Light Beyond – Chapter 2 Part 2

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Light Beyond – Chapter 2 Part 2

A man with black hair in a knight armor is holding the gloved hand of a woman with blonde hair in a white dress. They are both standing, basking underneath the light of dawn.

Light Beyond – Chapter 2 Part 2


Terdapat banyak orang ketika mereka sampai gerbang istana kerajaan.

Wajah mereka terlihat lelah. Ada yang menunjukan iritasi, ada mata-mata yang bergoyang dengan gelisah, dan juga orang yang sedang berjalan kesana-kemari. Orang-orang yang berkelas, orang-orang yang tanpa status, semuanya jelas terlihat sangat lelah.

Di tengah keramaian ini, dua orang anak muda kembali sambil menunggangi kuda. Kerumunan di depan gerbang menunjukan reaksi yang sangat hebat: desah yang lega bercampur dengan seruan yang gembira, ada juga yang menangis terharu. Yuna tertegun dengan sambutan tersebut; dia tidak menduga bahwa kehilangan sang santa akan mengakibatkan kekacauan sebesar ini. Dengan ini, dia menyadari betapa pentingnya keberadaan sang santa. Keadaan negara ini akan sangat genting jika sang santa menghilang. Ditambah lagi, jika dia sungguh telah meninggal… Cukup seram untuk membayangkan kekacauan yang akan terjadi.

Sesosok bayangan berjalan dengan tenang menuju Yuna yang sedang meminjam tangan laki-laki itu untuk menuruni kuda. Yuna, yang sedang mengkhawatirkan gaunnya yang berat dan penuh lumpur, tiba-tiba menyadari bayangan itu dan mengangkat kepalanya.

Bayangan tersebut ternyata merupakan seorang wanita muda. Tubuhnya dibalut jubah berwarna gelap. Yuna tidak dapat melihatnya dengan jelas karena kegelapan malam, tetapi sepertinya warna ungu? Sama seperti lelaki rambut hitam yang berdiri di sampingnya, wanita ini memiliki kehadiran yang bermartabat tinggi, kehadiran yang tidak mungkin dimiliki seorang pelayan. Terlebih lagi, dia memiliki wajah yang anggun dengan fitur yang sangat menawan. Namun, dia juga memiliki aura yang membuat nya sulit untuk didekati. 

“Kelihatannya kalian berdua tidak terluka.”

Wanita itu katakan dengan suara monoton. Perkataan itu ditujukan kepada laki-laki disamping Yuna, namun pandangan dinginnya terdiam pada Yuna.

“Iya. Terima kasih untuk keprihatianmu, Suster Yodel.”

Akan tetapi wanita itu, yang dipanggil Yodel oleh laki-laki berambut hitam, terlihat sangat tenang sampai-sampai tidak akan ada yang mengira bahwa dia khawatir.

“Nona Celiastina.”

Terpanggil oleh wanita itu, Yodel, Yuna sontak menegakkan punggungnya. Tentu saja dia akan dipanggil dengan nama itu, dan dia pun mengetahuinya, namun tetap saja ada rasa ketidaknyamanan yang mengikuti.

“I-Iya?” 

“Apakah kamu menyadari berapa banyak waktu yang terbuang untuk mencari dirimu? Semua orang menunda pekerjaannya hanya untuk melakukan itu. Dengan alasan apa kamu pergi? Semua orang disini tidak akan dapat kembali dengan tenang jika alasannya tidak penting.” 

“I-Itu, um…”

Yuna kebingungan. Tidak mungkin dia dapat mengatakan yang sejujurnya. Jika dia mengatakan bahwa dia pergi ke hutan untuk membunuh dirinya, maka akan terjadi kekacauan yang hebat. Dan, sebelum itu, dia sendiri ingin bertanya kepada sang santa mengapa dia mengakhiri hidupnya.

Alis Yodel mengerut dan dia menatap Yuna, yang sedang terbata-bata, dengan tajam. Yuna menjadi takut dan dengan tidak sengaja menjatuhkan pandangannya. Tetapi, di saat yang sama, dia dapat merasakan amarah yang menggelegak dalam dirinya. Amarah yang dingin. Menyadari ini, Yuna semakin bingung— perasaan apakah ini.

Ini… bukan perasaanku.

Tentu dia mengenali perasaan marah. Dan tidak aneh untuk merasakan itu kepada Yodel, yang sedang memandangnya dengan antipati, akan tetapi dia tidak dapat menerima perasaan itu sebagai miliknya. Seakan-akan hatinya terbelah. Dan bagian yang asing ini, sedang marah terhadap Yodel.

“Suster Yodel, percakapan ini dapat dilanjutkan esok hari. Mari kita semua beristirahat untuk hari ini.”

Daripada Yuna, yang sudah terdiam, laki-laki itulah yang mengakhiri percakapan mereka. Dan sepertinya Yodel juga tidak akan mendesak isu ini lebih lanjut.

“Semuanya, Nona Celiastina telah kembali dengan selamat. Dia kelelahan tetapi selain itu dia tidak terluka. Kembalilah ke pos kalian masing-masing dan lanjutkan tugasmu. Seseorang akan diutus segera dengan perintah kepada rombongan pencari untuk kembali. Sekian.”

Laki-laki itu mengatakan dengan suara yang tegap dan kekacauan pun mereda dengan cepat. Sepertinya dia adalah seseorang dengan kewenangan yang tinggi karena tidak ada yang menyela dan, seperti perintahnya, orang-orang berpencar dan kembali pada pos nya masing-masing. Walaupun mereka pasti memiliki banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan seperti, ‘kemanakah sang santa pergi dan mengapa penampilannya sangat kumuh’, namun tidak ada seorangpun yang menanyakan hal itu. Sembari mengagumi kejadian tersebut, Yuna dituntun lebih dalam oleh laki-laki itu, melewati sebaris obor-obor yang membakar dengan terang, dan diserahkan kepada pelayan-pelayan yang sedang menunggu di pintu masuk istana. Laki-laki tersebut, yang belum memberitahu namanya — dan dapat dimengerti karena pastinya ini bukan pertama kalinya mereka bertemu — memandang Yuna dengan ketus dan meninggalkannya dengan sebuah, ‘Permisi’.

Apa… itu?

Yuna menghela napasnya, tiba-tiba menyadari betapa lelahnya dia.

Mungkin saja dia lelah karena dirinya diterjunkan ke dalam sebuah dunia yang tidak dimengertinya, tetapi mungkin saja karena sikap yang dingin dari laki-laki itu dan Yodel. Mereka tidak terlihat marah hanya karena Celiastina yang menghilang dengan sendirinya. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari itu, sesuatu seperti kebencian. Hanya sejenak, di anak sungai itu, dimana laki-laki tersebut menatapnya dengan mata yang berbeda, tetapi setelah itu, dia hanya memberi Yuna pandangan yang tercampur dengan dengki.

Jika tidak ada masalah apapun, keduanya tidak akan memiliki sikap seperti itu, bukan? Ada kemungkinan yang besar bahwa ada perselisihan diantara mereka semua, sebuah perselisihan yang tidak meyangkut Yuna. Tetapi tidak ada cara baginya untuk mencari tahu tentang itu sekarang. Membenamkan rasa ingin tahunya, Yuna membiarkan dirinya dibawa para pelayan ke dalam ruangan yang tidak jauh.

Dalam waktu yang singkat, seorang bapak yang berumur memasuki ruangan itu. Bapak tersebut, yang merupakan seorang dokter, dengan efisien memeriksa keadaan Yuna dan memastikan bahwa dia tidak memiliki luka yang berat. Semuanya dilakukan dengan sangat formal dimana sang dokter pun tidak mengatakan apapun seperti, ‘Kamu pasti sudah melewati hal yang sulit’, tetapi mungkin saja tidak mudah untuk berbicara kepada seorang santa. Pada akhirnya, yang ditanyakannya hanyalah ‘Apakah ada yang sakit?’, dimana Yuna membalas dengan dirinya yang tidak apa-apa, sebelum sang dokter meninggalkan ruangan itu dengan cepat.

Kemudian mereka beralih ke ruangan lain. Dituntun oleh para pelayan sekali lagi, Yuna dibawa ke sebuah permandian yang besar. Jika dipikir-pikir, dia basah kuyup dan penuh lumpur, sebuah kondisi yang menyedihkan dan tidak pantas bagi seorang santa. Seharusnya dia membersihkan dirinya dahulu sebelum diperiksa oleh dokter.

Tiba-tiba, para pelayan mengatakan ‘Permisi’ dan mulai menanggalkan baju Yuna. Yuna sangat terkejut. Beberapa saat yang lalu dia merupakan rakyat jelata dan sekarang dia sedang dibantu untuk mandi!? Walaupun dia mengetahui bahwa hal tersebut tidak asing untuk para bangsawan, dia menarik dirinya dari pelayan-pelayan tersebut dan menolaknya dengan segera.

“Nona Celiastina?” 

Para pelayan mengerutkan alis mereka, kebingungan, dengan Yuna yang tiba-tiba menarik dirinya.

 “Ah, tidak, um, a-aku akan baik-baik saja sendirian.” 

Dengan balasan Yuna yang terbata-bata, mata para pelayan melebar dalam keterkejutan.

“Apakah ada masalah?” 

“Tidak, aku hanya ingin mandi sendirian hari ini.”

“Tolong jangan katakan hal seperti itu. Kami tidak dapat membiarkan Nona Celiastina untuk masuk permandian sendirian.”

Apa yang dikatakan mereka benar juga. Dia adalah sang santa yang telah bepergian sendiri, yang tidak masuk akal, dan telah hilang. Dan dia dapat saja bersalah atas keanehan-keanehan lainnya. Sudah wajar bahwa dia memerlukan orang-orang disampingnya dan untuk menjaganya. Meskipun demikian…

“Um, kumohon, biarkan aku mandi sendirian.”

“Tapi—”

“Aku akan baik-baik SAJA!”

Dia tidak sengaja mengatakan ini dengan terdesak dan wajah para pelayannya sontak dipenuhi dengan ketakutan. Lalu, dengan segera, mereka menundukkan kepalanya dengan dalam dan mengatakan ‘Kami sungguh minta maaf’, berulang-ulang kali.

“U-Um…”

“Kami telah menyinggung anda dengan dalam karena kurangnya kebijaksanaan kami. Kami akan memanggil pengganti dengan segera, maka tolong jangan marah.”

Sebenarnya tidak ada apapun yang membuatnya marah. Yunalah yang terkejut dengan ketakutan yang tiba-tiba ditunjukkan para pelayan. Ini bukanlah situasi dimana Yuna dapat berbicara dengan ceroboh kepada para pelayan yang sedang meminta maaf dengan muka yang pucat. Tetapi, di dalam keheranannya, para pelayan pun diganti dan tidak mungkin Yuna dapat mengatakan, ‘Aku ingin mandi sendirian’ lagi. Demikian, pada akhirnya, Yuna serahkan semuanya ke dalam tangan para pelayannya dan menyelesaikan mandinya dengan wajah yang memerah.

~~~~

Sudah tengah malam ketika Yuna dikembalikkan ke kamar tidurnya dan akhirnya sendirian.

Walaupun dia katakan ‘kembali’, ini pertama kalinya bagi Yuna untuk memasuki ruangan ini. Kamarnya sangat besar dan mewah, sebuah kamar yang tidak masuk akal dan dapat memuat rumah Yuna berkali-kali. Terdapat juga banyak barang-barang yang tidak dikenalnya dan terlihat seperti membutuhkan keluarganya bekerja ratusan tahun agar dapat membelinya. Jika dia tidak berada dalam situasinya saat ini, dia pasti sudah berkeliaran dengan girang, tetapi dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk merasa gembira. Yuna menghempaskan dirinya pada ranjang berkanopi yang empuk dan menghela napasnya dengan berat.

Lelah… Aku sangat lelah… 

Hal tersebut tidak dapat dihindari di situasi seperti ini dimana dia bahkan tidak dapat membedakan kanan dari kiri. Memikirkan bagaimana hal ini akan berlanjut hari demi hari membuatnya letih. Dia mulai rindu masa-masa yang dilewatkannya sebagai seorang gadis desa yang tidak memiliki beban.

Ah, tapi aku sudah tidak bisa kembali seperti itu lagi. Karena Yuna telah meninggal. Saat jiwa Celiastina yang asli kembali, aku akan menuju alam baka. Aku akan… hilang dari dunia ini.

Yuna merasa bahwa ini sangat kejam. Andai saja dia sudah benar-benar meninggal pada saat itu. Memikirkan hal ini, dia mulai sedikit benci terhadap cahaya itu. Dia merasa kasihan pada dirinya sendiri dan bagaimana dia harus menjalani hari-hari ini sembari tersiksa oleh ketakutan akan kematian yang pelan-pelan mendekat. Tetapi situasinya sudah seperti ini, dan dia tidak memiliki pilihan lain selain hidup dengan kesadaran akan maut. Hal ini tidak dapat meninggalkan pikirannya. Dia akan meninggal, dia akan meninggal di waktu yang singkat… 

Dia juga merasa sedih karena tidak dapat menemui orang tuanya. Ketika situasinya sudah sedikit tenang, mungkin dia dapat diam-diam mengunjungi mereka. Namun, ketika memikirkan hal ini, dia langsung menggelengkan kepalanya. Yuna yakin bahwa orang tuanya sedang berduka atas kematiannya. Lalu dia akan mengunjungi mereka begitu saja? Dengan wajah apa? Ah, benar, dirinya sudah tidak berbakti karena meninggal sebelum orang tuanya. Dia tidak dapat menemui mereka seperti ini, bukan?

Tidak peduli apa yang dia pikirkan, dia semakin gundah.

Yuna menggerakkan kepalanya dengan lesu dan meninjau kamar besar itu; ada sebuah cermin panjang di satu sudut dan hal itu mengingatkannya bahwa dia belum memeriksa penampilannya. Memikirkan itu, Yuna diam-diam turun dari ranjang dan dengan malu-malu mendekati cermin itu. Dia berdiri di depan cermin, gugup, dan dengan perlahan mengangkat kepalanya.

Yuna terpana.

Apa ini. Apakah ini penampilan seorang manusia?

Di pantulan tersebut berdirilah seorang wanita yang cantiknya tak tergambarkan kata-kata. Kulit yang putih dan mata ungu yang unik. Rambut berwarna pirang muda yang menyentuh pinggangnya dan seakan-akan berkelap-kelip. Bibir yang kecil dan rupawan, yang saat ini sedang terbuka sedikit karena kaget. Bulu matanya yang lentik dan berayun di tiap kedipan. Pastinya akan menangkap perhatian siapapun. Lalu pada lehernya, lambang seorang santa, “Lambang Suci”, terukir dengan jelas.

“W-Wow…”

Tentu dia pernah mendengar rumor tentang kecantikan Santa Celiastina dan bagaimana ia melebihi semua harta dan barang mulia di dunia ini. Tapi dia mengira bahwa hal itu hanyalah kata-kata manis untuk memuji sang santa. Dia salah. Itu bukan hanya sanjungan biasa. Dia tidak pernah melihat kecantikan seperti ini sebelumnya. Yodel, yang baru ditemuinya, juga menawan, namun Celiastina jauh melebihinya. Tidak dapat dikatakan lagi bahwa Celiastina sudah diatur sedemikian rupa dimana Yuna tidak dapat membandingkannya dengan apapun.

“Ini… adalah Celiastina.” 

Yuna mengingat kembali pandangan penuh dengki yang dimiliki laki-laki itu selagi berada di depan wanita yang bagai malaikat ini.

Dengan kecantikan ini saja dapat membuat siapapun bersujud dihadapannya, tetapi laki-laki itu membencinya. Mengapa?

— Argh, aku selalu memikirkan hal itu. Berhenti, berhenti. Bagaimanapun, mari kita tidur untuk hari ini. Esok hari akan sesulit hari ini.

Sembari menggelengkan kepalanya, Yuna memikirkan hal lain. Ya, besok akan sulit juga. Saat ini, Yuna tidak mengenal siapapun dan dia akan berada di situasi dimana semua orang mengenalnya. Lambat laun, orang-orang di sekitarnya akan mulai memandangnya dengan kecurigaan. Tetapi Celiastina pasti akan kembali suatu hari. Yuna harus melakukan yang terbaiknya untuk mengenali tempat ini dengan cepat agar Celiastina, ketika dia kembali, tidak akan menjadi curiga. Itulah misinya. 

Hidupnya yang dulu sudah berakhir sampai di sini. Dan sekarang, kehidupannya yang baru telah mulai. Gadis yang dulunya adalah Yuna menutup matanya dan menerima kenyataan itu dengan tegas.

 


❀T/N❀ 

  • Mimin rencananya pengen gambar scene pas Yuna ngaca… Tpi mager hehe. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.