Summoning the Holy Sword Bab 2 – Petualangan Baru

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Summoning the Holy Sword Bab 2 – Petualangan Baru


Angin bertiup melalui ngarai dan menciptakan gelombang di padang rumput.

Sapi-sapi liar yang memakan rumput hijau dengan lahapnya memandang ke arah langit. Di sana, kapal-kayu pedagang sepanjang sepuluh meter melayang di udara. Kapal itu melaju lambat dengan layar yang dijalankan oleh angin.

“Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, pemandangan ini sungguh luar biasa.”

Seorang pria setengah baya dengan armor kulit berdiri di samping geladak, memandang rendah ke arah padang rumput yang tak berujung.

“Bagi kami para pedagang, ini juga merupakan kesempatan langka.”

Berdiri di sebelah pria itu adalah pedagang yang memiliki sedikit kelebihan berat badan. Rambutnya keriting aneh dan mengenakan jubah pedagang. Mata kecilnya sedikit menyipit seolah-olah dia sedang merencanakan sesuatu sambil menatap pemandangan di depannya. Melihatnya, seolah-olah dia berpikir bahwa pemandangan indah di depannya bisa dijual.

“Jika bukan karena ini, aku khawatir kita tidak bisa memindahkan barang ke daerah pusat secepat mungkin. Sejujurnya, aku selalu menentang gagasan membuka sebuah pasar, tetapi sekarang sepertinya pilihanku sudah benar.”

“Maafkan aku, tapi kalau boleh jujur, jika kau tidak memilih rute yang lebih luas, sekalipun kita bisa pergi dari sini, dan meskipun itu akan menghemat lebih banyak waktu, tingkat bahayanya juga akan meningkat. Aku mendengar bahwa pihak lain tidaklah berdiam diri, dan aku pikir kau juga telah diingatkan oleh kapten bahwa tampaknya ada Wind Serpent juga di sekitar sini, bagaimana jika … ”

Wajah pria itu menjadi gelap. Dia menoleh, mengalihkan pandangannya ke suatu tempat yang tidak jauh dari pegunungan. Puncak yang menjulang menghalangi pandangannya, membuatnya tidak bisa melihat apa yang ada di baliknya. Tapi dia samar-samar bisa merasakan bahwa langit yang jauh itu tidak sepenuhnya berwarna biru, ada kegelapan yang secara tidak kasat mata bisa terlihat.

Ini bukanlah dunia tempat seharusnya mereka tinggal.

“Jangan khawatir, kalau pun ada, memangnya akan berapa banyak? Uang selalu ada resikonya. Ini juga alasan kenapa aku menghabiskan banyak uang untuk mempekerjakanmu. Hanya beberapa ular, bukan begitu?”

Pedagang itu mengulurkan tangannya dan menepuk bahu pria itu.

“Ya, dan bagaimana dengan kondisi pemuda yang kita selamatkan? Apakah dia masih hidup?”

“Lize telah membalut lukanya, dan sekarang dia tertidur. Kondisinya seharusnya tidak sampai mengancam nyawanya.”

“Itu bagus.”

Mendengar jawaban pria itu, pedagang itu mengangguk puas, tetapi kemudian dia dengan cepat mengerutkan kening.

“Tapi luka macam apa itu? Melihat luka itu, sepertinya berasal dari kadal besar, tetapi adakah yang seperti itu di Paphield bagian utara?”

“Aku tidak tahu, Tuan, tapi pastinya itu binatang buas yang sangat ganas. Kuharap kita tidak bertemu mereka.”

Selagi berbicara, mata pria itu tanpa sadar menyapu pintu masuk kabin, lalu dia menoleh lagi, melihat ke depan.

Rhode membuka matanya.

A-apa yang terjadi?

Dia menatap langit-langit; Kepalanya masih berputar-putar. Dia ingat bahwa dia telah memimpin timnya untuk melawan bos paling kuat di Dragon Soul Continent, Void Dragon, dan telah berhasil mendapatkan first-kill. Dia yakin bahwa dia telah mendapatkan pencapaian di system UI, tapi kemudian, serangan terakhir dari Void Dragon juga mengambil nyawanya.

Menurut rencananya, Rhode seharusnya respawn dan kemudian dia akan logout. Tetapi pada saat dia dibunuh oleh Void Dragon, seluruh penglihatannya langsung menjadi gelap, seolah-olah dia dipaksa untuk keluar dari game. Kemudian dia kehilangan kesadarannya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah aku menemukan bug di dalam game?

Rhode hampir tidak bisa menoleh, tapi dia masih bisa melihat sekilas langit biru dan awan putih di luar.

Dimana dia? Tempat apa ini Apa yang terjadi? Apakah dia bermimpi? Atau apakah dia masih di dalam game? Setidaknya Rhode yakin bahwa tempat ini bukan apartemen sewaan kecilnya. Keraguan segera membanjiri pikirannya.

Kemudian, Rhode mengerutkan kening dan mencoba bangkit.

“Ugh!”

Tiba-tiba, dia merasakan sakit yang amat sangat dari dadanya. Dia menggigit bibirnya dan berhenti bergerak. Dia menemukan bahwa bahu dan dada kirinya telah sepenuhnya dibungkus oleh perban. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi, kalau dilihat dari noda darah yang meresap dari perbannya, sepertinya lukanya cukup parah.

Ini jelas bukan permainan.

Rhode bisa yakin akan hal itu. Dia tahu bahwa meskipun teknologi saat ini cukup maju, dan sebagai game VR pertama di dunia, Dragon Soul Continent Online juga telah menggunakan banyak teknologi tinggi, tetapi menurut peraturan, tidak mungkin bagi pemain untuk mengalami rasa sakit. Alasannya agar orang bisa membedakan antara kenyataan dan game. Dan juga, demi para pemain, mereka harus mengurangi ambang rasa sakit.

Jika pemain terluka, alih-alih merasakan sakit, game akan mengurangi kecepatan pemain dan menggunakan warna merah untuk menghalangi garis pandang mereka. Itu dilakukan sebagai peringatan dan memberikan pemain tanda, daripada memberikan rasa sakit yang sebenarnya. Ketika teknologi virtual simulation pertama kali muncul di dunia, itu telah menyebabkan banyak kontroversi. Operator Perusahaan Dragon Soul Continent tentu juga menyadarinya itu.

Rhode menunduk dan memandangi tangan kanannya. Bentuknya tidak seperti karakternya dari game; tubuhnya tidak begitu berotot, juga tidak perkasa. Sebaliknya, lengan di depannya kecil dan kurus. Karena dia hampir tidak pernah terkena sinar matahari, kulitnya sedikit pucat. Ini pasti tubuhnya sendiri; dia yakin akan hal itu.

Namun, bagaimana dia bisa terluka? Apakah tempat ini rumah sakit? Rhode mengamati sekelilingnya; seluruh ruangan tampak seperti kabin — tidak ada lampu, tidak ada telepon, tidak ada bel panggilan. Hanya meja kayu, dua kursi, dan kabinet yang digantung di dinding adalah satu-satunya benda di ruangan itu. Dia tidak tahu mengapa, tetapi dia merasa seperti pernah melihat ini di suatu tempat.

Seorang gadis pirang yang mengenakan jubah putih memasuki ruangan. Dia menatap Rhode yang setengah duduk dengan terkejut, matanya terbuka lebar.

“Kau sudah bangun? Itu bagus !!”

Gadis itu tidak berbicara dalam bahasa Indonesia atau pun Inggris, tetapi sepertinya dia bisa bisa memahaminya dengan jelas. Rhode tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Ini adalah bahasa Nimus, salah satu bahasa resmi di Dragon Soul Continent!

Namun, gadis itu tidak peduli dengan ekspresi Rhode. Dia dengan segera mendekat ke sampingnya, dan dengan hati-hati memeriksa bahu dan dada kirinya.

“Lukamu benar-benar serius. Terus terang, aku khawatir apa kau bisa selamat atau tidak …”

“Ini…”

Dia mengerutkan kening tetapi tidak tahu harus berkata apa. Dia menoleh, menatap cermin di sebelah dinding di mana pantulan wajahnya jelas bisa terlihat. Itu memang wajahnya, tidak diragukan lagi, tapi itu tidak seharusnya muncul di sini.

“Apa mungkin kau lupa?”

Gadis pirang itu dengan aneh mengedipkan matanya, rambut twin-tailnya mengikuti gerakannya. Mata birunya jernih dan transparan, memancarkan watak periang.

“Dua hari yang lalu, kau jatuh di tengah-tengah Paphield Plains dan mengalami cedera yang sangat serius. Jika bukan karena kapal pedagang apung milik Silver Libra Merchant Guild yang lewat, aku takut kondisimu akan jauh lebih buruk dari ini. Aku tidak tahu monster macam apa yang kau lawan, tetapi sisi kiri tubuhmu menerima luka yang sangat serius. Ini bisa sangat berbahaya. ”

Tunggu, bahu kiri …

Rhode membeku karena terkejut sesaat. Dia segera memikirkan pertempuran terakhir dengan Void Dragon sebelumnya, bukankah bahu kirinya yang diserang? Tapi avatar game-nya yang terluka, dan seharusnya tidak ada kontak ke sang player sendiri, kan? Tapi sekarang, yang terluka adalah dia?

Meskipun situasi di depannya kacau, Rhode dengan cepat mampu mengembalikan ketenangannya. Sebagai top player dan pemimpin guild terkuat di dunia, dia memiliki mental yang kuat, dan di tengah percakapan dengan gadis pirang di depannya, dia juga belajar tentang situasinya saat ini. Dia terluka serius di Paphield Plains, dan kapal apung milik Silver Libra Merchant Guild kebetulan lewat, jadi mereka menyelamatkannya. Menurut apa yang dikatakan gadis pirang itu, kondisinya sangat buruk, tetapi kemampuannya untuk pulih cukup baik.

“Namaku Lize Noir, aku adalah anggota kelompok tentara bayaran Crescent Star. Aku seorang Cleric. Kau bisa memanggilku Lize.”

Gadis itu langsung memperkenalkan dirinya kepada Rhode.

“Aku Rhode Alander.”

Meskipun dia masih belum bisa memahami situasi sepenuhnya, dia ragu-ragu sejenak, tapi dia masih memberi tahu identitas-nya dari game.

“Aku seorang petualang dari Eastern Plains.”

“Jadi kau seorang petualang, itu sebabnya kau sendirian di pegunungan yang luas ini.”

Setelah mendengar jawaban Rhode, Lize tidak merasa terkejut karena di benua ini, ada banyak petualang yang suka menjelajah sendirian, jadi identitas Rhode tidaklah aneh.

“Tapi sebenarnya mahluk macam apa yang kau lawan? Bagaimana bisa kau mendapatkan luka serius seperti itu? Aku ingat bahwa seharusnya tidak ada monster level tinggi khususnya di daratan.”

Mendengar pertanyaannya, Rhode menunjukkan senyum pahit. Apa yang harus dia katakan? Haruskah dia mengatakan bahwa dia terluka karena dia bertarung dengan salah satu dari lima naga pencipta, Void Dragon?

“Aku tidak bisa jelas melihatnya karena aku diserang pada malam hari. Jumlah mereka banyak dan sangat cepat. Aku pikir mereka adalah makhluk-mahluk dari ‘sisi lain’.”

“Aku mengerti.”

Meskipun Rhode tidak merinci penjelasannya, Lize sepertinya tahu mahluk apa itu dan mengangguk. Pada saat itu, dia juga sudah selesai memeriksa luka Rhode, jadi dia berdiri.

“Kau belum makan selama dua hari, jadi kau pasti lapar. Tolong tunggu sebentar. Aku akan membawakan makanan untukmu. Ah, ya, aku akan melaporkan masalah ini kepada pemimpinku, jadi kupikir dia akan datang untuk melihatmu segera. ”

Setelah mengatakan itu, dia mengangguk ke arahnya dengan sopan dan kemudian meninggalkan ruangan.


Leave a Reply

Your email address will not be published.