebaikan, atau mungkin itu adalah apa yang mereka rasa perlu untuk dilakukan. Namun apapun itu, bagiku itu adalah racun.

Dalam waktu singkat, perasaan gelisah membakarku dari dalam. Sampai meningkat pada titik aku ingin merobek diriku sendiri dan mengeluarkannya. Rumahku dan kamarku yang memberiku sedikit hiburan dari rasa bosan, ketakutan dan derita dunia luar mengilhamiku, dan keluargaku yang sabar, yang tetap mempertahankan kebaikan mereka bersama-sama membuatku ragu untuk membuat sebuah langkah maju.

Aku mungkin mampu untuk memulai kembali…. hari setelah kegagalan itu, atau pun hari setelah itu. Bahkan seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun. Jika saja aku mengambil langkah itu, sesuatu mungkin berubah.

Namun aku tidak melakukanya. Aku tidak bisa melakukanya. Aku tidak berani mengambil satu langkah itu.

Layaknya sesuatu yang aku butuhkan, sesuatu yang akan memberiku sebuah dorongan, telah menghilang. Atau mungkin itu cuma alasanku. Ketidakberdayaan sering kali memberiku alasan untuk menyerah.

“Ini sudah sangat terlambat.”

“Yang berlalu sudah berlalu.”

“Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.”

“Mereka hanya akan mentertawakanku jika aku memulainya sekarang.”

Kegelisahan meluap di dalam diriku, namun segala sesuatunya tampak terlalu banyak upaya. Aku ingin mengambil tindakan, namun aku terlalu takut untuk melakukannya. Aku ingin melakukan sesuatu, namun aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Hidup adalah penderitaan, namun, aku kekurangan satu gairah yang dibutuhkan untuk mati.

Aku menghabiskan makanan yang diberikan padaku, menikmati hiburan murah, dan hidup dalam kehampaan. Aku seperti air yang tergenang. Takut akan kegagalan, aku memalingkan mataku dari mendekatnya malapetaka dan membuat diriku sendiri melakukan kebodohan, dengan setengah tersadar memutuskannya.

[1] Tidak jelas atau bermakna dua

[2] Penyimpangan


Alasan kenapa ingatan kematianku begitu samar tentunya karena kehidupanku sendiri begitu kacau tanpa harapan dan kosong. Sebuah kehidupan dimana terbaliknya siang dan malam. Cahaya dari sebuah layar monitor. Suara ketikan keyboard. Terpisah-pisah dan bertebaran, ingatan ku datang dan berlalu. Dan… Ingatan ini yang tampak lebih jelas dari yang lainnya. Suara dari mesin penggerak. Gerobak sorong[3] yang melaju, membawa sebuah peti mayat berwarna putih.

Bisu[4], suara mesin yang menyertai seolah melambat tak terelakan mendekat ke pintu pembakaran[5]. Itu merupakan satu dari beberapa gambaran hidup yang tersisa dalam ingatanku yang berkabut [kematian kedua orang tuaku].

Aku ingin tahu, pernahkah aku meneteskan air mata saat aku berdiri disana, ketika kedua orang tuaku melebur menjadi serpihan tulang dan debu? Semuanya terselimuti kabut. Ada satu hal dari ingatan itu yang bisa aku pahami. Bahwa waktu itu sudah sangat terlambat untuk menjadi batu loncatan ku.

Hari demi hari kembali samar. Pada beberapa titik, itu sudah sampai pada sebuah akhir. Ingatan kematianku telah kabur dan kacau. Itu pasti karena kehidupanku sendiri tak begitu jelas tanpa harapan dan tak beraturan. Ingatan silih berlalu . Rasa sakit menusuk hatiku dari dalam. Air mata ku keluar. Aku mengerang. Setelah itu, rasa sakit menghilang. Semuanya menghilang ke dalam kegelapan. Dan pada hembusan napas terakhirku, kupikir aku melihat sebuah api yang redup.

“Wah…”

Aku bangun dari ingatan samar dan kacau ku.

Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit yang gelap… dan dari kegelapan itu, sebuah tengkorak membayangi di depanku. Dengan cahaya api berwarna biru mengisi lubang matanya yang kosong. Tulang rahangnya bergerincing, kerangka itu perlahan merentangkan tangannya ke arahku. Lantas saja aku berteriak. Suara yang aku keluarkan bernada tinggi dan tampak tidak biasa. Seperti anak kecil, pikirku. Selanjutnya, aku menyadari kalau bukan hanya suaraku saja yang yang tampak aneh. Lengan di depan ku yang bergerak secara reflek secara mengejutkan tampak kecil dan pendek. Itu gemuk, pendek dan kecil, sebenarnya. Lebih tepat dengan menyebutnya lengan seorang bayi.

Tengkorak! Lupakan soal lengan! Fokus pada tengkorak! Dan dimana aku? Apa yang terjadi? Pemikiran panik ku meloncat dari tempat ke tempat, menolak untuk diam. Aku putuskan mencoba untuk tenang sesaat. Aku ingin tenang dan secara rasional[4] mengamati situasinya.

“$&$&’:”%…”

Dan kemudian kerangka itu menjejakan ujung jari tulangnya di kulitku.

“Waaaahhhh?!”

Sebagian otakku mulai menghinaku. Kita dalam situasi seperti ini, dan kau mengharapkanku untuk tetap tenang?! Aku meronta-ronta mencoba melarikan diri. Mahluk ini adalah kerangka yang bisa bergerak. Seekor monster. Sebuah penyimpangan. Sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini.

Pertemuan tiba-tiba dengan mahluk semacam ini pasti akan membuat siapa pun merasa takut. Aku tidak berbeda. Yang lebih penting lagi, aku tampak jauh lebih kecil dan lebih muda dari yang aku ingat. Ingatanku begitu samar, namun setidaknya aku bisa ingat kalau aku sedikit kurus dan jauh lebih tinggi. Meski begitu, ingatanku tidak sesuai dengan anatomi tubuhku saat ini.

Membayangkan dirimu, sebagai orang dewasa, duduk diatas sepeda roda tiga dan bermain seperti anak kecil. Rasanya seperti itu, namun jauh lebih buruk.

“%#%$&&…”

Seolah takut kehilangan ku kerangka itu menekanku ke dadanya dengan salah satu lengan, dan kemudian secara berirama mulai menimang ku maju mundur. Tidak peduli seberapa keras aku berjuang dalam pelukannya, dia terus menimang ku, ketekunannya tidak berkurang sedikit pun.

“Ah…”

Akhirnya aku sadar. Perilaku aneh kerangka ini pada dasarnya adalah kebaikan. Dia melakukannya agak kasar. Kerangka itu tampaknya hanya memiliki sedikit pengalaman dalam hal semacam ini, dan lengan tulangnya itu terasa tidak nyaman. Meski begitu, dia tampaknya tidak bermaksud, katakanlah, cara terbaik untuk memakan ku. Yah, mungkin tidak.

Tentu saja, aku tidak memiliki kemampuan pengamatan yang cukup untuk membaca apa pun yang melewati ekspresi wajah tengkorak. Aku tidak bisa benar-benar yakin dengan pendapat ku, dan aku pun tak bisa menurunkan kewaspadaan. Meski begitu rasanya kerangka ini bekerja dengan penuh cinta.

Saat aku melihat lebih dekat kedalam cahaya api di lubang matanya, aku merasakan seolah mata-mata itu mungkin saja memiliki kehangatan persahabatan. Pikiran itu membuatku sedikit tenang.

Bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi, aku mengalihkan pandangan ku dari kerangka itu untuk sementara dan terfokus pada lingkungan sekitar. Kepalaku tidak bisa bergerak bebas, tapi aku bisa melihat beberapa pilar besar yang megah, dan banyak lengkungan. Ada sebuah oculus di tengah langit-langit kubah, yang daripadanya cahaya samar terpancar.

Aku merasa cukup yakin kalau aku berada di dalam ruangan, namun tempatnya tampak sangat kuno dan mengesankan. Ini mengingatkan ku dengan Pantheon[6] dari Romawi kuno, yang pernah kulihat di foto. Namun aku tidak bisa mengetahui apapun lebih dari itu. Sesuatu yang seharusnya sudah mati bergerak untuk beberapa alasan, dan sepertinya aku menjadi jauh lebih kecil dan lebih muda. Aku mengatur apa yang ku ketahui di belakang kepalaku, namun sebelum aku bisa menemukan petunjuk lebih lanjut, pikiran ku mulai menjadi tidak jelas. Bergerak-gerak telah membuatku lelah.

Kerangka itu masih berusaha dengan caranya sendiri yang kaku, untuk membuatku tertidur. Tubuhku berayun perlahan, sekarang aku merasa seolah-olah di belai oleh ombak yang lembut. Aku membiarkan ombak itu membawa ku, dan perlahan aku mulai melayang.

Saat aku terbangun, seorang pria tua bewajah sinis dengan hidung terkait tengah menatap ku. Rupanya biru pucat dan agak tembus pandang. Itu, aku bisa setengah melihat menembus dirinya. Dia tanpa diragukan lagi adalah seorang hantu.

Aku menahan teriakanku.

Kemudian, aku diangkat. Aku mengadah dan melihat seorang wanita yang semua kulit dan tulangnya, semuanya kering tanpa kecuali. Itu, dia adalah seorang mummy.

Aku mati-matian menahan teriakanku.

Sesuatu muncul di depan wajahku dan mengamatiku. Dia adalah kerangka yang telah kutemui sebelum aku tertidur.

“Waaaaaah?!” Akhirnya, aku tak bisa lagi menahan teriakanku. Aku menjerit. Aku meratap, menendang, dan berontak. Namun mungkin karena keadaan tubuhku saat ini, aku langsung lelah dan lapar. Tenaga yang aku butuhkan untuk bertahan sekuat tenaga menjadi layu.

“$##&&&$@$&…?” Hantu orang tua itu menatap wajah ku, lalu membuat suara yang tidak jelas ke mummy. Mummy itu kemudian membawa mangkuk berisi semacam bubur putih dari tempat yang tidak diketahui. Setelah mengaduknya dengan sendok, dia kemudian membawanya ke mulutku. Yang cepat-cepat aku tutup, tanpa pikir ulang.

Maksudku, bukan hal bagus kalau aku membuka mulutku kan?

Tak ada seorangpun yang ingin mendengar “Buka yang lebar!” menerima sesuatu yang entah apa itu dari mummy tua yang kurus kering.

Apa yang kulihat saat ini sama sekali tidak mirip dengan gambaran petapa yang selalu kalian lihat di buku-buku sejarah, yang membuat diri mereka sendiri kelaparan agar mencapai pencerahan. Dia adalah keaadan akhir dari hancurnya bentuk manusia, kering layaknya pohon mati.

Siapa yang ingin mengalami “katakan aaaa” dengan salah satu dari mereka? Aku tidak bisa bayangkan bahkan satu orang pun mau melakukan itu. Dan jika orang semacam itu benar-benar ada, aku menjadi salah – satunya yang tidak mau berteman dengan mereka.

Saat ini, seperti yang kubilang sebelumnya, aku merasakan lapar yang tak tertahankan. Dan jelas tidak ada jalan lain bagiku untuk mendapatkan makanan lain di situasiku saat ini. Rasa laparku karena kelelahan dan hasil dari bangun tidur sangat kuat, mungkin ini disebabkan karena tubuhku yang menjadi lebih muda. Jadi, aku pikir-pikir, persetan bangsat! Aku menelan sesendok penuh.

Rasanya cukup enak. Ingatanku memberitahuku kalau makanan bayi itu hambar, meskipun kupikir lidahku kurang berkembang dibandingkan bagian tubuhku yang lain.

Kerangka itu membelai kepalaku, seolah mengatakan, “Anak baik.”

“Wah…?”

Pada saat itu, tanpa sadar. Aku menelan sesuatu yang ditempatkan di mulutku begitu saja. Tidak ada gigi disana. Tidak aneh kalau saat aku mencoba untuk bicara, suara yang keluar terdengar lucu.

Aku baru ingat. Kalau bayi itu tidak mempunyai gigi. Yah, ini pertama kalinya bagiku. Jika aku mempunyai pengalaman membesarkan anak, aku mungkin bisa memanfaatkan itu untuk mencari tahu perkembangan ku saat ini. Ah! Tidak ada gigi, namun tidak menyusui, itu artinya usia ku sudah beberapa bulan! Semacam itu. Namun sesuatu seperti kehangatan keluarga tidak ditemukan dalam ingatanku. Aku tidak tahu apa yang kalian harapkan dari para orang dewasa yang berpikir rasional.

Tak banyak bagiku, pikirku.

Aku telah mati setelah mengumpulkan tak lebih dari pengetahuan dangkal dan tahun-tahun tanpa melakukan hal yang bermanfaat.

“Ah-”

—Tentu saja

Aku sudah mati.

Aku pasti sudah mati sebelumnya.

Meskipun semuanya terasa samar, karena disebabkan ingatan ku yang kabur, namun rasa sakit akan kematian masih membekas di dalam diriku.

Entah tempat apa ini, kenapa aku dikelilingi mayat hidup, apa ini akhirat?

Jika Tuhan memang ada, apakah ini merupakan hukuman dari-Nya?

mweheh.jpg

Sekitar setengah tahun telah berlalu.

Alasan ku mengatakan “sekitar” karena aktivitas ku yang hanya terdiri dari tidur lalu bangun dan seterusnya, membuat hari-hari yang kulewati terasa samar. Ternyata bayi benar-benar menghabiskan banyak waktu untuk tidur, kemudian bangun karena merasa lapar. Aku merasa seolah berada dalam mimpi panjang dan aneh, dan karena itu pikiranku bisa bertahan dari rasa bosan.

Satu-satunya informasi yang bisa kudapatkan adalah, bahwa situasi ku saat ini bukanlah mimpi atau khayalan belaka. Rasanya terlalu hidup dan terlalu nyata. Dan aku tidak bisa bayangkan apa yang orang lain pikirkan saat pertama kali melihat celana dalam mereka diganti oleh undead.

Aku terpaksa harus menerima kalau aku adalah seorang bayi yang tak bisa melakukan apapun lebih jauh selain merangkak, menghabiskan hari-hariku dirawat oleh tiga mahluk undead.

Setelah sekian lama, aku mulai mengerti pembicaraan mereka.

Ada beberapa teori dalam ilmu bahasa —aku ingat beberapa bagian— kalau otak bayi itu tidak benar-benar papan tulis kosong, sebaliknya, mereka memiliki kemampuan untuk secara bertahap membentuk dan mempelajari bahasa dari suara di sekitar mereka semenjak lahir. Meskipun ingatanku masih samar, sepertinya aku masih bisa mengingat beberapa pengetahuan lama ku.

“Ba… Ba…” Aku berusaha menggunakan lidah dan tenggorokanku untuk membuat sebuah kata, namun organ itu masih belum sempurna, jadi itu tidak bekerja dengan baik.

Aku tidak bisa mencampur adukan cara bagaimana aku mengontrol tubuh lamaku sebelum aku mati dengan yang sekarang. Kemampuan berbicara, sesuatu yang ku kuasai sebelumnya, namun sekarang aku mengalami kesulitan. Demikian pula, aku masih belum bisa berjalan dengan benar.

Bagaimana kalau aku seperti ini selamanya? Tak bisa berjalan maupun berbicara, ini membuatku merinding.

“Cup-cup. Ingin pelukan?” Mungkin karena menyadari kegelisahanku, mummy itu tersenyum padaku, seolah mencoba membuatku tenang.

Dia mengenakan jubah tua yang lusuh sama dengan yang dikenakan oleh para pedeta kuno, dua orang disampingnya memanggilnya Mary.

Meskipun aku sedikit ragu tentang menilai kecantikan seorang wanita, mengesampingkan penampilannya sebagai mummy, aku punya firasat kalau dia mungkin seorang wanita cantik semasa hidupnya. Dia memiliki tubuh yang ramping dan anggun, dengan kedua matanya selalu terjaga agar tidak turun. Kulitnya seperti kulit pohon mati, namun tak ada goresan. Dari sana, aku bisa menebak fitur wajah tanpa cela yang pasti ia miliki semasa ia hidup. Rambutnya yang pirang dan bergelombang harus kuakui menjadi kusam seiring berjalannya waktu, namun masih tebal dan indah.

“Bagaimana kalau kita sedikit jalan-jalan di luar sebentar?”

Kau mau membawaku ke luar?

“Heheh, akhirnya kamu tersenyum juga.” Katanya. Sudah lama aku penasaran tentang apa yang ada diluar kuil ini… ini kuil kan?.

Dengan tubuhku saat ini, akan sangat sulit bagiku untuk pergi dan melihat-lihat. Aku telah lama menanti kesempatan dimana aku bisa pergi keluar.

“Kita berangkat!” Dia mengangkatku. Aku merasakan semacam keharuman ringan yang mengapung. Ini bukan bau yang tidak menyenangkan. Sejenis kayu? Ini mengingatkan ku pada aroma dupa seperti yang mungkin kalian duga dari wanita tua.

Sedikit merasa tenang, aku membiarkan diriku menikmati baunya.

Mary memelukku saat dia melangkah perlahan melewati kuil yang remang-remang.

Lantainya adalah papan batu berbentuk persegi. Cahaya ringan mengalir dari jendela loteng pada puncak langit-langit kubah yang luas dan tinggi. Terdapat ceruk pada dindingnya yang memberikan kesan tempat suci orang Jepang, dan di dalamnya terdapat patung-patung yang kemungkinan besar adalah dewa-dewa kuil ini.

Satu per satu, patung-patung itu lewat di depan mataku saat kami berjalan.

Salah satunya menggambarkan pria mengesankan dengan nuansa yang berat, yang berada dalam kondisi puncaknya, dia membawa pedang berbentuk seperti petir di tangan kanannya dan satu set timbangan di tangan kirinya.

Selanjutnya adalah wanita gemuk yang tersenyum penuh kasih sayang, membawa seikat padi dan bayi yang dipeluk dengan aman di pangkuannya.

Ada juga seorang pria bertubuh moustachio[9] dengan perawakan pendek dan gemuk, dengan nyala api yang membara di belakangnya, tangannya menggenggam palu dan tang.

Lalu seorang pemuda androgini[10] yang tersenyum ramah, dia memegang segelas anggur dan sejumlah koin emas, dia dikelilingi oleh pictograph yang menggambarkan hembusan angin.

Berikutnya adalah seorang gadis muda mengenakan kain tipis yang terangkat ke pinggangnya, dia memegang busur di salah satu tangannya, dan menariknya dengan tangan yang satunya lagi, dia mungkin seorang peri.

Selanjutnya seorang pria tua bermata satu yang memancarkan kecerdasan berdiri di depan semacam prasasti, memegang tongkat dan buku yang terbuka di tangannya.

Mungkin mereka adalah lambang dari agama panteon politeistik[11], pikirku. Entah bagaimana, aku merasa bisa mengetahui keyakinan macam apa yang ada di balik masing-masing dewa ini hanya dengan melihat patung mereka.

Tapi aku tidak tahu tentang yang berikutnya.

Tidak ada latar belakang. Mungkin itu dimaksudkan untuk melambangkan kegelapan? Sosok itu mengenakan jubah dengan tudung yang menutupi matanya. Nuansa yang kelam dan tanpa cahaya melekat pada dirinya.

Satu-satunya fitur penting adalah tongkat panjang yang dipegangnya, yang pada ujungnya tergantung sebuah lentera. Jujur saja, patung yang satu ini memberi ku kesan langsung akan Dewa kematian.

mwuhu.jpg

Anehnya, aku merasa tertarik ke dalam lentera itu.

Tentu saja, hampir tidak mungkin bagi Mary mengetahui apa yang dipikirkan anak di pangkuannya, dia pun terus berjalan. Mataku terus memperhatikan patung-patung itu sampai yang terakhir.

Akan ada kesempatan lain untuk melihatnya dari dekat, pikirku. Aku melakukan yang terbaik untuk menyingkirkan obsesi aneh ku.

Kami terus melaju, lebih jauh dan lebih jauh lagi, lingkungan sekitar ku berubah semakin gelap, sampai aku hampir tidak bisa melihat apapun. Langkah Mary bergema dalam kegelapan.

Setelah beberapa saat, Mary berhenti di bawah lengkungan yang diukir dengan tanaman merambat, lalu meletakkan tangannya di atas pintu besi yang tampak berat. Saat pintu itu mengeluarkan suara berderit yang nyaring, seberkas cahaya menerobos celah, lalu perlahan menyebar. Setelah pintu itu terbuka cukup lebar, Mary melangkah keluar.

“Ah …” Bidang penglihatanku langsung terbuka.

Angin sepoi-sepoi berhembus melewatiku.

Ini masih fajar, dan kabut pagi yang tipis menggantung di udara pada kaki bukit. Sebuah kota batu terbentang di bawah kami, dibangun sampai ke tepi danau yang luas. Suasananya mengingatkanku akan abad pertengahan, atau bahkan lebih tua. Aku bisa melihat menara tinggi dan saluran air yang dibangun dengan serangkaian lengkungan yang indah.

Semuanya sudah tua dan tinggal puing-puing.

Banyak atap bangunan telah runtuh, lalu plester di dinding juga telah jatuh, menyisakan bangunan dalam keadaan yang rusak parah. Rumput tumbuh melalui celah-celah di paving blok jalan, lalu tanaman merambat hijau dan lumut menempel pada dinding bangunan. Kota ini hancur di antara tanaman hijau, seolah menikmati istirahat yang tenang setelah serangkaian peristiwa yang terjadi di sini.

Matahari pagi bersinar lembut di atas semua itu.

Mataku terbuka lebar. Ini adalah pemandangan yang begitu menakjubian, hatiku bergetar.

Aku merasa seolah angin menerobos menembus tubuhku, dari kakiku sampai ke kepalaku. Bagian dalam kepalaku terasa sangat jelas. Seluruh tubuhku, sampai setiap selnya, merasakan dunia ini. Aku merasa telah mengingat sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang telah aku lupakan setelah sekian lama.

Entah kenapa, aku merasakan air mataku mengalir. Aku merapatkan bibirku erat-erat, mencoba menahannya, namun itu percuma. Air mataku tetapnmenetes.

Aku telah menjalani kehidupan yang tak jelas kacau, dan aku telah mati dalam ketidakjelasan itu, tidak pernah berhasil lolos darinya. Oleh sebab itu, saat aku terbangun di dunia ini, akubmengira ini mungkin merupakan hukuman dari Tuhan.

Tapi ini bukan hukuman.

Aku tidak tahu di mana ini. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi aku yakin: ini adalah anugerah. Karena kebaikan-Nya, Dia telah mengembalikan apa yang telah aku buang. Meski tanpa bukti apa pun, aku sangat yakin tanpa keraguan bahwa ini adalah hadiah yang hangat dan penuh kasih.

“Cantik sekali, bukan begitu, Will? Anak ku tersayang … ” KataMary.

William. Will singkatnya. Itu adalah namaku.

Ini adalah nama ketiga yang diberikan padaku.

Nama ku sebelum aku mati tertelan oleh lumpur. Yah, ini namaku. Tubuh mungil ini adalah tubuhku. Tubuh dan nama yang terasa seperti milik orang lain anehnya terasa cocok, seolah-olah inilah diriku yang sebenarnya.

“Ah … Ah …” aku mencoba bicara, sembari suaraku diisi dengan tangisan. Aku tidak peduli meskipun pita suara ku yang belum sempurna mengeluarkan suara yang tidak jelas.

Kukatakan pada diriku sendiri … Kali ini, aku akan melakukannya dengan benar.

Saat Mary memelukku dengan erat, aku terbakar dengan tekad. Tidak ada yang masuk akal bagiku. Aku tidak tahu seperti apa dunia ini, atau kenapa aku dilahirkan di sini. Tapi aku punya cukup waktu untuk memahami hal-hal itu.

Pengetahuan ku sangat dangkal dan aku tidak memiliki keahlian, namun aku memilik banyak waktu yang diperlukan untuk belajar. Aku sudah bosan, hanya bisa menyerah dan memeluk lututku sendiri. Aku tidak peduli meskipun aku akan gagal. Aku tidak peduli berapa banyak rintangan yang harus aku hadapi.

Kali ini … Kali ini, aku akan hidup. Aku akan hidup dengan benar di dunia ini! Aku meneriakkan tekadku dengan tangisan seorang bayi.

◆ ◆ ◆

[3] Mungkin maksudnya gerobak dorong *ane kurang ngerti

[4] Tidak bisa berkata – kata

[5] Pembakaran / kreamasi acara pembakaran mayat di dalam agama hindu / budha

[6] Perbandingan, maksudnya si mc berpikir dengan melihat situasi dan kondisi.

[8] Bangunan yang di khususkan untuk memuja para dewa

[9] Kekar, jantan, dsb.

[10] Pembagian peran yang sama dalam karakter tampan atau cantik.

[11] Pemuja para dewa / mempercayai bahwa dewa lebih dari satu


5 Responses

  1. Beleive says:

    kyaknya seru

  2. […] 5 Index NovelChapter Berikutnya» […]

  3. :vos says:

    Lanjut min T_T

Leave a Reply

Your email address will not be published.