Summoning the Holy Sword Bab 5 – Pertempuran Sengit

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Summoning the Holy Sword Bab 5 – Pertempuran Sengit


Wind Serpent hanya menggigit udara kosong.

Ini tidak akan berhasil jika Rhode tidak tiba-tiba muncul dari belakang.

“Rhode?”

Lize, yang baru saja lolos dari serangan Wind Serpent, mengangkat kepalanya karena terkejut. Dia terkejut mendapati Rhode berdiri di belakangnya. Saat ini, gadis itu tengah bersandar di lengannya. Kemungkinan karena ketakutan, menyebabkan tubuhnya saat ini lemah dan tidak berdaya. Dia ingin berdiri, namun kakinya terasa lemah, jadi dia memilih duduk.

“Lize!”

Melihat bahwa Lize telah lolos dari kematian, Carter merasa lega. Namun tak berlangsung lama, jantungnya berdegup keras lagi. Karena pada saat ini, Wind Serpent yang sebelumnya menyerangnya telah berbalik kembali ke arahnya. Dia mengepakkan sayapnya, berniat untuk menyerang lagi.

Sial!

Carter mencengkeram pedangnya dan berlari ke arah Lize, berharap dia akan berhasil. Tetapi tidak peduli seberapa keras dia berlari, dia tidak mampu mencapainya.

Melihat Wind Serpent, gadis itu tanpa sadar menahan nafasnya. Dia ingin melakukan sesuatu, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai seorang Cleric, dia tidak bisa menggunakan senjata. Jadi apa yang harus dia lakukan?

“Serahkan padaku.”

Tepat ketika Lize menjadi panik, dia bisa mendengar suara Rhode dari belakang. Kemudian, dia melihat Rhode mengambil setengah langkah ke depan, melindunginya dari bahaya.

Apakah dia berniat melawan Wind Serpent itu?

Lize bingung, namun dia masih memperhatikan Rhode yang mengulurkan tangan kanannya. Tiba-tiba, Lize memperhatikan tanda di tangan kanannya. Itu adalah lingkaran sihir yang kompleks dan indah. Garis sihir menyebar, menjalar ke masing-masing jari-jarinya. Kemudian benda transparan seperti kartu muncul dari tengah telapak tangannya.

Kemudian, Rhode mengepalkan tangannya dengan erat.

Cahaya putih yang menyilaukan tiba-tiba muncul.
Sebuah sihir tak terlihat telah mengangkat segel itu, berubah menjadi udara yang terlihat dan menyebar ke sekitarnya. Wind Serpent pertama yang menyerang menjerit dan mengepakkan sayapnya. Dia berusaha menjaga keseimbangannya dari turbulensi. Tapi sebelum dia bisa mengambil tindakan lebih lanjut, cahaya yang menyilaukan tiba-tiba meledak di udara. Memotong tubuh Wind Serpent itu dan mengirimnya terbang.

“Sigh…”

Rhode menghela nafas. Pada saat itu, cahaya yang menyilaukan mata sudah menghilang — digantikan oleh pedang putih yang sangat indah, transparan murni yang muncul di tangan kanannya. Dia melambaikan Star Mark Sword di tangannya, menyebarkan titik cahaya yang tersisa. Ini adalah pemandangan yang sangat indah.

Dia tidak menyadari bahwa, pada saat ini, semua orang benar-benar dibuat takjub. Lize duduk di lantai dengan tatapan kosong, menatap pria yang berdiri di depannya dengan tidak percaya. Carter juga memperlambat langkahnya, menatap Rhode dengan kejutan di matanya. Meskipun dia sudah menduga bahwa Rhode bukan orang biasa, dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan menjadi ‘luar biasa’.

Meskipun dia masih duduk di lantai, Lize tidak bisa menahan takjub oleh pedang murni di depannya. Itu adalah pedang tipis yang diukir dengan pola sederhana, memancarkan cahaya redup di sekitarnya. Bisa dilihat dengan mata telanjang, partikel-partikel cahaya kecil itu begitu indah layaknya sihir. Selain itu, sayap yang terlipat di pedang itu membuatnya terlihat sangat cantik, bahkan potongan bulunya pun terlihat jelas.

Meskipun gadis-gadis biasanya tidak akan begitu tertarik pada persenjataan, pedang ini jauh melampaui senjata biasa. Menyebutnya sebuah karya seni juga tidak berlebihan.

Lize benar-benar mengaguminya, tetapi Carter berbeda. Sebagai seorang petualang yang berpengalaman, Carter bersumpah bahwa dia belum pernah melihat benda aneh semacam itu.

Bahkan, ketika Rhode memanggil senjatanya, Carter tertegun. Meskipun dia telah melihat beberapa teknik pemanggilan penyihir, mereka biasanya menggunakan kristal sebagai media. Mereka juga perlu mengucapkan mantra terlebih dahulu dan setelah itu, barulah beberapa monster jelek akan muncul. Tapi memangnya ada yang bisa memanggil senjata? Dia benar-benar tidak pernah melihat pemandangan seperti itu.

Meskipun Carter tidak yakin benda apa yang ada di tangan Rhode, dia bisa yakin bahwa senjata sihir semacam itu tidak bisa digunakan oleh orang biasa. Seseorang yang memenuhi syarat untuk menggunakan senjata semacam ini pastinya seorang bangsawan atau orang yang luar biasa.

Melihat sayap yang indah di pedang itu, Carter hanya bisa mengerutkan kening. Dia tentu saja yakin bahwa di benua ini, para malaikat adalah ras yang sangat mulia. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang penting, atau mendukung beberapa kelompok penting setidaknya. Sama seperti penguasa Kerajaan Munn, Lydia Paphield Mila Frederica yang naik tahta tiga tahun lalu juga seorang malaikat.

Meskipun pemuda di depannya belum mengungkapkan identitas aslinya, tetapi Carter dapat yakin bahwa berdasarkan senjata itu, Rhode dan para orang-orang mulia itu pasti memiliki semacam koneksi.
Ketika pikiran-pikiran ini terlintas dalam kepala Carter, tanpa sadar dia sudah tiba di samping keduanya.

“Apakah kau baik-baik saja?”

“Aku- aku baik-baik saja.”

Wajah kecil Lize agak pucat. Itu bukan karena dia penakut. Bagaimanapun, ini hanya karena situasinya. Jika Rhode tidak menariknya kembali tepat waktu, dia pasti sudah mati. Ketakutan untuk nyaris lolos dari kematian jelas bukan sesuatu yang orang biasa bisa mengerti.

Setelah memastikan bahwa Lize tidak terluka, Carter segera berbalik untuk melihat Rhode yang berdiri di sampingnya.

“Tuan Rhode, apa kau baik-baik saja?”

Rhode mengangguk, menandakan bahwa dia baik-baik saja. Meskipun bagian kiri tubuhnya masih terasa sakit, itu tidak mempengaruhi pertarungannya. Sebaliknya, daripada dirinya sendiri, dia lebih peduli tentang hal lain.

“Apa yang akan kalian lakukan?”

Wind Serpent di sekitar mereka terus bertambah. Meskipun kapal apung telah melaju dengan kecepatan tertinggi, mereka masih tidak bisa menyingkirkan sebagian besar serangan Wind Serpent. Situasi mereka belum membaik; sebaliknya, semakin memburuk.

“Kami bermaksud bertarung sampai kita keluar dari wilayah mereka. Untuk sementara, kita hanya bisa terus menahan mereka.”

Jika saja di darat, Carter mungkin memiliki beberapa cara lain. Masalahnya sekarang adalah mereka ada di udara. Selain ide tersebut, dia tidak punya solusi yang lebih baik untuk keluar dari masalah ini.

Setelah selesai berbicara, pemuda di depannya mengerutkan kening.

“Sudah terlambat, Tuan Carter.”

“Oh?”

“Wind Serpent benar-benar unggul di daerah ini. Bahkan jika kapal ini dipercepat, kita tidak punya cukup waktu sebelum kapal ini benar-benar hancur.”

“Benarkah?”

Carter tidak bodoh. Alasan dia membuat keputusan itu adalah karena dia tidak terbiasa dengan situasi ini. Setelah Rhode berhenti bicara, dia langsung mengerti betapa seriusnya masalah ini.

“Jadi apa yang harus kita lakukan?”

“Segera mendarat.”

Rhode hampir tidak ragu memberikan jawabannya. Kemudian dia mengulurkan tangannya dan menunjuk ke samping.

“Lalu kita bergegas ke sisi itu.”

Carter memandang ke arah yang ditunjuk Rhode. Matanya terbuka lebar seolah dia benar-benar terkejut.

“Apakah maksudmu kita harus bergegas ke Twilight Forest?”

“Jika kau ingin menyingkirkan gerombolan Wind Serpent itu, ini satu-satunya cara kita, lalu …”

Tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, Rhode melihat sekeliling.

“Waktu kita hampir habis.”

Situasinya memang semakin buruk.

Wind Serpent tidak hanya memiliki gigi yang tajam, tetapi racun korosif mereka juga sangat berbahaya. Selain itu, Wind Serpent itu licik. Setelah serangan pertama gagal, mereka segera mengubah sasaran mereka. Sekarang, ada banyak Wind Serpent yang menghancurkan kaca dan masuk ke kabin. Menghadapi situasi seperti itu, semua orang tidak bisa melakukan perlawanan. Meskipun ruang sempit di kabin membatasi fleksibilitas mereka, ancaman mereka belum berkurang. Justru karena itulah situasi kabin saat ini benar-benar kacau. Asap bahkan mulai mengepul keluar dari kapal.

Situasinya sangat buruk!

Carter segera berbalik. Sementara itu, Rhode memegang pedangnya dan memblokir bagian depan celah.

“Hiss!!”

Seekor Wind Serpent terbang dari sebelah kanan, membuka rahangnya lebar-lebar untuk menyerang Rhode. Tetapi ketika serangan itu hampir mengenainya, Rhode melangkah ke kiri dengan mudahnya. Dia memegang pedangnya dan mengayunkannya ke dagu Wind Serpent.

Efek serangan itu melontarkan Wind Serpent terbang menjauh dan pada saat yang sama, juga memblokir Wind Serpent lainnya dari menyemprotkan racun. Kemudian Rhode dengan cepat berbalik; tangannya yang keperakan memancarkan cahaya yang secara akurat menghalangi upaya serangan Wind Serpent lain dari belakangnya. Selagi Wind Serpent itu kehilangan keseimbangan, dia menusukkan pedangnya ke depan, benar-benar mengakhiri hidup Wind Serpent yang malang itu.

Namun serangan Wind Seroent tidak berhenti sampai disitu. Bau darah telah merangsang mereka. Ketika Rhode mencoba untuk menghilangkan bangkai Wind Serpent dari pedangnya, banyak Wind Seroent lain bergegas ke arahnya. Mereka datang secara bergerombol. Pemandangan itu tampak seperti awan hijau dari kejauhan, tetapi juga tampak seperti monster yang tidak diketahui yang bisa melahapnya setiap saat.

“Rhode!”

Setelah menetralisir racun seorang tentara bayaran, Lize berbalik melihat Rhode dan secara refleks memanggilnya.

Aliran cairan asam disemprotkan seperti hujan, menargetkan Rhode. Jika itu mengenainya, maka berarti kematian baginya.

Tetapi pada saat ini, Rhode secara tiba-tiba bergerak ke belakang.

Cairan asam itu gagal mengenainya, menghujani geladak. Menciptakan lubang-lubang kecil disertai asap dengan suara mendesis yang keluar. Hampir pada saat yang sama, sekelompok Wind Serpent bergegas ke arahnya. Dengan putus asa, mereka harus menghancurkan pria berbahaya ini apapun resikonya.

Kalau orang normal, dia mungkin sudah membeku ketakutan. Tetapi, Rhode tetap tenang. Dia menggenggam pedang di tangan kanannya dan menusukannya ke depan.

“Blade of Destruction, Aktifkan.”

Cahaya putih secara tiba-tiba melesat ke arah gerombolan Wind Serpent itu. Satu menjadi dua, dua menjadi empat — tebasan itu seperti mesin cukur, bergerak cepat dan menusuk setiap Wind Serpent. Sebuah udara yang kuat menyapu geladak kapal seolah-olah ada tangan raksasa dan tak terlihat yang menerbangkan mereka, dengan kejam mencabik-cabik tubuh mahluk-mahluk itu. Dalam sekian detik, awan hijau itu benar-benar disapu oleh cahaya yang menyilaukan, yang pada akhirnya hanya menyisakan potongan-potongan daging dan darah.

Pada saat itu, semua orang tak kuasa menahan napas mereka.


Leave a Reply

Your email address will not be published.