Light Beyond – Chapter 2 Part 1

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Light Beyond – Chapter 2 Part 1

A man with black hair in a knight armor is holding the gloved hand of a woman with blonde hair in a white dress. They are both standing, basking underneath the light of dawn.

Light Beyond – Chapter 2 Part 1


Ada sesuatu yang menggelitik, tetapi menyamankan.

Sedikit dingin, namun lembut dan membelai Yuna sehingga menenangkan tubuhnya.

“… nngh…”

Dengan perlahan, Yuna membuka kelopak matanya yang berat dan mengangkat kepalanya sedikit.

Penglihatannya buram, namun secara samar-samar, dia dapat melihat… permukaan batu? Dipikir-pikir, dia juga dapat merasakan sesuatu yang kasar mengenai tubuhnya.

Dimanakah dia sekarang? Apa yang sedang dia lakukan?

Sedikit demi sedikit, kesadarannya kembali dan Yuna mengangkat tubuh bagian atasnya dengan perlahan — tubuhnya terasa sangat berat. Meskipun demikian, dia memutarkan tubuhnya dan mengamati sekelilingnya. Sepertinya dia berada di tepian sungai.

Sebagian besar tubuhnya terendam dalam air dan hanya tubuh bagian atasnya yang sedang bersandar pada bebatuan yang tertutupi lumut. Sepertinya dia kehilangan kesadarannya seperti ini, dan karena dia telah berada dalam air cukup lama, tangan dan kakinya terasa dingin.

Tempat tersebut merupakan hutan yang cukup lebat dan melalui celah-celah di antara pepohonan yang tinggi, terbentanglah langit malam yang tak berbulan. Bintang-bintang berkelap-kelip di sana sini, seakan-akan menghindari langit yang terlukis hitam.

Yuna mengumpulkan gaun putih yang dikenakannya, yang berat dengan air, dan merangkak keluar dari sungai.

“Dimanakah… tempat ini.”

Setelah menggumamkan itu, Yuna menjadi gelisah.

‘Sebuah sungai kecil mengalir di tengah sebuah hutan’. Mencapai kesimpulan itu, dia juga menyadari bahwa dia tidak tahu mengapa dia berada disini, dan juga apa yang sedang dilakukannya. Apakah dia tengah berjalan santai disini? Tetapi, dikelilingi lerengan dan bebatuan yang tajam, tempat ini tidak terlihat pantas untuk berjalan santai.

Lalu, mengapa ia—.

Ia— dia… Dia?

Mendadak, Yuna menengok ke atas.

Dia baru saja mengingat sesuatu. Sesuatu yang sangat penting.

“Betul… betul, aku… sudah meninggal!”

Terlebih lagi, dia menjadi pengganti sementaranya seseorang yang asing yang juga telah meninggal. Semua ini karena satu momen singkat… Tidak, hal itu dipaksakan kepadanya. Kejadian-kejadian di dunia putih itu dengan perlahan kembali kepadanya.

“Aku bukan lagi— Yuna.”

Menggumamkan itu, Yuna pun terkejut. Dia memindai kedua tangannya yang kebas karena dingin. Namun pemilik tangan tersebut adalah seorang gadis yang umurnya tidak beda jauh dengan Yuna, sehingga dia tidak dapat melihat perbedaan dari yang dulu dan sekarang, ditambah lagi dirinya sedang berada dalam kegelapan. Pada malam ini, tanpa adanya bulan, dia pun tidak dapat memeriksa wajahnya melalui cerminan air sungai. Dia menurunkan tangannya dengan keputusasaan, tetapi ketika melakukan itu, dia merasa bahwa dia menyentuh sebuah gumpalan kecil. Secara refleks, dia menarik kembali tangannya dan menatap ke bawah. Terdapat sebuah gumpalan hitam kecil yang tertempel pada gaun yang dikenakannya, dia melihat gumpalan itu bergerak dan berjalan diatas kain gaunnya.

“Ahh!”

Yuna menepisnya dengan cepat. Mengamati gumpalan yang jatuh ke tanah, ternyata itu adalah sebuah serangga yang beracun. Ada yang mengatakan bahwa jika tergigit, seseorang dapat kehilangan nyawanya. Merasa takut terhadap serangga itu, Yuna memaksakan tubuhnya yang berat untuk berdiri dan menjauhi tepian sungai. Kaki Yuna tersandung bebatuan dan berkali-kali hampir terjatuh. Tetapi, tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya. 

Aku tidak ingin berada disini. Aku ingin cepat-cepat pergi. Bagaimanapun caranya, aku harus mencari seseorang.

Ya, pertama-tama dia harus mencari jalan ke sebuah desa. ‘Apa yang terjadi padanya, mengapa Celiastina memilih tempat ini sebagai momen terakhirnya, apa yang harus dia lakukan setelah itu’— semua tidak dapat dia tanyakan sebelum dia bertemu seseorang.

“Apa yang harus kulakukan? Apakah tempat ini sebuah anak sungai atau semacamnya?”

Kalau begitu, jika dia mendaki lereng hutan ini, mungkin akan ada jalanan dari kayu. Dan kalau ia berjalan melintasi itu, maka seharusnya akan menjadi jalanan beraspal. Pada catatan lain, dia tidak menduga bahwa dia harus bekerja keras seperti ini saat dia kembali ke kehidupan; tapi tidak ada yang dapat diubah kalau dia baru mengeluh tentang itu sekarang. Yuna mencapai dasar lereng dan memeriksa kepadatan tanahnya. Lerengnya cukup mulus dan tanahnya tidak begitu lunak. Sepertinya memungkinkan baginya untuk mendaki lereng tersebut jika dia juga menggenggam batang pohon dan rerumputan saat dia naik.

Baiklah, kita mulai!

Dengan motivasi itu, Yuna menggapai rerumputan terdekat—

Dia mendengar ringkikan kuda di kejauhan. Dan, mengikuti ringkikan itu, suara seorang laki-laki. Awalnya, dia tidak dapat mengerti apa yang sedang dikatakan suara itu. Tetapi, dia tajamkan pendengarannya dan dia dapat mendengar bahwa laki-laki itu sedang memanggil nama sang santa— seseorang sedang mencarinya!

Namun, bunyi langkah kaki kuda dan suara laki-laki itu mendekat dan menjauh berulang kali, dan sepertinya mereka tidak akan mencapainya. Jika begini terus, mereka dapat meninggalkan tempat ini tanpa menyadari keberadaannya. Dengan kesadaran itu, Yuna mengangkat suaranya tanpa ragu; suara terkencang yang pernah ia buat, melebihi teriakan saat dia tertabrak kereta kuda.

“Aku disini—!! Tolong—!!”

… Apakah tidak cukup? Sepertinya tembok tanah di depannya menyerap suaranya, dan membuatnya tidak terdengar dari jauh.

“Tolong, dengar aku—!! SIAPAPUN—!!”

Selagi dia berteriak, tanpa disadarinya, Yuna mulai merasa putus asa hingga, entah bagaimana, orang itu menyadari keberadaanya. Suara kuda mencongklang yang mendekat menjadi semakin jelas di telinganya.

“A-aku disini! Tolong, dengar aku!”

“— Nona Celiastina!?”

Kali ini, Yuna dapat mendengar suaranya dengan jelas. Suara yang rendah itu sedang tegang sekarang, tetapi untuk Yuna, hal itu terasa seperti berkat yang penuh belas kasihan dari Tuhan.

Tiba-tiba, seorang laki-laki yang sedang menunggangi kuda muncul di atas lerengan. Di kegelapan, Yuna hanya dapat melihatnya sebagai sebuah bayangan yang gelap, namun sepertinya laki-laki itu menyadari keberadaannya. 

“Berada di tempat seperti itu… tolong tunggu sejenak!”

Pemilik suara itu mengatakannya dengan tajam. Dengan gesit, dia melompat turun dari kudanya dan menuruni lereng dengan cepat. Dari cara dia membawa dirinya, Yuna dapat melihat bahwa laki-laki itu pernah mendapatkan pelatihan.

Dalam sekejap mata, laki-laki itu sampai di sisi Yuna dan memegang pundaknya dengan erat, menariknya dekat.

“Apakah kamu baik-baik saja?”

“I… iya.” 

Laki-laki itu memandangnya tegas dengan matanya yang sangat serius. Mata yang hitam pekat, tajam dan tidak dapat digoyahkan — sampai-sampai Yuna secara insting merasa takut.

Laki-laki itu mengamati tubuh Yuna dari atas sampai bawah untuk memastikan bahwa dia tidak memiliki luka yang berat. Dia menghela napasnya dengan lega, namun ketika dia menyadari bahwa sekujur tubuh Yuna basah dan berlumpur, alisnya berkerut.

Yuna, menjadi dirinya sendiri, memindai laki-laki tersebut juga. Rambutnya, yang sehitam matanya, pendek dan rapi, hidungnya mancung dan bentuk wajahnya anggun. Dilihat dari sulaman tuniknya yang rapi dan penuh detail, sepertinya laki-laki tersebut bukan merupakan rakyat jelata. Lebih penting lagi, jika dia menemui laki-laki itu di sebuah desa, secara tidak sadar dia pasti akan menghindar dari aura bangsawan yang membalut dirinya. Sepertinya dia merupakan seorang yang berstatus.

“Apakah kamu tidak terluka?”

“I-iya. Aku… tidak apa-apa.”

“Meskipun demikian, mari kita kembali ke istana kerajaan secepat mungkin. Tolong berpegang padaku.”

Sambil mengatakannya, laki-laki itu tiba-tiba menggendong Yuna di lengannya dan menaiki lereng selancar ketika dia turun. Hal tersebut terjadi sangat cepat sehingga Yuna tidak dapat melakukan apapun selain menggenggam laki-laki itu dengan erat dan perasaan putus asa.

Laki-laki itu menempatkan Yuna diatas kuda yang sedang menunggu. Mengikuti itu, dia melompat di belakangnya dan mendesak kuda itu untuk berlari. Melihat rangkaian aksi itu, Yuna menyadari bahwa laki-laki itu sepertinya sedang marah. 

S-Sudah seharusnya begitu. Dia telah mencari santa yang menghilang. Tidak hanya ada cemas, tetapi juga amarah, bukan?

“… Dikatakan bahwa kamu pergi ke hutan sendirian, tanpa pelayan.”

Seperti yang Yuna perkirakan, laki-laki itu bergumam dengan suara memiliki amarah. Suaranya juga ditemani nada yang dingin sehingga Yuna gemetar saking kagetnya.

“Dan juga, bahkan setelah malam datang, kamu tidak kembali. Apakah kamu tahu seberapa banyak orang bercemas?”

Yuna merasa malu saat dia mengatakan itu. Bagi Yuna, ini merupakan kesalahan yang dia tidak ingat pernah berbuat, namun karena sekarang dia adalah Celiastina, maka dia mengundurkan diri dan menerima perkataan itu. 

“Tolong, jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi. Aku sungguh memohon.”

“Maaf,” gumam Yuna dengan suara yang sangat kecil. Tetapi, gumamnya seakan-akan hilang ditelan angin dengan larian sang kuda. Oleh karena itu Yuna harus mengatakan ini kepadanya; dia dengan kikuk membalikkan tubuhnya untuk menatap laki-laki di belakangnya yang sedang memegang kendali sang kuda. 

“… Um, terima kasih sudah datang sejauh ini untuk mencariku. Aku sungguh berterima kasih.”

Mata laki-laki itu melebar, seakan-akan terkejut, sebelum dengan seketika mukanya berubah, dan senyuman penuh sarkasme terpapar di atasnya.

“— Pretensi macam apa itu. Apakah ini sebuah jenis penyiksaan yang baru?”

Kali ini, Yuna lah yang tertegun dan tidak dapat melakukan apapun selain menerima pandangan laki-laki yang tertuju padanya.

 


❀T/N❀ 

  • Bahasa si laki-laki emang sengaja mimin buat super formal ampe aneh HAHAHA (ada alasannya kok hehe :))

Leave a Reply

Your email address will not be published.