Light Beyond – Chapter 1

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Light Beyond – Chapter 1

A man with black hair in a knight armor is holding the gloved hand of a woman with blonde hair in a white dress. They are both standing, basking underneath the light of dawn.

Light Beyond – Chapter 1


Kehidupan sederhana Yuna direbut dalam sekejap.

Pada hari itu, Yuna sedang berjalan di jalan utama yang teraspal, sama seperti yang dilakukannya beberapa hari yang lalu. Ia sedang menuju pasar herba sembari menatap kedai-kedai yang menghiasi pinggir jalan dengan kasih. Penjaga-penjaga kedai yang mengenal Yuna menyapanya dengan hangat ketika ia melewati kedai mereka, dan kemudian dibalasnya dengan sebuah lambaian tangan. Dia berjalan dan tengah berbelok di sudut jalan…

… Ketika suatu hal terjadi padanya.

Jika dipikir kembali, detail-detail kejadian itu mengemuka di benaknya dengan ngeri; teriakan tajam seorang gadis, napas basah dan ringkikan sebuah kuda yang terlambat menyadari keberadaannya, serta kereta kuda besar yang memenuhi seluruh pandangannya. 

Dan hal terakhir yang dilihatnya adalah mata kusir yang melebar…

Aku tertabrak dan terbunuh oleh sebuah kereta kuda.

Secara samar-samar, Yuna mencapai kesimpulan itu.

Dan saat ini, dia sedang berdiri sendiri di tengah dunia putih yang tidak dikenalnya. Dia telah melamun untuk waktu yang lama dan tidak dapat memproses hal yang telah terjadi.  

Perlahan-lahan, ingatan Yuna menampakkan dirinya dari benak pikirannya yang kosong dan putih, serupa dengan sekelilingnya, untuk membangun sebuah realita. Dan realita yang dibangunnya adalah ‘maut’, sebuah kesimpulan yang kejam. 

Kehidupan yang kujalani pendek juga, pikir Yuna. Dia hanya hidup sampai umur delapan belas. Masih banyak hal yang belum dia lakukan — dan kelihatannya jumlah hal yang telah dia lakukan lebih sedikit dari yang belum dilakukannya. Bukannya dia memiliki tujuan untuk melaksanakan suatu hal yang hebat, tetapi dia merasa bahwa masih banyak hal yang ingin dilakukannya.

Apakah karena itu aku berada di tempat aneh ini. Aku memiliki penyesalan yang tidak tululs dan perasaan yang belum beres… mungkin karena itu juga aku belum bisa berlanjut ke alam baka.

Yuna memutarkan tubuhnya dan memantau sekelilingnya sekali lagi.

— Dan dunia tersebut masih kosong, sama seperti sebelumnya. Putih dan tak bernoda, tanpa arah dan dimensi. Yuna hanya seorang diri di tengah dunia yang serba putih.

Ahh… Apa yang harus kulakukan?

Dia bahkan tidak tahu harus memfokuskan pandangannya kemana. Sejauh ini, dia hanya menatap ke depan dengan kosong, walaupun hal tersebut tidak membantu situasinya saat ini sama sekali.

Apa yang sedang terjadi? Apakah ini alam baka? Yang mereka sebut Surga? Tetapi ini sangat berbeda dengan apa yang diajarkan kepadaku… Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sendirian. Aku berada di tempat yang tidak kukenal karena aku meninggal. Sebenarnya, apakah ada alasan tertentu yang mewajibkan aku untuk meninggal? Walaupun hidupku sangat sederhana… Mengapa? Di kehidupanku yang singkat itu, apakah mungkin aku telah mengumpulkan karma yang cukup banyak sehingga mengakibatkan kematianku? Ya Tuhan— 

Yuna pun semakin resah. Dengan tangan kanannya yang bergetar, dia menutup mulutnya dan memandang sekelilingnya dengan gelisah.

Seseorang, siapapun!

Lalu, akhirnya, seakan-akan ada yang mendengar permintaannya, matanya menangkap sebuah bayangan gelap di kejauhan.

Bayangan gelap yang terlihat seperti sosok seorang manusia.

Apakah orang itu sudah berada di sana selama ini? … Tidak, dia seharusnya baru muncul. Tidak mungkin seseorang dapat melewatkan sosok gelap seperti itu di tengah dunia yang putih cemerlang ini.

Bagaimanapun, ada manusia lain, Yuna tidak sendirian. Bisa saja orang itu sedang kebingungan, sama seperti Yuna. Terpikir hal itu, dia merasa lega. Yuna mulai melangkah dan kakinya menginjak ketiadaan yang putih itu.

“Permisi!”

Yuna terengah-engah sambil berlari menuju orang itu; semakin dia mendekat, sosok itu semakin jelas. Sosok tersebut adalah seorang wanita yang sedang memandang ke bawah. Gaun yang longgar mengampai pada rangka tubuhnya yang ramping dan rambutnya tergerai menutupi ekspresi wajahnya. Lengannya yang putih memberi kesan bahwa dia masih muda.

“Um… H-halo.”

Yuna memanggil wanita itu, dan berhenti beberapa langkah darinya. Dia tidak yakin bagaimana harus memulai percakapannya. Di situasi seperti ini, sebuah “Halo” pun terasa aneh.

“Maaf. Aku menemukan diriku disini saat aku sadar diri. Bagaimana denganmu?”

Sosok itu tidak menunjukkan reaksi apapun. Yuna sedikit kecewa dengan itu, tetapi dia tidak menyerah.

“Um. Aku sungguh minta maaf karena berbicara kepadamu secara tiba-tiba—” 

“— mu.”

“Hah?”

Mulut wanita itu terbuka, namun suara yang keluar tipis dan serak serta sulit untuk didengar. Yuna melangkah mendekat dan mendekatkan telinganya.

“Aku membencimu.”

Yuna terkejut; ia tidak mengerti perkataan wanita itu. Namun beberapa saat berlalu dan ketika Yuna mulai mengerti apa yang baru dikatakan kepadanya, sebuah cahaya yang menyilaukan mendadak muncul dan membalut wanita itu. Cahaya tersebut kemudian hancur membentuk butiran-butiran cahaya, dan wanita tersebut lenyap.

Yuna seakan-akan menjadi batu; dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Matanya melebar dalam keterkejutan dan butiran-butiran cahaya tersebut menari-nari di udara lalu hilang dari pandangan.

Tetapi tidak sampai disana saja.

Cahaya yang baru saja menghilang datang kembali dan mengambang dengan tenang diatas kepala Yuna.

Butiran cahaya itu remang-remang dan ada beberapa jumlahnya. Mereka tidak terang, dan sekarang pun sepertinya mereka akan lenyap begitu saja.

“A-Apa? Apa ini?” 

Tanpa dia sadari, Yuna melangkah menjauh, walaupun tidak ada tempat baginya untuk melarikan diri atau bersembunyi di dunia kosong ini.

Yuna. Jiwa dari seorang gadis malang yang tertabrak kereta kuda.

Tiba-tiba, sebuah suara bergema di tempat tersebut.

Suaranya mistis dan tidak dapat ditentukan jenis kelaminnya. Yuna menahan napasnya.

Kami lah yang membawa jiwamu yang berkeliaran ke tempat ini.

“S-Siapa kalian? Dimana kalian?” 

Kami adalah makhluk yang tidak lagi memiliki nama, dan kami berada di sampingmu.

“Apa maksud dari itu? Aku tidak mengerti apapun!”

Tenang. Tolong tenangkan dirimu dan dengarkan kami karena sudah tidak banyak waktu lagi.

Yuna, yang matanya sudah berkaca-kaca, entah bagaimana dapat tetap diam dan menatap bola cahaya yang mengambang di udara. Sepertinya itulah satu-satunya hal yang dapat dilakukannya saat ini.

Tempat ini bukanlah surga maupun neraka, namun merupakan tempat ketiadaan. Kami membawamu kesini untuk memintamu meminjamkan kekuatanmu kepada kami.

Meminjamkan… kekuatannya? Dia, seorang yang telah meninggal? Yuna mengerutkan keningnya dengan ragu.

Yuna, apakah kamu tahu tentang Santa Celiastina?

“Santa… Celiastina?”

Ya. Diagungkan di duniamu karena dikirim oleh Dewa Vida untuk menjadi suaranya. Anak-anak perempuan dengan lambangNya di leher mereka telah dipuja dari generasi ke generasi.

Yuna mengangguk di tengah kebingungannya. Tidak ada seorang pun yang tidak mengenali nama itu.

“Tentu saya tahu. Santa pada saat ini adalah Nona Celiastina. Tidak peduli desa apapun yang berada di luar kota, hal itu merupakan pengetahuan umum yang diketahui semua orang.”

Oleh dari itu, kamu tentu mengetahui tugas-tugas dari para santa tersebut. Dari generasi ke generasi, sudah menjadi adat bagi para santa untuk menikahi Ksatria Suci Pertama, yang telah ditentukan oleh negara, dan keduanya akan melayani negara sepanjang hidup mereka.

Yuna mengangguk kembali. Hal ini pun merupakan pengetahuan umum di seluruh negara. Yang tidak dimengerti nya adalah bagaimana ini memiliki kaitan dengan dirinya sekarang.

Santa Celiastina yang kamu kenal itu—」

Yuna merasa bahwa suara mereka menjadi sedikit sedih.

Mencoba untuk menenggelamkan dirinya.

“— APA?” 

Saking terkejutnya, Yuna kehilangan suaranya. Sang santa, seorang makhluk yang lebih dekat ke Tuhan daripada siapapun, membunuh dirinya sendiri! Kejadian tersebut sangat mengagetkan. Dia tidak pernah mendengar jika ada kejadian serupa di masa lalu.

“L-lalu?”

Sayangnya, tidak ada yang mengetahui perbuatan ini. Dan saat ini, cahaya kehidupannya hampir lenyap.

“T-tidak mungkin!”

Kami tidak dapat membiarkan hal ini begitu saja. Karena seorang santa telah mengakhiri kehidupannya sendiri, sepertinya tidak akan ada penerus yang akan menggantikannya. Jika hal itu terjadi, maka berbagai malapetaka akan menimpa dunia. Kami tidak dapat mengesampingkan kehidupannya seperti ini.

Dalam kata lain, kematian Celiastina merupakan hal yang buruk. Namun, bagi seorang santa untuk membunuh dirinya merupakan perbuatan yang belum pernah terjadi.

Oleh karena itu, kami menggunakan kekuatan kami dan melindungi kehidupan Celiastina dari kematian. Namun, tidak mudah bagi kami untuk memanipulasi kehidupan dan kematian manusia. Menempatkan kembali jiwa ke dalam tubuh dimana ia terpisah dari, adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Membangkitkan Celiastina akan memakan waktu yang cukup lama. Dan tubuhnya, yang sudah menjadi cangkang kosong, akan membusuk sebelum ia terbangun. Demikianlah, Yuna, kami membutuhkan kekuatanmu.

“Uh, a-aku?”

Mendadak dipanggil, Yuna memandang mereka dengan stagnan. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana dirinya dapat terlibat dalam topik tersebut.

Yuna. Selama jiwa Celiastina sedang tertidur, kami ingin memintamu untuk memasuki tubuhnya dan hidup sebagai pengganti sementara.

……

………

“A… APAAA!?”

Kami tidak dapat membiarkan tubuh yang tanpa jiwa itu begitu saja. Tetapi, kami juga tidak dapat mengembalikan jiwanya sekarang. Seperti yang kami katakan sebelumnya, dia membutuhkan waktu.

Yuna mengerti alasannya. Dia memiliki keraguan, namun ia mengesampingkan perasaan itu dan berlagak seperti dia sudah paham. Tetapi tetap saja, mengapa harus dia yang menanggung kewajiban penting seperti itu? Satu poin itu saja yang tidak dapat ia mengerti.

Sejujurnya, kami dapat menyebut ini sebagai sebuah keajaiban.

Keajaiban?

Di saat Celiastina membunuh dirinya dan saat kamu tertabrak kereta kuda merupakan titik yang sempurna dimana sebuah gangguan dapat terjadi. Hal itu memungkinkan kami untuk menghubungkan jiwamu dengan tubuh Celiastina. Walaupun, kekuatan kami hanya dapat menahan jiwamu di tubuhnya selama satu tahun.

“T-tunggu sebentar! Ini tidak mungkin! Kalian memintaku untuk menjadi sang santa?”

Ya, benar. Sebagai Santa Celiastina; tolonglah tidur, bangun, makan, tertawa, marah, berduka dan bersuka.

“Tapi aku hanyalah rakyat jelata! Aku tidak pantas menjadi utusan Tuhan!”

Utusan Tuhan hanyalah sebuah gambaran yang diciptakan oleh manusia. Pada dasarnya, seorang santa hanyalah manusia lemah yang hampir tidak memiliki kekuatan apapun. Seharusnya tidak ada perbedaan antara mereka dan manusia lain.

“B-bukan itu masalahnya! Bagi kami rakyat jelata, sang santa adalah seseorang yang berada di atas awan-awan dan seseorang yang tidak dapat kami jangkau seumur hidup kami. Tidak mungkin bagi orang seperti aku….”

Yuna, tolonglah. Kami memohon. Tidak ada siapapun selain kamu yang dapat melakukan ini. Tolong jangan meninggalkan Celiastina.

“I-itu…”

Perkataan tersebut sungguh tidak adil. Namun, dengan samar-samar, dia mulai mengerti bahwa dia tidak berada dalam posisi dimana ia dapat menolak. Dari awal, dia adalah seseorang yang sudah meninggal. Tidak peduli dunia apa yang menunggunya setelah kematiannya, dia tidak dapat mengeluh. Sepertinya tidak ada yang dapat dilakukannya selain menyerah dan menerimanya. Kalau begitu…

Kamu akan menjalaninya, benar?

“…”

Itu bukan sebuah pertanyaan.

Kami tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan. Paling lama adalah satu tahun. Sampai saat itu, kami memercayakan ini kepadamu.

‘Serahkan padaku’, adalah sesuatu yang tidak dapat Yuna katakan. Dia masih mencoba untuk menenangkan dirinya. Namun, kenyataan dimana dia tidak dapat menolak memberatkan hati Yuna.

Ah, waktu kami sudah habis. Yuna, tolong jangan lupa: kami akan selalu menjagamu.

“Tunggu. Mengapa kalian semua sangat prihatin dengan Celiastina… Siapakah kalian? Apakah kalian… Tuhan?”

Bola cahaya yang mengambang itu berkedap-kedip seperti akan lenyap saat itu juga.

Bukan, kami bukan Tuhan. Kami adalah—

Sebelum dapat mendengar balasannya, tubuh Yuna tiba-tiba dibalut dengan cahaya yang sangat terang. Saking terangnya, ia tidak dapat melihat apapun dan kesadarannya pun mulai lesap dari dunia putih itu.

Tunggu, tunggu.

Suaranya tidak mencapai siapapun— tiba-tiba, dunia Yuna menjadi hitam.

 


❀T/N❀ 

  • Mimin bakal gonta ganti kata ‘Tuhan’ sama ‘Dewa’ karena kadang lebih cocok ‘Tuhan’ kadang lebih cocok ‘Dewa’, hehe :3

Leave a Reply

Your email address will not be published.