Maou Ni Natta Node ~ Chapter 2

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Maou Ni Natta Node ~ Chapter 2

Maou Ni Natta Node ~ Chapter 2

Memahami Status Quo

 

Jadi apakah yang terjadi?

Jawaban pertanyaan itu mudah saja: Aku tereinkarnasi.

 

Kematianku itu membosankan. Itu juga bukan kematian yang ringan. Aku tidak terlibat dalam kecelakaan besar, dan juga Aku tidak dibunuh. Aku hanya mati dalam kecelakaan sehari-hari. Dan Aku terlahir kembali.

Aku tidak pernah bertemu Tuhan. Tidak ada yang memberitahuku bahwa Aku meninggal. Tapi aku yakin bahwa aku sudah meninggal. Rasanya masih sangat melekat di pikiranku. Masih dapat terasa saat truk itu meremukkan tulangku dan mencincang tubuhku. Masih dapat terasa saat darah dan tenagaku mengalir keluar dari tubuhku seraya kesadaranku perlahan pudar.

Aku merinding ketika mengingatnya. Itu terlalu jelas untuk ingatan palsu. Aku yakin telah mati. Kuambil nafas dalam, kutenangkan tubuhku dan menghentikannya merinding. Aku membuang ingatan buruk jauh dari pikiranku dan mengacuhkannya dulu.

 

Setelah Aku sadar, Aku telah berada dalam apa yang dapat digambarkan seperti ruang tahta, yang dipenuhi dengan kandil mahal, tembok. Dan pilar. Tak ada jendela, dan jujur saja ini ruangan yang kecil. Di belakangku berdiri sebuah tahta kecil yang tidak terlalu meriah atau mencolok. Sebaliknya, ada rasa keagungan darinya. Karpet biru besar terbaring dari ujung ruangan ke ujung lainnya. Kulihat ruangan ini seutuhnya. Hanya sedikit ornamen yang ada. Barang yang terlihat mahal hanya pintu di ujung lorong.

 

Setelah ku pertimbangkan, ruangan ini memiliki semacam hawa jahat. Ini semacam daerah yang biasanya diisi oleh raja iblis atau semacam final boss, bedanya hanyalah ruangan ini sedikit kecil

Pikiranku masih kacau. Aku tak dapat melakukan apapun selain menatap hampa seraya melihat kesekitarku. Butuh beberapa waktu dan akhirnya aku sadar bahwa aku harus dapat memahami situasi ku sekarang.

Aku berdiri. Lalu sudut pandangku berbelok.

“Apa-apaan itu?”

Aku langsung melihat permata pelangi saat berdiri. Itu terletak dibelakang tahta, dan nampaknya mengeluarkan cahaya warna-warni. Permata bundar itu berukuran sedikit lebih kecil dari bola basket

Karena alasan yang aneh, Aku memutuskan untuk menyentuhnya. Ku tak tau mengapa aku berpikir untuk menyentuhnya, namun kulakukan

“Apa yaaarrrghhh!?”

 

Saat kupegang permata itu kepalaku pusing seperti akan terbelah dengan keras. Rasanya seperti otakku diotak-atik melawan kehendakku. Rasa aneh tak menyenangkan ini terjadi di seluruh tubuhku sembari aku jatuh tetapi masih ditopang kaki dan tanganku. Air mata mengucur dari mataku.

Yang ku rasakan hanyalah rasa sakit. Sangat sakit sampai tak dapat melihat apapun; pandanganku seperti naik turun kekanan kekiri. Kepalaku sangat pusing sampai-sampai rasanya Aku hampir muntah,

Sakit parah di kepalaku ini seperti tak akan hilang sampai akhirnya mulai mereda. Sesuatu masuk bak gelombang, bergelojak intensitasnya setiap saat.

 

“Begitu…ya…”

Akhirnya kudapat mengeluarkan sepatah kata diantara nafas pendek nan cepat. Rasanya seperti pengetahuan disuntikkan ke dalam otakku, seperti sebuah ensiklopedia telah menanamkan dirinya ke dalam otakku

Dan itulah yang tepatnya terjadi

 

Menu.”

Kukatakan sebuah kata yang telah diajarkan langsung oleh dungeon ini. Sebuah panel tembus pandang mirip kaca muncul di udara, tercipta di depan mataku. Pengetahuan yang tiba-tiba kudapatkan memberitahuku bahwa menu yang kupanggil adaptif. Penampilannya selalu berubah tergantung dari pemanggilnya; itu akan berubah sehingga selalu tampak seintuitif mungkin. Dulunya aku sangat menyukai video game, dan karena itulah, dungeon ini memutuskan bahwa menu ini muncul seperti pada video game.

 Jika aku seekor goblin, itu mungkin akan tercipta seperti batu tulis, mengingat betapa primitifnya mereka.

Kepalaku masih sedikit pusing, jadi aku sandarkan kepala pada tanganku untuk mencegah pengelihatanku goyah sembari aku melihat opsi pada menu ini. Nampaknya ini memiliki empat tombol: Status, DP, Katalog, Dungeon dan Gacha (TL note: lah itu lima. wtf?)

Tombol yang terakhir langsung menarik perhatianku. Tetapi, Aku paham itu bukanlah ide yang bagus untuk mencobanya tanpa mendapatkan pemahaman lebih lanjut terhadap keadaanku sekarang.

 

Sekarang, kuputuskan untuk mengecek stat ku terlebih dahulu. Ku operasikan menu ini dengan menyentuhnya, seperti pada smartphone atau elektronik sentuh lainnya.

“Tunggu… aku seorang archdemon*?” (iblis tingkat tinggi)

 

Yah, begitulah…

 

<———- Chapter Sebelumnya | Daftar Isi | Chapter Selanjutnya ———->

Leave a Reply

Your email address will not be published.