Cut n Paste : Chapter 56

Situs Novel Terjemahan Bahasa Indonesia

Cut n Paste : Chapter 56

Chapter 56 – Keluarga Bahagia


Di pagi hari saat aku terbangun, Alto-onii-san yang tadinya tertidur di lantai sudah menghilang.

(TL Note : kalo misal kalian ga tau onii-san itu apa.. artinya kakak cowo.)

「……Kemana dia pergi?」(Myne)

Karena sisi bagian dalam futon yang ia gunakan masih hangat, sepertinya ia baru saja keluar dari kamar

(Tl Note : futon itu kantung tidur sekaligus Kasur mini)

Omong-omong, ketika aku mendengar bahwa ia akan ikut menginap di kamarku, aku berkata pada Alto-onii-san, “Silahkan pakai ranjang yang biasanya kugunakan.”

「Aku tidak keberatan tidur di lantai. Karena aku datang tiba-tiba, aku tidak akan meminta hal yang terlalu mewah.」(Alto)

Ia menolak dengan berkata tegas seperti itu.

Astaga, aku merasa cemas karena kepribadiannya berbeda dibanding saat kita pertama bertemu.
“Dia kakakku yang biasanya kukagumi, tapi….” Ucap Sylphy yang diikuti dengan kekehan yang terpaksa. Mungkin seperti inilah sifatnya yang sebenarnya, huh.

Tiba-tiba berkunjung dan mengajak bertarung… Aku selalu memikirkan “Apa-apaan?” tapi yah, kalau memang seperti itu, aku bisa apa?

Sembari meregangkan badanku, aku memikirkan hal itu.
Mendengar suara tulang punggungmu yang bergemeretak rasanya nikmat.

「……Yosh, hari ini mari bekerja keras!!」(Myne)

(TL Note : abis ini jangan iri ea)

Sambil berkata begitu, aku melonjak dari ranjang tidur dan berjalan ke sumur untuk membasuh muka.

Udara di pagi hari terasa segar dan membangunkan tubuhku yang setengah sadar sedikit demi sedikit.
Un, meskipun aku selalu merasa seperti ini, bangun pagi lebih awal memang menyegarkan!

Aku menimba sedikit air dan membasuh mukaku.

Kalau dipikir-pikir, air dari sumur selalu digunakan untuk membuat potion. Apakah air yang dihasilkan dari skill【Continuous: Water】 bisa dipakai untuk membuat sesuatu??
Apakah aku harus bereksperimen menggunakannya?

Sambil memikirkan tentang hal itu, aku berjalan menuju dapur. Aisha dan Sylphy sudah menyiapkan sarapan.

「Selamat pagi!」(Myne)

Seperti biasa, aku menyapa mereka dengan ceria.
Sudah menjadi aturan penting dalam keluargaku bahwa aku akan menggantikan ayah dan ibu.

Sapaan ceria adalah kata ajaib yang bisa memenuhi diriku dengan energi untuk menjalani hari.

Kedua tunanganku yang mendengar sapaan “Selamat pagi!” dariku saling pandang dan membalasku dengan nada yang indah.

「Selamat pagi!」(Aisha)
「Pagi!」(Sylphy)

Kita hanya saling sapa… Namun, tawa dapat terdengar di ruangan ini.

「Apakah aku juga harus membantu?」(Myne)

Nggak usah, lebih baik kamu duduk aja dan tunggu sekejap.」(Sylphy)

「Benar. Meskipun ini kali pertama Tuan Putri memasak, ia cukup bersemangat!」(Aisha)

Kali pertamanya memasak… Jika kuingat, ia tidak memiliki skill memasak, bukan?
……Aku sedikit cemas…

Mungkin mereka menyadari firasatku. Sylphy langsung bermuka masam dan Aisha terkekeh-kekeh.

……Apakah mereka berdua akhir-akhir ini cukup dekat?
Selain itu, cara panggil Aisha pada Sylphy juga berubah. Meskipun masih tetap “Tuan putri”, aku punya firasat bahwa rasa segan, jarak, atau sesuatu telah berubah.

Kemarin, mereka mandi bersama. Bahkan, mereka tidur berdua di ruangan Aisha, mereka baik-baik saja, kan?

Un, mengenal satu sama lain adalah hal baik! Lagipula, sebentar lagi kita akan menjadi sebuah keluarga.

「Jangan khawatir, Myne-kun. Nantikan masakan rumahan Tuan Putri! ditambah, masakanku juga.」(Aisha)

Yah, kalau begitu ucapannya, aku tak akan membantu.
Aku akan duduk menurut dan menunggu.

「……Omong-omong, apa kamu tau dimana Alto-onii-san?」(Myne)

「Kalau mencari aniue, ia sedang berlatih. Itu jadwal hariannya.」(Sylphy)

(Tl Note : Aniue = bentuj honorifik kakak laki-laki tersopan)

Jadi benar, memang latihan sebagai kebiasaan merupakan hal penting, bukan?
Apakah tidak apa-apa jika aku ikut berlatih bersamanya? Lagipula, ia juga melatihku kemarin.

「Aah, tidak apa-apa kalau kamu tidak ikutan. Kamu masih capek dan terluka karena kemarin, bukan? aniue berkata bahwa tak apa bila kamu tak ikut latihan setelah bangun tidur.」(Sylphy)

……Mungkin ia menghawatirkanku karena aku terlelap seperti balok kayu?
Kalau memang benar, aku tak keberatan menerima niat baiknya. Un, kalau begitu aku akan duduk disini dengan tenang.

Setelah itu, aku memutuskan untuk duduk di ruang keluarga dan menunggu.

Sesaat kemudian, sebuah aroma sedap datang dari dapur.

Alto-onii-san kembali ke rumah setelah latihan paginya sambal mengelap keringat dengan handuk. Mungkin terpancing karena aroma tadi.

「Selamat pagi! Terima kasih atas kerja kerasmu melatihku kemarin!」 (Myne)

Alto-onii-san menjawabku dengan sedikit malu,「Aah, pagi」.(Alto)
Un, sudah kuduga, sapaan merupakan kata magis.

「Apa kau sudah baik-baik saja? Meskipun hanya latih tanding, kurasa aku berlebihan.
Kupikir tidak ada luka yang tersisa setelah mandi kemarin.
Kalau ada yang kau khawatirkan, bilang saja pada Nona Sacred Bow dan minta padanya untuk menyembuhkanmu.」(Alto)

Aku tanpa sadar terkekeh saat melihat Alto-onii-san menghawatirkan keadaanku dengan begitu lugunya sembari menggaruk pipinya.

Sepertinya Alto-onii-san tertangkap basah oleh Sylphy sebelum berlatih hari ini dan diceramahi oleh Sylphy sebagai lanjutan dari marahnya kemarin.
Aku diberitahu oleh Sylphy bahwa Alto-onii-san adalah seorang siscon, tapi sudah kuduga bahwa Alto-onii-san begitu lemah saat dimarahi oleh adiknya.

Saat kita sedang berbincang-bincang seperti itu, Aisha dan Sylphy membawakan sarapan yang baru saja matang.

「……Aniue, sudahkah minta maaf pada Danna-sama?」(Sylphy)

(TL Note : aniue = kakak laki-laki bentuk tersopan, Danna-sama = suamiku, Cuma aneh nerjemahinnya)

Sambil menata meja, Sylphy menoleh ke arah Alto-onii-san dan menatapnya.

Setelah dipelototi seperti itu, Alto-onii-san menoleh ke arahku dan berkata「Maaf」. (Alto)

Karena aku terlalu tidak keberatan, malahan aku tidak bisa mengerti kenapa bisa jadi begini.
Itulah kenapa aku dengan jujur menjawab 「Tak apa」dan Alto-onii-san terlihat lega sementara aku mengaguminya.

Acara maaf-maafannya? Untuk saat ini, sudah selesai. Setelah itu, kita mulai menyantap sarapan.

「Yang mana buatan Sylphy?」(Alto)

Aniue, bagaimana kalau tahan sedikit. Ini kali pertama aku memasak sendiri, kau tahu. Aku bekerja keras demi danna-sama.」(Sylphy)

「Tidak, justru karena itu, aku…」(Alto)

Meskipun makanan yang kusantap bersama Aisha juga enak, makanan jadi akan lebih nikmat bila dimakan sambil berbincang-bincang berempat seperti ini!
Keluarga sangatlah menyenangkan dan menggembirakan, ya!

Makanan yang kulahap bersama ayah dan ibu dahulu juga enak. Namun, sarapan hari ini memiliki daya tarik tersendiri.

Kita mengobrol sebentar, akan tetapi Alto-onii-san bermuka serius dan mulai berbicara padaku.

「Myne, karena kau harus menikah dengan Sylphy dan Nona Sacred Bow, kau akan berkunjung ke ibukota dalam beberapa hari, kan?
Aku berencana akan melakukan latihan serius disana.
Aku akan memikirkan latihan yang kau idam-idamkan nanti bila aku sudah kesana. Jadi, jangan membolos latihan satu haripun.
Meskipun penampilanku seperti ini, aku juga seorang pangeran. Aku juga memiliki beberapa urusan di ibukota.
Walaupun aku ingin melatihmu disini selamanya….」(Alto)

Kudengar Alto-onii-san ditugasi untuk melatih pasukan keamanan kerajaan.
Jadwal latihan mereka sebentar lagi, jadi ia harus pulang ke ibukota.

Aku mencoba bertanya padanya kenapa ia melatihku meskipun sibuk. Ia menjawabku bahwa ia tertarik padaku sambil tertawa dan menepuk punggungku.

Sylphy, Aisha, aku kesakitan, bisakah kau membuat Alto-onii-san berhenti?
Jangan hanya berdiri disana dan tertawa.

Aku diberitahu oleh Sylphy bahwa Alto-onii-san juga menolak pernikahan kami pada awalnya. Jadi, reaksi Alto-onii-san juga mengejutkan baginya.
Aku tidak begitu mengerti apa daya tarikku sehingga ia tertarik padaku. Namun bukankah bagus apabila aku bisa akrab dengan keluarga istriku?

Setelah menyelesaikan sarapan, Alto-onii-san menuliskan menu latihan dan beberapa hal yang perlu kuperhatikan dalam hal menggerakkan tubuhku di sebuah memo dengan tulisan tangan kecil. Lalu ia menyerahkan memo itu padaku dan pulang ke ibukota.

Memo yang ia berikan mudah dimengerti dan ditulis dengan hati-hati. Aku bisa merasakan betapa lamanya ia memikirkan akan menulis apa di memo tersebut. Memo itu merupakan salah satu harta berharga bagiku.

Aku berterima kasih pada Alto-onii-san dari dalam lubuk hatiku yang terdalam.

Kalau begitu, dengan perginya Alto-onii-san, di rumah ini hanya ada aku dan dua tunanganku.

Akhirnya, waktuku untuk menceritakan rahasiaku tiba.
Aku penasaran respon apa yang akan mereka berikan…..

Sejujurnya, tekanannya terlalu besar.
Namun, di sisi lain aku juga menunggu momen ini.

Kalau begitu, saatnya memberanikan diri dan mengaku.

5 Responses

  1. […] Chapter 56 – Keluarga Bahagia […]

  2. Maulana Robbi says:

    Tolong updatenya min ditunggu secepatnya. Jangan sampai sebulan lah

  3. […] Chapter 56 – Keluarga Bahagia […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.