Summoning the Holy Sword Bab 4 – Serangan

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Summoning the Holy Sword Bab 4 – Serangan


“Halo, Tuan Carter.”

Rhode mendongak, menyapa pria di depannya dan tersenyum.

“Terima kasih untuk bantuannya.”

“Jangan khawatir. Ini bukan masalah.”

Carter memiliki tubuh yang gagah dan tinggi dengan rambut merah cerah yang disisir rapi. Dari perawakannya, ia kemungkinan besar dilahirkan di barat laut Lygatto. Pedang panjang dan pendek keduanya dengan tenang menggantung di kedua sisi pinggangnya, sudut wajahnya mengungkapkan keuletan dan keteguhan hati. Dari penampilannya, jelas dia bukan tentara bayaran biasa.

Selagi Rhode mengamati pria di depannya, Carter dengan tenang menatapnya.

Dengan penampilan Rhode, mudah untuk menyimpulkan bahwa dia adalah seorang bangsawan muda yang besar kepala. Fisiknya yang kurus, dan kulit yang pucat, wajah yang feminin, dan pakaiannya. Tidak peduli bagaimana seseorang memandangnya, pria ini tidak terlihat seperti seorang petualang. Dia lebih mirip seorang tuan muda dari keluarga kaya.

Namun, Carter percaya bahwa pemuda ini tidak sesederhana seperti kelihatannya karena lingkaran misterius di tangan kanannya. Sebagai seorang Cleric, Lize bisa mendeteksi jejak sihir dari lingkaran misterius yang berarti dia tidak berbohong. Tetapi berdasarkan pengalaman Carter selama bertahun-tahun, jarang melihat seseorang yang secara langsung menanamkan sihir ke dalam tubuh mereka sendiri. Dari titik ini, ia curiga bahwa pria ini bukan seseorang yang sederhana.

Sebelumnya, dari percakapan singkat mereka, Carter dapat merasakan bahwa pemuda ini tidak sombong atau rendah hati; ekspresinya sangat tenang. Carter mendengar dari Lize bahwa meskipun baru sepuluh menit semenjak dia bangun dari koma, dia mampu memahami situasinya saat ini. Menilai dari ini, dia yakin bahwa Rhode jauh lebih kuat dari para anak-anak bangsawan yang besar kepala itu.

“Aku dengar kau datang dari Eastern Plains.”

“Iya.”

Rhode mengangguk.

“Jadi, kemana tujuanmu?”

“Aku hanya berkeliling.”

Rhode mengangkat bahu.

“Aku adalah seorang petualang; berpetualang dengan bebas adalah bagian dari hidupku. Tentu saja, tolong yakinlah. Aku tidak akan membuatmu kesulitan.”

“Itu bagus.”

Karena Rhode bersikap jujur, tidak perlu baginya untuk bertanya lebih banyak. Karena saat ini mereka sedang dalam misi; tentu saja, mereka tidak ingin menambah masalah lagi. Jadi setelah mengucapkan beberapa kata seperti ‘istirahatlah’, dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa lagi dan pergi. Bagaimanapun, dia adalah pemimpin kelompok tentara bayaran. Ada banyak hal yang harus dia lakukan; dia tidak bisa membuang-buang waktu di sini.

Setelah beberapa saat, Rhode menjadi sangat bosan. Namun, itu tetap menyenangkan karena Lize membawakan makanan untuknya. Meskipun hanya roti dan daging biasa yang Rhode telah makan berkali-kali dalam permainan, tetap saja, itu hanya makanan ‘palsu’ dan hanya berguna untuk memulihkan HP dan MP. Selain itu, rasanya yang hambar hanya bisa mengisi perut. Namun, sekarang dia secara pribadi mengalami bagaimana rasanya yang sebenarnya; ini bisa dianggap pengalaman yang bagus.

Dia harus mengakui, rasanya benar-benar tidak sesuai dengan deskripsi item …

“Bagaimana perasaanmu? Apakah lukanya masih sakit?”

Gadis pirang yang duduk di samping Rhode memiliki ekspresi khawatir dan serius. Matanya menunjukan sedikit kecemasan ketika pandangannya jatuh di pundak Rhode. Dia tidak tahan melihatnya.

“Sekarang sudah tidak apa-apa.”

Kata Rhode sambil menggerakkan tangan kirinya. Rasa sakit dari tulang dadanya tidak separah sebelumnya. Pada awalnya, bahkan sulit baginya untuk bernapas, tetapi sekarang, terasa menjadi jauh lebih baik.

“Itu bagus.”

Mendengar jawaban Rhode, ekspresi gelisah Lize berubah menjadi rileks.

“Tapi kau masih harus istirahat. Akan jauh lebih baik setelah kita sampai di Deep Stone City. Mungkin kau bisa pulih lebih cepat di sana.”

Gadis itu berkata dengan sungguh-sungguh. Meskipun orang yang berbaring di depannya tidak lebih dari orang asing yang baru saja dia temui, melihat ekspresinya, jelas bahwa dia tidak peduli tentang hal semacam itu.

“Terima kasih.”

“Sama-sama. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.”

Lalu, dia berdiri. Rambutnya yang pirang dan halus mengikuti gerakannya, bergoyang ke kiri dan ke kanan, membuat orang lain merasakan perasaan damai.

“Kalau begitu…”

Sebelum dia mampu menyelesaikan kalimatnya, kapal tiba-tiba bergetar hebat.

Dia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke tempat tidur. Untungnya, dia berhasil mengulurkan tangannya di saat-saat terakhir dan berpegangan pada sisi tempat tidur. Mereka saling memandang, sebelum cepat-cepat mengalihkan pandangan mereka.

Kapal apung berlayar karena angin; langit tidak seperti lautan di mana ada karang dan pusaran air. Namun, bukan berarti tidak ada bahaya. Situasi saat ini jelas tidak normal.

“Aku akan keluar dan melihat apa yang terjadi. Tolong tetap di kamar dan istirahat.”

Lize berkata dengan suara rendah. Dia segera berbalik dan pergi. Setelah menutup pintu, Rhode hanya bisa menatap sosoknya yang berlalu. Dia terdiam. Mengingat Rhode terlihat lebih tua darinya, apakah masih perlu menggunakan nada seperti membujuk anak kecil padanya?

Tetapi pada saat berikutnya, sebuah bayangan dapat terlihat terbang dari luar jendela. Ekspresi Rhode tiba-tiba berubah serius. Dia memutar kepalanya sedikit dan menatap ke jendela. Lalu, ada tiga, empat sosok hijau terbang dari luar. Pada saat yang sama, raungan rendah bisa terdengar.

“Hisssssss–”

Ketika dia mendengar suara ini, jantung Rhode berdegup kencang.

Mereka dalam masalah besar!

Saat ini, geladak sudah berubah menjadi kekacauan.

“Aku tidak menyangka kita akan menghadapi mahluk-mahluk sialan ini.”

Pemimpin tentara bayaran berambut merah memegang pedang, berdiri di garis depan. Dengan ekspresi serius, dia melihat sosok-sosok hijau yang terbang di sekitar kapal apung. Penampilan mereka adalah ular panjang bersayap, sekitar satu meter panjangnya. Meskipun sosok ramping mereka memberi perasaan bahwa mereka lemah, tapi ketika mereka membuka mulut besar mereka, barisan taring yang tajam bisa terlihat. Dalam waktu singkat, Carter telah menyimpulkan siapa mereka.

Wind Serpent.

“Sepertinya kita telah masuk ke wilayah ular-ular itu.”

Pedagang gemuk itu bersembunyi di samping pemimpin tentara bayaran. Dengan wajah pucat, ia menyeka keringat di dahinya dengan saputangan.

“Sialan, si Picco licik itu. Sekarang aku tahu! Aku tahu ada yang aneh karena bajingan itu mau memberitahuku rute ini dengan bayaran yang kecil! Bajingan itu! Setelah aku kembali akan kupastikan memberinya pelajaran !! ”

“Kau bisa bicara setelah kita berhasil melarikan diri dari tempat ini!”

Carter menyela teriakan histeris pedagang gemuk itu. Melihat sekeliling, ada ratusan Wind Serpent yang mengelilingi kapal. Pada awalnya, dia berpikir bahwa dengan meluncurkan volley of bolts dia bisa menakuti sekelompok monster ini. Tapi sifat Wind Serpent yang tak kenal menyerah benar-benar di luar imajinasinya – atau bisa dikatakan bahwa kematian teman-teman mereka malah membuat mereka semakin ganas.

Pada saat ini, mereka sudah menduduki geladak luar dan mulai bergerak ke dalam. Para tentara bayaran sudah membuang busur panah mereka dan menghunuskan senjata jarak dekat untuk menghadapi musuh mereka.

“Kau! Pergi dan bersembunyi di dalam. Katakan pada kapten bahwa kita harus pergi dari sini secepat mungkin!”

Carter menggunakan punggung tangannya untuk mendorong pedagang gemuk itu ke dek kapten, kemudian dia mengambil dua langkah ke depan dan dengan cepat mengayunkan pedang di tangannya untuk memotong Wind Serpent yang bergegas mendekatinya. Namun tak lama kemudian, dua Wind Serpent yang lain menggantikan rekannya yang sudah mati.

Kita kekurangan orang!

Carter hanya bisa mengerutkan kening. Dia menyapu pandangannya ke geladak dan melihat bahwa hanya ada enam orang yang tersisa dan mereka adalah orang-orang yang dia bawa bersamanya dalam misi ini. Meskipun kapal dagang ini sendiri juga memiliki penjaga, pengalaman mereka tidak cukup. Bahkan, setelah gelombang serangan pertama, jumlah penjaga telah berkurang hingga sepertiga. Melihat ekspresi panik mereka, dia tahu bahwa mereka tidak bisa bertahan lebih lama. Wajah Carter mengeras saat melihat monster-monster mengerikan itu.

Bukan berarti dia tidak memiliki pengalaman dalam menghadapi Wind Serpent. Tapi ini adalah pertama kalinya dia menghadapi Wind Serpent sebanyak ini sekaligus, membuatnya merasa sedikit gelisah. Dia sekali lagi maju selangkah. Tubuhnya bergerak fleksibel, membentuk setengah lingkaran. Kemudian dia menusukkan pedang di tangannya ke samping, mengincar tubuh Wind Serpent. Wind Serpent jatuh ke tanah dengan darah yang menyembur, dan setelah beberapa raungan keras, mahluk itu berubah menjadi mayat.

Carter mendongak dan tanpa sadar menyapu sekeliling. Kemudian, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.

“Lize! Hati-hati!”

Gadis itu tidak sempat bereaksi.

Menyembuhkan salah satu tentara bayaran dari racun telah menghabiskan kekuatannya secara berlebihan dan membuatnya hampir kehilangan kesadarannya. Meskipun dia telah bergegas ke geladak hanya beberapa menit yang lalu, dia telah menyembuhkan banyak orang yang terluka. Sebagai satu-satunya Cleric dalam kelompok, Lize, tentu saja, harus mengambil tanggung jawab ini.

Setelah mendengar peringatan Carter, dia menoleh.

Apa yang dilihatnya saat ini adalah mulut besar yang menganga dengan dua taring tajam.

Pada saat itu, dia hanya bisa berdiri membeku. Melihat Wind Serpent di depannya, dia tidak bisa berpikir dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Di depannya, dia bisa dengan jelas melihat taring yang dingin, tajam, dan berkilau. Bahkan daging di dalamnya bisa terlihat, dan bau busuk bisa tercium.

Kemudian, sebuah tangan tiba-tiba terentang dari belakang, meraihnya dan menariknya kembali tepat pada waktunya.


Leave a Reply

Your email address will not be published.